Kunjungan Xi Jinping ke Korea Utara pada 8–9 Juni 2026 bukan sekadar agenda diplomatik rutin, melainkan bagian dari konfigurasi strategis yang telah dibangun bertahun-tahun antara Beijing dan Pyongyang. Kunjungan ini merupakan kunjungan pertama Xi ke Korea Utara sejak 20–21 Juni 2019, sehingga terdapat jeda hampir tujuh tahun tanpa kunjungan langsung Xi ke Pyongyang. Media internasional seperti Reuters, AP, dan The Guardian menegaskan bahwa kunjungan 2026 ini terjadi di tengah meningkatnya rivalitas Cina–Amerika Serikat serta menguatnya hubungan militer Korea Utara–Rusia.
Sebelum Xi mengunjungi Pyongyang pada 2019, hubungan Xi Jinping dan Kim Jong Un sebenarnya telah mengalami intensifikasi sejak 2018. Pada 25–28 Maret 2018, Kim Jong Un melakukan perjalanan luar negeri pertamanya sejak berkuasa dengan mengunjungi Beijing dan bertemu Xi Jinping. Pertemuan kedua berlangsung di Dalian pada 7–8 Mei 2018. Pertemuan ketiga terjadi di Beijing pada 19–20 Juni 2018. Pertemuan keempat kembali berlangsung di Beijing pada 7–10 Januari 2019. Setelah empat pertemuan tersebut, Xi akhirnya melakukan kunjungan resmi ke Pyongyang pada 20–21 Juni 2019. Dengan demikian, sebelum kunjungan 2026, Xi dan Kim telah melakukan sedikitnya lima pertemuan tingkat tinggi langsung sejak 2018.
Pola waktu pertemuan tersebut tidak terjadi secara kebetulan. Pertemuan pertama pada Maret 2018 berlangsung hanya beberapa bulan sebelum pertemuan Kim Jong Un dan Donald Trump di Singapura pada Juni 2018. Pertemuan Januari 2019 juga terjadi tepat sebelum KTT Hanoi antara Trump dan Kim pada Februari 2019. Hal ini menunjukkan bahwa Pyongyang secara konsisten berkonsultasi dengan Beijing sebelum menghadapi negosiasi strategis dengan Washington. Brookings Institution bahkan mencatat bahwa salah satu pertanyaan utama setelah pertemuan Maret 2018 adalah apakah Xi Jinping memberi arahan kepada Kim terkait strategi menghadapi Donald Trump.
Kunjungan Xi pada 20–21 Juni 2019 sendiri berlangsung di tengah kegagalan negosiasi denuklirisasi antara Donald Trump dan Kim Jong Un di Hanoi beberapa bulan sebelumnya. The Guardian menulis bahwa Xi datang ke Pyongyang ketika negosiasi Amerika Serikat–Korea Utara berada dalam kebuntuan dan tensi perdagangan Cina–Amerika Serikat meningkat tajam. Dengan kata lain, kunjungan tersebut tidak berdiri sendiri sebagai hubungan bilateral biasa, tetapi berlangsung bersamaan dengan perang dagang Washington–Beijing yang sedang memanas pada masa pemerintahan Trump.
Pada kunjungan 2026, konteks rivalitas tersebut menjadi lebih kompleks. Xi datang ke Pyongyang beberapa hari setelah Korea Utara mengumumkan pengembangan destroyer 10.000 ton dan peningkatan program persenjataan strategisnya. Reuters melaporkan bahwa pengumuman militer tersebut dilakukan tepat menjelang kedatangan Xi Jinping. Pada saat yang sama, Amerika Serikat tetap mempertahankan sekitar 28.500 tentara di Korea Selatan dan memperkuat kerja sama trilateral dengan Jepang serta Korea Selatan dalam sistem pertahanan rudal dan latihan militer bersama. Situasi ini menciptakan tekanan geopolitik langsung terhadap Cina di Asia Timur.
Karena itu, Korea Utara bagi Beijing bukan sekadar sekutu historis, tetapi buffer strategis yang menjaga agar orbit militer Amerika Serikat tidak bergerak mendekati perbatasan timur laut Cina. Korea Utara berbatasan langsung dengan Provinsi Jilin dan Liaoning melalui Sungai Yalu dan Tumen. Jika rezim Pyongyang runtuh dan Semenanjung Korea bersatu di bawah Seoul yang merupakan sekutu Washington, maka secara strategis pengaruh militer Amerika dapat berada sangat dekat dengan wilayah industri dan militer Cina di timur laut.
Dimensi ekonomi hubungan ini juga memperlihatkan ketergantungan konkret. Administrasi Bea Cukai Cina mencatat perdagangan bilateral Cina–Korea Utara pada 2025 mencapai sekitar US$2,73 miliar, meningkat sekitar 25 persen dibanding tahun sebelumnya dan hampir kembali ke level pra-pandemi sebesar US$2,79 miliar pada 2019. Reuters menegaskan bahwa Cina tetap menjadi jalur kehidupan ekonomi utama Korea Utara di tengah sanksi internasional. Dengan demikian, Beijing bukan hanya memberi legitimasi politik kepada Pyongyang, tetapi juga menopang keberlangsungan ekonomi rezim Kim Jong Un.
