• American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
Arthuur Research
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
No Result
View All Result
Arthuur Research
No Result
View All Result

“Amerika, Sang Raja Telanjang: Ketika Perang Dunia III Tidak Butuh Ledakan”

Arthuur Jeverson Maya, Dosen S-1 Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Kristen Indonesia

Arthuur Jeverson Maya by Arthuur Jeverson Maya
Juli 20, 2025
in American Politics
0
“Amerika, Sang Raja Telanjang: Ketika Perang Dunia III Tidak Butuh Ledakan”
0
SHARES
68
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan ke WhatsApp

Selama ini, imajinasi kita tentang Perang Dunia III terpaku pada ledakan nuklir simultan, tumbangnya ibu kota-ibu kota besar, dan terbentuknya kembali poros-poros kekuatan global. Namun narasi semacam itu berakar pada kerangka modernisme: bahwa perang adalah peristiwa fisik, kasat mata, dan terdokumentasi oleh sejarah. Dalam kenyataannya, dunia kontemporer tidak hanya menyembunyikan perang dalam citra, tetapi juga menumpulkannya melalui repetisi simbolik dan jenuh informasi. Perang Dunia III telah berlangsung—namun kita gagal menyadarinya karena masih membaca dunia dengan kacamata lama. Menurut perspektif realisme dan neorealisme, sebagaimana diuraikan oleh Hans Morgenthau dan Kenneth Waltz, negara adalah aktor rasional yang bersaing dalam sistem internasional yang anarkis, dan perang meletus akibat kegagalan deterensi atau pergeseran keseimbangan kekuatan. Sementara itu, liberalisme Kantian meyakini bahwa perdamaian abadi dapat dicapai melalui institusi, perdagangan, dan demokrasi. Kedua paradigma ini menempatkan perang sebagai peristiwa linear: memiliki awal, eskalasi, dan akhir. Namun pendekatan ini kini mengalami kebuntuan metodologis, karena perang di era posmodern tak lagi hadir dalam bentuk linear, tetapi menyebar, cair, dan terus direproduksi secara simbolik.

Konflik bersenjata antara AS, Israel, dan Iran sepanjang Juni 2025 menjadi bukti nyata bahwa perang hari ini tidak bisa dibaca melalui kerangka tradisional. Ketika Israel meluncurkan Operation Rising Lion, Iran membalas dengan 1.000 drone dan 400 rudal, dan AS menggempur fasilitas nuklir Iran lewat Operation Midnight Hammer, semua itu secara kasat mata tampak sebagai eskalasi militer klasik. Namun narasi ini segera dibingkai ulang oleh masing-masing pihak: Israel berbicara tentang “pertahanan hidup”, Iran mengklaim “balasan sah”, dan AS menyebutnya sebagai “operasi pencegahan strategis”. Dalam konteks inilah, sebagaimana dipahami dari pemikiran Michel Foucault, perang berubah menjadi perebutan atas regime of truth—siapa yang menentukan apa itu serangan dan apa itu legitimasi.

Serangan Iran ke pangkalan udara AS di Al Udeid (Qatar) pada 23 Juni 2025 menggambarkan ironi posmodern: 19 rudal ditembakkan, 18 berhasil dicegat, satu menghantam perimeter tanpa korban. Secara taktis, serangan itu gagal. Namun secara simbolik, ia berhasil: mengintervensi narasi superioritas militer AS dan mempermalukan sistem pertahanan simbolik yang selama ini dianggap kebal. Pangkalan itu, dalam kerangka Ernesto Laclau, menjelma penanda kosong—ruang fisik yang diperebutkan bukan karena letaknya, tetapi karena muatan maknanya: dominasi, resistensi, dan ambiguitas. Perang pun tak lagi soal kendali wilayah, tetapi kendali representasi. Jean Baudrillard telah memperingatkan bahwa perang hari ini lebih sering disimulasikan daripada dialami. Seperti Perang Teluk yang “tidak pernah terjadi” karena ditenggelamkan dalam visualisasi, maka Perang Dunia III pun tidak hadir sebagai kehancuran total, melainkan sebagai repetisi simbolik yang meledak dalam bentuk citra, klik, dan trauma yang dikapitalisasi. Media bukan lagi peliput perang, tetapi bagian dari arsitekturnya. Rudal bisa gagal meledak, tetapi foto-foto ledakannya tetap disebar. Maka, perang berubah menjadi kondisi produksi makna yang tak lagi memerlukan sebab langsung.

