Komunisme adalah hantu. Ia terus kembali menghantui politik Amerika Serikat bahkan ketika fondasi geopolitik yang melahirkannya telah lama berubah. Lebih dari tiga dekade setelah runtuhnya Uni Soviet dan berakhirnya Perang Dingin, komunisme kembali menjadi salah satu isu yang paling dominan dalam kontestasi politik menjelang pemilu sela Amerika Serikat 2026. Menguatnya pengaruh figur-figur democratic socialist di dalam Partai Demokrat, seperti Zohran Mamdani, Bernie Sanders, dan Alexandria Ocasio-Cortez, disertai berkembangnya dukungan terhadap Democratic Socialists of America (DSA), memperlihatkan bahwa gagasan mengenai perluasan negara kesejahteraan, redistribusi ekonomi, penguatan hak-hak buruh, serta kepemilikan publik atas sektor-sektor strategis semakin memperoleh ruang dalam politik elektoral Amerika (Reuters 2026; Associated Press 2026). Kemenangan Zohran Mamdani sebagai Wali Kota New York, yang secara terbuka mengidentifikasi dirinya sebagai democratic socialist, menjadi salah satu simbol paling menonjol dari pergeseran tersebut (Reuters 2026). Perubahan ini kemudian dimanfaatkan Partai Republik untuk membangun narasi bahwa Partai Demokrat tidak lagi sekadar bergeser ke kiri, tetapi sedang membawa Amerika menuju sosialisme, bahkan komunisme. Akibatnya, istilah socialism, Marxism, dan communism kembali mendominasi pidato Donald Trump beserta para kandidat Partai Republik sebagai penanda ancaman terhadap masa depan Amerika Serikat menjelang pemilu sela November 2026 (Reuters 2026). Fenomena ini menunjukkan bahwa komunisme tidak kembali sebagai kekuatan politik yang dominan, melainkan sebagai hantu yang terus dihidupkan dalam imajinasi politik Amerika setiap kali perebutan kekuasaan memasuki momentum yang menentukan.
Retorika tersebut tidak berhenti pada tataran kampanye, tetapi berkembang menjadi bahasa resmi yang digunakan untuk mendefinisikan arah politik Amerika Serikat. Dalam pidato peringatan 250 tahun Kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli 2026, Donald Trump menyatakan bahwa negara itu sedang menghadapi kebangkitan “communist menace” dan menegaskan bahwa “America will never be a communist country.” Beberapa hari kemudian, menjelang pemilu sela, ia kembali menuduh Partai Demokrat telah diambil alih oleh “hardcore, godless communists” serta memperingatkan bahwa mereka ingin “completely destroy the traditional American way of life.” Dalam kurun waktu hanya dua minggu setelah kemenangan kandidat-kandidat democratic socialist di New York, Trump menggunakan istilah communism sebanyak 81 kali dalam berbagai pidato dan pernyataan publik sebagai bagian dari strategi kampanye Partai Republik (Reuters 2026). Pola yang sama juga terlihat dalam pidatonya di Michigan, ketika ia kembali menyebut para lawan politiknya sebagai “communists” di tengah kampanye mempertahankan mayoritas Partai Republik di Kongres (Reuters 2026). Intensitas penggunaan istilah tersebut memperlihatkan bahwa komunisme tidak lagi sekadar menjadi kategori ideologis, melainkan telah berubah menjadi perangkat retoris untuk menyatukan beragam isu domestik mulai dari imigrasi, inflasi, kebijakan sosial, hingga kemenangan kandidat progresif ke dalam satu ancaman politik yang sama. Dengan demikian, yang sedang dipertontonkan bukanlah kebangkitan komunisme sebagai realitas empiris, melainkan kebangkitan anti-komunisme sebagai strategi politik yang membentuk persepsi publik menjelang kontestasi elektoral.
