• American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
Arthuur Research
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
No Result
View All Result
Arthuur Research
No Result
View All Result

“Dari Tujuan Mulia ke Tubuh Jinak: Menelanjangi SDGs lewat Lensa Foucault”

Arthuur Jeverson Maya by Arthuur Jeverson Maya
September 23, 2025
in Logika & Teori
0
“Dari Tujuan Mulia ke Tubuh Jinak: Menelanjangi SDGs lewat Lensa Foucault”
0
SHARES
49
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan ke WhatsApp

Agenda Sustainable Development Goals (SDGs) yang diluncurkan pada 2015 dipahami luas sebagai komitmen moral global untuk menghapus kemiskinan, mengurangi ketimpangan, dan menjaga keberlanjutan planet. Dengan 17 tujuan dan 169 indikator, SDGs tampak sebagai peta jalan netral dan berbasis bukti. Namun, dalam perspektif Foucauldian, ia adalah sebuah dispositif — jaringan praktik diskursif, institusi, dan teknik pemerintahan yang menstrukturkan kemungkinan tindakan negara dan populasi. SDGs berfungsi sebagai mekanisme governmentality global, yang tidak sekadar memerintah, tetapi membentuk cara negara mengatur diri, berbicara, dan memproduksi kebenaran tentang pembangunan. Melalui indikator dan pelaporan periodik, ia menyebarkan rezim kebenaran yang tampak objektif, tetapi pada dasarnya mengikat tubuh dan populasi pada logika tertentu tentang kemajuan. Analisis kritis ini membuka cara pandang baru: SDGs bukan hanya “apa” yang dikerjakan, tetapi “bagaimana” subjek pembangunan diproduksi.

Normalisasi dan Standar Global

Dalam kerangka Foucault, normalisasi adalah operasi sentral disciplinary power, ia menilai, membandingkan, dan mengoreksi. SDGs mengartikulasikan normalisasi pada skala global. Indikator kemiskinan, pendidikan, dan kesehatan bukan sekadar statistik, melainkan instrumen produksi kebenaran yang menegakkan “norma pembangunan” dan sekaligus mengidentifikasi deviasi. Negara yang tidak memenuhi target diinskripsikan sebagai “tertinggal” atau “kurang berkelanjutan”, seperti individu yang dicatat sebagai “abnormal” dalam institusi disipliner klasik. Melalui praktik diskursif ini, SDGs mendefinisikan apa yang dianggap “baik” dan “buruk” sehingga negara menginternalisasi norma tersebut untuk memperoleh legitimasi. Bahasa SDGs yang universal menyerupai ujian Foucauldian: bukan hanya mengukur, tetapi melatih subjek agar belajar sesuai format ujian. Negara, kementerian, dan organisasi sipil merancang kebijakan bukan karena lahir dari kebutuhan internal, tetapi karena indikator global mendikte format pelaporan. Ini adalah contoh nyata bagaimana kuasa/pengetahuan bekerja: indikator menghasilkan data, data menghasilkan kebenaran, kebenaran melegitimasi kuasa. Dalam mekanisme ini, pembangunan tidak lagi murni proyek sosial, melainkan juga mekanisme pembentukan subjek patuh pada norma global. Mekanisme ini bersifat ambivalen. Di satu sisi ia memfasilitasi koordinasi dan kolaborasi global. Di sisi lain, ia menghomogenkan ruang sosial yang seharusnya plural. Dalam istilah Foucault, SDGs adalah sebuah apparatus yang membatasi “lapangan kemungkinan” kebijakan dengan cara yang halus dan produktif. Kritik Foucauldian bukanlah menolak norma, melainkan mengungkap operasi tersembunyi normalisasi yang membuat kita menerima standar itu sebagai “alami”.

Tubuh dan Populasi sebagai Arena Kekuasaan

Foucault menempatkan tubuh sebagai situs utama disciplinary power. SDGs melalui target kesehatan, pendidikan, kesetaraan gender, dan lingkungan mengintervensi tubuh-tubuh itu: imunisasi, pendidikan berkelanjutan, pola makan sehat, gaya hidup hijau adalah latihan yang membuat tubuh menjadi docile bodies — berguna, produktif, tetapi juga patuh pada norma global. Praktik ini bukan sekadar pelayanan publik; ia adalah “pendisiplinan kehidupan” yang membentuk habitus baru sesuai visi keberlanjutan. Di atas level individu, Foucault mengembangkan konsep biopolitik: teknik pengelolaan populasi melalui statistik, sensus, dan program massal. SDGs merupakan artikulasi kontemporer biopolitik ini: angka kematian ibu, partisipasi sekolah, akses air bersih, dan penggunaan energi terbarukan adalah parameter yang mengatur populasi. Negara diminta bukan hanya menyediakan layanan, tetapi memproduksi populasi yang sesuai dengan profil statistik “sehat” dan “berdaya saing” menurut norma global. Pengetahuan yang menopang SDGs — laporan kesehatan, survei pendidikan, audit gender — adalah bentuk kuasa/pengetahuan yang melegitimasi intervensi. Seperti rumah sakit atau sekolah dalam analisis Foucault, SDGs adalah institusi global yang mengatur kehidupan dengan bahasa teknis dan netral, padahal ia juga memproduksi subjek tertentu: “warga dunia” yang berkelanjutan. Tubuh individu dan populasi menjadi arena produksi norma global, bukan hanya penerima kebijakan. Dengan kacamata Foucauldian, SDGs bukan sekadar program teknis, tetapi teknologi politik kehidupan — sebuah dispositif biopolitik yang mengatur kehidupan melalui program yang tampak netral. Analisis ini membuka kesadaran bahwa keberlanjutan adalah juga rezim kebenaran yang perlu dinegosiasikan.

