Tidak ada sesuatu pun yang diam. Segalanya bergerak, berubah, berproses—bahkan pikiran yang menganggap dirinya tetap, pun hanyut di dalam arus perubahan yang melahirkannya. Dunia bukanlah kumpulan benda, melainkan jaringan relasi yang tak pernah selesai memproduksi dirinya. Dalam setiap benda berdenyut sejarah; dalam setiap ide bergetar kerja manusia. Filsafat, dalam arti yang paling dalam, hanyalah upaya untuk menafsirkan getaran itu: upaya menangkap gerak yang tak bisa berhenti.
Karl Marx adalah filsuf yang mengubah arah filsafat: dari menafsirkan gerak menuju menjadi bagian dari gerak itu sendiri. Ia tidak berbicara tentang kebenaran sebagai sesuatu yang sudah ada, melainkan sebagai sesuatu yang terjadi — kebenaran yang dihasilkan oleh manusia dalam praksisnya. Dalam dirinya, filsafat berhenti menjadi cermin dunia dan berubah menjadi alat untuk memecahkan dunia. Maka, berpikir dalam tradisi Marxian bukan sekadar menalar, melainkan ikut bergerak bersama sejarah, menyelam ke dalam kontradiksi yang melahirkan dunia.
Dan di sinilah kuncinya: filsafat Marx bersifat materialis, sedangkan metodenya adalah dialektika.
Materialisme memberi dasar ontologis—bahwa realitas yang sejati adalah dunia material, tempat manusia hidup, bekerja, dan berjuang. Dialektika memberikan cara kerja logis—bahwa dunia material tidak statis, melainkan bergerak melalui pertentangan internalnya. Sehingga materialisme dialektis bukan sistem tertutup, melainkan filsafat gerak, logika dari dunia yang berpikir tentang dirinya sendiri.
1. Materialisme: Dunia Nyata dan Bayang Kesadarannya
Materialisme Marxian bukanlah dogma, melainkan revolusi epistemologis. Ia tidak berhenti pada fakta bahwa “materi ada,” tetapi menggeser pusat analisis dari benda ke relasi produksi—ke jaringan sosial yang menghasilkan benda, makna, dan kesadaran. Dunia, dengan demikian, bukan sekadar ada, tetapi dikerjakan.
Dalam Tesis tentang Feuerbach, Marx memisahkan dirinya dari dua ekstrem: materialisme lama yang pasif, dan idealisme yang menjadikan kesadaran sumber realitas. Ia menyatakan bahwa realitas bukanlah objek yang harus diterangkan, melainkan proses yang harus diubah. Inilah yang kemudian oleh Louis Althusser disebut sebagai “pembalikan praksis” (renversement pratique): bukan ide yang menentukan dunia, tetapi praktik materiallah yang membentuk horizon ide.
Althusser melihat di sini “patahan epistemologis” antara Marx muda dan Marx dewasa. Dalam fase awal, Marx masih berbicara dalam bahasa humanisme dan esensi manusia; namun setelah German Ideology, ia menulis dunia tanpa subjek pusat. Kesadaran tidak lagi menjadi motor sejarah, melainkan efek dari struktur material. Dengan kata lain, bagi Althusser, subjek adalah posisi dalam struktur, bukan asal-usul struktur.
Dari sudut ini, materialisme Marxian menjadi anti-humanis dan anti-teleologis. Ia menolak gagasan bahwa sejarah digerakkan oleh “manusia universal”. Justru, manusia selalu historis, selalu terjerat dalam relasi produksi tertentu. Maka, seperti yang dikatakan Althusser, “Marxisme adalah teori tanpa subjek.” Namun, paradoksnya, justru karena itulah ia menjadi teori yang paling manusiawi—karena menyingkap bagaimana “manusia” dibentuk oleh dunia yang ia bentuk sendiri.
