Pada 28 Februari 2026 pukul 1.15 dini hari waktu Pantai Timur AS, atau sekitar 9.45 pagi waktu Teheran, Amerika Serikat memulai Operation Epic Fury bukan sebagai serangan simbolik, melainkan sebagai gelombang tempur terpadu yang sejak awal dirancang untuk melumpuhkan inti aparatus keamanan Iran; lebih dari 100 pesawat dari darat dan laut dilepas dalam satu gelombang sinkron, sementara dalam 24 jam pertama CENTCOM mengklaim lebih dari 1.000 target telah dihantam dengan kombinasi B-2 stealth bomber, F-18, F-16, F-22, F-35, EA-18G, MQ-9, kapal induk bertenaga nuklir, kapal perusak peluru kendali, serta dukungan tanker, pesawat peringatan dini, dan platform pengintaian, dengan sasaran yang sangat spesifik: pusat komando dan kendali, Markas Gabungan IRGC, Markas IRGC Aerospace Forces, sistem pertahanan udara terintegrasi, situs rudal balistik, kapal perang dan kapal selam Iran, lokasi rudal anti-kapal, serta kapabilitas komunikasi militernya; beberapa hari kemudian Pentagon menyatakan jumlah sasaran yang dipukul telah melampaui 2.000 target dan fase berikutnya diarahkan secara sistematis untuk membongkar kemampuan produksi rudal Iran, sehingga frasa Trump bahwa “the big one is coming” tidak lagi tepat dipahami sebagai satu ledakan pamungkas yang belum terjadi, melainkan sebagai penanda bahwa Epic Fury sejak hari pertama sudah merupakan kampanye udara strategis berlapis.
Dalam perkembangan terbaru, indikasi eskalasi fase berikutnya semakin terlihat ketika Amerika Serikat mulai memindahkan dan menyiapkan pembom stealth jarak jauh tambahan ke pangkalan militer Inggris seperti RAF Fairford serta fasilitas strategis lain di jaringan pangkalan Atlantik dan Samudra Hindia, langkah yang secara doktrinal hanya dilakukan ketika Washington mempersiapkan gelombang pengeboman jarak jauh yang lebih besar terhadap target keras seperti fasilitas nuklir bawah tanah, pusat komando strategis, dan infrastruktur militer negara; dalam konteks ini, “the big one” semakin dipahami bukan sekadar retorika politik, tetapi sebagai kemungkinan tahap eskalasi berikutnya dari Operation Epic Fury yang dirancang untuk memperluas skala kampanye udara hingga pada tingkat penghancuran kapasitas militer Iran secara jauh lebih luas daripada fase pembuka operasi tersebut.
Pada titik inilah Operation Epic Fury beroperasi bukan sekadar sebagai rangkaian penghancuran target militer, tetapi sebagai mekanisme produksi pengetahuan yang menentukan fakta mana yang dianggap sah dan fakta mana yang terdorong ke pinggir. Dalam enam hari pertama operasi, otoritas militer Amerika menyatakan lebih dari 2.000 target telah dihantam, mencakup pusat komando IRGC, jaringan pertahanan udara terintegrasi, fasilitas produksi rudal balistik, pangkalan angkatan laut di Teluk Persia, serta beberapa instalasi yang dikaitkan dengan program nuklir Iran. Angka ini segera menjadi referensi utama dalam briefing militer dan laporan media global, disertai citra serangan presisi oleh B-2 Spirit yang menjatuhkan bom penetrator bunker, peluncuran puluhan rudal Tomahawk dari kapal perusak di Laut Arab, serta operasi simultan pesawat F-22 dan F-35 yang menghancurkan radar dan sistem pertahanan udara Iran. Dalam struktur informasi semacam ini, fakta operasional mengenai jumlah target, jenis platform tempur, dan klaim degradasi kemampuan militer Iran diproduksi sebagai kebenaran dominan yang mengisi hampir seluruh ruang diskursus internasional. Sementara itu, data lain yang muncul dari lapangan bergerak sebagai pengetahuan yang ditundukkan.
Laporan kemanusiaan menyebutkan bahwa ratusan warga sipil tewas dan ribuan lainnya terdampak oleh gelombang serangan yang mengenai kawasan militer di sekitar kota besar seperti Teheran, Isfahan, dan Bandar Abbas, namun angka-angka tersebut tidak memperoleh status epistemik yang setara dengan statistik militer mengenai keberhasilan operasi. Dengan kata lain, struktur pengetahuan yang terbentuk sejak hari pertama Epic Fury secara sistematis menempatkan data tentang efektivitas penghancuran target sebagai pusat kebenaran perang, sementara pengalaman sosial dari wilayah yang diserang bergerak di pinggiran diskursus. Dalam konfigurasi ini, kemenangan awal Amerika tidak hanya diukur dari ribuan target yang dihantam atau kemampuan teknologi tempurnya menembus bunker bawah tanah Iran, tetapi juga dari keberhasilannya menata hierarki pengetahuan global tentang perang itu sendiri, sehingga dunia pertama-tama melihat operasi tersebut sebagai tindakan rasional untuk menetralkan ancaman, baru kemudian sebagai peristiwa kekerasan yang juga memproduksi kerusakan sosial dan kemanusiaan.