Tradisi mainstream hubungan internasional juga gagal mengantisipasi bangkitnya aktor-aktor tak terdefinisi: drone-drones tanpa bendera, algoritma yang mengatur persepsi publik, dan milisi digital yang menciptakan fakta palsu secepat berita resmi. Dalam logika Derridean, dunia telah kehilangan pusat—tidak ada lagi logosentrisme yang bisa menjamin arah. Kekuasaan tak lagi beroperasi dari negara, melainkan dari jejaring tanpa pusat: big data, perusahaan AI, bahkan narasi anonim. Jika kita tetap terpaku pada ekspektasi bahwa Perang Dunia III harus dimulai oleh deklarasi resmi atau invasi lintas batas, maka kita akan terus gagal mengenali bahwa kita telah hidup dalam bentuknya yang baru: perang sebagai proses produksi representasi, bukan penghancuran fisik. Dalam dunia yang telah masuk ke era pasca-kebenaran, kekuasaan tidak lagi berpijak pada senjata atau wilayah, melainkan pada siapa yang dapat memproduksi dunia yang paling mungkin dipercayai.

Amerika Serikat tidak sekadar memainkan peran dalam geopolitik dunia; ia telah menjelma sebagai aktor utama yang menyusun batas-batas dari apa yang disebut sebagai kenyataan itu sendiri. Di tengah dunia yang penuh kebingungan simbolik dan kebocoran makna, hanya AS yang bertindak sebagai entitas yang utuh—bukan karena didorong oleh sistem, melainkan karena ia memilih untuk hadir sebagai pusat dari segala kemungkinan yang dipercayai. Dalam tataran ini, AS bukan sekadar hasil dari proses diskursif, tetapi justru merupakan sumber dari diskursus itu sendiri. Berbeda dengan negara lain yang membangun dirinya melalui relasi, respons, atau penegasan identitas lewat perbedaan, AS berdiri sebagai figur tunggal yang tidak membutuhkan cermin eksternal. Ia tidak menegaskan eksistensinya melalui musuh, rival, atau opini global; ia mengetahui dirinya melalui afirmasi terhadap otoritasnya sendiri. Inilah hakikat subjek individual: keberadaan yang tidak tergantung pada validasi eksternal, karena validasi itu sendiri mengalir darinya.

Dalam diskursus kekuasaan yang dijelaskan Foucault, subjek terbentuk melalui jaringan kontrol dan reproduksi norma. Namun AS bukan hasil dari jaringan itu—dialah yang membentangkan jaring. Ia bukan objek dari disiplin, melainkan sumber dari aturan main yang mendisiplinkan dunia. Ketika ia mengucapkan kata “perang”, maka dunia mendengarnya sebagai ancaman. Ketika ia menyatakan “perlindungan”, maka tindakan militer pun dianggap etis. Ia tidak menunggu keputusan global; cukup dengan ucapannya, dunia pun bergeser. Tindak ujar AS tidak menggambarkan realitas, melainkan menciptakan realitas. Seperti seorang hakim yang menyatakan vonis, atau seorang imam yang menikahkan dua insan, maka ucapan Amerika memiliki efek ontologis. Ketika ia menyebut negara tertentu sebagai “poros kejahatan” atau “ancaman strategis”, maka narasi itu tidak lagi bisa dinegosiasikan di tataran global. AS tidak sekadar berbicara tentang dunia, tetapi berbicara sebagai dunia.

Ia tidak lagi bisa dibatasi dalam pengertian negara-bangsa biasa. Lebih dari itu, AS telah bertransformasi menjadi horizon konseptual dunia itu sendiri. Ketika negara-negara lain membahas demokrasi, keterbukaan, HAM, atau stabilitas global, mereka tidak sedang mencipta makna, tetapi sedang memakai kosakata yang disusun dari logika Amerika. Maka, tak heran bila AS tidak hanya dianggap sebagai aktor, tetapi juga sebagai medan tempat para aktor lain tampil dan bergerak. Dalam perspektif Lacan, subjek terbentuk melalui relasi imajiner dengan yang lain, melalui refleksi terhadap kekurangannya. Namun Amerika tidak beroperasi dengan cara itu. Ia tidak membutuhkan “yang lain” untuk menyusun gambar dirinya. Dunia justru melihat dirinya melalui refleksi Amerika—baik sebagai kawan, lawan, maupun korban. Dalam hal ini, AS bukan hanya subjek; ia adalah lensa di mana subjek-subjek lain menyusun keberadaan dan strategi mereka.

