• American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
Arthuur Research
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
No Result
View All Result
Arthuur Research
No Result
View All Result

Strategi Kekuasaan Amerika Serikat: Hormuz Ditutup, Minyak Rusia Dibuka

Arthuur Jeverson Maya by Arthuur Jeverson Maya
Maret 15, 2026
in American Politics
23
Strategi Kekuasaan Amerika Serikat: Hormuz Ditutup, Minyak Rusia Dibuka
0
SHARES
182
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan ke WhatsApp

Penutupan Selat Hormuz oleh Iran segera mengubah konflik regional di Teluk Persia menjadi krisis energi global karena sekitar 20% perdagangan minyak dunia melewati jalur sempit tersebut. Gangguan terhadap jalur ini tidak hanya memicu lonjakan harga energi internasional, tetapi juga membuka ruang bagi Amerika Serikat untuk membangun koalisi negara-negara importir dan eksportir minyak guna menjaga kebebasan navigasi di salah satu chokepoint energi paling vital di dunia. Dalam situasi ketika stabilitas pasokan energi global terancam, Washington kemudian mengambil langkah stabilisasi pasar dengan menambah pasokan minyak global melalui kebijakan pelonggaran sementara sanksi terhadap minyak Rusia (Reuters 2026; The Guardian 2026).

Namun pelonggaran tersebut memiliki ruang lingkup yang sangat terbatas dan bersifat teknis. Pemerintah Amerika Serikat melalui Departemen Keuangan hanya mengeluarkan izin sementara selama 30 hari yang berlaku khusus bagi minyak Rusia yang sudah berada di laut atau telah dimuat ke kapal tanker sebelum kebijakan tersebut diterbitkan, sehingga kargo yang sebelumnya tertahan akibat rezim sanksi dapat tetap diperdagangkan di pasar internasional. Kebijakan ini tidak membuka kembali ekspor minyak Rusia secara penuh dan tidak mengizinkan kontrak ekspor baru dari pelabuhan Rusia, melainkan berfungsi sebagai mekanisme jangka pendek untuk menambah pasokan energi global sekitar 3-4% guna meredam gejolak harga ketika salah satu jalur distribusi minyak paling penting di dunia berada dalam kondisi terancam (Reuters 2026; AP News 2026).

Gangguan terhadap pasokan energi global tersebut bukan sekadar asumsi, melainkan didukung oleh berbagai laporan internasional yang menunjukkan bahwa aktivitas pelayaran di Selat Hormuz mulai mengalami penurunan drastis pada 12 Maret 2026, ketika Iran meningkatkan pengawasan militer dan memperingatkan kapal dagang mengenai risiko keamanan di jalur tersebut. Setelah beberapa insiden serangan terhadap kapal dan meningkatnya ketegangan militer di kawasan, banyak perusahaan pelayaran serta operator tanker memutuskan menghentikan sementara operasi karena lonjakan premi asuransi dan ancaman serangan terhadap kapal komersial. Data pelacakan kapal menunjukkan bahwa lalu lintas tanker melalui selat tersebut turun sekitar 70% dalam beberapa hari setelah peringatan tersebut, sementara sejumlah kapal memilih menunggu di perairan Teluk Persia hingga situasi keamanan menjadi lebih jelas. Walaupun sebagian kapal masih dapat melintas secara terbatas melalui pengawalan militer atau koordinasi khusus dengan otoritas setempat, gangguan ini secara efektif memperlambat distribusi energi global melalui jalur yang biasanya menyalurkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia, sehingga memperkuat kekhawatiran pasar terhadap stabilitas pasokan energi internasional (Reuters 2026; The Guardian 2026; AP News 2026).

Dampak langsung dari gangguan jalur energi tersebut tercermin pada pergerakan harga minyak dunia yang melonjak tajam dalam beberapa minggu terakhir. Data perdagangan energi menunjukkan bahwa harga minyak acuan Brent mencapai sekitar US$103 per barel pada 13 Maret 2026, sementara minyak acuan Amerika West Texas Intermediate (WTI) mendekati US$98 per barel pada periode yang sama. Kenaikan ini terjadi setelah konflik Iran memperparah kekhawatiran terhadap pasokan energi global yang biasanya mengalir melalui Selat Hormuz, jalur yang menyalurkan sekitar 20% minyak dunia. Sejumlah laporan pasar bahkan menunjukkan bahwa harga minyak telah kembali menembus US$100 per barel selama beberapa hari perdagangan akibat risiko gangguan distribusi energi dari kawasan Teluk, sehingga memperkuat tekanan terhadap ekonomi global dan mendorong langkah-langkah stabilisasi pasokan seperti pelonggaran terbatas sanksi minyak Rusia (Trading Economics 2026; Reuters 2026; CNBC Indonesia 2026).