Governance by Numbers dan Efek Panoptik

Panoptikon Bentham, yang dianalisis Foucault, adalah model pengawasan yang membuat individu merasa selalu diawasi dan karena itu mengatur diri sendiri. SDGs, dengan mekanisme pelaporan, benchmarking, dan pemeringkatan global, menciptakan panoptisisme pada skala dunia. Negara dan lembaga tidak dipaksa secara langsung, tetapi merasa dilihat dan dinilai melalui indikator global. Mereka menginternalisasi pengawasan itu dan menyesuaikan diri dengan norma keberlanjutan. Fenomena ini menunjukkan governmentality dalam bentuk paling halus: ia tidak bekerja melalui perintah, tetapi melalui pengaturan medan tindakan. Negara, lembaga, dan masyarakat sipil merancang program bukan demi kebutuhan internal semata, tetapi demi performa di mata global. Dalam bahasa Foucault, ini adalah “pemerintahan atas diri” yang dipicu oleh “tatanan pengawasan” tanpa pengawas yang hadir. Data dan indikator SDGs bukan sekadar cermin realitas, melainkan “ritus kebenaran” yang memproduksi realitas itu sendiri. Ketika negara menyesuaikan program untuk memperbaiki indikator, yang terjadi bukan sekadar peningkatan performa, melainkan transformasi subjek. Kita belajar untuk hidup dan berpikir dalam bahasa skor dan grafik; pembangunan direduksi menjadi fetish angka yang membentuk horizon tindakan kita. Dengan cara ini, kuasa/pengetahuan global bekerja lebih halus dan menyebar. SDGs sebagai governance by numbers memadukan kuasa dan pengetahuan untuk mengarahkan pembangunan dunia, menciptakan kebenaran tentang “pembangunan baik” sekaligus menyingkirkan variasi lokal dan jalan alternatif. Efek panoptik ini memperlihatkan bahwa SDGs bukan hanya proyek moral, tetapi juga mekanisme disipliner yang mengatur perilaku negara dan masyarakat global.

Aspek Kritis

Bahasa Foucault membantu kita melihat bahwa mekanisme SDGs adalah dispositif yang produktif sekaligus normalisatif. Ia mendorong inovasi, kesadaran lingkungan, dan pengentasan kemiskinan, tetapi juga menghomogenkan konteks lokal dan menempatkan negara berkembang sebagai “objek” intervensi global. Standar global yang tampak netral sesungguhnya mencerminkan “rezim kebenaran” tertentu yang diangkat menjadi universal, sehingga perlu diungkap dan dinegosiasikan. Pengetahuan statistik yang menopang SDGs bekerja seperti “eksamen” dalam institusi disipliner: ia memantau, menilai, dan mengklasifikasi. Negara mungkin tampak maju dalam indikator tertentu, tetapi masyarakatnya tidak selalu mengalami perbaikan substansial. Dalam konteks ini, indikator global berfungsi lebih sebagai alat kontrol daripada alat pembebasan, meniru pola “disciplinary power” yang membuat subjek patuh melalui normalisasi. Di sisi lain, kekuasaan yang bekerja melalui SDGs bersifat produktif: ia menghasilkan kebijakan baru, membentuk perilaku baru, dan memperluas akses pada sumber daya. Namun sifat produktif ini tidak menghapus dimensi kekuasaan yang mendisiplinkan. Justru karena ia produktif, kekuasaan SDGs lebih mudah diterima dan diinternalisasi, sehingga dampak normalisasinya lebih dalam dan lebih luas. Di sinilah relevansi konsep Foucault: kekuasaan tidak hanya menindas, tetapi memproduksi; dan karena itu ia harus dibaca secara kritis.

Kesadaran kritis ini penting agar kita dapat mengadaptasi SDGs secara lebih kontekstual, partisipatif, dan sensitif terhadap keragaman nilai. Dengan membaca SDGs sebagai praktik diskursif dan teknologi politik kehidupan, kita tidak menolaknya, melainkan mempersoalkan cara dan logika pelaksanaannya. Keberlanjutan tidak harus berarti keseragaman, tetapi keberagaman cara mencapainya; dan itu hanya mungkin bila standar global ditempatkan dalam dialog kritis dengan konteks lokal.

 258 total views,  4 views today

Previous Post

Genealogi sebagai Metode: Membongkar Kuasa dan Kebenaran

Next Post

Evolusi Keamanan Internasional: Dari Benteng Negara ke Perlindungan Manusia

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya adalah dosen dan penulis yang berfokus pada American Politics dan Chinese Politics dalam konteks kekuasaan global dan transformasi tatanan internasional. Kajian tersebut dilihat dalam perspektif postmodernisme dan genealogi kekuasaan, yang memahami politik internasional sebagai ruang produksi diskursus, identitas, dan legitimasi kekuasaan melalui institusi dan narasi sejarah.

Next Post
Evolusi Keamanan Internasional: Dari Benteng Negara ke Perlindungan Manusia

Evolusi Keamanan Internasional: Dari Benteng Negara ke Perlindungan Manusia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

No Result
View All Result
Selengkapnya
Selengkapnya
  • Arthuur Jeverson Maya Research
  • Beranda
  • Edisi Lampau
  • IPTV
  • Jurnal
  • Karya Arthuur Jeverson Maya
  • Kirim Donasi
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Mukadimah
  • Panduan Penulisan
  • Pasang Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Pengantar
  • Podcast
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Syarat Penggunaan

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

No Result
View All Result
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co