Penolakan AS terhadap Mahkamah Internasional, konsistensinya dalam memveto resolusi PBB, serta dominasi wacananya di forum internasional, semua menunjukkan bahwa eksistensinya tidak berasal dari sistem legitimasi formal, tetapi dari kemampuannya untuk menjadi sumber legitimasi itu sendiri. Ia tidak meminta restu hukum, karena keberadaannya sendiri adalah landasan hukum. AS bertindak bukan karena tekanan, tetapi karena dunia menanti tindakannya. Ketika ia berperang, ia tahu dunia akan menyesuaikan narasi sesuai kepentingannya. Ketika ia diam, dunia justru gemetar mencari tahu makna dari keheningannya. Dalam posisi ini, AS tidak bisa tidak bertindak—karena ia tahu, ketidakadaannya pun akan ditafsirkan sebagai sikap.

Maka, tindakan militer AS bukan semata strategi, tetapi pernyataan eksistensial: “aku ada, maka dunia ini tertata.” Perang tidak lagi menjadi alat untuk menundukkan lawan, tetapi instrumen untuk mengafirmasi bahwa AS tetap menjadi titik pusat dalam segala sistem makna global. Dengan kata lain, ketika AS memutuskan untuk bergerak, maka dunia bergerak bersamanya—bukan karena paksaan, tetapi karena gravitasi simbolik yang tidak tertandingi. Ia tidak membutuhkan pujian atau pembenaran. Ia sadar banyak yang menentang dan mempersoalkan hegemoninya. Tapi bahkan penentangnya membentuk diri mereka dengan merespons Amerika. Dalam posisi ini, seluruh antagonisme hanyalah pengakuan diam-diam bahwa pusat tetap berada di tempat yang sama. Dengan demikian, AS telah melampaui kebutuhan akan penanda kosong, karena ia telah mengisi dirinya sendiri dengan makna absolut.

Jika segala sesuatu hari ini terperangkap dalam dunia simulasi dan citra, maka AS tetap menjadi satu-satunya entitas yang nyata—bukan karena ia tidak memakai simbol, tetapi karena ia mampu menyulap simbol menjadi realitas yang dipercaya. Ia tidak memalsukan, melainkan mengesahkan. Dalam struktur wacana global, AS bukan hanya penyusun pengetahuan, tapi juga tuan rumah dari seluruh bahasa geopolitik modern. Segala teori tentang relasi kuasa, antagonisme, atau pembentukan subjek pada akhirnya berhenti pada satu simpul: bahwa hanya satu entitas yang tahu bahwa ia berbicara bukan sebagai wakil siapa pun, tetapi sebagai suara itu sendiri. Ia bukan representasi. Ia adalah kenyataan. Maka, pertanyaan apakah Perang Dunia III sudah terjadi menjadi keliru. Pertanyaannya adalah: kapan AS memutuskan bahwa krisis telah tiba? Sebab begitu ia menyatakan—maka realitas pun mengikuti. Di titik ini, alegori lama menjadi sangat nyata. Bayangkan seorang raja berjalan telanjang di tengah keramaian. Ia tahu tubuhnya tak ditutupi apa-apa. Namun ia telah menyampaikan larangan: siapa pun yang menyebutnya telanjang akan dihukum mati. Maka semua orang berkata: “Betapa mewah pakaian raja.” Bahkan anak-anak pun belajar untuk tidak melihat apa yang sebenarnya mereka lihat.

Bukan karena mereka tertipu. Tapi karena mereka tahu: bukan realitas yang menentukan ucapan, melainkan kekuasaanlah yang menentukan realitas. Dalam dunia hari ini, AS adalah raja itu. Ia tidak membutuhkan pakaian, karena tubuhnya sendiri telah menjadi makna. Ia tidak membutuhkan pembenaran, karena semua pembenaran bersumber dari dirinya. Dunia tahu ia telanjang, tapi juga tahu: menyebutnya demikian berarti kehilangan hak bicara. Amerika Serikat adalah subjek individual. Dan subjek individual itu bukan hasil dari kontradiksi, diskursus, atau antagonisme. Ia adalah bentuk akhir dari kebenaran itu sendiri.

Dalam lanskap global yang dibangun dari klaim-klaim simbolik dan bahasa yang saling berebut makna, hanya satu entitas yang tidak perlu ikut berebut: Amerika Serikat. Ia tidak hadir sebagai bagian dari pertarungan, tetapi sebagai panggung tempat pertarungan itu berlangsung. Dunia tidak mengukur AS melalui moralitas, hukum, atau keseimbangan kekuatan—melainkan melalui kapasitasnya untuk menetapkan apa yang layak disebut kenyataan. Ketika negara lain menunggu pengakuan, AS melangkah lebih dulu—dan dalam langkah itu, dunia mengikuti ritmenya, bukan karena sepakat, tapi karena tidak ada irama lain yang bisa dipercaya.