Lonjakan harga minyak akibat gangguan di Selat Hormuz menjelaskan langkah Washington melonggarkan sementara sanksi minyak Rusia. Dalam perspektif politik internasional, kebijakan ini bukan sekadar respons ekonomi terhadap gejolak pasar energi, melainkan bagian dari strategi Amerika Serikat dalam mengelola stabilitas sistem energi global. Dengan membuka akses terbatas bagi minyak Rusia yang telah berada di laut, Washington berupaya menjaga pasokan energi dunia agar tidak mengalami guncangan besar yang dapat melemahkan dukungan negara-negara importir terhadap stabilitas jalur pelayaran di Teluk. Pada saat yang sama, langkah ini juga memiliki dimensi geopolitik yang lebih luas, yaitu mencegah terbentuknya konsolidasi strategis antara Iran, Rusia, dan Cina dalam pasar energi global. Dengan memisahkan tekanan terhadap Iran dari rezim sanksi terhadap Rusia, Amerika Serikat mempertahankan kemampuan untuk menekan Iran di kawasan Teluk sekaligus menjaga stabilitas pasar energi internasional dan legitimasi perannya sebagai pengelola utama sistem energi global.

Dalam perspektif geopolitik yang lebih luas, pelonggaran sementara terhadap minyak Rusia juga dapat dipahami sebagai strategi Amerika Serikat untuk mengelola dua front konflik yang berbeda secara simultan. Di satu sisi, Washington menghadapi eskalasi ketegangan dengan Iran di kawasan Teluk yang berpotensi mengganggu jalur distribusi energi global. Di sisi lain, Amerika Serikat tetap mempertahankan tekanan terhadap Rusia dalam konteks perang Rusia-Ukraina. Jika kedua produsen energi besar ini secara bersamaan ditekan dan terisolasi dari pasar energi global, situasi tersebut justru berpotensi mendorong terbentuknya konsolidasi kekuatan energi yang lebih luas di luar pengaruh Barat. Karena itu, pembukaan akses terbatas terhadap minyak Rusia berfungsi sebagai mekanisme pemisahan dua front geopolitik tersebut, sehingga tekanan terhadap Iran tetap dapat dijalankan tanpa secara bersamaan memperkuat potensi terbentuknya koalisi energi alternatif yang dapat menantang keseimbangan sistem energi internasional.

Dalam konteks tersebut, pembukaan terbatas terhadap minyak Rusia berfungsi sebagai mekanisme pemisahan dua front energi tersebut. Dengan tetap menjaga aliran minyak Rusia secara terbatas di pasar global, Washington mencegah tekanan terhadap Rusia dan Iran berkembang menjadi kepentingan strategis bersama yang dapat memperkuat hubungan energi mereka dengan Cina dan negara-negara importir besar di Asia. Dengan kata lain, kebijakan ini memungkinkan Amerika Serikat menyeimbangkan dua pusat kekuatan energi sekaligus: mempertahankan tekanan terhadap Iran di kawasan Teluk tanpa memaksa Rusia sepenuhnya keluar dari pasar energi global. Strategi ini menjaga agar konflik di dua kawasan tersebut tidak berkembang menjadi koalisi energi alternatif yang dapat menantang stabilitas sistem energi internasional yang selama ini berada dalam orbit pengaruh Barat.

Dengan demikian, kebijakan pelonggaran terbatas terhadap minyak Rusia tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme penyeimbangan dua front energi global, tetapi juga menciptakan kondisi strategis yang memungkinkan konflik di kawasan Teluk memperoleh dimensi internasional yang lebih luas. Penutupan atau gangguan terhadap Selat Hormuz oleh Iran bukanlah tujuan langsung Amerika Serikat, namun tindakan tersebut secara strategis justru menguntungkan Washington. Ketika jalur yang menyalurkan sekitar 20% perdagangan minyak dunia berada dalam kondisi terancam, konflik yang semula bersifat bilateral antara Amerika Serikat dan Iran berubah menjadi krisis stabilitas energi global. Situasi ini memungkinkan Amerika Serikat mendorong pembentukan koalisi maritim internasional untuk menjaga keamanan jalur perdagangan energi dunia. Dalam kerangka tersebut, pengamanan selat secara bertahap dapat bergeser dari persoalan regional menuju rezim keamanan internasional, sekaligus memberikan legitimasi internasional bagi operasi militer Amerika Serikat terhadap Iran dan memperkuat isolasi politik Iran dalam sistem internasional.

