• American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
Arthuur Research
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
No Result
View All Result
Arthuur Research
No Result
View All Result

“Tanah Kanaan di Amerika: Ketika Musa Menyusun Peta 50 Negara Bagian”

Arthuur Jeverson Maya, Dosen S-1 Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Kristen Indonesia

Arthuur Jeverson Maya by Arthuur Jeverson Maya
Juli 22, 2025
in American Politics
0
“Tanah Kanaan di Amerika: Ketika Musa Menyusun Peta 50 Negara Bagian”
0
SHARES
47
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan ke WhatsApp

Dukungan Amerika Serikat terhadap Israel telah lama berakar bukan semata pada kepentingan geopolitik, melainkan pada fondasi iman yang dalam, terutama dari kalangan Kristen evangelikal. Banyak warga AS memahami janji Allah kepada Abraham dalam Kejadian 12:1–3 sebagai perjanjian yang kekal dan literal, yakni bahwa tanah Kanaan adalah warisan abadi bagi keturunan Israel. Pemahaman ini ditafsirkan secara langsung dalam kerangka dispensasionalisme, sebuah sistem teologis yang dipopulerkan oleh Cyrus Scofield pada awal abad ke-20. Melalui Scofield Reference Bible, umat diberikan peta eskhatologis yang menempatkan kembalinya bangsa Israel ke Tanah Perjanjian sebagai syarat penting sebelum kedatangan Kristus yang kedua. Dalam kerangka ini, Israel bukan hanya entitas geopolitik, tetapi juga perwujudan dari agenda ilahi yang sedang digenapi dalam sejarah.

Konsepsi ini diperkuat oleh pemikiran John Hagee, seorang pendeta evangelikal dan pendiri Christians United for Israel (CUFI), yang menyatakan bahwa “dukungan terhadap Israel bukanlah preferensi politik, melainkan perintah iman.” Bagi Hagee dan jutaan pengikutnya, mendukung Israel adalah tindakan taat kepada Tuhan, bukan sekadar solidaritas historis atau etnis. Dalam semangat inilah, organisasi-organisasi seperti CUFI melobi pemerintahan AS untuk terus memperkuat hubungan dengan Israel, mulai dari bantuan militer hingga pengakuan Yerusalem sebagai ibu kota. Puncaknya terjadi pada masa kepresidenan Donald Trump, yang pada tahun 2018 memindahkan kedutaan besar AS ke Yerusalem—sebuah langkah yang dipandang oleh kalangan evangelikal sebagai pemenuhan nubuat Zakharia dan Mazmur 122:6.

Pembacaan literal terhadap Perjanjian Lama ini tidak tersebar merata di seluruh Amerika. Menurut laporan American Bible Society (2021), negara-negara bagian di wilayah selatan seperti Mississippi, Alabama, Tennessee, dan Arkansas menunjukkan tingkat pembacaan Alkitab mingguan di atas 50%. Wilayah ini sering disebut sebagai Bible Belt, di mana injili evangelikal membentuk sebagian besar identitas publik dan politik. Di Mississippi, misalnya, 52% orang dewasa melaporkan membaca Alkitab secara aktif setiap minggu. Sebaliknya, negara bagian seperti Vermont dan Oregon menunjukkan angka di bawah 25%. Perbedaan geografis ini turut menjelaskan mengapa dukungan terhadap Israel lebih kuat di negara-negara bagian yang memiliki budaya pembacaan Alkitab yang tinggi—yakni di mana narasi Israel sebagai pemilik sah Tanah Perjanjian hidup secara kolektif dalam imajinasi teologis publik.