Dalam konteks ini, Marx tidak sekadar mengembalikan manusia ke dunia material; ia mengembalikan dunia ke manusia. Dunia bukan “di luar sana” sebagai benda yang selesai, tetapi hadir sebagai proses yang diproduksi oleh tenaga manusia dan relasi sosial. Kebenaran bukan cermin, melainkan produksi. Seperti dikatakan Lukács dalam History and Class Consciousness, manusia tidak hanya mengamati dunia, tetapi “berada di dalam totalitas prosesnya.”
Namun di bawah kapitalisme, totalitas itu terpecah. Relasi sosial mengeras menjadi benda; kerja manusia tampil sebagai komoditas. Ini yang oleh Lukács disebut reifikasi (Verdinglichung)—proses di mana hubungan antar-manusia tampil seolah-olah hubungan antar-benda. Dalam dunia seperti itu, kesadaran menjadi terfragmentasi, dan manusia tidak lagi mengenali dirinya dalam hasil kerjanya. Kapitalisme bukan sekadar sistem ekonomi; ia adalah kosmos ideologis yang menata cara manusia merasakan dunia.
Dari sinilah materialisme Marx menjadi kritik atas ilusi naturalitas. Tidak ada yang alami dalam relasi sosial; bahkan “hukum ekonomi” adalah hasil sejarah. Dengan cara ini, Marx membuka jalan bagi pemikiran kritis modern: dari Althusser hingga Žižek, dari Gramsci hingga Benjamin, semua menghidupkan kembali gagasan bahwa dunia material tidak pernah netral. Ia adalah medan kuasa yang terus berubah.
2. Dialektika: Kontradiksi sebagai Hukum Gerak Realitas
Dialektika adalah logika dari yang hidup. Ia menolak garis lurus dan memilih spiral; menolak keseimbangan dan memilih ketegangan. Dalam Afterword edisi kedua Capital, Marx menulis bahwa dialektika adalah “bentuk kesadaran dari gerak dunia material.” Artinya, dialektika bukan sekadar metode berpikir, melainkan refleksi sadar atas logika dunia itu sendiri.
Jika materialisme memberi kita “apa” yang ada, maka dialektika memberi kita “bagaimana” yang ada itu menjadi.
Hegel menyebut dialektika sebagai proses Roh menuju kesadaran diri; Marx membaliknya: bukan kesadaran yang bergerak melalui materi, melainkan materi sosial yang bergerak melalui kontradiksi internalnya.
Bagi Marx, kapitalisme adalah laboratorium dialektika paling konkret. Ia menyimpan kontradiksi antara nilai-guna dan nilai-tukar, antara tenaga kerja dan kapital, antara produktivitas dan eksploitasi. Sistem ini hidup karena kontradiksi—dan karena itu, ia juga mati karenanya. “Krisis,” tulis Marx, “adalah cara kapitalisme memecahkan kontradiksi hanya untuk mempersiapkan yang lebih besar.”
Di titik ini, dialektika Marx berdiri di antara dua ekstrem: ia menolak determinisme vulgar yang menjadikan ekonomi sebagai sebab tunggal, dan menolak idealisme yang menjadikan kesadaran sebagai penggerak mutlak. Seperti dijelaskan Althusser, determinasi dalam Marx bersifat kompleks, bukan linear.
Althusser menyebutnya “determination in the last instance”: ekonomi memang penentu terakhir, tetapi hanya dalam kondisi di mana seluruh struktur sosial berinteraksi secara simultan. Dengan kata lain, politik, ideologi, dan budaya memiliki otonomi relatif.
Dialektika Marx, karena itu, adalah dialektika tanpa pusat. Ia tidak bergerak dari satu titik menuju penyelesaian mutlak, melainkan terus berputar di sekitar kontradiksi yang melahirkan dirinya. Dalam logika semacam ini, tidak ada “akhir sejarah”. Bahkan revolusi pun bukan penutup, melainkan pembukaan dari bentuk kontradiksi baru.
