• American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
Arthuur Research
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
No Result
View All Result
Arthuur Research
No Result
View All Result

UKRAINA SEBAGAI OBJEK PENYEBAB HASRAT

Artikel ini akan dikembangkan dan diperdalam menjadi proposal riset dosen dan mahasiswa/i untuk diusulkan pada semester genap 2022

Arthuur Jeverson Maya by Arthuur Jeverson Maya
Juli 20, 2025
in American Politics
4
UKRAINA SEBAGAI OBJEK PENYEBAB HASRAT
0
SHARES
332
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan ke WhatsApp

Objek ganjil adalah sesuatu yang tidak dapat diakses oleh pengetahuan. Ia adalah ketidaktahuan dalam pengetahuan tentang objek hasratnya. Atas dasar itulah artikel ini muncul sebagai respon atas fantasi kekuasaan global yang diperebutkan oleh representasi Barat dan Timur di tempat yang ganjil yaitu Ukraina. Analisis mengacu pada dua pemikran filsuf terkenal, Michel Foucault dan Jacques Lacan. Di mana sumbangsih pemikiran kontemporer yang menarik pada level pengetahuan dan fantasi, sehingga tulisan ini lebih ketat dalam menganalisis fenomena “perang hasrat” antara Joe Biden dan Vladimir Putin.

Foucault lebih berfokus pada relasi kuasa dan pengetahuan. Ia menganalisis bagaimana suatu rezim pengetahuan melalui institusi-institusi masyarakat mempertahankan suatu kekuasaan, dan kekuasaan berusaha agar pengetahuan tidak mengalami retakan sejarah sepanjang genealogi pengetahuan. Hal ini disebut Foucault sebagai panopticon, adalah upaya-upaya pendisiplinan atau penormalan terhadap suatu rezim pengetahuan sehingga ia tetap terinternalisasi sebagai kebenaran. Retakan terhadap sejarah perang mulai terjadi ketika masyarakat global lebih cenderung anti-perang. Namun, retakan sejarah tersebut dijahitkan kembali melalui perang hasrat pada level analisis individu. Inilah kelemahan dari persepktif-perspektif arus utama, yang mengemukakan ontoantropologi sebagai sentral analisis politik luar negeri. Di mana “aku berpikir maka aku ada” menjadi ontologi dalam membangun asumsi-asumsi perdamaian, yang merupakan keganjilan dalam fantasi fundamental.

Pemikiran Lacan berfokus pada peran fantasi fundamental dalam menjaga objek penyebab hasrat. Di mana, subjek memberikan makna terhadap suatu objek sehingga memunculkan hasrat. Dalam pemberian makna, subjek selalu berada pada dimensi “lacuna,” yaitu terjadi kekosongan-kekosongan dalam diri subjek sehingga makna terhadap objek bertujuan untuk mengisi kekosongan-kekosongan subjek tersebut. Selain itu, Lacan juga menjelaskan bahwa bertahannya makna terhadap objek penyebab Hasrat tersebut disebabkan karena fantasi fundamental di dalam diri subjek. Ia bukanlah relasi kuasa pengetahuan atau kebenaran, seperti diungkapkan Foucault, namun, ia adalah prakondisi ketiadaan pengetahuan atas objek hasrat. Retakan fantasi fundamental akan terjadi jika subjek mengetahui sesuatu yang lain – yang bukan harapan hasratnya.

Ukraina adalah objek penyebab Hasrat yang dimulai dengan prakondisi pengetahuan dan kekuasaan. Sehingga suatu keganjilan atas perang tersebut masih menjadi misteri. Pengetahuan semu dalam perang tersebut mengacu pada penguasaan geopolitik untuk menjaga hegemoni global dan kawasan. Biden dan NATO didisiplinkan objek hasratnya melalui pengetahuan penguasaan, sedangkan Putin difantasikan bahwa Ukraina adalah objek penyebab Hasrat yang harus dipertahankan. Fenomena hasrat tersebut tidak memiliki pergeseran makna sejak PD II. Di mana Eropa Barat adalah objek penyebab hasrat Hitler dengan slogan lebensraum, Afrika dan Timur Tengah menjadi objek penyebab hasratnya Mussolini dengan slogan Irradenta, yaitu dimana ada orang Italia dan berbahasa Italia, di situlah wilayahnya, sedangan Asia Raya menjadi objek penyebab hasrat Kaisar Hirohito dengan slogan geopolitik Hakko Ichiu, yang menganggap bahwa kemakmuran bersama Asia Raya harus dicapai secara universal, dengan kata lain, seluruh negeri bagaikan sebuah rumah.