Narasi anti-komunisme yang terus direproduksi oleh elite politik menemukan resonansinya di tengah masyarakat Amerika. Survei Economist/YouGov pada Juli 2026 menunjukkan bahwa 43% warga Amerika memandang komunis di Amerika Serikat sebagai ancaman besar atau ancaman sedang, terdiri atas 18% yang menganggapnya sebagai ancaman besar dan 25% sebagai ancaman sedang. Persepsi tersebut jauh lebih kuat di kalangan pendukung Partai Republik, di mana 64% responden menilai komunis sebagai ancaman yang nyata terhadap Amerika Serikat (Economist/YouGov, 2026). Temuan ini memperlihatkan bahwa komunisme tidak lagi dipahami semata sebagai konsep ideologis atau pengalaman historis Perang Dingin, tetapi sebagai kategori ancaman yang tetap hidup dalam imajinasi politik masyarakat. Dengan demikian, efektivitas narasi anti-komunisme tidak bergantung pada keberadaan gerakan komunis yang dominan di Amerika Serikat, melainkan pada kemampuannya mempertahankan persepsi bahwa ancaman tersebut masih nyata.
Penjelasan mengenai kebangkitan kembali anti-komunisme biasanya berhenti pada dua kesimpulan. Pertama, ia dipahami sebagai respons terhadap menguatnya pengaruh kelompok democratic socialist di dalam Partai Demokrat. Kedua, ia dianggap sebagai strategi elektoral Partai Republik untuk memobilisasi basis pemilih menjelang pemilu. Kedua penjelasan tersebut memang menjelaskan mengapa isu anti-komunisme kembali muncul, tetapi belum mampu menjelaskan mengapa narasi tersebut tetap efektif di tengah perubahan struktur politik global. Jika komunisme tidak lagi menjadi ancaman geopolitik seperti pada era Perang Dingin, mengapa istilah tersebut masih mampu membangkitkan ketakutan, membentuk identitas politik, dan mengarahkan preferensi elektoral jutaan warga Amerika? Pertanyaan ini menunjukkan bahwa persoalannya tidak lagi terletak pada komunisme sebagai realitas politik, melainkan pada mekanisme yang memungkinkan komunisme terus memperoleh daya hidup sebagai realitas yang diyakini.
Penjelasan tersebut masih menyisakan satu persoalan yang belum terjawab. Jika pengaruh democratic socialist di Amerika Serikat masih terbatas pada sebagian wilayah dan faksi tertentu di dalam Partai Demokrat, mengapa retorika anti-komunisme mampu menghasilkan resonansi politik yang jauh lebih besar daripada realitas empiris yang melahirkannya? Rohpolitik berangkat dari titik persoalan ini. Ancaman politik tidak memperoleh daya pengaruhnya semata-mata karena keberadaan objek yang mengancam, tetapi karena keberhasilannya mengarahkan orientasi keberadaan manusia terhadap objek tersebut. Oleh karena itu, efektivitas anti-komunisme tidak ditentukan oleh seberapa besar kekuatan komunisme di Amerika Serikat, melainkan oleh keberhasilannya membentuk orientasi kolektif bahwa komunisme harus dipahami sebagai ancaman terhadap identitas nasional, kebebasan, dan masa depan Amerika. Dalam kerangka ini, retorika politik tidak bekerja terutama dengan memperluas pengetahuan masyarakat mengenai komunisme, tetapi dengan memperkuat orientasi moral yang mendahului penilaian rasional. Ketika orientasi tersebut telah terbentuk, setiap figur, kebijakan, atau gagasan yang diasosiasikan dengan democratic socialism akan lebih mudah diterima sebagai representasi dari ancaman yang sama, meskipun masing-masing memiliki karakter historis, ideologis, dan programatik yang berbeda. Dengan demikian, yang dipertahankan menjelang pemilu bukan terutama perdebatan mengenai komunisme sebagai konsep politik, melainkan orientasi yang memungkinkan komunisme terus berfungsi sebagai simbol ancaman dalam imajinasi politik Amerika Serikat.