Struktur perdagangan tersebut juga menunjukkan bentuk ketergantungan yang sangat spesifik. Korea Utara mengimpor bahan bakar, mesin industri, gula, tepung, dan minyak kedelai dari Cina, sementara ekspor utama Korea Utara ke Cina didominasi produk rambut olahan seperti wig dan eyelash. Reuters mencatat bahwa industri wig Korea Utara bahkan memanfaatkan bahan baku rambut dari Cina, kemudian diproses di Korea Utara dan diekspor kembali ke pasar internasional melalui jaringan perdagangan Cina. Artinya, Beijing bukan hanya menopang ekonomi Korea Utara secara makro, tetapi terlibat langsung dalam rantai produksi tertentu yang membantu Pyongyang memperoleh devisa di tengah sanksi global.
Namun ketegangan utama dalam kunjungan Xi 2026 sebenarnya tidak hanya berada pada level negara, aliansi, atau strategi militer, melainkan pada benturan dua Veritas Persona global yang sedang mempertahankan keberadaan ontologisnya di dalam tatanan dunia. Simtoxa tidak melihat Xi Jinping dan Donald Trump sekadar sebagai pemimpin negara yang membawa kepentingan nasional, tetapi sebagai pusat veridic yang memproduksi medan repetisi global masing-masing. Karena itu, konflik Cina–Amerika tidak cukup dijelaskan melalui realisme, balance of power, atau perang dagang semata. Ketegangan sebenarnya terjadi karena dua Veritas Persona sedang memaksakan sedimentasi kebenarannya ke dalam struktur dunia.
Trump bekerja melalui veridic repetition yang menempatkan Amerika Serikat sebagai pusat legitimasi global. Repetisi tersebut terlihat jelas melalui tekanan tarif terhadap Cina sejak perang dagang 2018, pembatasan ekspor chip semikonduktor, penguatan QUAD, AUKUS, hingga perluasan aliansi Indo-Pasifik pada periode keduanya. Semua tindakan itu bukan sekadar kebijakan luar negeri biasa, tetapi repetisi terus-menerus untuk mempertahankan sedimentasi bahwa orbit dunia harus tetap bergerak di bawah gravitasi Amerika Serikat. Karena itu, ketika Trump memperkuat Korea Selatan, Jepang, Taiwan, dan Filipina, yang sedang dipertahankan sebenarnya bukan hanya keamanan regional, tetapi keberlangsungan veritas Amerika sebagai pusat dunia.
Xi Jinping membaca ancaman tersebut bukan hanya sebagai tekanan ekonomi atau militer, tetapi sebagai upaya penetrasi terhadap orbit ontologis Cina sendiri. Karena itu, Xi tidak merespons dengan logika simetris Barat. Xi membangun resonance alternatif melalui titik-titik yang tidak sepenuhnya dapat dikendalikan Washington: Rusia, BRICS, Belt and Road Initiative, Iran, dan Korea Utara. Dalam Simtoxa, Korea Utara menjadi sangat penting karena Pyongyang bukan sekadar buffer geopolitik, tetapi titik resonance yang menjaga agar orbit Amerika tidak sepenuhnya menelan Asia Timur.
Di sinilah analisis Simtoxa berbeda dari teori lain. Realisme hanya membaca Korea Utara sebagai alat keseimbangan kuasa. Foucault membaca jaringan diskursus kuasa. Namun Simtoxa melihat bahwa Xi Jinping sedang mempertahankan keberadaan Veritas Persona Cina di tengah penetrasi orbit veridic Trump. Karena itu, kunjungan Xi ke Pyongyang bukan tindakan administratif diplomatik, tetapi tindakan ontologis untuk menjaga agar repetic field Amerika tidak mengubah Asia Timur menjadi perpanjangan sedimentasi Washington.
Hal ini terlihat dari pola temporal kunjungan Xi sendiri. Setiap intensifikasi hubungan Xi–Kim selalu muncul ketika tekanan Amerika meningkat. Pertemuan Maret 2018 terjadi sebelum Trump–Kim Singapura. Pertemuan Januari 2019 terjadi sebelum Hanoi. Kunjungan 2019 berlangsung di tengah perang dagang Amerika–Cina. Kunjungan 2026 muncul ketika Trump kembali memperluas tekanan perdagangan, teknologi, dan Indo-Pasifik terhadap Beijing. Artinya, Pyongyang secara konsisten menjadi ruang resonance tempat Xi melakukan stabilisasi orbit Cina ketika repetic field Amerika mengalami ekspansi.
Dengan demikian, Korea Utara dalam Simtoxa bukan sekadar negara sekutu Cina, tetapi Simtoxic Core regional bagi orbit Xi Jinping di Asia Timur. Selama Pyongyang tetap bertahan di luar orbit Washington, maka sedimentasi veridic Amerika di kawasan tidak pernah menjadi absolut. Karena itu, kunjungan Xi ke Korea Utara bukan terutama untuk “mendukung Korea Utara”, melainkan untuk memastikan bahwa Veritas Persona Trump tidak memperoleh totalitas resonance di Asia Timur. Di titik inilah ketegangan global sebenarnya bekerja: bukan hanya perebutan wilayah atau ekonomi, tetapi perebutan siapa yang berhak menjadi pusat repetisi dunia.
114 total views, 4 views today