Theodor Adorno kemudian menamainya negative dialectics: dialektika yang menolak penutupan total. Dunia tidak pernah selesai, dan setiap totalitas membawa luka di dalam dirinya. Pemikiran, bagi Adorno, hanya bisa jujur jika ia setia pada ketidaksempurnaan dunia—jika ia berpikir melalui negasi, bukan afirmasi.
Dengan demikian, berpikir dialektis berarti berpikir secara tragis: berpikir di dalam luka, bukan di luar luka. Karena di situlah, justru, kehidupan bekerja.
3. Historisitas: Waktu yang Retak dan Subjek yang Diciptakan
Bagi Marx, sejarah bukan narasi linear yang menuju kemajuan, melainkan proses yang ditenun dari konflik. Dalam Preface to the Critique of Political Economy, ia menulis bahwa setiap formasi sosial lahir ketika kekuatan produktif bertentangan dengan hubungan produksi yang ada. Sejarah, karenanya, adalah dialektika antara produktivitas dan batas-batas sosialnya.
Namun, Althusser menolak pembacaan evolusioner terhadap Marx. Ia memperkenalkan konsep overdetermination—bahwa setiap peristiwa sejarah (termasuk revolusi) bukan hasil satu kontradiksi tunggal, melainkan hasil jalinan kompleks dari berbagai kontradiksi ekonomi, politik, ideologis. Inilah historisitas yang tidak deterministik: waktu sosial yang bergerak dalam banyak ritme, seperti polifoni dari berbagai lapisan struktur.
Di sisi lain, Antonio Gramsci memperluas gagasan ini ke medan budaya. Bagi Gramsci, kelas penguasa tidak hanya berkuasa melalui kekuatan material, tetapi juga melalui hegemoni—persetujuan ideologis yang membuat dominasi tampak alami. Maka, sejarah bukan hanya soal produksi material, tetapi juga produksi makna. “Setiap revolusi,” tulis Gramsci, “dimulai di kepala manusia.”
Walter Benjamin menambahkan nada apokaliptik: sejarah bukan arus progresif, melainkan tumpukan reruntuhan. Dalam Theses on the Philosophy of History, ia menulis tentang “malaikat sejarah” yang menatap masa lalu penuh kehancuran sementara badai kemajuan mendorongnya ke depan. Benjamin membaca Marx secara mesianik—bukan sebagai hukum gerak, tetapi sebagai pekerjaan pengingatan terhadap yang tertindas.
Dengan demikian, historisitas Marx dapat dibaca dalam dua lapisan:
- Sebagai struktur material—perubahan formasi sosial melalui kontradiksi ekonomi.
- Sebagai struktur memori—perjuangan antara ingatan dan penghapusan, antara yang diingat dan yang dilupakan.
Dan di persimpangan keduanya berdiri manusia, bukan sebagai pahlawan sejarah, melainkan efek dari sejarah yang berusaha mengubah sumbernya sendiri.
4. Filsafat Gerak: Totalitas yang Retak
Dari ketiga pilar itu—materialisme, dialektika, historisitas—lahir filsafat yang menolak diam. Filsafat ini tidak percaya pada kesempurnaan, karena kesempurnaan berarti berhenti, dan berhenti berarti mati. Filsafat Marx adalah ontologi dari ketegangan, logika dunia yang menolak stabilitas, karena justru dalam ketidakstabilanlah kehidupan terus berlanjut.
Seperti dikatakan György Lukács, totalitas bukan harmoni, melainkan kesadaran akan kontradiksi. “Hanya kesadaran kelas,” tulisnya, “yang dapat memahami totalitas masyarakat.” Namun kesadaran kelas bukan pengetahuan penuh, melainkan pengalaman yang terbuka—gerak reflektif dari mereka yang hidup dalam kontradiksi itu sendiri.
Filsafat gerak adalah filsafat yang sadar bahwa dunia adalah proses menjadi. Ia menolak ide-ide final seperti Esensi, atau Substansi. Dunia tidak memiliki dasar metafisis; ia berdiri di atas dirinya sendiri, di atas praktik manusia yang konkret. Filsafat ini tidak mencari fondasi terakhir, tetapi menelusuri bagaimana setiap fondasi terus bergeser di bawah tekanan sejarah.