Dalam konteks strategi tersebut, Presiden Amerika Serikat Donald Trump secara terbuka mengundang negara-negara besar yang bergantung pada pasokan energi dari kawasan Teluk untuk terlibat langsung dalam pengamanan Selat Hormuz. Dalam pernyataan yang dipublikasikan melalui Truth Social dan kemudian dilaporkan oleh Reuters pada 14 Maret 2026, Trump menyebut secara spesifik beberapa negara yang diharapkan mengirim kapal perang untuk bergabung dengan operasi Amerika Serikat menjaga jalur pelayaran tersebut. Negara-negara yang disebut antara lain Cina, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan Prancis, serta negara-negara lain yang terdampak oleh gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk. Ajakan ini menunjukkan upaya Washington membangun koalisi maritim internasional guna memastikan Selat Hormuz tetap terbuka bagi perdagangan energi global sekaligus memperkuat legitimasi internasional bagi operasi keamanan yang dipimpin Amerika Serikat di kawasan tersebut (Reuters 2026).

Ajakan Amerika Serikat kepada negara-negara importir energi besar untuk terlibat langsung dalam pengamanan Selat Hormuz pada akhirnya membuka jalan bagi proses internasionalisasi keamanan jalur tersebut. Ketika negara-negara seperti Cina, Jepang, Korea Selatan, Inggris, dan Prancis mulai dilibatkan dalam operasi maritim untuk menjaga kebebasan navigasi, pengamanan selat tidak lagi berada dalam kerangka regional antara Iran dan negara-negara Teluk, melainkan bergeser menjadi tanggung jawab keamanan internasional. Dalam perspektif geopolitik, proses ini secara bertahap mengurangi posisi strategis Iran sebagai aktor yang memiliki kemampuan memengaruhi lalu lintas energi di selat tersebut. Dengan kata lain, krisis Hormuz memungkinkan Amerika Serikat menggeser pengelolaan keamanan jalur energi yang sebelumnya berada di bawah tekanan regional menuju suatu rezim keamanan maritim internasional yang melibatkan banyak negara, sehingga kontrol Iran terhadap salah satu chokepoint energi paling penting di dunia menjadi semakin terbatas.

Dengan demikian, internasionalisasi keamanan Selat Hormuz berpotensi secara langsung mengurangi leverage geopolitik Iran dalam sistem energi global. Selama ini kemampuan Iran mengancam penutupan selat tersebut menjadi salah satu instrumen strategis utama dalam menghadapi tekanan Barat. Namun ketika pengamanan jalur pelayaran mulai melibatkan koalisi maritim internasional, kemampuan Iran menggunakan Hormuz sebagai alat tekanan geopolitik akan semakin terbatas. Dalam kondisi ini, kontrol strategis atas jalur energi tersebut secara bertahap bergeser dari dinamika regional menuju kerangka keamanan maritim internasional yang didukung oleh negara-negara importir energi utama dunia.

 470 total views,  2 views today

Previous Post

Objektif Amerika Serikat Tercapai, Mengapa Iran Tidak Runtuh?

Next Post

Perang Iran Jadi Bisnis: Amerika Serikat dan Logika Homo Economicus Global

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya adalah dosen dan penulis yang berfokus pada American Politics dan Chinese Politics dalam konteks kekuasaan global dan transformasi tatanan internasional. Kajian tersebut dilihat dalam perspektif postmodernisme dan genealogi kekuasaan, yang memahami politik internasional sebagai ruang produksi diskursus, identitas, dan legitimasi kekuasaan melalui institusi dan narasi sejarah.

Next Post
Perang Iran Jadi Bisnis: Amerika Serikat dan Logika Homo Economicus Global

Perang Iran Jadi Bisnis: Amerika Serikat dan Logika Homo Economicus Global

Comments 23

  1. Serlin feronika gulo says:
    1 bulan ago

    Menurut saya artikel ini menunjukkan bahwa krisis energi global dapat menjadi instrumen strategi kekuasaan Amerika Serikat dalam politik energi internasional.

