• American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
Arthuur Research
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
No Result
View All Result
Arthuur Research
No Result
View All Result

Operasi Kuasa dalam Politik Internasional

Arthuur Jeverson Maya by Arthuur Jeverson Maya
November 13, 2025
in Logika & Teori
17
Operasi Kuasa dalam Politik Internasional
0
SHARES
193
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan ke WhatsApp

Politik internasional telah lama dibaca melalui kerangka teori klasik yang mendominasi studi hubungan antarnegara. Narasi awal sering ditarik dari dua tradisi besar: liberalisme dan realisme. Liberalisme berasumsi bahwa manusia dan negara dapat bekerja sama berdasarkan rasionalitas, norma, dan institusi yang mengatur interaksi global. Kerja sama bukan ilusi, melainkan produk interdependensi dan kepercayaan bersama. Bertolak belakang, realisme memandang dunia sebagai ruang yang tidak memiliki otoritas tertinggi sehingga negara selalu berada dalam logika pertahanan diri. Keamanan, kekuatan, serta kalkulasi strategis menjadi motor tindakan negara. Dua tradisi ini menjadi fondasi yang menentukan bagaimana dunia akademik dan kebijakan membaca peristiwa global.

Perkembangan selanjutnya melahirkan dua varian: neoliberalisme dan neorealisme. Neoliberalisme memurnikan optimisme liberal dengan menunjukkan bahwa institusi internasional melembutkan anarki melalui mekanisme monitoring, aturan bersama, serta transparansi. Sementara neorealisme menguatkan argumen bahwa struktur sistem internasional membentuk perilaku negara lebih kuat dibanding karakter internal negara. Negara bertindak bukan semata berdasarkan kehendak, melainkan karena posisi mereka dalam konfigurasi kekuatan global.

Di luar dua tradisi tersebut, kerangka struktural menawarkan penjelasan lebih radikal. Marxisme melihat politik internasional sebagai lanjutan dari produksi dan akumulasi kapital, menjelaskan bahwa tatanan dunia dibentuk oleh kelas dominan global dan struktur ekonomi. Neomarxisme memperluas analisis ini melalui teori sistem dunia—di mana pusat, semiperifer, dan pinggiran membentuk hierarki global yang membatasi gerak negara. Kemudian lahir postmarxisme, yang menggabungkan kritik ekonomi dan pembacaan wacana. Ia menempatkan identitas, representasi, dan ideologi sebagai bagian dari produksi politik global. Dengan postmarxisme, dunia tidak hanya dipahami sebagai sistem material, tetapi sebagai tatanan makna yang beroperasi melalui bahasa dan representasi.

Kerangka-kerangka klasik tersebut menjelaskan apa yang negara lakukan dan mengapa mereka bertindak demikian. Namun teori-teori itu belum menjangkau lapisan terdalam tentang bagaimana tindakan itu dimungkinkan. Agar dapat melihat proses tak kasatmata yang membuat negara, institusi global, dan wacana internasional berfungsi, kita memerlukan perangkat yang membaca kuasa bukan sebagai kepemilikan, tetapi sebagai operasi yang memproduksi realitas. Di sinilah perangkat Foucault—subjugated knowledge, problematization, dan dividing practices—menawarkan pembacaan yang jauh lebih tajam. Dengan ketiga operasi ini, politik internasional muncul bukan sebagai ruang interaksi aktor, tetapi sebagai proses yang membangun aktor, batas, dan kebenaran itu sendiri.


Subjugated Knowledge: Operasi Pengetahuan sebagai Strategi Menentukan Realitas

Subjugated knowledge memperlihatkan bahwa politik internasional selalu diiringi operasi penyingkiran pengetahuan tertentu. Pengetahuan yang bertentangan dengan narasi dominan tidak pernah hilang begitu saja; ia ditekan melalui bahasa teknokratis, laporan resmi, kategori ilmiah, atau legitimasi akademik. Negara kuat dan institusi global menciptakan “kebenaran yang dapat diterima”, yang pada gilirannya membentuk dasar legitimasi kebijakan internasional. Narasi-narasi pembangunan, stabilitas, dan keamanan dibangun dengan menempatkan sebagian pengalaman sebagai pusat dan sebagian lain sebagai pinggiran yang tidak dianggap relevan.