Dalam pengertian ini, Marx bukan hanya ahli ekonomi atau sosiolog, tetapi juga filsuf keberadaan tanpa fondasi—filsuf yang menemukan kehidupan dalam gerak yang tak pernah selesai. Ia mengajarkan bahwa berpikir sejati bukanlah berpikir menuju kebenaran tetap, tetapi berpikir di dalam proses ketidakpastian itu sendiri.
Interludium Filsafat Gerak: Di Antara Materi dan Dialektika
Filsafat Marx bukanlah pertemuan antara dunia dan pikiran, melainkan pertautan antara aktivitas dan struktur, antara subjek yang bekerja dan sistem yang mengaturnya.
Dalam kerangka ini, materialisme dan dialektika bukan dua doktrin yang berdiri sejajar, melainkan dua wajah dari satu gerak yang sama—yang satu mengerjakan, dan yang lain mengatur kerja itu.
Materialisme, dalam pengertian terdalamnya, adalah tindakan subjek: ia menunjuk pada seluruh praktik manusia yang nyata—bekerja, mencipta, memproduksi, mengubah, mengorganisir. Di dalam materialisme, subjek bukan bayangan pasif dari materi, tetapi aktivitas material itu sendiri yang sadar akan dirinya. Subjektivitas tidak datang dari luar dunia, melainkan muncul sebagai intensitas dalam dunia; ia adalah materi yang berpikir tentang dirinya melalui tubuh manusia, melalui kerja, melalui sejarah. Dengan kata lain: materi tidak melahirkan subjek; materi adalah subjek yang sedang berlangsung.
Namun dialektika adalah wajah lain dari materi: ia bukan gerak subjektif, melainkan hukum objektif yang bekerja melalui dan melampaui subjek. Dialektika adalah struktur—struktur yang mengatur, menegangkan, bahkan membatasi kebebasan subjek. Ia adalah material yang mengontrol subjek, bukan melalui paksaan eksternal, tetapi melalui kontradiksi internal yang membentuk kesadarannya. Dialektika adalah bentuk dari “ketidakterkendalian” materi itu sendiri, hukum imanen yang membuat segala sesuatu selalu bergerak menuju negasinya.
Maka, jika materialisme adalah cara subjek hadir dalam dunia, dialektika adalah cara dunia hadir dalam subjek.
Keduanya membentuk arus ganda:
- dari bawah ke atas, di mana manusia mengubah dunia melalui aktivitas materialnya;
- dan dari atas ke bawah, di mana struktur dunia mengubah manusia melalui hukum gerak yang tak dapat ia kendalikan.
Marx menulis dalam Capital bahwa manusia membuat sejarahnya sendiri, tetapi tidak di bawah kondisi yang ia pilih. Kalimat itu adalah sintesis antara dua arus tersebut: subjek memang aktif, tetapi aktivitasnya tidak pernah bebas dari determinasi struktur.
Materialisme memberi kita tangan yang bekerja; dialektika memberi kita dinding yang melingkupi tangan itu. Di antara keduanya, sejarah berdenyut.
Epilog: Subjek yang Diciptakan oleh Materi
Apa yang disebut “manusia” dalam filsafat Marx tidak pernah berdiri sebagai titik asal. Ia tidak lahir dari kesadaran, tidak diciptakan oleh ide, dan tidak dilahirkan dari moralitas. Ia adalah hasil dari kerja material, produk dari sejarah panjang pertukaran antara tubuh, alat produksi, dan struktur sosial yang menentukannya. Subjek manusia adalah efek dari dunia yang lebih tua darinya, dunia yang bekerja lebih lama dari kesadarannya. Ia bukan pencipta materi, melainkan materi yang sedang belajar menjadi sadar.