Jika struktur pengetahuan pada fase awal Epic Fury menata hierarki fakta mengenai perang, maka tahap berikutnya bekerja melalui proses problematization yang secara spesifik menempatkan Iran sebagai objek masalah keamanan internasional yang harus diselesaikan melalui tindakan militer. Sejak hari pertama operasi pada 28 Februari 2026, Washington secara konsisten merumuskan tiga masalah utama yang menjadi dasar legitimasi serangan: program nuklir Iran, kapasitas rudal balistik jarak jauh, dan kemampuan Iran memproyeksikan kekuatan melalui Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) serta jaringan militernya di kawasan. Dalam briefing militer Amerika disebutkan bahwa operasi menargetkan lebih dari 2.000 sasaran yang mencakup pusat komando IRGC, fasilitas produksi rudal balistik, sistem pertahanan udara, pangkalan angkatan laut, serta infrastruktur militer yang dianggap memungkinkan Iran menyerang Israel dan pangkalan militer Amerika di Timur Tengah. Serangan tersebut terjadi di sedikitnya empat belas kota Iran termasuk Teheran, Isfahan, Qom, Karaj, dan Kermanshah dengan kombinasi pembom strategis B-2 Spirit, pesawat tempur generasi kelima, rudal jelajah jarak jauh, drone serangan, serta operasi siber yang terlebih dahulu melumpuhkan jaringan komunikasi militer Iran sebelum gelombang serangan udara dimulai.
Dalam kerangka problematisasi ini, keberadaan kemampuan militer Iran sendiri diproduksi sebagai masalah yang harus dihilangkan: lebih dari 3.000 rudal balistik Iran dengan jangkauan hingga sekitar 1.500 kilometer diposisikan sebagai ancaman langsung terhadap Israel dan instalasi militer Amerika di kawasan, sementara fasilitas nuklir seperti Natanz dan Fordow dipresentasikan sebagai titik krisis yang secara inheren berpotensi menghasilkan senjata nuklir. Dengan demikian, narasi perang bergeser dari sekadar pelaporan operasi menuju definisi masalah strategis: Iran tidak lagi dilihat hanya sebagai negara yang memiliki kemampuan militer tertentu, tetapi sebagai sumber instabilitas regional yang harus dinetralisir. Ketika struktur problematisasi ini telah terbentuk, penggunaan kekuatan militer oleh Amerika tampil bukan sebagai pilihan kebijakan yang kontroversial, melainkan sebagai konsekuensi logis dari keberadaan masalah yang sebelumnya telah didefinisikan secara sistematis dalam diskursus keamanan internasional.
Jika tahap problematization telah menempatkan Iran sebagai sumber masalah keamanan yang harus diselesaikan, maka tahap berikutnya bekerja melalui mekanisme dividing practices yang membangun pembelahan moral dan politik dalam diskursus internasional. Sejak hari-hari pertama Operation Epic Fury, narasi resmi Washington secara konsisten membingkai konflik ini sebagai pertarungan antara stabilitas dan ancaman, antara negara yang menjaga tatanan internasional dan rezim yang dianggap mengganggu keseimbangan kawasan. Dalam pernyataan publik Gedung Putih dan Departemen Pertahanan Amerika, operasi militer tersebut disebut sebagai tindakan untuk melindungi sekutu dan menjaga stabilitas Timur Tengah, sementara Iran diposisikan sebagai aktor yang memperluas instabilitas melalui program rudal, pengembangan teknologi nuklir, dan dukungan terhadap jaringan milisi regional.
Pembelahan diskursif ini segera diperkuat oleh struktur koalisi yang terbentuk di sekitar operasi militer tersebut: Israel secara terbuka mendukung kampanye penghancuran infrastruktur militer Iran, beberapa negara Eropa menyatakan dukungan politik terhadap langkah Amerika untuk menekan kemampuan militer Tehran, sementara negara-negara Teluk yang memiliki pangkalan militer Amerika di wilayahnya memberikan akses logistik bagi operasi tersebut. Dalam konfigurasi ini, sistem internasional tidak hanya menyaksikan perang sebagai konfrontasi militer antara dua negara, tetapi sebagai pembagian posisi normatif yang lebih luas: Amerika dan sekutunya ditempatkan sebagai penjaga stabilitas regional, sedangkan Iran diposisikan sebagai sumber ancaman yang harus dikendalikan. Pembelahan tersebut juga bekerja pada level simbolik ketika istilah seperti “defensive strike”, “stability operation”, dan “security enforcement” digunakan untuk menggambarkan tindakan militer Amerika, sementara tindakan balasan Iran dengan rudal dan drone segera dikategorikan sebagai agresi atau eskalasi. Dengan demikian, mekanisme dividing practices tidak sekadar membagi aktor internasional ke dalam dua kubu yang berlawanan, tetapi juga membentuk struktur legitimasi yang memungkinkan penggunaan kekuatan militer tampil sebagai tindakan yang sah dalam menjaga tatanan keamanan global.