Di sinilah operasi subjugated knowledge menjadi sangat teoritis: ia menunjukkan bahwa dunia internasional dibangun melalui seleksi epistemik yang sistematis. Yang dianggap rasional dan sah bukan ditentukan oleh validitas intrinsik, tetapi oleh struktur kuasa yang memproduksi kebenaran. Pengetahuan lokal, pengalaman masyarakat pinggiran, atau sejarah komunitas minoritas sering diklasifikasikan bukan sebagai penyumbang realitas global, tetapi sebagai “gangguan naratif”. Justru karena itulah pengetahuan ini menjadi penting secara teoritis: ia mengungkap bagaimana politik internasional tidak pernah berada dalam ruang netral, melainkan selalu dibentuk melalui operasi eliminasi pengetahuan tertentu. Dengan kata lain, politik internasional adalah arena di mana dunia harus disajikan dalam versi tertentu agar dapat diatur, dipertahankan, dan dinormalisasi.


Problematization: Menciptakan Masalah sebagai Cara Mengatur Dunia

Problematization adalah operasi yang menentukan apa yang muncul sebagai masalah global dan mengapa ia diperlakukan sebagai ancaman yang memerlukan intervensi. Secara teoritis, problematisasi menunjukkan bahwa ancaman tidak pernah natural; ancaman adalah produk artikulasi tertentu. Ketika suatu fenomena—seperti serangan digital, migrasi massal, atau fluktuasi keuangan—mulai dipetakan melalui data, indikator, grafik, dan analisis risiko, ia dibentuk menjadi objek yang memerlukan pengelolaan internasional.

Operasi ini mengungkap bahwa dunia tidak menampilkan dirinya sebagai masalah; dunia dikonstruksi sebagai masalah. Sains, statistik, dan diskursus teknokratis bekerja menciptakan bentuk-bentuk pemahaman yang kemudian dijadikan dasar legitimasi kebijakan. Misalnya, keputusan untuk memperkuat keamanan siber muncul setelah dunia disajikan sebagai ruang penuh ancaman digital yang tidak dapat dibendung. Keputusan untuk melakukan operasi militer atau sanksi muncul setelah ancaman tertentu dimasukkan ke dalam kategori “risiko global”. Di sini problematization bekerja bukan hanya pada definisi masalah, tetapi juga pada bentuk intervensi yang diizinkan, dibenarkan, atau dianggap satu-satunya pilihan rasional.

Secara konseptual, problematisasi menunjukkan bahwa politik internasional adalah proses menciptakan objek agar dunia dapat dipetakan dan diatur. Dengan demikian, dunia bukan hanya dipahami—ia diproduksi melalui operasi konseptual dan teknis yang membentuk cara negara bertindak.


Dividing Practices: Klasifikasi sebagai Arsitektur Hierarki Global

Dividing practices menunjukkan bahwa dunia internasional dibangun melalui pembelahan yang menciptakan hierarki: “maju vs. berkembang”, “demokratis vs. otoriter”, “sekutu vs. ancaman”, atau “stabil vs. gagal”. Secara teoritis, pembelahan ini bukan sekadar kategori deskriptif, tetapi perangkat performatif yang mengatur perilaku negara dan menentukan perlakuan internasional terhadap mereka. Kategori tersebut tidak hanya menggambarkan dunia, tetapi membentuk dunia dalam struktur hirarkis tertentu.

Pembelahan menciptakan akses berbeda terhadap sumber daya, legitimasi, teknologi, dan perlindungan politik. Negara yang tergolong ancaman akan beroperasi dalam rezim pengawasan ketat; negara yang dianggap berkembang ditempatkan dalam struktur ketergantungan melalui bantuan, pinjaman, atau intervensi struktural; negara yang disebut sekutu menikmati preferensi dan kelonggaran. Secara logis, dividing practices menunjukkan bahwa dunia global tidak pernah simetris. Hierarki dunia bukan bawaan alamiah, melainkan produk klasifikasi yang terus diperbarui melalui kebijakan, akademi, dan media.

Lebih jauh lagi, pembelahan ini menjadi dasar pembentukan identitas negara. Ia menciptakan “posisi” yang kemudian diinternalisasi sebagai kedirian politik. Dengan demikian, dividing practices membentuk subjek global—aktor yang menganggap dirinya beradab, bermasalah, modern, tertinggal, atau berbahaya. Klasifikasi menjadi cara membentuk tidak hanya dunia, tetapi juga siapa yang “dibenarkan” untuk mendefinisikan dunia.