Dengan demikian, materi bukan sesuatu yang diam dan pasif; ia adalah kondisi yang memproduksi kesadaran. Dalam The German Ideology, Marx menulis bahwa kesadaran tidak pernah bisa eksis tanpa kehidupan material dan interaksi sosial. Kalimat itu mengandung pembalikan besar: bukan pikiran yang menciptakan dunia, tetapi dunia yang berpikir melalui manusia. Manusia adalah ekspresi dari materi yang sedang merenungkan dirinya, seolah dunia meminjam lidah manusia untuk mengucapkan geraknya sendiri.
Louis Althusser menangkap paradoks ini dengan mengatakan bahwa ideologi menginterpelasi individu menjadi subjek. Artinya, kita menjadi “aku” bukan karena kesadaran yang otonom, melainkan karena kita dipanggil oleh struktur sosial yang sudah bekerja sebelumnya. Ideologi adalah mekanisme material yang memproduksi kesadaran—bukan kebohongan yang menutupi kebenaran, melainkan sistem relasi yang membuat kita mengalami dunia sebagai sesuatu yang masuk akal. Dengan kata lain, subjek bukan penonton, melainkan produk dari mesin representasi yang memeliharanya.
Di titik inilah materialisme menjadi menakutkan dan indah sekaligus: ia menunjukkan bahwa kesadaran kita, bahkan kehendak kita untuk bebas, adalah bentuk dari materi yang sedang bekerja di bawah tekanan sejarah. Subjektivitas bukan entitas metafisis; ia adalah efek dari struktur yang material dan ideologis. Namun efek ini bukanlah ilusi: ia adalah bentuk nyata dari dunia yang sedang mengorganisir dirinya sendiri melalui bahasa, budaya, dan institusi.
Jacques Lacan memperluas logika ini ke wilayah psikoanalisis. Bagi Lacan, subjek terbentuk di dalam struktur simbolik—dalam bahasa, dalam “Yang Lain” yang selalu mendahuluinya. Manusia berbicara, tetapi bahasa itu sudah ada sebelum ia lahir; manusia menginginkan, tetapi keinginannya sudah diatur oleh struktur hasrat yang diwariskan sosial. Jika Althusser menunjukkan bahwa subjek adalah efek ideologi, Lacan menunjukkan bahwa hasrat adalah efek struktur simbolik. Keduanya bertemu di satu titik: manusia tidak pernah sepenuhnya menjadi asal dari dirinya sendiri.
Foucault kemudian membawa logika material ini ke ranah kuasa. Bagi Foucault, kekuasaan bukan kekuatan eksternal yang menindas, tetapi jaringan relasi yang menciptakan subjek melalui disiplin, regulasi, dan pengetahuan. Subjek modern bukan korban kekuasaan, tetapi produk kekuasaan; tubuhnya, pikirannya, bahkan jiwanya, adalah hasil dari proses material yang memadat menjadi norma. Dalam istilah Marx, kekuasaan adalah bentuk baru dari produksi sosial, di mana manusia tidak hanya memproduksi benda, tetapi juga memproduksi dirinya sendiri sebagai tubuh yang bisa diatur.
Di sini tampak bahwa seluruh struktur berpikir Marxis dapat dibaca ulang secara ontologis: materi adalah aktivitas yang menciptakan subjek, sedangkan dialektika adalah sistem gerak yang membuat subjek tak pernah benar-benar berdaulat. Materialisme adalah arah dari bawah ke atas—dari kerja ke kesadaran—sementara dialektika adalah arah dari atas ke bawah—dari struktur ke pengalaman individu. Di antara keduanya, kesadaran menjadi medan tegangan yang tak pernah selesai: ia lahir dari dunia yang ia ciptakan, dan dunia itu terus menciptakannya kembali.
Inilah mengapa Marx tidak pernah menulis tentang “hakikat manusia” secara tetap. Baginya, hakikat manusia adalah totalitas relasi sosialnya. Namun totalitas itu bukan sistem tertutup, melainkan medan dinamis tempat berbagai kontradiksi saling menegasi. Dalam setiap zaman, manusia adalah sesuatu yang lain—karena dunia yang memproduksinya pun berubah. Subjek tidak memiliki fondasi; ia adalah jejak dari gerak material yang tak berakhir.