Dalam studi Gallup (2015), ditemukan bahwa 66% warga AS yang secara rutin hadir dalam ibadah mingguan menunjukkan dukungan penuh terhadap Israel, dibandingkan dengan 46% yang tidak rutin beribadah. Hal ini memperlihatkan korelasi langsung antara intensitas iman dan afiliasi teologis terhadap pandangan politik luar negeri. Seperti yang diteorikan oleh Mark Juergensmeyer dalam kerangka religious nationalism, iman tidak hanya menjadi landasan moral individu, tetapi juga instrumen legitimasi politik dan kebangsaan. Dalam konteks ini, dukungan terhadap Israel oleh evangelikal AS bukan sekadar solidaritas internasional, melainkan ekspresi iman nasionalis yang menjadikan Israel sebagai perpanjangan dari visi ilahi atas sejarah dunia.

Namun, tidak semua komunitas iman di Amerika membaca Perjanjian Lama dengan cara yang sama. Gereja Katolik, misalnya, menekankan hermeneutika kontekstual dan relasi antara Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru dalam terang Kristus. Menurut survei Christian Post (2022), hanya 16% umat Katolik mengklaim bahwa posisi mereka terhadap Israel dipengaruhi oleh pembacaan Alkitab secara langsung, dibandingkan dengan 37% dari kalangan evangelikal non-denominasi. Teolog Katolik seperti Karl Rahner dan Hans Küng justru memperingatkan bahaya penafsiran literal yang mengabaikan prinsip keadilan sosial dan perdamaian universal. Dalam pandangan mereka, perjanjian Tuhan bersifat transenden dan harus diartikan dalam terang kasih, bukan klaim tanah dan kekuasaan geopolitik.

Teolog Reformed seperti Reinhold Niebuhr dan Abraham Kuyper juga menawarkan pendekatan yang lebih kritis terhadap integrasi iman dan kebijakan luar negeri. Niebuhr, dalam bukunya Moral Man and Immoral Society, memperingatkan bahwa moralitas publik yang dibentuk oleh semangat religius bisa dengan mudah berubah menjadi justifikasi ideologis untuk kekuasaan. Ia menekankan perlunya membedakan antara mandat etis universal dan kepentingan nasional yang dibungkus simbol iman. Maka, sekalipun iman Kristen dapat membentuk simpati terhadap penderitaan Israel, hal itu tidak boleh mengaburkan realitas politik dan kemanusiaan yang kompleks di Timur Tengah.

Penting juga mengangkat pandangan Walter Brueggemann, seorang ahli Perjanjian Lama, yang mengkritik penggunaan teks-teks Perjanjian Lama untuk mendukung klaim politik kontemporer. Dalam The Land: Place as Gift, Promise, and Challenge in Biblical Faith, Brueggemann menekankan bahwa tanah dalam Alkitab selalu hadir dalam dialektika antara janji dan keadilan. Ia mengingatkan bahwa kepemilikan tanah dalam Alkitab selalu disertai dengan tuntutan moral: memperlakukan orang asing dengan adil, menjaga keseimbangan ekologi, dan menolak ketamakan. Maka, mendukung Israel secara teologis tidak boleh dilepaskan dari pertanyaan tentang hak asasi manusia dan perdamaian regional.

Dari sisi sosiologis, keterkaitan antara keimanan evangelikal dan kebijakan luar negeri AS terhadap Israel juga diperkuat oleh konstruk identitas peradaban. Samuel Huntington dalam The Clash of Civilizations menempatkan Amerika dan Israel dalam satu blok peradaban Yudeo-Kristen, yang berbeda dari dunia Islam dan Timur. Dalam logika ini, mendukung Israel berarti mempertahankan nilai-nilai Barat, demokrasi, dan iman yang dianggap universal. Narasi ini diperkuat dalam retorika Partai Republik, di mana Israel digambarkan sebagai “satu-satunya demokrasi Timur Tengah” atau bahkan “tembok terakhir melawan anti-Kristianitas.”