Persoalannya kemudian bukan lagi bagaimana orientasi tersebut dibentuk, melainkan bagaimana orientasi itu diterima sebagai kebenaran. Di sinilah Simtoxa memberikan penjelasan yang lebih mendasar. Simtoxa berangkat dari asumsi bahwa manusia tidak terlebih dahulu bertindak berdasarkan fakta, tetapi berdasarkan kebenaran yang telah memperoleh resonansi dalam dirinya. Dengan demikian, efektivitas retorika anti-komunisme tidak bergantung pada pembuktian bahwa komunisme benar-benar sedang berkembang sebagai ancaman dominan di Amerika Serikat. Efektivitasnya justru terletak pada kemampuannya menghubungkan beragam realitas politik yang berbeda ke dalam satu struktur makna yang sama. Kemenangan Zohran Mamdani, menguatnya Democratic Socialists of America, usulan perluasan negara kesejahteraan, kritik terhadap kapitalisme, hingga rivalitas strategis dengan Cina tidak lagi dipahami sebagai fenomena yang memiliki konteks historis dan politik yang berbeda, tetapi dilebur ke dalam satu kategori yang sama: komunisme. Peleburan inilah yang dalam Simtoxa disebut sebagai veridic fusion, yakni proses ketika berbagai fakta yang secara ontologis berbeda kehilangan batas-batasnya dan diterima sebagai satu kebenaran yang tampak utuh. Pengulangan narasi tersebut melalui pidato politik, media, dan kampanye elektoral kemudian menghasilkan resonansi yang semakin kuat hingga membentuk sedimentasi veridik, yaitu keadaan ketika suatu kebenaran tidak lagi memerlukan pembuktian baru karena telah diterima sebagai sesuatu yang alamiah. Pada titik inilah anti-komunisme tidak lagi bekerja sebagai argumen politik, melainkan sebagai struktur kebenaran yang mendahului penilaian politik itu sendiri. Ketika struktur tersebut telah mengendap, masyarakat tidak lagi menilai apakah suatu gagasan benar-benar komunis, melainkan apakah gagasan tersebut telah cukup dekat dengan citra komunisme yang telah lama tertanam dalam kesadaran kolektif mereka. Di sinilah kemenangan politik tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan menguasai ruang publik, tetapi oleh keberhasilan membentuk struktur kebenaran yang menjadi dasar masyarakat memahami realitas politik.
Komunisme akhirnya tidak lagi bekerja terutama sebagai ideologi, melainkan sebagai hantu. Hantu tidak memperoleh kekuatannya dari keberadaan materialnya, tetapi dari kemampuannya terus hidup dalam orientasi politik dan struktur kebenaran masyarakat. Semakin sering komunisme dihadirkan sebagai ancaman, semakin kuat ia membentuk orientasi mengenai siapa yang harus ditakuti, siapa yang harus dilawan, dan apa yang harus dipertahankan. Pengulangan tersebut secara perlahan mengubah persepsi menjadi keyakinan, keyakinan menjadi kebenaran, dan kebenaran menjadi dasar bagi setiap penilaian politik berikutnya. Ketika proses itu telah mengendap, komunisme tidak lagi memerlukan kehadiran empiris yang sebanding dengan daya pengaruhnya. Ia cukup hadir sebagai simbol yang mampu menyatukan berbagai realitas politik yang berbeda ke dalam satu ancaman yang sama. Dalam kondisi demikian, pemilu tidak lagi hanya menjadi kompetisi gagasan atau program pemerintahan, tetapi juga menjadi ruang reproduksi orientasi dan struktur kebenaran yang menentukan bagaimana masyarakat memahami realitas sebelum mereka mengambil keputusan politik. Justru karena itulah komunisme tidak pernah benar-benar mati dalam politik Amerika Serikat. Ia terus hidup sebagai hantu yang dipanggil kembali setiap kali kekuasaan memerlukan musuh yang mampu menggerakkan ketakutan, membangun identitas, dan menghasilkan legitimasi politik. Hantu tidak pernah meminta untuk dipercaya; ia hanya perlu terus dihadirkan hingga masyarakat berhenti mempertanyakan keberadaannya.
![]()