Kesatuan Operasi: Politik Internasional sebagai Mesin Produksi Realitas

Ketika subjugated knowledge, problematization, dan dividing practices dibaca bersama, tampak jelas bahwa politik internasional bukan hanya arena negara berinteraksi, tetapi mekanisme yang memproduksi realitas global. Yang terlihat sebagai fakta internasional adalah hasil operasi kuasa yang menentukan pengetahuan mana yang diizinkan, masalah mana yang diprioritaskan, dan kategori mana yang digunakan untuk mengatur dunia. Dengan demikian, teori klasik menjelaskan sisi permukaan: tindakan negara, kepentingan strategis, dan struktur global. Tetapi operasi kuasa menjelaskan fondasi terdalam: bagaimana dunia dibentuk sehingga tindakan negara itu sendiri menjadi mungkin.

 291 total views,  4 views today

Previous Post

Power/Knowledge Foucault

Next Post

Kungfu Cina vs Samurai Jepang: Estetika Konflik dan Rezim Produksi Ancaman

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya adalah dosen dan penulis yang berfokus pada American Politics dan Chinese Politics dalam konteks kekuasaan global dan transformasi tatanan internasional. Kajian tersebut dilihat dalam perspektif postmodernisme dan genealogi kekuasaan, yang memahami politik internasional sebagai ruang produksi diskursus, identitas, dan legitimasi kekuasaan melalui institusi dan narasi sejarah.

Next Post
Kungfu Cina vs Samurai Jepang: Estetika Konflik dan Rezim Produksi Ancaman

Kungfu Cina vs Samurai Jepang: Estetika Konflik dan Rezim Produksi Ancaman

Comments 17

  1. Fajar Kanda Aro Umardy says:
    6 bulan ago

    Secara keseluruhan isi dari artikel membahas mengenai konsep Liberalisme yang berasumsi jika negara dan rakyat dapat terhubung melalui rasionalitas dan aturan yang sudah diterapkan dikehidupan bermasyarakat. Ini bertolak belakang dengan paham realisme yang berpadangan bahwa negara itu sebagai ototritas tertinggi sebagai pelindung, pertahanan, sistem kekuatan otoritas negara. Pengetahuan menjadi strategis mutlak dalam konsep realitas untuk menciptakan konseptualitas kekuasaan. Politik Internasional hanyalah bagian dari aktivitas subjek yang berinteraksi untuk memproduksi kuasa realitas global.

    Balas
    • Fajar Kanda Aro Umardy says:
      6 bulan ago

      Melalui dekonstruksi politik internasional dari konsep Foucault yaitu subjugated knowledge, problematization, dan Dividing practices pada era kontemporer memperlihatkan kuasa sebagai objektivitas dari perilaku subjek dalam realitas global. Negara sebagai aktor utama yang memainkan peran dalam kuasa dan pengetahuan yang dimiliki negara tersebut. Untuk menentukan sebuah realitas kuasa pihak yang memiliki kemampuan yang lebih mendominasi akan terus bergerak sedangkan yang didominasi harus terbawa arus kekuasaan.

      Balas
  2. Maria Helena says:
    6 bulan ago

    Tulisan ini merefleksikan bahwa politik internasional bukan sekadar interaksi antarnegara, tetapi proses pembentukan realitas melalui pengetahuan dan kuasa. Dengan gagasan Foucault seperti subjugated knowledge, problematization, dan dividing practices, kita diajak melihat bahwa “kebenaran” global seringkali merupakan hasil dari konstruksi yang menyingkirkan suara lain. Politik, karenanya, bukan hanya soal kebijakan, tetapi tentang siapa yang berhak mendefinisikan dunia. Ini dapat menuntun kita untuk berpikir kritis dan etis terhadap struktur kuasa yang membentuk pemahaman kita tentang dunia.

    Balas
  3. ELIZABETH RAVICA says:
    6 bulan ago

    politik internasional tidak hanya tentang persaingan kekuatan antarnegara, tetapi juga tentang bagaimana kuasa bekerja melalui pengetahuan, wacana, dan klasifikasi. Melalui konsep Foucault seperti subjugated knowledge, problematization, dan dividing practices, artikel ini menjelaskan bahwa realitas global sebenarnya merupakan hasil konstruksi kekuasaan yang menentukan apa yang dianggap benar, penting, dan layak diatur dalam tatanan dunia.

    Balas
  4. Bintari Nadeak says:
    5 bulan ago

    Kuasa membentuk pengetahuan, masalah, dan hirarki yang menciptakan realitas politik internasional

    Balas
    • Bintari Nadeak says:
      5 bulan ago

      Operasi kuasa bukan cuma menjelaskan dunia, tapi membentuknya. Pengetahuan dipilih, masalah diciptakan, dan kategori dibangun untuk menentukan siapa yang berhak berbicara dan bagaimana dunia harus dibaca.