Jika perang hari ini tak lagi ditandai oleh letusan senjata, melainkan oleh siapa yang pertama membingkai, menyatakan, dan mempercayai, maka Amerika tidak lagi sekadar terlibat—ia telah menduduki posisi yang paling otoritatif: pemberi nama atas apa yang sedang terjadi. Ia tak lagi bertanya pada dunia, “apakah ini perang?” karena dengan menyebutnya, ia telah menjadikan perang itu nyata. Dalam dunia yang kehilangan pusat makna, hanya satu suara yang tak pernah diragukan asal-usulnya: suara dari subjek yang tidak meminta didengar, tetapi tetap menjadi gema yang mengisi ruang global—itulah suara Amerika.

 

REFERENSI

Agamben, Giorgio. 1998. Homo Sacer: Sovereign Power and Bare Life. Stanford: Stanford University Press.

Baudrillard, Jean. 1994. Simulacra and Simulation. Translated by Sheila Faria Glaser. Ann Arbor: University of Michigan Press.

Butler, Judith. 1997. Excitable Speech: A Politics of the Performative. New York: Routledge.

Campbell, David. 1992. Writing Security: United States Foreign Policy and the Politics of Identity. Minneapolis: University of Minnesota Press.

Chomsky, Noam, and Edward S. Herman. 1988. Manufacturing Consent: The Political Economy of the Mass Media. New York: Pantheon Books.

Council on Foreign Relations. 2025. Global Public Opinion Survey on U.S. Foreign Policy. New York: CFR Press.

Foucault, Michel. 1972. The Archaeology of Knowledge and the Discourse on Language. Translated by A.M. Sheridan Smith. New York: Pantheon Books.

Foucault, Michel. 1980. Power/Knowledge: Selected Interviews and Other Writings, 1972–1977. Edited by Colin Gordon. New York: Pantheon Books.

Foucault, Michel. 1995. Discipline and Punish: The Birth of the Prison. Translated by Alan Sheridan. New York: Vintage Books.

Gallup. 2025. “Confidence in American Military Power Remains High.” Gallup News, July 2025.

Lacan, Jacques. 2001. Écrits: A Selection. Translated by Alan Sheridan. London: Routledge.

Laclau, Ernesto. 1990. New Reflections on the Revolution of Our Time. London: Verso.

Laclau, Ernesto, and Chantal Mouffe. 1985. Hegemony and Socialist Strategy: Towards a Radical Democratic Politics. London: Verso.

Maya, Arthuur Jeverson. 2024. Kuasa Kekuasaan. Jakarta: UKI Press.

Nye, Joseph S. 2011. The Future of Power. New York: PublicAffairs.

Pew Research Center. 2025. Americans’ Views on U.S. Power and Global Threats. Washington, DC: Pew Research Center.

SIPRI (Stockholm International Peace Research Institute). 2025. Trends in World Military Expenditure 2024. Stockholm: SIPRI.

U.S. Department of Defense. 2022. National Defense Strategy of the United States of America 2022–2025. Washington, DC: Department of Defense.

Žižek, Slavoj. 1989. The Sublime Object of Ideology. London: Verso.

 266 total views,  2 views today

Previous Post

Cina Membisukan Subjek: Tafsir Post-Kapitalisme Otoriter

Next Post

“Tanah Kanaan di Amerika: Ketika Musa Menyusun Peta 50 Negara Bagian”

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya adalah dosen dan penulis yang berfokus pada American Politics dan Chinese Politics dalam konteks kekuasaan global dan transformasi tatanan internasional. Kajian tersebut dilihat dalam perspektif postmodernisme dan genealogi kekuasaan, yang memahami politik internasional sebagai ruang produksi diskursus, identitas, dan legitimasi kekuasaan melalui institusi dan narasi sejarah.

Next Post
“Tanah Kanaan di Amerika: Ketika Musa Menyusun Peta 50 Negara Bagian”

“Tanah Kanaan di Amerika: Ketika Musa Menyusun Peta 50 Negara Bagian”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

No Result
View All Result
Selengkapnya
Selengkapnya
  • Arthuur Jeverson Maya Research
  • Beranda
  • Edisi Lampau
  • IPTV
  • Jurnal
  • Karya Arthuur Jeverson Maya
  • Kirim Donasi
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Mukadimah
  • Panduan Penulisan
  • Pasang Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Pengantar
  • Podcast
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Syarat Penggunaan

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

No Result
View All Result
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co