• American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
Social icon element need JNews Essential plugin to be activated.
Arthuur Research
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
No Result
View All Result
Arthuur Research
No Result
View All Result
Home Chinese Politics

Kungfu Cina vs Samurai Jepang: Estetika Konflik dan Rezim Produksi Ancaman

Arthuur Jeverson Maya by Arthuur Jeverson Maya
November 23, 2025
in Chinese Politics
0
Kungfu Cina vs Samurai Jepang: Estetika Konflik dan Rezim Produksi Ancaman
0
SHARES
56
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan ke WhatsApp

Relasi Cina–Jepang saat ini memperlihatkan bagaimana kuasa tidak hanya beroperasi melalui pengerahan militer, tetapi melalui produksi pengetahuan tentang ancaman, stabilitas, dan keamanan regional. Data menunjukkan bahwa nilai perdagangan bilateral kedua negara tetap berada pada kisaran 300–320 miliar dolar AS per tahun, dengan lebih dari 3.000 perusahaan Jepang masih aktif beroperasi di Cina serta sekitar 20–30 persen komponen industri Jepang bergantung pada rantai pasokan Cina. Di saat yang sama, Jepang meningkatkan anggaran pertahanannya hingga lebih dari 75 miliar dolar AS per tahun, sementara Cina mempertahankan belanja militernya di atas 220 miliar dolar AS dengan peningkatan konsisten.

Sheila A. Smith, Senior Fellow for Japan Studies di Council on Foreign Relations (CFR) dan mantan peneliti kebijakan keamanan Jepang di berbagai lembaga pertahanan AS, menegaskan bahwa konfigurasi ini bukan sekadar tanda persiapan perang, melainkan pembentukan rezim keamanan di mana ancaman dijadikan dasar legitimasi kebijakan negara.

Data ini menunjukkan paradoks kuasa: interdependensi ekonomi tidak meniadakan eskalasi simbolik, melainkan memperlihatkan bagaimana diskursus ancaman menata ulang realitas agar peningkatan militer tampil sebagai respons rasional. Fakta di lapangan mencatat lebih dari 200 intersepsi udara dalam tiga tahun terakhir dan puluhan insiden kedekatan ekstrem kapal patroli di Laut Cina Timur tanpa berubah menjadi kontak senjata.

Menurut Richard A. Bitzinger, Koordinator Program Pertahanan dan Keamanan di S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS), Nanyang Technological University Singapura, pola ini menunjukkan bahwa konflik dikelola dalam zona produktif: cukup tegang untuk menormalkan militarisasi, namun tidak cukup destruktif untuk merusak struktur ekonomi dan politik yang menopang kedua negara.

Dalam logika power/knowledge, Taiwan dan Laut Cina Timur berfungsi sebagai locus problematisasi, bukan semata wilayah fisik. Sekitar 40% jalur perdagangan Jepang dan lebih dari 70% impor energinya melewati kawasan itu, menjadikannya simpul strategis yang jika terganggu akan menimbulkan kerugian puluhan miliar dolar AS per tahun. Namun yang lebih menentukan adalah bagaimana kawasan ini dikonstruksi sebagai sumber ancaman melalui bahasa keamanan.

Zhang Tuosheng, Senior Research Fellow di China Foundation for International Strategic Studies dan mantan pejabat lembaga perencanaan keamanan Kementerian Pertahanan Cina, menegaskan bahwa Taiwan telah dikonstruksi sebagai simbol integritas nasional Cina, sehingga setiap gerak Jepang di kawasan tersebut secara otomatis masuk ke dalam rezim kebenaran sebagai intervensi geopolitik.

Data opini publik Jepang menunjukkan dukungan terhadap keterlibatan militer langsung masih terbelah hampir seimbang, menandakan bahwa legitimasi konflik terbuka belum sepenuhnya terkonsolidasi. Hugh White, Profesor Strategi di Australian National University dan mantan Wakil Sekretaris Departemen Pertahanan Australia, memandang kondisi ini sebagai penanda bahwa negara tidak hanya menghadapi ancaman eksternal, tetapi juga sedang membentuk subjek masyarakat yang terus berada dalam kondisi kesiagaan psikopolitik. Dengan demikian, rasa genting hadir bukan sebagai respons alamiah, melainkan hasil produksi diskursif yang terus direproduksi.

Konfigurasi kekuatan militer kedua negara juga memperlihatkan bagaimana kuasa bekerja melalui normalisasi kesiapsiagaan. Cina mengoperasikan lebih dari 360 kapal angkatan laut aktif, menjadikannya armada terbesar secara kuantitatif, sementara Jepang memperluas basis militernya di pulau-pulau barat daya yang berjarak kurang dari 200 kilometer dari wilayah sengketa serta mengembangkan kemampuan serang jarak jauh. Oriana Skylar Mastro, Associate Professor di Stanford University sekaligus analis pertahanan Tiongkok di Center for International Security and Cooperation, menilai bahwa peningkatan ini tidak mengarah pada perang langsung, melainkan memperluas ruang kendali simbolik dan operasional yang memperkuat efek gentar regional.