Mengingat begitu dalamnya akar dukungan terhadap Israel, baik secara teologis maupun identitas nasional, maka secara realistis dukungan Amerika terhadap Israel diprediksi akan tetap kuat dalam beberapa dekade ke depan. Data Pew Research Center (2022) menunjukkan bahwa sekitar 25% warga Amerika masih mengidentifikasi diri sebagai evangelikal, dan meskipun jumlah ini menurun secara perlahan, basis politik mereka tetap sangat aktif dan berpengaruh dalam pemilu. Dengan proyeksi demografis yang masih mencatat sekitar 20% pemilih aktif AS berasal dari komunitas evangelikal hingga setidaknya tahun 2050, maka tekanan politik untuk tetap pro-Israel akan terus ada. Selain itu, CUFI sebagai kelompok lobi evangelikal terbesar telah mengklaim lebih dari 10 juta anggota dan terus berkembang secara digital. Dengan pengaruh ini, Israel diposisikan tidak hanya sebagai mitra strategis, tetapi juga sebagai lambang kesetiaan religius.

Jika tidak terjadi perubahan besar dalam orientasi teologis atau transformasi mendalam dalam paradigma politik AS, maka dukungan terhadap Israel secara institusional dapat bertahan melampaui abad ke-21. Bahkan, dalam skenario tertentu—terutama jika konflik Timur Tengah melibatkan elemen yang dianggap “anti-Kristen”—dukungan itu bisa semakin menguat. Namun, perlu dicatat bahwa generasi muda Amerika, terutama dari kelompok Protestan arus utama dan Katolik progresif, mulai menunjukkan kecenderungan yang lebih kritis terhadap Israel dan lebih simpatik terhadap isu Palestina. Artinya, meskipun dukungan bisa tetap dominan hingga beberapa dekade ke depan, wacana publik ke depan akan semakin plural dan tidak sepenuhnya dikendalikan oleh satu arus teologi.

Dengan demikian, dukungan Amerika terhadap Israel tidak semata produk hubungan diplomatik atau aliansi strategis, melainkan merupakan manifestasi iman yang dilembagakan ke dalam sistem politik dan kesadaran kolektif. Namun dukungan ini bukan tanpa batas. Ia tergantung pada konfigurasi iman, etika publik, dan arah moral bangsa. Bila ke depan muncul kesadaran teologis yang lebih kontekstual dan kritis terhadap narasi literal, maka dukungan terhadap Israel bisa bergeser, bukan menuju penolakan, melainkan menuju bentuk solidaritas yang lebih adil, seimbang, dan mengedepankan perdamaian sejati di Timur Tengah.

 292 total views,  4 views today

Previous Post

“Amerika, Sang Raja Telanjang: Ketika Perang Dunia III Tidak Butuh Ledakan”

Next Post

“Hasrat yang Tak Pernah Tuntas: Di Balik Konflik Thailand–Kamboja”

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya adalah dosen dan penulis yang berfokus pada politik Amerika Serikat dan Cina dalam dinamika transformasi tatanan global kontemporer. Dalam berbagai kajiannya, ia menelusuri bagaimana kuasa, pengetahuan, dan struktur dunia diproduksi melalui repetisi makna yang membentuk kesadaran global modern. Dari lintasan pemikiran tersebut, ia mengembangkan Simtoxa sebagai kerangka analitis sekaligus proses pemulihan orbit ontologis, yakni upaya mengembalikan manusia pada relasi kebenaran yang tidak semata dibentuk oleh struktur, diskursus, atau reproduksi simbolik dunia modern.

Next Post
“Hasrat yang Tak Pernah Tuntas: Di Balik Konflik Thailand–Kamboja”

“Hasrat yang Tak Pernah Tuntas: Di Balik Konflik Thailand–Kamboja”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

No Result
View All Result
Selengkapnya
Selengkapnya
  • Arthuur Jeverson Maya Research
  • Beranda
  • Edisi Lampau
  • IPTV
  • Jurnal
  • Karya Arthuur Jeverson Maya
  • Kirim Donasi
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Mukadimah
  • Panduan Penulisan
  • Pasang Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Pengantar
  • Podcast
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Syarat Penggunaan

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

No Result
View All Result
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co