Slogan geopolitik tersebut dijahitkan kembali pada perang Krimea hingga Ukraina, di sisi Barat, perdamaian hanya bisa tercipta jika peradabannya adalah liberalisme (baca: Fukuyama). Oleh karena itu, dalam mempertahankan perdamaian demokrasi tersebut, maka AS harus tetap menjadi hegemoni dunia. Di sisi Timur, slogan geopolitik dijahitkan dengan fantasi fundamental realisme, di mana mempertahankan Ukraina melalui kemerdekaan Donetsk dan Luhansk adalah suatu “kebenaran keamanan.” AS dengan hasrat geopolitik global dan Rusia dengan hasrat geopolitik kawasan Eropa Timur, difantasikan secara fundamental, sehingga setiap perilaku negara diakui sebagai suatu kebenaran absolut.

Pada rentetan peristiwa sejak 2013 hingga 2022, beroperasinya rezim pengetahuan geopolitik, di mana kekuasaan Rusia harus memperjuangkan kemerdekaan Krimea hingga Donetsk dan Luhansk. Ketegangan dimulai sejak adanya kesepakatan politik dan perdagangan dengan Uni Eropa. Presiden Ukraina, Viktor Yanukovych, menolak perjanjian asosiasi dengan Uni Eropa demi hubungannya dengan Moscow. Hal tersebut menimbulkan gerakan sosial yang memicu protes massa terhadap Presiden, hingga digulingkan dari jabatannya pada 2014. Peristiwa penggulingan jabatan Presiden Viktor Yanukovych mendapatkan respon keras dari Moscow. Pada Maret 2014, Rusia mencaplok Krimea, sebuah semenanjung otonom di Ukraina Selatan. Dalih pencaplokan tersebut didasarkan pada pembelaan kepentingan warga berbahasa Rusia. Pencaplokan tersebut dipandang Barat sebagai upaya “tidak sah.”

Deklarasi operasi militer Rusia ke Ukraina disampaikan dalam pidato Putin pada 24 Februari 2022. Berbagai literatur akademik maupun media massa memberitakan sebab-sebab operasi tersebut dilakukan, seperti mencegah Ukraina agar tidak menggangu deklarasi kemerdekaan Donetsk dan Luhansk, mencegah kehadiran AS dan NATO di Ukraina, melakukan keseimbangan kekuatan, dan mengingatkan dunia bahwa kekuatan hegemoni global AS diambang kehancuran. Ia dibuktikan dengan berbagai bentuk penolakan terhadap “diplomasi dolar,” bertambah rusaknya hubungan AS dan beberapa negara-negara Muslim, maraknya uji coba nuklir Korea Utara di Semenanjung Korea, sikap India yang terus menjalin hubungan baik dengan Rusia, dan beberapa pernyataan pro Rusia dari negara-negara di luar Eropa.

Jika diriset lebih dalam, maka terdapat lebih banyak lagi alasan yang menguatkan pernyataan bahwa AS bukan lagi hegemoni tunggal. Lalu, berbagai literatur juga mencatat bahwa perang Ukraina adalah fenomena yang menguatkan negara-bangsa sebagai satu-satunya aktor dalam Hubungan Internasional yang mampu menjaga perdamaian maupun menentukan perang terbuka antarnegara. Suatu anomali, jika hal tersebut terus disebarkan tanpa mempertimbangkan level analisis individu, di mana, diskursus negara berlogika “ketakutan” atau struktur pembentuk negara bangsa tidak akan menjadi sangat agresif tanpa representasi atau elit individu.

Singkatnya, artikel ini ingin menempatkan Joe Biden dan Vladimir Putin sebagai elit individu yang lebih memiliki karakter “rubah” dibandingan struktur negara bangsa. Perdebatan besar muncul jika struktur tidak lagi menentukan perilaku subjek, namun subjeklah yang kemudian menciptakan dan menguburkan struktur. Pergeseran ontoteologi ke ontoantropologi menjadi menarik jika kita mengacu pada tulisan Nietzsche bahwa “tuhan telah mati.” Ia berarti bahwa filsafat modern berusaha menggeser paradigma yang bersumber pada struktur ke manusia/level individu. Bukan suatu permasalahan bagi para akademisi dengan perbedaan paradigma, namun menjadi permasalahan karena diskursus pertama (Biden) selalu bermakna baik, sedangkan diskursus kedua (Putin) bermakna buruk.

