
Konflik yang meletus kembali antara Thailand dan Kamboja pada Juli 2025 tidak lagi dapat dibaca sebagai sengketa terbatas atas situs warisan dunia Preah Vihear. Ia telah berubah menjadi konflik multi-lokasi yang menyebar di sepanjang perbatasan darat kedua negara—melibatkan wilayah Chong Bok (Emerald Triangle), Ta Muen Thom, Nam Yuen, Phu Makhuea, dan Phanom Dong Rak. Sengketa ini telah menjangkau lebih dari simbol, lebih dari peta kolonial, dan lebih dari putusan hukum internasional. Ia telah menjadi panggung retakan genealogis dan ledakan hasrat yang kehilangan objek sejatinya.
Dalam kerangka genealogi Foucault, setiap lokasi sengketa di sepanjang perbatasan bukan sekadar ruang fisik, tetapi produk dari operasi historis yang menghasilkan kebenaran terinstitusionalisasi. Wilayah-wilayah seperti Ta Muen Thom dan Preah Vihear dibingkai melalui peta Prancis (1904–1907), lalu disahkan kembali oleh Mahkamah Internasional—sebuah rantai pengetahuan yang terputus dari realitas lokal. Dalam setiap keputusan hukum itu terdapat pelapisan simbolik, bukan resolusi substansial. Maka dari itu, konflik ini bukan dimulai oleh peluru, melainkan oleh pengetahuan yang telah dipalsukan dari hulu.
Tapi bahkan simbol itu pun kini tak stabil. Ketika konflik bergeser dari Preah Vihear ke Nam Yuen dan Phanom Dong Rak, di mana ledakan ranjau dan serangan artileri menghantam rumah sakit dan desa, tampak jelas bahwa bukan simbol yang diperjuangkan, tetapi kehendak untuk mempertahankan kehormatan nasional di wilayah abu-abu. Inilah yang membentuk bentang OPH—Objek Penyebab Hasrat dalam terminologi Lacan.
Lacan mengajarkan bahwa objek yang menjadi pusat konflik sering kali bukan objek sejati, melainkan citra kosong yang memicu hasrat tanpa pernah mampu memuaskannya. Dalam konteks ini, Preah Vihear adalah OPH. Ia bukan candi dalam makna religius atau arsitektural, melainkan proyeksi hasrat nasionalisme dan kehilangan. Namun ketika konflik mulai menyebar ke wilayah lain yang tidak punya bobot simbolik setinggi Preah Vihear, terbukti bahwa OPH ini bukanlah objek tetap—tetapi topeng yang terus berganti.
Metafora yang paling kuat untuk memahami absurditas ini adalah gadis cantik yang diperebutkan dua pria, padahal setelah perang panjang, mereka baru sadar bahwa gadis itu adalah waria hasil operasi wajah. Selama bertahun-tahun, baik Thailand maupun Kamboja mempercayai bahwa yang mereka perebutkan adalah “perempuan sejati”—kebenaran, kehormatan, dan warisan. Tapi ternyata, yang mereka kejar adalah proyeksi, bukan realitas. Dan ketika keduanya sadar, luka sudah terlalu dalam untuk ditarik mundur. Yang mereka kira pengetahuan, ternyata hanyalah pre-knowledge: ilusi yang dibangun oleh institusi, hukum internasional, dan logika kolonial.
Konflik ini menunjukkan bahwa bukan Preah Vihear yang penting, tetapi struktur hasrat yang membungkusnya. Dan ketika OPH bergeser ke Ta Muen Thom, Nam Yuen, atau Phu Makhuea—tanpa simbol sejarah apa pun—maka terbukti bahwa yang diperebutkan bukanlah objek, tetapi kekosongan itu sendiri. Sebuah kekosongan yang terus diisi oleh trauma sejarah, nasionalisme, dan kompetisi hegemoni.
Amerika Serikat dan Tiongkok memainkan peran penting dalam menjaga ilusi ini tetap hidup. Tiongkok menopang Kamboja dengan infrastruktur dan dukungan politik sebagai cara mempertahankan kliennya di Indochina. Amerika mendukung Thailand secara diplomatik dalam bingkai “hak untuk membela diri.” Keduanya tidak menyelesaikan konflik, tetapi menjaga agar OPH tetap bersinar, agar fantasi tetap membara.
Sementara itu, ASEAN diam bukan karena tak bisa bicara, tetapi karena berada di luar bahasa konflik ini. ASEAN dibangun atas logika konsensus dan stabilitas, bukan atas pembacaan kritis terhadap sejarah dan hasrat. Ia tidak memiliki kosa kata untuk memahami bahwa konflik ini bukan sekadar wilayah, tetapi konflik epistemik dan psikoanalitik—antara realitas yang ada dan simbol yang dijadikan kebenaran.
ASEAN menyangka bisa meredakan konflik dengan prosedur diplomatik. Tapi seperti dua pria dalam kisah metafora di atas, ASEAN pun belum sadar bahwa yang mereka perjuangkan adalah wajah hasil operasi, bukan wajah asli dari kebenaran. Tanpa keberanian untuk menelanjangi OPH, konflik ini akan terus berulang, dan wajah geopolitik Asia Tenggara akan terus ditata ulang oleh tangan-tangan asing dan sejarah yang belum selesai.
296 total views, 2 views today