Walter Benjamin menyebutnya Jetztzeit—waktu yang meledak di dalam sejarah, momen ketika subjek menyadari bahwa ia hanyalah lintasan antara masa lalu dan masa depan, antara kerja dan kematian. Dalam momen itu, subjek bukan lagi penentu sejarah, tetapi titik kesadaran dari sejarah itu sendiri.
Slavoj Žižek menambahkan lapisan lain: bahwa dalam logika Marxis, materi tidak sepenuhnya konsisten dengan dirinya sendiri. Ada celah dalam realitas—lubang yang membuat sistem tak pernah lengkap. Lubang itu adalah tempat munculnya subjek. Dalam bahasa Lacan, subjek adalah kekurangan di dalam struktur, ruang kosong yang menandai bahwa totalitas material tidak pernah sempurna. Karena itu, keberadaan manusia bukan sekadar akibat materi, tetapi bukti bahwa materi itu sendiri tidak pernah utuh.
Maka, subjek dalam filsafat gerak Marxis bukanlah pengamat dunia, melainkan bagian dari cara dunia mempertahankan kontradiksinya. Ia adalah tempat di mana dialektika menjadi sadar akan dirinya sendiri. Ia berpikir karena dunia berpikir melalui dirinya; ia menderita karena dunia menderita di dalamnya; ia berjuang karena dunia ingin menegasi keterbatasannya.
Dan di sinilah letak rahasia filsafat gerak: bahwa tidak ada batas tegas antara dunia dan manusia, antara struktur dan subjek, antara yang mengontrol dan yang dikontrol. Dunia tidak hanya memproduksi manusia; manusia adalah cara dunia memproduksi dirinya secara sadar.
Dalam gerak itulah filsafat Marxis menemukan maknanya yang terdalam: bukan sistem untuk dipahami, melainkan irama yang harus dihidupi.
Karena berpikir, bagi Marx, bukan mencari kebenaran abadi, melainkan ikut bergerak bersama dunia yang tak pernah berhenti menciptakan dirinya.
Dan dunia—dunia yang bergerak, dunia yang berkontradiksi, dunia yang berpikir melalui manusia—adalah satu-satunya tuhan yang nyata: materi yang hidup.
484 total views, 2 views today


Menurut pandangan materialisme dialektis menegaskan bahwa perubahan sosial terjadi melalui tindakan sadar manusia terhadap kondisi materialnya. dialektika membantu memahami bahwa setiap aktivitas manusia selalu berada dalam proses timbal balik antara pikiran dan realitas sosial.
Tepat sekali
Materialisme dan dialektika menunjukkan bahwa manusia tidak hanya dibentuk oleh struktur, tetapi juga menjadi agen pembentuk realitasnya. Relasi ini menyimpan ketegangan antara kebebasan manusia dan kekuatan material yang membatasinya, dimana kesadaran menjadi titik temu antara perubahan material dan praksis manusia.
Artikel ini menarik karena berhasil menjelaskan bahwa dalam pandangan Marx materialisme bukan hal pasif, melainkan aktivitas yang terus bergerak melalui kontradiksi. Dialektika ditunjukkan sebagai struktur yang membentuk kesadaran dan perubahan sosial, membuat filsafat Marx tampak hidup, dan relevan dengan realitas masa kini.
Materialisme dialektis menawarkan epistemologi dan metode analisis sosial yang transformatif, meletakkan basis material sebagai penentu utama keberadaan manusia dan menggunakan kontradiksi sebagai mesin perubahan.
