• American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
Social icon element need JNews Essential plugin to be activated.
Arthuur Research
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
No Result
View All Result
Arthuur Research
No Result
View All Result
Home Harian

Perdamaian Tanpa Topeng: Menghancurkan Narasi Keamanan Global yang Dikendalikan Mainstream

Arthuur Jeverson Maya by Arthuur Jeverson Maya
September 24, 2025
in Harian, Logika & Teori
0
Perdamaian Tanpa Topeng: Menghancurkan Narasi Keamanan Global yang Dikendalikan Mainstream
0
SHARES
38
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan ke WhatsApp

Selama beberapa dekade, dunia internasional disuguhi kisah yang sama tentang keamanan dan perdamaian. Di satu sisi, Realisme mengajarkan bahwa dunia adalah hutan anarki, negara adalah pemburu, dan keamanan hanya bisa dijaga dengan memperkuat senjata dan beraliansi. Di sisi lain, Liberalisme menjanjikan bahwa lembaga internasional, hukum, dan kerja sama akan membawa harmoni. Dua wajah ini tampak berbeda, tetapi keduanya berbicara dengan bahasa yang sama: negara sebagai pusat segalanya, keamanan sebagai perisai kedaulatan, dan perdamaian sebagai hasil perjanjian elit. Narasi ini menampilkan keamanan dan perdamaian seolah-olah netral, padahal ia adalah hasil produksi kepentingan dan wacana yang membatasi cara berpikir.

Jika dilihat melalui lensa Marxis, “keamanan” justru menjadi mekanisme yang menjaga ketimpangan struktural. Perang di Irak atau intervensi di Afghanistan, misalnya, dibingkai sebagai demi stabilitas global padahal menyangkut kepentingan minyak, jalur dagang, dan pengaruh geopolitik. Migrasi paksa jutaan orang dari Suriah atau Sudan Selatan pun bukan sekadar tragedi kemanusiaan, melainkan akibat dari sistem ekonomi-politik global yang timpang. Dalam narasi ini, “perdamaian” sering menjadi kata suci yang menyembunyikan dominasi ekonomi dan politik.

Postmodernisme memperlihatkan lapisan lain dari drama ini. Dengan meminjam pandangan Foucault, keamanan dan perdamaian adalah “rezim kebenaran” yang menentukan siapa yang boleh bicara, siapa yang dianggap ancaman, dan siapa yang dianggap sah dilindungi. Istilah seperti “negara gagal”, “terorisme”, atau “intervensi kemanusiaan” bukan fakta alamiah, melainkan label yang diciptakan untuk mengatur tindakan aktor global. Intervensi NATO di Libya tahun 2011, misalnya, dibingkai sebagai penyelamatan sipil, tetapi berujung pada konflik berkepanjangan, negara yang terfragmentasi, dan perdagangan manusia yang meningkat. Di Haiti, proyek nation building berlabel perdamaian justru mengabaikan dinamika lokal dan memperkuat ketergantungan pada aktor luar. Dalam kedua kasus ini, “perdamaian” dipresentasikan sebagai topeng untuk operasi geopolitik.

Di luar kerangka mainstream, para pemikir perdamaian kritis telah lama menawarkan jalan lain. Johan Galtung membedakan perdamaian negatif—sekadar ketiadaan perang—dengan perdamaian positif yang menuntut keadilan, pemenuhan hak, dan transformasi struktur sosial. John Paul Lederach mengembangkan peacebuilding from below, yakni membangun kapasitas hubungan, rekonsiliasi, dan keadilan di tingkat akar rumput. Edward Azar menunjukkan bahwa konflik sosial yang berlarut-larut lahir dari kebutuhan dasar dan eksklusi politik, sehingga tidak akan selesai hanya dengan perjanjian elit. Oliver Richmond dan Roger Mac Ginty mengkritik “perdamaian liberal” sebagai proyek hegemonik Barat yang gagal menjawab kompleksitas lokal.

Dari sini muncul pentingnya membedakan intra-communal dan inter-communal peace. Perdamaian internal komunitas (intra-communal) menyasar rekonsiliasi dan pemulihan relasi sosial di dalam kelompok yang pernah terbelah konflik, seperti program keadilan restoratif di Aceh setelah konflik atau komisi kebenaran dan rekonsiliasi di Afrika Selatan. Perdamaian antar komunitas (inter-communal) menuntut dialog lintas identitas, kesepahaman budaya, dan institusi inklusif, seperti dialog lintas desa di Maluku pasca kerusuhan agama atau program lintas identitas di Lebanon. Kedua bentuk ini menunjukkan bahwa perdamaian sejati lahir dari rekonsiliasi relasi sosial, bukan sekadar perjanjian internasional.

Di berbagai belahan dunia, “perdamaian” ala mainstream justru sering memperkuat struktur kuasa. Misi penjaga perdamaian PBB di Republik Demokratik Kongo telah berlangsung puluhan tahun tetapi kekerasan struktural dan konflik antar kelompok tetap terjadi. Program Countering Violent Extremism di negara-negara Barat sering kali melabeli komunitas tertentu sebagai “berisiko” sehingga memperkuat stigma dan memperlebar jurang ketidakpercayaan. Fenomena-fenomena ini memperlihatkan bagaimana topeng “perdamaian” dan “keamanan” dapat digunakan untuk menutupi praktik diskriminasi dan kekerasan yang lebih halus. Postmodernisme membantu mengungkap bagaimana “politik penamaan” menentukan siapa yang dianggap korban, pelaku, atau ancaman; bagaimana media global dan lembaga internasional memproduksi citra-citra krisis untuk membenarkan intervensi; dan bagaimana “perdamaian” dipasarkan sebagai paket teknokratik yang terpisah dari politik lokal.