      Balas
  5. MATHEW RENOL TAOPAN says:
    5 bulan ago

    Pembentukan dinasti masa depan akan selalu di menangkan oleh rezim yang paling frontal untuk “mengadvertise” pengaruhnya dan menghancurkan kompetitornya, siapapun yang tidak berbaur dengan sesama ataupun memperkuat diri akan runtuh ditelan zaman.

    Balas
  6. valentina lim says:
    5 bulan ago

    ini memberikan perspektif kritis yang menarik dengan menunjukkan bahwa politik internasional bukan hanya interaksi antarnegara, tetapi proses pembentukan pengetahuan dan realitas melalui operasi kuasa. Penjelasan tentang konsep Foucault digunakan dengan jelas, meskipun akan lebih kuat jika didukung contoh empiris tambahan. Secara keseluruhan, tulisan ini kaya secara teoretis dan membuka cara baca baru terhadap dinamika global.

    Balas
  7. Cristin Livia Marbun says:
    5 bulan ago

    Artikel ini menyoroti bahwa politik internasional tidak hanya tentang tindakan negara, tetapi tentang bagaimana realitas global dibentuk melalui operasi kuasa. Dengan memakai konsep Foucault-subjugated knowledge, problematization, dan dividing practices artikel ini menunjukkan bahwa pengetahuan tertentu disingkirkan, masalah global dikonstruksi, dan kategori seperti “maju-berkembang” diciptakan untuk mempertahankan hierarki dunia. Politik internasional bukan ruang netral, melainkan proses yang memproduksi kebenaran, identitas, dan legitimasi kebijakan. Artikel ini juga mengajak kita untuk lebih kritis terhadap narasi yang tampak objektif, karena apa yang dianggap fakta global sesungguhnya merupakan hasil operasi kuasa yang bekerja secara halus namun sangat menentukan.

    Balas
  8. David Akasian says:
    5 bulan ago

    Bacaan ini membantu melihat bahwa politik global dibentuk oleh kuasa

    Balas
    • David Akasian says:
      5 bulan ago

      ini menegaskan bahwa apa yang kita anggap sebagai “kenyataan internasional” sebenarnya banyak dipengaruhi cara kuasa bekerja mulai dari pengetahuan yang disisihkan, masalah yang diciptakan, sampai pembagian yang menentukan posisi negara.

      Balas
  9. Alisia Sandra Dewi says:
    5 bulan ago

    Kekuasaan paling efektif bekerja dengan memproduksi “kebenaran” yang diterima luas. Dengan mendefinisikan ancaman, normalitas, dan kategori global, aktor-aktor dominan membentuk realitas politik itu sendiri. Intervensi dan hierarki kemudian tampak logis dan tak terelakkan, mengukuhkan posisi mereka tanpa harus menggunakan kekuatan kasar. Intinya kuasa tidak hanya memaksa, tetapi membentuk persepsi tentang apa yang dianggap benar dan perlu dalam politik global.

    Balas
  10. Syanassa Maura Rahmadewi says:
    5 bulan ago

    Artikel ini membahas operasi kuasa dalam politik internasional dengan menggabungkan berbagai pendekatan teori mulai dari realisme, liberalisme, marxisme, post-marxisme, hingga postmodernisme. Penulis berhasil menunjukkan bahwa kekuasaan di era global tidak lagi hanya berbentuk dominasi militer atau ekonomi, tetapi juga bekerja melalui produksi dan kontrol pengetahuan. Dari sisi kekuatan, kerangka teoritis yang luas melihat hubungan internasional sebagai sesuatu yang kompleks dan penuh dinamika. Pemaparan konsep-konsep seperti distribusi pengetahuan, kuasa-naratif, dan struktur global cukup jelas dan relevan dengan isu politik kontemporer.