Materialisme dan dialektika dalam konteks aktivitas manusia menegaskan bahwa manusia bukan pengamat pasif dunia, melainkan bagian aktif dari proses material yang terus berubah.Materialisme menunjukkan bahwa kesadaran, nilai, dan ide tidak muncul dari pikiran murni, melainkan dari aktivitas nyata manusia dari kerja, produksi, dan relasi sosial yang konkret. Dengan demikian, berpikir dan bertindak selalu berakar pada kondisi material yang historis.Di sisi lain, dialektika menegaskan bahwa aktivitas manusia tidak berjalan secara linier atau harmonis, tetapi melalui kontradiksi antara struktur dan kebebasan, antara produksi dan keterasingan. Dalam pertentangan itulah sejarah dan kesadaran bergerak.
Artikel ini menggambarkan dinamika pemikiran Marx, tetapi lebih menonjolkan sisi filosofis ketimbang penerapan sosialnya. Analisisnya akan lebih kuat jika mengaitkan materialisme dialektis dengan kondisi masyarakat masa kini. Meskipun demikian, artikel ini tetap mampu menumbuhkan refleksi kritis tentang hubungan antara gagasan dan realitas sosial.
Materialisme Marxis menegaskan bahwa realitas adalah hasil aktivitas manusia dalam relasi sosial, bukan benda statis. Dialektika menunjukkan bahwa perubahan terjadi lewat kontradiksi internal. Jadi, manusia bukan hanya pelaku, tapi juga produk dari proses material yang terus bergerak dan berubah.
Dari artikel ini kita dapat melihat bahwa pendekatan materialisme dan dialektikanya menekankan bahwa dunia bukan benda yang statis, melainkan proses dinamis dipengaruhi oleh kontradiksi sosial dan ekonomi. Dengan demikian, filsafatnya dapat digunakan sebagai alat yang kuat untuk mengungkapkan ketidakadilan, seperti reifikasi dikapitalisme atau hegemoni ideologi.
Dalam konteks aktivitas manusia, materialisme dan dialektika saling terhubung karena manusia bisa mengubah dunia melalui tindakan materialnya (materialisme) tetapi gerak dunia juga membentuk kesadaran dan tindakan manusia (dialektika). Dengan demikian, maka manusia dan dunia dapat saling menciptakan dalam proses sejarah yang terus bergerak.
Dalam konteks aktivitas manusia, materialisme dan dialektika saling melengkapi karena manusia bisa mengubah dunia melalui tindakan materialnya (materialisme) tetapi gerak dunia juga membentuk kesadaran dan tindakan manusia (dialektika). Dengan demikian, maka manusia dan dunia dapat saling menciptakan dalam proses sejarah yang terus bergerak.
Artikel ini sangat menggambarkan filsafat Marx sebagai filsafat gerak yang menekankan kontradiksi dan perubahan sosial, di mana materialisme dan dialektika saling melengkapi untuk mengungkap bagaimana manusia dibentuk oleh dunia materialnya. Namun, paradoksnya, pendekatan ini juga menginspirasi aksi konkret, seperti dalam kritik terhadap kapitalisme yang masih relevan hari ini. Secara keseluruhan, teks ini mengajak kita untuk tidak hanya berpikir, melainkan ikut bergerak bersama arus sejarah.
Artikel ini menjelaskan bahwa materialisme Marxian merupakan revolusi epistemologis. Bahwa dunia bukan sekadar ada, tetapi dikerjakan.Suatu proses dinamis yang dipengaruhi oleh struktur social. Dan bahwa dialektika bukan sekadar metode berpikir, melainkan refleksi sadar atas cara kerja dunia.
Perilaku material cenderung mendorong manusia untuk mau menekankan egonya masing masing sehingga hari demi hari manusia tersebut akan membentuk dunianya sendiri tanpa ia sadari. Dialektika Marx ingin berbicara bahwasanya suatu perubahan yang terjadi dalam hidup manusia harus disadari bahwa manusialah yang berperan dalam perubahan tersebut.
