• American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
Arthuur Research
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
No Result
View All Result
Arthuur Research
No Result
View All Result

Posisi Cina dalam Ketegangan AS–Greenland: Memotong Dalih “Ancaman Cina,” Mengunci Arktik melalui Hukum, Sains, dan Tata Kelola

Arthuur Jeverson Maya by Arthuur Jeverson Maya
Januari 11, 2026
in Chinese Politics
39
Posisi Cina dalam Ketegangan AS–Greenland: Memotong Dalih “Ancaman Cina,” Mengunci Arktik melalui Hukum, Sains, dan Tata Kelola
0
SHARES
226
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan ke WhatsApp

Dorongan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk “mengambil alih” Greenland dengan alasan keamanan kembali menempatkan Cina dalam posisi yang secara politis tidak ia pilih tetapi secara diskursif dipaksakan. Dalam berbagai pernyataan publik awal Januari 2026, Trump mengaitkan kepentingan Amerika atas Greenland dengan kebutuhan mencegah Rusia dan Cina memperluas pengaruh di Arktik. Media resmi Cina mencatat bahwa dalam retorika tersebut, Cina tidak ditampilkan sebagai aktor konkret dengan tindakan spesifik, melainkan sebagai figur ancaman abstrak yang dipanggil untuk memberi legitimasi pada agenda strategis Amerika Serikat (Xinhua 2026a).

Respons Beijing bergerak cepat namun terukur. Pada konferensi pers Kementerian Luar Negeri Republik Rakyat Cina tanggal 5 Januari 2026, juru bicara Lin Jian secara tegas menolak penggunaan apa yang ia sebut sebagai “so-called China threat” sebagai dalih untuk mengejar kepentingan sepihak. Lin menegaskan bahwa isu Greenland seharusnya tidak dibingkai melalui logika ancaman yang direkayasa, dan memperingatkan bahwa praktik semacam itu berisiko merusak stabilitas kawasan Arktik serta tatanan internasional yang berbasis hukum (FMPRC 2026). Pernyataan ini penting karena Cina tidak masuk ke perdebatan teknis mengenai kehadiran kapal atau aktivitas tertentu, melainkan menolak kerangka naratif yang dipakai Amerika Serikat sejak awal.

Sikap tersebut tidak bersifat ad hoc. Ia berakar pada kebijakan resmi Cina mengenai Arktik yang telah diformalkan sejak diterbitkannya dokumen negara berjudul China’s Arctic Policy oleh State Council pada Januari 2018. Dalam dokumen tersebut, Cina secara eksplisit menyatakan tidak memiliki klaim kedaulatan teritorial di Arktik, termasuk Greenland, dan menegaskan bahwa keterlibatannya dibatasi oleh hukum internasional, terutama Konvensi Hukum Laut PBB. Namun pada saat yang sama, Cina menegaskan kepentingan sahnya dalam navigasi, penelitian ilmiah, pemanfaatan sumber daya secara damai, serta partisipasi dalam tata kelola multilateral Arktik, dengan alasan bahwa perubahan iklim dan perkembangan jalur pelayaran Arktik memiliki implikasi global (State Council Information Office PRC 2018).

Dalam kerangka ini, Beijing membaca tekanan Amerika atas Greenland bukan sebagai isu bilateral antara Washington dan Kopenhagen, melainkan sebagai potensi preseden berbahaya. Xinhua menyoroti bahwa Greenland memiliki posisi strategis dalam arsitektur keamanan Atlantik Utara, berada di jalur GIUK gap, dan sekaligus menyimpan potensi sumber daya mineral seperti rare earths, grafit, nikel, dan tembaga. Data yang dikutip Xinhua menunjukkan bahwa meskipun wilayah Greenland yang bebas es semakin luas akibat perubahan iklim, hingga awal dekade 2020-an hanya dua proyek pertambangan yang beroperasi secara aktif, menandakan bahwa nilai strategis Greenland lebih banyak bersifat prospektif daripada aktual (Xinhua 2026b). Fakta ini memperkuat argumen Cina bahwa narasi ancaman lebih berfungsi sebagai alat politik daripada respons terhadap kondisi faktual di lapangan.