    Balas
  2. Justicia Ciciclia Saibele says:
    1 bulan ago

    Ulasan yang komprehensif mengenai dinamika kekuasaan global dan bagaimana energi digunakan sebagai instrumen politik yang sangat vital antara AS, Rusia, dan Iran.

    Balas
  3. Justicia Ciciclia Saibele says:
    1 bulan ago

    Analisis yang bagus! Ternyata masalah minyak bukan cuma soal harga, tapi soal bagaimana negara besar saling mengunci kekuatan di jalur perdagangan dunia.

    Balas
  4. AURARIA DEYSTA CAHAYARANI SIAHAAN says:
    1 bulan ago

    Tulisan dari pak arthuur ini menunjukkan bagaimana krisis Selat Hormuz dimanfaatkan Amerika Serikat untuk menstabilkan pasar energi sekaligus memperkuat strategi geopolitik global.

    Balas
  5. Priscilla Nimiarti Laras Asi says:
    1 bulan ago

    Dari tulisan bang Arthuur disimpulkan bahwa krisis di Selat Hormuz tidak hanya berdampak pada pasar energi, tetapi juga menjadi arena strategi geopolitik yang lebih luas.

    Balas
  6. Angelica Felinda says:
    1 bulan ago

    yang saya simpulkan dari pembahasan ini ialah taktik AS untuk menguasai pasar minyak dunia. saat Selat Hormuz diblokir karena konflik Iran, AS justru mendorong impor minyak murah dari Rusia dengan strateginya yang memicu kekacauan dan mengambil keuntungan sambil melemahkan musuh.

    Balas
  7. Meri Morischa Tundu says:
    1 bulan ago

    Internasionalisasi keamanan Selat Hormuz membatasi pengaruh geopolitik Iran secara signifikan.

    Balas
  8. Berta linda zai says:
    1 bulan ago

    Dari artikel ini sangat menunjukkan bagaimana Amerika Serikat menggunakan krisis energi sebagai instrumen strategi geopolitik global kontemporer.

    Balas
  9. Muhammad Rafi Al Ezzra says:
    1 bulan ago

    Menurut saya fragmentasi geopolitik sedang dalam transisi yang menarik, dimana AS mencoba memanfaatkan celah pragmatisme Rusia dengan menonaktifkan embargo secara sementara guna mencegah koalisi strategis seperti yang sudah dijelaskan oleh penulis, namun di saat yang bersamaan Rusia bisa saja memanfaatkan ini untuk menghancurkan momentum AS dan memutar peta strategi yang direncakanan oleh AS dengan memanfaatkan konsolidasi yang sudah “setengah jadi” seperti BRICS, lalu mengambil alih peran mengamankan jalur energi internasional, mengingat cadangan energi Rusia yang juga tidak kalah melimpah. saya pikir guna mengamankan rencana ini, AS harus memberikan tawaran yang lebih menarik, karena bagi Rusia, rencana 30 hari ini akan dilihat sebagai opportunity cost yang murah apabila dibandingkan dengan potensi profit dari opsi mengamankan jalur energi internasional secara mandiri dengan sumber daya yang ia miliki.

    Balas
  10. Marleon Aristokrat Wijaya says:
    1 bulan ago

    Dari perspektif artikel ini, saya dapat melihat bahwa tadinya ancaman Iran untuk menutup selat hormuz merupakan sebuah ancaman yang besar dan serius. Namun ketika negara-negara barat merespon ancaman ini dengan menjalin koalisi internasional, ancaman Iran kini kian menjadi suatu ancaman yang ‘tumpul’. AS juga melihat hal ini sebagai salah satu peluang untuk memperketat dan memperkuat militer mereka di Iran.