Data tambahan menunjukkan investasi Jepang di Cina masih mencapai puluhan miliar dolar AS dan hubungan industri belum menunjukkan gejala pemutusan struktural. Michael J. Green, Direktur Center for Strategic and International Studies (CSIS) Asia Program dan mantan penasihat keamanan nasional AS untuk Asia Timur, menegaskan bahwa selama struktur interdependensi ini masih berjalan, perang terbuka akan selalu berada di pinggiran keputusan karena tidak sinkron dengan keberlanjutan rezim keamanan yang sedang dibangun.

Dalam kerangka ini, perang tidak hadir sebagai tujuan, tetapi sebagai bayangan yang membenarkan seluruh praktik kuasa: peningkatan belanja militer, modernisasi persenjataan, mobilisasi nasionalisme, hingga pendisiplinan publik melalui bahasa ancaman. Kuasa tidak bekerja dengan menghapus konflik, melainkan dengan menjaga konflik tetap hidup dalam bentuk yang terkontrol. Yang berlangsung bukan hanya eskalasi fisik, tetapi produksi ketakutan yang dilembagakan, di mana masyarakat dilatih untuk menerima rasa genting sebagai keadaan normal. Prediksi yang muncul dari pembacaan ini tidak menunjuk pada perang terbuka, melainkan pada penguatan rezim keamanan yang semakin intens dan terinstitusionalisasi.

Retorika akan mengeras, latihan militer akan diperluas, dan diskursus ancaman akan semakin distandarkan melalui bahasa kebijakan dan analisis keamanan. Namun konflik berskala besar tetap ditunda, karena justru penundaan itulah yang membuat kuasa dapat terus bekerja secara efektif. Cina dan Jepang, dalam situasi ini, tidak hanya berhadapan sebagai negara, tetapi sebagai produsen sekaligus produk dari pengetahuan yang mereka sendiri ciptakan tentang ancaman dan stabilitas.

Dengan demikian, relasi ini memperlihatkan bahwa apa yang tampak sebagai krisis keamanan sejatinya adalah arena produksi kebenaran geopolitik. Perang bukan solusi, melainkan justifikasi; bukan puncak, melainkan latar. Yang dipertaruhkan bukan sekadar wilayah, melainkan kontrol atas makna: siapa yang berhak mendefinisikan bahaya, siapa yang dianggap rasional, dan siapa yang dikonstruksi sebagai sumber gangguan. Di situlah kuasa menemukan bentuk kerjanya yang paling efektif.

Loading

Previous Post

Operasi Kuasa dalam Politik Internasional

Next Post

Rezim Kebenaran

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya adalah dosen dan penulis yang berfokus pada politik Amerika Serikat dan Cina dalam dinamika transformasi tatanan global kontemporer. Dalam berbagai kajiannya, ia menelusuri bagaimana kuasa, pengetahuan, dan struktur dunia diproduksi melalui repetisi makna yang membentuk kesadaran global modern. Dari lintasan pemikiran tersebut, ia mengembangkan Simtoxa sebagai kerangka analitis sekaligus proses pemulihan orbit ontologis, yakni upaya mengembalikan manusia pada relasi kebenaran yang tidak semata dibentuk oleh struktur, diskursus, atau reproduksi simbolik dunia modern.

Next Post
Rezim Kebenaran

Rezim Kebenaran

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

No Result
View All Result
Selengkapnya
Selengkapnya

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

No Result
View All Result
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

A no-nonsense guide to UK casinos that accept Neteller in 2026. We rank the top operators, dissect bonus traps, and reveal the fastest withdrawal options, plus alternatives when Neteller isn’t available. read our expert guide to Neteller casinos UK 2026

Discover the best UK online casinos that still offer Pay N Play in 2026. Our expert guide covers instant play, top sites, bonuses, and alternatives. read the full guide to Pay N Play casinos UK 2026

Discover the best UK online casinos that accept PayPal in 2026. Our in-depth guide ranks the top PayPal casino sites, compares bonuses, payout speeds, and game libraries. Learn how to deposit and withdraw safely. No filler – just expert, updated advice. browse our curated list of PayPal casino sites

POLi is dead, but that doesn’t mean your UK casino deposits have to suffer. Discover the best alternatives, top sites that accept them, and why you’ll never see POLi in 2026. explore the best POLi alternatives for UK casinos

Find the best UK online casinos that accept Revolut in 2026. Compare bonuses, payout speeds, and fees. Complete guide with top picks, how-to, and alternatives. check out the full list of Revolut-friendly casinos

Find the best online casinos that accept Ripple XRP deposits for UK players in 2026. Compare top XRP gambling sites, bonuses, games, and payment speeds in our expert guide. read our full analysis of the best XRP casinos for UK players

Discover the top UK casinos accepting Siru Mobile in 2026. Compare bonuses, games, and payment options. Expert analysis with pros, cons, and a full ranking table. read our comprehensive Siru Mobile casinos guide

Find the best casinos that accept Solana in the UK for 2026. Our expert guide compares trusted sites, bonuses, games, and fast crypto payouts. Start playing with SOL safely. read our guide to the best Solana casinos UK 2026

Discover the best Tether casinos in the UK for 2026. Compare top USDT-friendly casinos, bonuses, fast withdrawals, and secure crypto gambling options for British players. read our guide to Tether casinos in the UK 2026

Discover the best TRON casinos for UK players in 2026. Compare top TRX gambling sites, bonuses, and games in our no-nonsense guide. read our TRON casino guide