Strategi Cina dalam isu ini dapat dibaca melalui tiga lapis yang saling terkait. Lapis pertama adalah delegitimasi narasi. Dengan menolak konsep “ancaman Cina” secara langsung, Beijing berupaya memutus rantai legitimasi yang diperlukan Amerika Serikat untuk membenarkan perubahan status wilayah melalui tekanan. Alih-alih membantah tuduhan satu per satu, Cina menolak premis dasar perdebatan dan menggeser fokus dari ancaman eksternal ke motif politik internal Amerika Serikat (FMPRC 2026).

Lapis kedua adalah penguncian isu pada hukum dan multilateralisme. Dokumen kebijakan Arktik 2018 secara konsisten menempatkan Cina sebagai partisipan yang terikat aturan, bukan penantang tatanan. Dalam konteks Greenland, pendekatan ini memberi Cina posisi moral yang relatif aman untuk mengkritik tekanan sepihak tanpa harus memihak secara eksplisit salah satu aktor regional. Cina tidak perlu menyatakan dukungan politik langsung kepada Denmark atau Greenland; cukup dengan menegaskan bahwa perubahan status wilayah melalui paksaan bertentangan dengan prinsip dasar tata kelola internasional (State Council Information Office PRC 2018).

Lapis ketiga adalah investasi jangka panjang pada sains dan ekonomi sebagai bentuk kehadiran strategis non-militer. Media Cina berulang kali menekankan bahwa kepentingan Arktik Cina berkaitan dengan akses jalur pelayaran, penelitian iklim, dan stabilitas rantai pasok sumber daya, bukan dengan penguasaan teritorial. Dengan menjaga Arktik sebagai ruang kerja sama ilmiah dan ekonomi, Cina mempertahankan aksesnya tanpa memicu resistensi politik yang biasanya menyertai kehadiran militer (Xinhua 2026b).

Sejumlah analis Cina memperkuat pembacaan ini. Lü Xiang, peneliti di Chinese Academy of Social Sciences, menilai bahwa pengaitan Greenland dengan “ancaman Cina” mencerminkan pola lama kebijakan hegemonik Amerika Serikat yang membutuhkan musuh eksternal untuk membenarkan ekspansi pengaruh. Menurut Lü, isu ini lebih mencerminkan kebutuhan Washington untuk mempertahankan dominasi naratif daripada respons terhadap aktivitas nyata Cina di kawasan Arktik (Global Times 2026).

Dari posisi ini, beberapa prediksi dapat ditarik secara relatif konkret. Pertama, Cina kemungkinan besar akan mempertahankan garis komunikasi publik yang konsisten, menolak narasi ancaman dan menekankan hukum internasional serta multilateralisme, tanpa masuk ke eskalasi retorik atau militer. Kedua, Beijing akan memperkuat politik pengetahuan Arktik melalui riset ilmiah, kerja sama institusional, dan diplomasi normatif, karena jalur ini paling selaras dengan kebijakan resminya dan paling sulit dipatahkan tanpa merusak reputasi pihak lain. Ketiga, apabila tekanan Amerika meningkat, Cina cenderung mengeksploitasi biaya legitimasi Amerika di panggung global, menampilkan Washington sebagai aktor yang merusak stabilitas dan menekan bahkan sekutunya sendiri, alih-alih sebagai penjaga tatanan berbasis aturan (Xinhua 2026a; FMPRC 2026).

Dengan demikian, posisi Cina dalam isu AS–Greenland bukanlah upaya tersembunyi untuk merebut wilayah, melainkan strategi sadar untuk menolak dijadikan dalih, sambil menjaga agar Arktik tetap berada dalam kerangka hukum dan tata kelola yang memberinya ruang partisipasi jangka panjang. Dalam logika ini, kemenangan tidak diukur melalui kepemilikan wilayah, melainkan melalui kemampuan menentukan bahasa apa yang sah untuk mengubah peta politik global.