Kaum postmodernisme selalu menempatkan kritikan yang selalu hangat pada bangunan bineritas yang disebabkan karena pendisiplinan relasi antara kekuasaan dan pengetahuan. Namun mereka melupakan bahwa pengetahuan atau kebenaran adalah ketidaktahuan atau ketidakbenaran. Di mana, pengetahuan adalah sesuatu yang belum diketahui, atau pengetahuan terbatas pada relasi saja. Jika retakan relasi terjadi pada suatu waktu melalui rezim pengetahuan lain, maka terlihat dan terucap juga, “jika dari dulu saya tau bahwa…….” Dalam arti lain bahwa  “ada dalam ketiadaan” dan “kebenaran dalam ketidakbenaran” selalu datang “setelah” bukan “sebelum.” Di sini kita akan kembali pada konsep ketidaksadarn Lacan yang mengatakan bahwa “masa lalu dari kesadaran akan ditemukan di masa akan datang. Kita hanya akan sadar suatu saat nanti, saat kita menyadari bahwa selama ini, kita tidak sadar (baca Lacan).

Biden dan Putin sedang berada dalam kesadaran masa lalu, suatu saat nanti, mereka akan menyadari bahwa keterlibatan militer dalam operasi  di Ukraina hanyalah suatu fantasi fundamental yang mengalami retakan. Ukraina seperti seorang perempuan cantik yang sementara menggoda Biden dan Putin. Mereka terjebak pada hasrat kecantikan dan keseksiannya. Ukraina mampu memuaskan hasrat keduanya, seakan-akan Ukraina adalah satu-satunya wanita tercantik di dunia. Sehingga, Ukraina menjadi objek hasrat dan objek penyebab hasrat (baca: Polimpung) yang didisiplinkan bukan dengan rezim pengetahuan yang semu, namun melalui instrumen fantasi fundamental. Menurut penulis, fantasi fundamental yang dimaksudkan Lacan adalah “alat multifungsi” dalam mengatur dan mempertahankan agar Ukraina tetap menjadi objek penyebab hasrat. Perang tidak akan pernah berhenti, tanpa adanya retakan fantasi fundamental.

Kendati demikian, ketidaksadaran Biden dan Putin akan mengantarkan mereka pada “keganjilan.” Ia merupakan konsep yang disampaikan Lacan tentang keterpecahan subjek saat mengetahui (sebelumnya juga “tahu”) yang sebenarnya (bukan kebenaran). Kecantikan Ukraina secara geopolitik hanyalah pengetahuan ketidaksadaran. Adalah benar bahwa kecantikan Ukraina hanyalah bentuk yang dijahitkan atau ditempelkan secara politik. Ukraina adalah keganjilan yang akan meretakan fantasi fundamental Biden dan Putin. Ukraina bukanlah suatu gadis cantik yang harus dijadikan sebagai objek penyebab hasrat, namun Ukraina hanyalah seorang pria yang ditempelkan atau dijahitkan kecantikan seorang wanita, dengan kata lain, Ukraina hanyalah “waria.”

 1,308 total views,  6 views today

Previous Post

MISTERI DIBALIK EMPAT PILAR BANGSA INDONESIA

Next Post

Pembukaan PKKMB UKI 2023 oleh Para Pimpinan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya adalah dosen dan penulis yang berfokus pada American Politics dan Chinese Politics dalam konteks kekuasaan global dan transformasi tatanan internasional. Kajian tersebut dilihat dalam perspektif postmodernisme dan genealogi kekuasaan, yang memahami politik internasional sebagai ruang produksi diskursus, identitas, dan legitimasi kekuasaan melalui institusi dan narasi sejarah.

Next Post

Pembukaan PKKMB UKI 2023 oleh Para Pimpinan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik.

Comments 4

  1. Feny says:
    3 tahun ago

    Keren bgtt Pak…

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      6 bulan ago

      Thank you

      Balas
  2. דירות דיסקרטיות בתל אביב says:
    3 tahun ago

    I was excited to uncover this web site. I want to to thank you for your time for this wonderful read!! I definitely appreciated every bit of it and I have you book-marked to look at new things in your site.

    Balas
    • Arthuur Jeverson says:
      8 bulan ago

      You are welcome

      Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

No Result
View All Result
Selengkapnya
Selengkapnya
  • Arthuur Jeverson Maya Research
  • Beranda
  • Edisi Lampau
  • IPTV
  • Jurnal
  • Karya Arthuur Jeverson Maya
  • Kirim Donasi
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Mukadimah
  • Panduan Penulisan
  • Pasang Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Pengantar
  • Podcast
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Syarat Penggunaan

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

No Result
View All Result
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co