“Perdamaian tanpa topeng” mengajak pembaca menelanjangi lapisan retorika itu. Keamanan seharusnya dimaknai sebagai pemenuhan kebutuhan dasar manusia, bukan monopoli negara. Perdamaian seharusnya menjadi transformasi struktur ketidakadilan, bukan sekadar negosiasi elit. Ancaman bukanlah fakta alamiah, melainkan konstruksi sosial yang bisa dinegosiasikan dan diubah. Pembangunan kapasitas komunitas seharusnya menjadi inti proses, bukan sekadar proyek donor semata. Melihat keamanan dan perdamaian internasional melalui lensa realisme, liberalisme, marxisme, konstruktivisme, postmodernisme dan studi perdamaian kritis, serta melalui contoh nyata di berbagai belahan dunia, memungkinkan pemahaman bahwa perdamaian sejati memerlukan transformasi struktural dan rekonsiliasi relasi kuasa di berbagai level.

Kerangka ini menunjukkan bahwa teori bukan sekadar alat untuk menjelaskan fenomena, melainkan juga untuk membuka ruang politik baru. Realisme dan liberalisme memberi peta kepentingan negara, Marxisme membuka selubung ekonomi politik, konstruktivisme menunjukkan bagaimana norma dibentuk, sedangkan postmodernisme menyingkap produksi makna dan citra yang menyokong semua itu. Dengan menyatukan perspektif-perspektif ini, pembaca diajak tidak hanya mengkritik teori mainstream, tetapi juga membangun lensa baru untuk membaca keamanan dan perdamaian sebagai proses yang bisa diubah, bukan takdir yang sudah selesai. Inilah yang dimaksud dengan “perdamaian tanpa topeng”: bukan hanya konsep alternatif, melainkan ajakan untuk mempraktikkan analisis kritis yang membebaskan cara pandang dan menata ulang relasi kuasa yang selama ini mengekang perdamaian.

Loading

Previous Post

Evolusi Keamanan Internasional: Dari Benteng Negara ke Perlindungan Manusia

Next Post

“Dari Polis ke Kota Tanpa Fondasi: Sebuah Cerita Ontologi Hubungan Internasional”

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya adalah dosen dan penulis yang berfokus pada politik Amerika Serikat dan Cina dalam dinamika transformasi tatanan global kontemporer. Dalam berbagai kajiannya, ia menelusuri bagaimana kuasa, pengetahuan, dan struktur dunia diproduksi melalui repetisi makna yang membentuk kesadaran global modern. Dari lintasan pemikiran tersebut, ia mengembangkan Simtoxa sebagai kerangka analitis sekaligus proses pemulihan orbit ontologis, yakni upaya mengembalikan manusia pada relasi kebenaran yang tidak semata dibentuk oleh struktur, diskursus, atau reproduksi simbolik dunia modern.

Next Post
“Dari Polis ke Kota Tanpa Fondasi: Sebuah Cerita Ontologi Hubungan Internasional”

“Dari Polis ke Kota Tanpa Fondasi: Sebuah Cerita Ontologi Hubungan Internasional”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

No Result
View All Result
Selengkapnya
Selengkapnya

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

No Result
View All Result
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

A no-nonsense guide to UK casinos that accept Neteller in 2026. We rank the top operators, dissect bonus traps, and reveal the fastest withdrawal options, plus alternatives when Neteller isn’t available. read our expert guide to Neteller casinos UK 2026

Discover the best UK online casinos that still offer Pay N Play in 2026. Our expert guide covers instant play, top sites, bonuses, and alternatives. read the full guide to Pay N Play casinos UK 2026

Discover the best UK online casinos that accept PayPal in 2026. Our in-depth guide ranks the top PayPal casino sites, compares bonuses, payout speeds, and game libraries. Learn how to deposit and withdraw safely. No filler – just expert, updated advice. browse our curated list of PayPal casino sites

POLi is dead, but that doesn’t mean your UK casino deposits have to suffer. Discover the best alternatives, top sites that accept them, and why you’ll never see POLi in 2026. explore the best POLi alternatives for UK casinos

Find the best UK online casinos that accept Revolut in 2026. Compare bonuses, payout speeds, and fees. Complete guide with top picks, how-to, and alternatives. check out the full list of Revolut-friendly casinos

Find the best online casinos that accept Ripple XRP deposits for UK players in 2026. Compare top XRP gambling sites, bonuses, games, and payment speeds in our expert guide. read our full analysis of the best XRP casinos for UK players

Discover the top UK casinos accepting Siru Mobile in 2026. Compare bonuses, games, and payment options. Expert analysis with pros, cons, and a full ranking table. read our comprehensive Siru Mobile casinos guide

Find the best casinos that accept Solana in the UK for 2026. Our expert guide compares trusted sites, bonuses, games, and fast crypto payouts. Start playing with SOL safely. read our guide to the best Solana casinos UK 2026

Discover the best Tether casinos in the UK for 2026. Compare top USDT-friendly casinos, bonuses, fast withdrawals, and secure crypto gambling options for British players. read our guide to Tether casinos in the UK 2026

Discover the best TRON casinos for UK players in 2026. Compare top TRX gambling sites, bonuses, and games in our no-nonsense guide. read our TRON casino guide