Kedaulatan Pilihan sebagai Fondasi Kebijakan Luar Negeri Cina

Untuk membaca posisi Cina dalam ketegangan AS–Greenland secara utuh, ia perlu ditempatkan dalam arsitektur kebijakan luar negeri Cina yang lebih luas, yakni prinsip kedaulatan pilihan. Prinsip ini menegaskan bahwa setiap entitas politik memiliki hak menentukan arah sejarah, bentuk institusi, dan jalur pembangunan tanpa tekanan eksternal. Berbeda dari pendekatan kedaulatan normatif yang menuntut keseragaman sistem dan nilai, Cina mengembangkan praktik kedaulatan yang berangkat dari pluralitas jalur politik dan penolakan terhadap pemaksaan kehendak oleh kekuatan luar.

Dalam kerangka tersebut, kedaulatan pilihan berfungsi sebagai perangkat pelindung sekaligus instrumen proyeksi normatif. Di satu sisi, ia melindungi Cina dari legitimasi intervensi atas urusan domestiknya sendiri. Di sisi lain, prinsip yang sama memungkinkan Beijing menantang praktik tekanan sepihak negara besar terhadap wilayah atau entitas lain tanpa harus terlibat langsung. Ketika Cina menolak dijadikan dalih dalam isu Greenland, penolakan itu tidak bertumpu pada afiliasi politik dengan pihak mana pun, melainkan pada konsistensi doktrinal bahwa masa depan suatu wilayah harus ditentukan oleh subjek politiknya sendiri, bukan oleh kalkulasi keamanan pihak eksternal.

Prinsip ini pula yang menjelaskan mengapa Cina secara sadar menghindari posisi sebagai pelindung atau patron alternatif bagi Greenland. Menawarkan perlindungan atau aliansi justru akan merusak kredibilitas gagasan kedaulatan pilihan yang ingin dipertahankan. Alih-alih menggantikan satu bentuk dominasi dengan dominasi lain, Cina memilih menempatkan dirinya sebagai aktor yang berkepentingan menjaga agar ruang pengambilan keputusan tetap terbuka dan tidak dipaksa. Dalam pandangan kebijakan luar negeri Cina, stabilitas internasional tidak lahir dari perluasan yurisdiksi, melainkan dari pengakuan atas keberagaman jalur kedaulatan dan pembangunan.

Pendekatan ini memberi Cina keunggulan diskursif ketika Amerika Serikat berhadapan bahkan dengan sekutunya sendiri. Dalam isu Greenland, tekanan Amerika terhadap wilayah otonom membuka celah naratif yang dapat dimanfaatkan Cina tanpa keterlibatan operasional apa pun. Dengan menegaskan bahwa pilihan politik harus lahir dari subjek politik yang bersangkutan, Cina secara implisit memosisikan pihak yang melakukan tekanan sebagai sumber instabilitas. Strategi ini memungkinkan Beijing memperluas pengaruh normatifnya secara simultan di berbagai kawasan, karena pesan yang disampaikan bersifat universal dan tidak bergantung pada kepentingan Cina semata.

Dengan latar belakang ini, posisi Cina dalam ketegangan AS–Greenland tampil bukan sebagai manuver jangka pendek, melainkan sebagai ekspresi konsisten dari arsitektur kebijakan luar negeri yang telah dibangun secara bertahap. Kedaulatan pilihan menjadi jembatan antara kepentingan nasional Cina dan tata kelola global yang ingin ia dorong. Dalam kerangka tersebut, menolak dijadikan dalih memiliki bobot strategis yang sama dengan menjaga agar Arktik tetap berada dalam ruang hukum dan kerja sama, di mana Cina dapat hadir, berpartisipasi, dan memperoleh keuntungan struktural tanpa harus menanggung biaya politik dan militer dari ekspansi terbuka.

