Tulisan ini merupakan hasil diskusi dalam kegiatan IRGD (International Relations Group Discussion) Prodi Ilmu Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia (UKI) yang dilaksanakan pada Kamis, 21 Mei 2026 dengan tema Neoliberal Homo Economicus: Are We Human Beings or Human Capital?. Kegiatan ini dikoordinatori oleh Ellya Dameria Enesca, S.Sos., M.Sc selaku dosen Prodi HI UKI dan Peneliti University of Oxford. Pemateri dalam kegiatan ini adalah Adrianus Lengu Wene, S.Sos., M.Si dan Ellya Dameria Enesca, S.Sos., M.Sc, dengan moderator Elkata Atua, seorang pemikir kontemporer yang menghadirkan gagasan tentang agen-agen pemulihan di tengah disrupsi ontologis modernitas. Diskusi ini memperlihatkan bahwa modernitas tidak lagi sekadar membentuk sistem ekonomi, tetapi telah mengonstruksi orbit ontologis manusia itu sendiri. Dalam neoliberalisme, manusia direduksi menjadi entitas yang dinilai berdasarkan produktivitas, efisiensi, kompetisi, dan performativitas sosial. Akibatnya, being manusia mengalami disrupsi karena keberadaannya tidak lagi dipahami sebagai keberadaan yang utuh, melainkan sebagai representasi yang terus diproduksi melalui angka, citra, pencapaian, dan kapital simbolik. Di titik ini, hipperrepresentasi modernitas bekerja bukan hanya pada level ekonomi, tetapi pada level ontologis manusia.
Michel Foucault dalam pembahasannya mengenai Homo Economicus menunjukkan bahwa neoliberalisme berbeda dengan liberalisme klasik. Dalam liberalisme klasik, manusia dipahami sebagai subjek pertukaran ekonomi yang bergerak di pasar. Namun dalam neoliberalisme, manusia bukan lagi sekadar pelaku pasar, melainkan menjadi perusahaan bagi dirinya sendiri (enterprise of himself). Individu didorong untuk terus mengelola tubuh, keterampilan, pendidikan, relasi sosial, bahkan emosinya sebagai investasi kapital. Dengan demikian, manusia modern hidup dalam logika permanen optimalisasi diri. Kehidupan tidak lagi dijalani sebagai eksistensi ontologis, tetapi sebagai proyek ekonomi yang harus selalu menghasilkan nilai tambah.
Foucault melihat bahwa mekanisme ini bekerja sangat halus karena kuasa neoliberal tidak hadir terutama melalui represi, tetapi melalui internalisasi rasionalitas pasar ke dalam kesadaran manusia. Subjek modern akhirnya mengawasi dirinya sendiri berdasarkan ukuran performa, produktivitas, dan kompetisi. Manusia tidak perlu lagi dipaksa secara eksternal karena ia telah menjadi pengelola sekaligus pengawas atas dirinya sendiri. Dalam kondisi inilah Homo Economicus neoliberal menjadi bentuk baru governmentality modern, yaitu ketika kuasa bekerja melalui kebebasan yang diarahkan. Kebebasan individu tampak semakin luas, tetapi pada saat yang sama seluruh hidup manusia terserap ke dalam logika kalkulasi ekonomi dan hiperproduktivitas sosial.
Namun diskusi ini melangkah lebih jauh dengan menghadirkan Simtoxa sebagai kritik terhadap reduksi tersebut. Simtoxa tidak membaca manusia sekadar sebagai efek diskursus atau produk struktur ekonomi, melainkan sebagai subjek yang memiliki veritas persona yang inheren di dalam dirinya. Karena itu, manusia tidak identik dengan nilai tukarnya di dalam sistem neoliberal.
Dalam pembahasan tersebut, veritas persona dipahami sebagai inti ontologis yang tidak dapat direduksi oleh hipperrepresentasi modernitas. Modernitas membentuk manusia untuk terus mengejar pengakuan simbolik melalui media, institusi, karier, maupun kapital, sehingga manusia kehilangan pusat ontologis dirinya sendiri. Orbit being menjadi tercerai-berai karena subjek hidup di bawah repetisi representasi eksternal. Simtoxa membaca kondisi ini sebagai disrupsi ontologis, yaitu ketika manusia hidup berdasarkan pantulan simbolik dunia, bukan berdasarkan pemulihan ontoself yang inheren.
Ontoself dalam Simtoxa kemudian hadir sebagai ruang pemulihan orbit ontologis tersebut. Pemulihan ini bukan berarti kembali pada romantisme masa lalu atau penolakan terhadap modernitas, melainkan proses ketika veritas persona membaur dengan ontoself sehingga subjek tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh performativitas neoliberal. Dengan demikian, manusia tidak lagi hidup hanya sebagai komoditas sosial atau mesin produktivitas, tetapi sebagai subjek yang memiliki keberadaan intrinsik yang tidak bergantung pada validasi hipperrepresentasi modernitas.
Karena itu, diskusi ini menghasilkan satu pembacaan baru terhadap Homo Economicus neoliberal. Jika modernitas memproduksi manusia sebagai kapital yang terus dipertukarkan, maka Simtoxa menawarkan pemulihan ontologis melalui veritas persona dan ontoself sebagai pusat keberadaan subjek. Di sinilah diskusi menjadi penting, sebab yang dipertaruhkan bukan hanya sistem ekonomi global, tetapi keberadaan manusia itu sendiri: apakah manusia tetap menjadi subjek yang utuh, atau larut sepenuhnya menjadi representasi yang dikendalikan oleh orbit hipperrepresentasi modernitas.
178 total views, 12 views today

