Kekuasaan adalah misteri. Ia tidak hanya menghasilkan kepatuhan, tetapi juga ketidakmampuan untuk menyepakati penolakan. Pada 6 Juli 2026, Angkatan Laut Cina meluncurkan misil balistik jarak jauh dari kapal selam bertenaga nuklir di Laut Cina Selatan menuju Pasifik. Misil dengan dummy warhead itu dilaporkan jatuh di sekitar zona ekonomi eksklusif Tuvalu, tetapi Beijing tidak membuka jenis, lintasan, dan titik jatuhnya secara terperinci. Negara-negara terkait juga hanya menerima pemberitahuan beberapa jam sebelum peluncuran (Reuters 2026). Cina menyebutnya latihan rutin yang aman dan tidak ditujukan kepada negara tertentu (Mahadzir 2026). Kerahasiaan tersebut bukan kelemahan kekuasaan, melainkan cara menciptakan ketidakpastian yang memaksa Pasifik menafsirkan sendiri kemampuan dan maksud Cina.
Respons negara-negara Pasifik tidak membentuk garis pemisah sederhana antara pendukung dan penentang Cina. Tuvalu, Palau, Vanuatu, Fiji, Australia, dan New Zealand menyatakan keberatan karena peluncuran itu membawa sistem berkemampuan nuklir ke kawasan yang dibangun sebagai ruang bebas nuklir. Solomon Islands bahkan mengambil posisi paling paradoksal. Perdana Menteri Matthew Wale menyebut Cina sebagai sahabat, tetapi menegaskan bahwa peluncuran misil bukan tindakan seorang sahabat. Penolakannya tidak diarahkan kepada Beijing semata: Cina, Amerika Serikat, atau negara mana pun tidak boleh menjadikan Pasifik sebagai tempat pengujian ICBM (ABC Australia 2026). Respons tersebut memperlihatkan bahwa negara-negara Pasifik tidak hanya mempersoalkan asal misil, tetapi menolak hak kekuatan besar mengubah kawasan mereka menjadi ruang demonstrasi strategis.
Kekuatan Cina bekerja berbeda di laut dan di meja perundingan. Di laut, satu misil cukup untuk memperlihatkan jangkauan materialnya; di PIF, Cina bahkan tidak perlu hadir agar tindakannya menentukan arah pembicaraan. Pertemuan 18 anggota di Suva pada 7 Agustus 2026 gagal menghasilkan pernyataan bersama setelah Kiribati dan Nauru tidak menerima rumusan yang secara khusus diarahkan kepada Beijing. Hubungan diplomatik kedua negara dengan Cina tidak membuktikan adanya perintah langsung, tetapi dalam sistem PIF yang bergantung pada konsensus, penolakan dua negara cukup untuk menahan posisi mayoritas dan menghapus kecaman dari keputusan kolektif (Reuters 2026). Di situlah misteri kekuasaan muncul: kemampuan Cina tidak hanya terletak pada peluncuran misil, tetapi pada terciptanya keadaan ketika negara-negara yang mencemaskannya tidak mampu mengubah kecemasan tersebut menjadi sikap regional. Cina menguasai laut melalui jangkauan senjata, tetapi memperoleh ruang di meja perundingan melalui ketidaksepakatan negara lain.
Misteri uji 6 Juli justru terletak pada siapa yang sebenarnya sedang dihadapi Cina. Peluncuran SLBM sejauh sekitar 7.300 kilometer ke perairan internasional bukan sekadar pengujian jangkauan, melainkan pembuktian bahwa second-strike capability Cina mulai dapat dipindahkan dari daratan ke ruang bawah laut yang lebih sulit ditemukan dan dihancurkan. Jika SLBM berjangkauan antarbenua dapat diluncurkan dari perairan yang relatif terlindungi dekat Cina, kapal selam strategis Beijing tidak perlu mendekati Amerika untuk menempatkannya dalam radius pembalasan. Pasifik karena itu bukan terutama sasaran, melainkan geografi pembuktian deterrence terhadap Washington. Paradoksnya tajam: Cina memperkuat keamanannya terhadap Amerika dengan memproyeksikan ketidakamanan ke kawasan yang tidak mengancamnya. SLBM tersebut tidak hanya menguji kemampuan senjata, tetapi menguji sejauh mana keamanan satu kekuatan besar dapat dibangun dengan menjadikan ruang negara lain sebagai medan pembuktian kekuasaannya.
![]()