 546 total views,  8 views today

Previous Post

Greenland dalam Diskursus Kuasa Amerika Serikat: Kedaulatan Selektif sebagai Logika Kebijakan

Next Post

Symbolic Power: Nobel Perdamaian Machado untuk Trump

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya adalah dosen dan penulis yang berfokus pada American Politics dan Chinese Politics dalam konteks kekuasaan global dan transformasi tatanan internasional. Kajian tersebut dilihat dalam perspektif postmodernisme dan genealogi kekuasaan, yang memahami politik internasional sebagai ruang produksi diskursus, identitas, dan legitimasi kekuasaan melalui institusi dan narasi sejarah.

Next Post
Symbolic Power: Nobel Perdamaian Machado untuk Trump

Symbolic Power: Nobel Perdamaian Machado untuk Trump

Comments 39

  1. Elizabeth Ravica Grace Cecilya says:
    4 bulan ago

    Artikel ini menurut saya secara tajam bagaimana Tiongkok menolak dijadikan dalih “ancaman” dalam ketegangan AS–Greenland, membalikkan narasi geopolitik. Argumen utama bahwa Tiongkok memproyeksikan kekuatan non-militer melalui penekanan pada hukum internasional, riset sains, dan multilateralisme sangat kuat. Implikasi pentingnya adalah Tiongkok berupaya memenangkan “pertempuran wacana” di Arktik, di mana kemenangan tidak diukur dari kepemilikan teritorial, melainkan dari kemampuannya untuk mengontrol kerangka tata kelola global. Namun, analisis ini perlu sedikit lebih kritis terhadap ambiguitas prinsip “kedaulatan pilihan” Tiongkok, yang dapat dibaca sebagai instrumen normatif selektif untuk melindungi dan memajukan kepentingan strategis Beijing.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      4 bulan ago

      Keren

      Balas
  2. valentina lim says:
    4 bulan ago

    Artikel ini tajam membedah bagaimana cina memanfaatkan hukum, sains, dan narasi kedaulatan untuk menolak politisasi “ancaman Cina”. Namun, ia juga menyingkap paradoks: strategi normatif Beijing menantang hegemoni AS tanpa sepenuhnya netral, karena tetap diarahkan pada akumulasi pengaruh jangka panjang non-teritorial.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      4 bulan ago

      Thank you

      Balas
  3. Cristin Livia Marbun says:
    4 bulan ago

    Menurut saya artikel ini secara kritis menunjukkan bagaimana Cina menolak narasi “ancaman” AS melalui hukum, multilateralisme, dan sains dengan memanfaatkan isu Greenland untuk memperkuat pengaruh normatif global tanpa ekspansi teritorial, sekaligus menantang legitimasi tekanan sepihak Amerika Serikat.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      4 bulan ago

      Great

      Balas
  4. Fajar Kanda Aro Umardy says:
    4 bulan ago

    Saya melihat pada artikel ini menunjukkan Cina tidak mengejar wilayah, melainkan bertarung lewat narasi hukum dan kedaulatan pilihan untuk melemahkan legitimasi tekanan sepihak Amerika di Arktik.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      4 bulan ago

      Keren

      Balas
  5. Bintari Nadeak says:
    4 bulan ago

    Menurut saya tentang artikel diatas Cina memosisikan diri dalam isu AS–Greenland bukan sebagai aktor ekspansionis melainkan sebagai pengendali kerangka hukum dan narasi. Melalui penolakan terhadap wacana “ancaman Cina” serta penekanan pada hukum internasional, multilateralisme, dan sains, Beijing berupaya memperoleh keuntungan strategis tanpa biaya militer. Implikasi utamanya adalah pergeseran persaingan global dari perebutan wilayah ke perebutan legitimasi dan bahasa politik. Namun strategi ini tetap bersifat instrumental karena kekuasaan Cina bekerja secara halus melalui norma dan tata kelola, bukan berarti tanpa ambisi kekuatan.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      4 bulan ago

      Thank you

      Balas
  6. Rickho says:
    4 bulan ago

    Artikel ini secara kritis merefleksikan cara Tiongkok memanfaatkan hukum internasional, sains, dan narasi kedaulatan untuk meredam sekaligus menolak politisasi wacana “ancaman Cina”. Di saat yang sama, artikel ini mengungkap sebuah paradoks mendasar: strategi normatif Beijing memang dimaksudkan untuk menantang hegemoni Amerika Serikat, tetapi tidak sepenuhnya netral atau defensif. Strategi tersebut tetap berorientasi pada akumulasi pengaruh jangka panjang yang bersifat non-teritorial, sehingga membentuk ulang relasi kuasa global tanpa harus melalui ekspansi wilayah secara langsung.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      4 bulan ago