    Balas
  11. Pattiruhu Godewyn Gania Beauty says:
    1 bulan ago

    Menarik sekali membaca artikel ini, mengupas bagaimana dampaknya pelonggaran sanksi minyak thdp AS, yang katanya akan semakin dominan, namun menurut saya meskipun AS melonggarkan sanksi terhadap Rusia dan mengajak negara (termasuk China) untuk mengambil posisi kontra terhadap Iran dengan mengirimkan kapal untuk “menjaga” Hormuz, namun hal ini nyatanya tidak digubris oleh China. Hal ini menunjukkan bagaimana Trump ingin menjebak China dalam bertindak. Menariknya, berita terbaru menunjukkan kesepakatan baru antara Iran- China, yakni setiap kapal yang lewat di selat Hormuz harus bayar menggunakan yuan, serta berita terbaru jg menunjukkan China yang secara tidak lgsg menolak pengiriman kapal ke selat Hormuz. Menunjukkan posisi dan tanggapan China saat ini menguntungkan China, karena mendukung dedolarisasi, mendapatkan minyak murah dari Rusia, serta China akan menjadi negara pengendali karena memegang akses Hormuz sebagai lintas minyak dunia, dan ajaibnya ini tanpa harus menggunakan kekerasan atau ancaman.

    Balas
  12. Irene Anggereini says:
    1 bulan ago

    Menurut saya melalui Artikel Pak Arthuur Jeverson Maya ini, saya berargumen bahwa krisis Hormuz bukan sekadar sengketa regional, melainkan arena di mana Amerika Serikat secara kalkulatif mengelola sistem energi global dalam memanfaatkan ketegangan untuk memperluas koalisi, mengisolasi Iran, dan mencegah terbentuknya blok energi alternatif di luar orbit Barat.

    Balas
  13. Justicia Ciciclia Saibele says:
    1 bulan ago

    Strategi Washington yang melonggarkan sanksi minyak Rusia secara terbatas saat Selat Hormuz memanas menunjukkan pragmatisme politik yang tinggi. Langkah ini bukan sekadar upaya menstabilkan harga energi global, melainkan taktik cerdas untuk mengisolasi Iran tanpa memberikan panggung bagi terbentuknya aliansi energi Rusia-Iran-Cina. Dengan menyeret negara-negara importir besar (seperti Cina dan Jepang) ke dalam misi pengamanan Selat Hormuz, AS berhasil mengubah konflik regional menjadi tanggung jawab internasional, yang secara efektif melucuti posisi tawar pengeruh Iran atas jalur perdagangan tersebut.

    Balas
  14. Auberta Naomi says:
    1 bulan ago

    Menurut saya, dari tulisan pak Arthuur ini saya melihat bahwa ketegangan di Hormuz malah memberi AS alasan memperkuat kehadiran militernya di kawasan.

    Balas
  15. Gita cahyani says:
    1 bulan ago

    Analisis yang cerdas bang arthuur, Washington mau tidak mau “menjilat ludah” nya sendiri, karena memang sanksi ekonomi pada akhirnya seperti pedang bermata dua

    Balas
  16. Kezia Fidelia S says:
    1 bulan ago

    Disini nunjukkin kalau krisis energi global nggak bisa dilihat cuma sebagai masalah supply-demand biasa, tapi juga sebagai bagian dari strategi kekuasaan. Waktu Selat Hormuz terganggu, dampaknya langsung ke distribusi minyak dunia dan bikin harga naik, tapi di situ justru kelihatan bagaimana Amerika Serikat memainkan peranan. Mereka nggak cuma merespons krisis, tapi juga memanfaatkannya, misalnya dengan membuka ruang bagi minyak Rusia masuk ke pasar global walaupun sebelumnya dibatasi.

    Dari situ kelihatan kalau langkah yang diambil bukan sekadar soal ekonomi, tapi lebih ke upaya menjaga kendali atas sistem energi global. Di satu sisi, AS tetap menekan Iran, tapi di sisi lain juga mencegah kekosongan supply yang bisa dimanfaatkan negara lain untuk memperkuat posisi mereka. Jadi krisisnya sendiri kayak jadi “alat” buat ngatur keseimbangan kekuatan.

    Balas
  17. Kezia Fidelia S says:
    1 bulan ago

    Disini nunjukkin kalau krisis energi global nggak bisa dilihat cuma sebagai masalah supply-demand biasa, tapi juga sebagai bagian dari strategi kekuasaan. Waktu Selat Hormuz terganggu, dampaknya langsung ke distribusi minyak dunia dan bikin harga naik, tapi di situ justru kelihatan bagaimana Amerika Serikat memainkan peranan. Mereka nggak cuma merespons krisis, tapi juga memanfaatkannya, misalnya dengan membuka ruang bagi minyak Rusia masuk ke pasar global walaupun sebelumnya dibatasi.