Ketika tiga mekanisme tersebut telah bekerja secara simultan, tahap berikutnya yang muncul adalah produksi legitimasi kekerasan dalam diskursus keamanan internasional. Operation Epic Fury sejak awal tidak hanya dipresentasikan sebagai operasi militer, tetapi sebagai tindakan yang secara moral dan strategis dianggap perlu untuk menjaga stabilitas regional. Dalam berbagai pernyataan resmi, Washington menekankan bahwa operasi tersebut diarahkan untuk melindungi sekutu Amerika di Timur Tengah, menghancurkan kapasitas rudal Iran yang disebut mencapai lebih dari 3.000 unit berbagai jenis, serta mencegah Iran memperoleh kemampuan nuklir yang dipandang dapat mengubah keseimbangan kekuatan kawasan. Struktur argumentasi ini menciptakan hubungan sebab-akibat yang tampak logis: jika Iran memiliki kemampuan militer yang dianggap mengancam stabilitas kawasan, maka penghancuran kemampuan tersebut melalui operasi militer dipresentasikan sebagai langkah yang rasional dan defensif.
Dalam kondisi seperti ini, penggunaan kekuatan militer tidak lagi muncul sebagai pilihan politik yang terbuka untuk diperdebatkan, melainkan sebagai konsekuensi yang hampir tak terhindarkan dari definisi masalah yang telah dibentuk sebelumnya. Data operasional seperti jumlah target yang dihancurkan, keberhasilan pembom stealth menembus bunker bawah tanah, dan klaim degradasi kemampuan rudal Iran kemudian berfungsi memperkuat legitimasi tersebut dengan menunjukkan efektivitas tindakan militer. Dengan demikian, kampanye udara yang dimulai pada 28 Februari 2026 tidak hanya membangun realitas baru di medan perang, tetapi juga membangun struktur legitimasi global yang membuat operasi tersebut terlihat sebagai tindakan yang sah dalam menjaga tatanan keamanan internasional.
Operation Epic Fury juga memperlihatkan bagaimana kapasitas struktural Amerika Serikat bekerja pada tingkat yang jauh lebih luas daripada sekadar penghancuran target militer. Sejak awal operasi, Washington mengaktifkan jaringan kekuatan yang membentang dari pangkalan udara di Timur Tengah, kapal induk di Laut Arab dan Mediterania, hingga fasilitas militer di Eropa yang berfungsi sebagai titik dukungan logistik dan kesiapan pembom jarak jauh. Dalam beberapa hari setelah gelombang pertama serangan, sejumlah pembom strategis tambahan dipindahkan ke pangkalan militer di Inggris sebagai bagian dari kesiapan eskalasi tahap berikutnya, sebuah langkah yang secara doktrinal biasanya diambil ketika Amerika mempersiapkan kemungkinan kampanye pengeboman jarak jauh terhadap target yang lebih dalam dan lebih terlindungi. Pola ini menunjukkan bahwa operasi tersebut tidak berdiri sebagai peristiwa militer yang terisolasi, tetapi sebagai bagian dari arsitektur kekuatan global yang memungkinkan Amerika memindahkan daya tempur lintas benua dalam waktu sangat singkat. Dalam konfigurasi seperti ini, konflik tidak hanya berbicara tentang hubungan bilateral antara Washington dan Teheran, melainkan tentang bagaimana sistem keamanan internasional tetap bergantung pada kemampuan Amerika untuk memproyeksikan kekuatan secara global sekaligus menjaga agar eskalasi konflik tetap berada dalam batas yang dapat dikendalikan.
Operation Epic Fury pada akhirnya memperlihatkan bahwa perang modern tidak hanya berlangsung di ruang udara, laut, atau daratan, tetapi juga di dalam struktur pengetahuan yang membentuk cara dunia memahami ancaman dan legitimasi kekuatan. Serangan yang dimulai pada 28 Februari 2026 itu menunjukkan bagaimana definisi tentang ancaman, stabilitas, dan keamanan tidak muncul secara netral, melainkan dibentuk melalui jaringan informasi, bahasa politik, dan keputusan strategis yang bekerja secara simultan dengan operasi militer. Dalam proses tersebut, sebagian pengetahuan menguat sebagai kebenaran dominan, sebagian lain terdorong ke pinggiran; sebuah negara diproduksi sebagai masalah keamanan, sementara aktor lain tampil sebagai pengelola stabilitas sistem internasional. Di titik inilah makna yang lebih dalam dari Epic Fury muncul. Perang ini bukan sekadar episode konfrontasi antara Amerika Serikat dan Iran, tetapi cermin dari bagaimana tatanan global kontemporer bekerja: ancaman didefinisikan, legitimasi dibangun, dan kekuatan diproyeksikan melalui kombinasi teknologi militer dan produksi diskursus keamanan. Dengan demikian, yang berlangsung sejak hari pertama operasi bukan hanya penghancuran target militer, tetapi juga pembentukan cara dunia melihat konflik itu sendiri.
228 total views, 2 views today