      Thank you

      Balas
  7. alisia sandra dewi says:
    4 bulan ago

    Artikel ini menggambarkan bahwa Cina sebenarnya tidak bersikap pasif, melainkan secara sadar menentang narasi ancaman dari AS melalui hukum dan penelitian. Persaingan di Arktik saat ini lebih berkaitan dengan bahasa dan legitimasi dibanding penguasaan wilayah secara fisik.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      4 bulan ago

      Benar

      Balas
  8. Manuel Carceres says:
    4 bulan ago

    Artikel ini menunjukkan bagaimana Cina merespons isu Greenland dengan menolak narasi “ancaman Cina” melalui pendekatan hukum, sains, dan tata kelola. Argumen ini penting karena menyingkap penggunaan diskursus keamanan sebagai alat legitimasi kepentingan geopolitik Amerika Serikat di Arktik.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      4 bulan ago

      Mantap

      Balas
  9. ANDREY JEREMY says:
    4 bulan ago

    Penolakan Cina terhadap bingkai “ancaman Cina” di Greenland membalik kedaulatan selektif AS dimana situasi ini mendeligitimasi narasi preemtif Washington sambil memajukan norma kedaulatan pilihan secara normatif, mengungkap kontradiksi hegemoniknya tanpa ambisi teritorial.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      4 bulan ago

      Betul sekali

      Balas
  10. Maria Helena says:
    4 bulan ago

    Dalam ketegangan di Greenland, Cina sedang bermain “catur diplomatik”. Mereka tidak melawan AS dengan otot, melainkan dengan argumen hukum internasional dan riset sains. Tujuannya adalah mematahkan tuduhan AS sekaligus memastikan Cina tetap punya peran di wilayah Arktik yang sangat kaya dan strategis tersebut.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      4 bulan ago

      Sip

      Balas
  11. Deandra Anastasya says:
    4 bulan ago

    Cina pintar karna menolak sebuah gertakan Ancaman AS di Artik, menempatkan hukum, dan sebuah tata kelola sbg sebuah alat legitimasi geoplotik mengubah persaingan wilayah yang menjadi rebutan narasi dan aturan global.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      4 bulan ago

      Sip

      Balas
  12. Regitha MayMoza Siregar says:
    4 bulan ago

    Artikel ini menawarkan analisis yang kaya dan terstruktur mengenai posisi Cina dalam isu ketegangan AS–Greenland, khususnya dengan menyoroti dimensi diskursif dan normatif dari kebijakan luar negeri Beijing. Salah satu kekuatan utama tulisan ini terletak pada kemampuannya membedakan antara ancaman sebagai konstruksi naratif dan ancaman sebagai realitas material. Dengan menekankan bahwa Cina lebih sering diposisikan sebagai figur ancaman abstrak daripada aktor konkret, artikel ini berhasil mengungkap bagaimana isu keamanan sering kali berfungsi sebagai alat legitimasi politik Amerika Serikat, bukan sebagai respons langsung terhadap tindakan Cina di lapangan.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      4 bulan ago

      Siap

      Balas
  13. Viona Isidora says:
    4 bulan ago

    Artikel ini menunjukan bahwa Cina menolak narasi “ancaman Cina” yang dikemukakan oleh AS. Cina mengatasi arena geopolitik bukan dengan kekuatan militer, namun melalui riset ilmiah serta hukum internasional yang jelas.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      4 bulan ago

      Thank you

      Balas
  14. Vioni Isidora says:
    4 bulan ago

    Posisi Cina dalam ketegangan antara AS dan Greenland menunjukkan bagaimana isu keamanan dipakai sebagai pembenaran politik, sementara Cina menekankan hukum dan pilihan lokal, menyoroti ketegangan antara kekuasaan, narasi, dan keadilan global.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      4 bulan ago