    Dari situ kelihatan kalau langkah yang diambil bukan sekadar soal ekonomi, tapi lebih ke upaya menjaga kendali atas sistem energi global. Di satu sisi, AS tetap menekan Iran, tapi di sisi lain juga mencegah kekosongan supply yang bisa dimanfaatkan negara lain untuk memperkuat posisi mereka. Jadi krisisnya sendiri kayak jadi “alat” buat ngatur keseimbangan kekuatan…

    Balas
  18. Audrey Gracias says:
    1 bulan ago

    menurut analisis saya, AS memang terlihat mengendalikan situasi, tapi justru Iran yang memegang kartu paling kuat selama Selat Hormuz bisa ditutup kapan saja, seluruh strategi Washington bisa runtuh dalam hitungan hari. pelonggaran sanksi Rusia hanyalah solusi sementara yang menunjukkan AS sebenarnya sedang bermain defense, bukan offense.

    Balas
  19. Destini Natalia Situmorang says:
    1 bulan ago

    yang dapat saya pahami disini adalah dimana di balik kebijakan teknis ini, AS sebenarnya sedang menggunakan strategi yang lebih komprehensif untuk mencegah Iran dan Rusia semakin dekat dengan Cina untuk membangun blok energi alternatif yang dapat menantang dominasi Barat. Pada saat yang sama, Washington juga memanfaatkan krisis ini untuk mendorong internasionalisasi keamanan Hormuz melalui koalisi maritim multinasional. Hal ini secara bertahap mempersempit kemampuan Iran untuk menggunakan selat sebagai instrumen tekanan geop.

    Balas
  20. Zefanya Canon says:
    1 bulan ago

    Dalam artikel ini saya mendapatkan bahwa AS memanfaatkan konflik seperti penutupan Selat Hormuz untuk mengacaukan pasar, lalu mengambil keuntungan dengan mendorong impor minyak murah, misalnya dari Rusia sambil melemahkan lawan.

    Balas
  21. Kaerren Hollyvia says:
    1 bulan ago

    Menurut saya mengenai artikel ini bahwa framing “tawaran menarik dari AS” itu sendiri sudah mengandung asumsi bahwa Rusia bermain dalam logika transaksi jangka pendek. Tapi kalau kita baca pola kebijakan luar negeri Moskow pasca-2014, mereka justru konsisten mengorbankan keuntungan jangka pendek demi positioning struktural jangka panjang. Maka pertanyaan yang lebih relevan bisa berupa apakah AS punya credible commitment yang cukup, atau ini hanya taktik penundaan yang sudah terbaca?​​​​​​​​​​​​​​​​

    Balas
  22. Kaerren Hollyvia says:
    1 bulan ago

    Perspektif saya mengatakan bahwa framing “tawaran menarik dari AS” itu sendiri sudah mengandung asumsi bahwa Rusia bermain dalam logika transaksi jangka pendek. Tapi kalau kita baca pola kebijakan luar negeri Moskow pasca-2014, mereka justru konsisten mengorbankan keuntungan jangka pendek demi positioning struktural jangka panjang. Maka pertanyaan yang lebih relevan: apakah AS punya credible commitment yang cukup, atau ini hanya taktik penundaan yang sudah terbaca?​​​​​​​​​​​​​​​​

    Balas
  23. Yudith Jasintha says:
    1 bulan ago

    Jujur ini bikin saya mikir ulang, ternyata kebijakan AS melonggarkan sanksi minyak Rusia itu bukan karena tiba-tiba jadi baik hati, tapi memang ada kepentingan besar di baliknya. Kalau dua produsen energi besar seperti Rusia dan Iran sampai bergandengan tangan, itu justru bahaya bagi AS. Jadi masuk akal kenapa mereka ambil langkah ini, supaya dua front itu tetap terpisah dan AS masih bisa pegang kendali atas sistem energi global.

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

No Result
View All Result
Selengkapnya
Selengkapnya
  • Arthuur Jeverson Maya Research
  • Beranda
  • Edisi Lampau
  • IPTV
  • Jurnal
  • Karya Arthuur Jeverson Maya
  • Kirim Donasi
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Mukadimah
  • Panduan Penulisan
  • Pasang Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Pengantar
  • Podcast
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Syarat Penggunaan

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

No Result
View All Result
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co