Artikel ini bagus karena menjelaskan kalau materialisme dan dialektika itu bukan cuma teori, tapi bagian dari aktivitas manusia sehari-hari. namun menurut saya, perlu juga diingat kalau manusia tidak seluruhnya dikendalikan oleh struktur sosial, kita tetap punya kesadaran dan kebebasan buat ngubah keadaan. Jadi, penting sekali untuk menjaga keseimbangan antara pengaruh struktur dan peran aktif manusia.
Artikel ini menegaskan bahwa materialitas (realitas) hanya dapat dipahami secara penuh melalui aktivitas manusia yang nyata, yaitu praksis (terutama kerja dan produksi). Materi bukan sekadar objek yang diamati, tetapi adalah dunia yang diubah dan dibentuk oleh tindakan manusia. Dengan bekerja dan mengubah dunia material, manusia juga mengubah kesadaran dan dirinya sendiri. Penulis juga menunjukkan bahwa aktivitas manusia (materialisme) adalah agen perubahan yang bekerja di dalam batasan dan dorongan dari struktur kontradiksi (dialektika).
artikel ini berhasil memposisikan filsafat Marxian sebagai filsafat gerak yang anti-humanis (menolak “manusia universal”) namun sangat humanis (mengungkap bagaimana manusia dibentuk oleh dunianya sendiri). Karya ini juga menarik pemikiran-pemikiran Marxis kontemporer (Althusser, Lukács, Adorno, Gramsci, Žižek) untuk memperluas pemahaman tentang bagaimana subjek dan sejarah diproduksi oleh struktur material yang kontradiktif dan terus bergerak. Artikel ini sangat cocok sebagai pengantar teoretis yang maju mengenai ontologi Marxis.
Artikel ini menegaskan bahwa materialisme Marx tidak bersifat pasif, melainkan aktif melalui aktivitas manusia yang nyata dalam kehidupan sosial. Dialektika dipahami sebagai proses dinamis yang terus mengatur perubahan dan perkembangan sejarah. Dengan demikian, manusia bukan sekadar hasil dari kondisi material, tetapi juga agen yang mampu mengubah struktur sosial melalui tindakannya. Pemikiran ini menyoroti hubungan timbal balik antara manusia dan dunia material yang selalu bergerak, sehingga perubahan sosial bukanlah sesuatu yang terjadi spontan, melainkan hasil dari kesadaran dan tindakan kolektif manusia.
Artikel ini menjelaskan bahwa dalam materialisme dan dialektika manusia memiliki peran yang sangat penting. Dalam materialisme manusia tidak hidup di luar dunia, manusia adalah makhluk yang membentuk dunianya sendiri dan bekerja di dalamnya. Sementara dalam dialektika, manusia hidup di tengah perubahan dan ikut menggerakkan perubahan itu sendiri. Materialisme memberi kita tangan untuk bertindak, sedangkan dialektika menunjukkan batas-batas tempat tangan itu bergerak.
Manusia membuat sejarahnya sendiri, tetapi tidak di bawah kondisi yang ia pilih.
Pandangan Marxisme yang menempatkan materialisme sebagai aktivitas (praxis) dan dialektika sebagai struktur kontradiktif sangatlah penting karena memaksa kita untuk melihat kekuasaan bukan sebagai entitas, melainkan sebagai proses produksi relasi yang tidak stabil. Fokus pada kontradiksi internal (dialektika) dan kerja nyata (materialisme) menyingkap bahwa sistem global yang tampak solid pada dasarnya rentan dan dapat diubah melalui tindakan kolektif. Perspektif ini menggeser filsafat dari interpretasi pasif menjadi komitmen aktif terhadap perubahan sejarah.
Menurut saya, artikel ini memberi pandangam materialisme sebagai sesuatu yang dekat dengan kehidupan manusia sehari-hari, karena lahir dari aktivitas kerja dan pengalaman nyata. Dialektika juga membuat kita sadar bahwa perubahan sosial tidak terjadi secara tiba-tiba, tetapi melalui proses yang terus bergerak dan saling bertentangan. Namun, manusia tetap bukan sekadar produk struktur, karena masih punya ruang untuk berpikir dan memilih.