      Thank you

      Balas
  15. David Akasian says:
    4 bulan ago

    Artikel ini menunjukkan bagaimana Cina memanfaatkan hukum dan sains untuk menantang narasi ancaman AS, menegaskan bahwa konflik Arktik lebih soal legitimasi geopolitik daripada keamanan nyata.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      4 bulan ago

      Thank you

      Balas
  16. Efraim Saragih says:
    4 bulan ago

    Artikel ini meyakinkan menunjukkan bagaimana Cina menolak kedaulatan selektif AS melalui delegitimasi wacana ancaman, memindahkan politik Arktik dari perebutan wilayah ke pertarungan legitimasi normatif.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      4 bulan ago

      Thank you

      Balas
  17. Gabriella Sheilla Divina Widjaja says:
    4 bulan ago

    AS sebagai dominasi dunia menghalalkan segala cara untuk membenarkan aksinya dengan mengkambing hitamkan namun Cina tetap berkepala dingin dan meresponi siasat AS melalui tanggapan yang dapat menguntungkan Cina sebagai pihak yang dipandang sesuai dengan kebijakan negara dan menunjuk AS sebagai pemicu konflik secara implisit.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      4 bulan ago

      Thank you

      Balas
  18. galih chavvah says:
    4 bulan ago

    Artikel ini secara tajam memotong narasi ancaman Cina terhadap Arktik dengan argumen hukum internasional, dan prinsip tata kelola yang solid, menunjukkan bahwa klaim AS-Greenland sering kali berbasis spekulasi geopolitik. Namun, kritiknya terhadap ekspansi Cina kurang mengakui ambisi Beijing dalam sumber daya mineral, yang bisa memperburuk ketegangan regional.

    Balas
  19. Rafael Putra Priyanto says:
    4 bulan ago

    Artikel ini secara lugas membantah narasi tentang ancaman Cina di kawasan Arktik dengan bertumpu pada argumen hukum internasional dan prinsip tata kelola yang kuat, sekaligus menegaskan bahwa klaim Amerika Serikat Greenland kerap lebih didorong oleh spekulasi geopolitik. Meski demikian, ulasan tersebut belum sepenuhnya memberi perhatian pada ambisi Cina dalam menguasai sumber daya mineral, yang berpotensi memicu peningkatan ketegangan di kawasan tersebut.

    Balas
  20. MATHEW RENOL TAOPAN says:
    4 bulan ago

    Dalam perjuangan untuk masa depan bangsa, negara harus berani bersikap tegas. Dalam hal ini, Cina tegas menjaga legitimasinya atas Greenland dan melawan narasi Amerika sekaligus memperkuat pengaruhnya melalui “kekuatan lunak”.

    Balas
  21. Muhammad Febrian Pratama says:
    3 bulan ago

    Bang Arthur secara tajam membongkar dekonstruksi narasi ‘ancaman Cina’ sebagai alat legitimasi AS. Strategi Beijing mengunci Arktik melalui hukum dan sains sangat cerdas dalam memenangkan pertempuran diskursif tanpa konfrontasi fisik.

    Balas
  22. Kelvin Titus Naro says:
    3 bulan ago

    Menurut Saya Artikel ini menunjukkan bahwa “ancaman Cina” kerap dipakai sebagai dalih geopolitik AS untuk melegitimasi kontrol atas Greenland, sementara Cina mengunci akses Arktik lewat hukum, sains, dan tata kelola; implikasinya, kompetisi bergeser menjadi perebutan aturan, bukan sekadar militer.

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

No Result
View All Result
Selengkapnya
Selengkapnya
  • Arthuur Jeverson Maya Research
  • Beranda
  • Edisi Lampau
  • IPTV
  • Jurnal
  • Karya Arthuur Jeverson Maya
  • Kirim Donasi
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Mukadimah
  • Panduan Penulisan
  • Pasang Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Pengantar
  • Podcast
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Syarat Penggunaan

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

No Result
View All Result
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co