    Balas
  11. Regitha MayMoza says:
    5 bulan ago

    Artikel ini menyajikan pembacaan yang sangat komprehensif mengenai evolusi teori hubungan internasional (HI) dari paradigma klasik hingga pendekatan post-strukturalis. Penulis berhasil menunjukkan keterbatasan teori-teori arus utama—liberalisme, realisme, dan turunannya—yang selama ini dianggap dominan dalam menjelaskan perilaku negara dan dinamika global. Penjelasan mengenai neoliberalisme dan neorealisme juga tepat, terutama ketika menekankan bagaimana keduanya memperhalus dan memodernisasi argumen awal tanpa keluar dari kerangka rasionalitas dan anarki.
    Kekuatan utama artikel ini terletak pada pembacaan Foucauldian yang digunakan untuk menantang asumsi dasar teori klasik. Dengan mengangkat tiga perangkat analitis—subjugated knowledge, problematization, dan dividing practices—artikel ini menggeser fokus pembahasan dari “apa yang negara lakukan” menjadi “bagaimana realitas global diproduksi sehingga tindakan itu dimungkinkan”. Ini memberikan kontribusi penting bagi studi kritis HI.
    Subjugated knowledge diterangkan secara tajam sebagai mekanisme yang menyingkirkan pengetahuan alternatif demi mempertahankan dominasi narasi tertentu. Artikel dengan akurat menunjukkan bagaimana kuasa epistemik menentukan bentuk “kebenaran global” yang diterima.
    Problematization dibahas dengan baik untuk menunjukkan bahwa “masalah global” tidak muncul secara natural, tetapi dikonstruksi melalui data, wacana, dan praktik teknokratis. Ini memperkuat argumen bahwa kebijakan internasional sering kali berakar pada konstruksi diskursif, bukan pada fakta objektif.
    Dividing practices dijelaskan sebagai mesin pembentuk hierarki global, menyoroti bagaimana klasifikasi negara tidak hanya mendeskripsikan, tetapi juga menciptakan struktur ketimpangan internasional. Analisis ini penting untuk memahami reproduksi kekuasaan dalam sistem dunia.
    Artikel ini berhasil memperlihatkan bahwa politik internasional bukan hanya domain aktor rasional, tetapi proses produksi realitas yang dijalankan melalui kuasa pengetahuan. Pendekatan ini memperkaya diskusi HI dengan membuka lapisan konseptual yang lebih dalam—lapisan yang sering terabaikan oleh teori-teori konvensional.
    Secara keseluruhan, tulisan ini kuat secara teoritis, kritis dalam argumen, dan memberikan jembatan metodologis yang jelas antara teori klasik dan pendekatan post-strukturalis. Artikel ini dapat menjadi landasan penting bagi pembaca yang ingin memahami politik internasional bukan hanya sebagai dinamika kekuatan negara, tetapi sebagai arena kuasa yang memproduksi pengetahuan, identitas, dan struktur global itu sendiri.

    Balas
  12. Rickho says:
    4 bulan ago

    “Politik internasional beroperasi bukan hanya melalui interaksi negara, tetapi melalui produksi dan kontrol pengetahuan. Subjugated knowledge menyingkirkan perspektif marginal, problematisasi membentuk apa yang dianggap ancaman, dan dividing practices menetapkan hierarki global. Operasi kuasa ini mengkonstruksi realitas, menegaskan dominasi aktor hegemonik, dan menormalisasi narasi yang menguntungkan kepentingan tertentu

    Balas
  13. Manuel Carceres says:
    4 bulan ago

    Artikel ini memperkaya pemahaman saya tentang operasi kuasa dengan menunjukkan keterbatasan teori klasik serta pentingnya analisis wacana, struktur pengetahuan, dan praktik diskursif dalam politik internasional kontemporer secara kritis reflektif mendalam.

    Balas
  14. ANDREY JEREMY says:
    4 bulan ago

    Pendekatan Foucault melalui subjugated knowledge, problematization, dan dividing practices sangat tajam dalam membedah bagaimana kuasa memproduksi realitas, bukan sekadar dimiliki. Ini melampaui realisme atau liberalisme yang fokus pada “apa” dan “mengapa” negara bertindak, menuju “bagaimana” dunia dibentuk melalui eliminasi pengetahuan lokal dan klasifikasi hierarkis. Contohnya, narasi “negara gagal” sebagai dividing practice menjelaskan ketergantungan struktural negara berkembang, relevan dengan kasus Indonesia di forum global.
    ​
    Bagi studi saya di Indonesia, operasi kuasa ini menjelaskan mengapa suara ASEAN sering “subjugated” dalam isu Laut China Selatan. Artikel mendorong saya merefleksikan tugas esai: bagaimana problematization membentuk ancaman terorisme di Indo-Pasifik? Pendekatan ini memperkaya toolkit analisis saya melampaui teksbook standar.

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

No Result
View All Result
Selengkapnya
Selengkapnya
  • Arthuur Jeverson Maya Research
  • Beranda
  • Edisi Lampau
  • IPTV
  • Jurnal
  • Karya Arthuur Jeverson Maya
  • Kirim Donasi
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Mukadimah
  • Panduan Penulisan
  • Pasang Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Pengantar
  • Podcast
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Syarat Penggunaan

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

No Result
View All Result
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co