• American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
Social icon element need JNews Essential plugin to be activated.
Arthuur Research
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
No Result
View All Result
Arthuur Research
No Result
View All Result
Home Logika & Teori

Universitas dalam Cengkeraman Pasar: Politik Pengetahuan di Balik Rencana Penutupan Prodi

Arthuur Jeverson Maya by Arthuur Jeverson Maya
April 29, 2026
in Logika & Teori
0
Universitas dalam Cengkeraman Pasar: Politik Pengetahuan di Balik Rencana Penutupan Prodi
0
SHARES
145
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan ke WhatsApp

Wacana penutupan program studi yang dianggap tidak relevan dengan kebutuhan industri menunjukkan terjadinya pergeseran rasionalitas dalam tata kelola pendidikan tinggi Indonesia, dari model pengembangan ilmu berbasis disiplin menuju model utilitarian berbasis kebutuhan ekonomi strategis negara. Pernyataan Kemendiktisaintek mengenai evaluasi prodi didasarkan pada argumen adanya mismatch struktural antara output perguruan tinggi dan kebutuhan pasar kerja, terutama pada bidang-bidang yang dinilai mengalami surplus lulusan. Dalam kerangka tersebut, legitimasi suatu disiplin ilmu mulai diukur melalui tingkat serapan tenaga kerja, kontribusi terhadap hilirisasi industri, transformasi digital, serta dukungan terhadap agenda pertumbuhan ekonomi nasional. Akibatnya, pendidikan tinggi tidak lagi dipahami terutama sebagai ruang produksi pengetahuan otonom, melainkan sebagai mekanisme distribusi kompetensi yang diselaraskan dengan kebutuhan pembangunan negara dan restrukturisasi ekonomi global.

Rasionalitas kebijakan tersebut berangkat dari asumsi bahwa perguruan tinggi harus beroperasi selaras dengan arah transformasi ekonomi nasional, khususnya dalam mendukung sektor-sektor yang diproyeksikan menjadi basis pertumbuhan Indonesia di masa depan. Karena itu, negara mulai mendorong reorientasi pendidikan tinggi ke bidang-bidang yang memiliki nilai instrumental tinggi terhadap industrialisasi, seperti kecerdasan artifisial, manufaktur maju, energi, kesehatan, dan ekonomi digital. Dalam logika ini, efektivitas universitas tidak lagi terutama diukur melalui pengembangan tradisi intelektual atau kontribusi epistemik jangka panjang, tetapi melalui kemampuan menghasilkan lulusan yang adaptif terhadap kebutuhan industri dan kompetisi global. Pergeseran tersebut menunjukkan munculnya pola tata kelola pendidikan tinggi yang semakin teknokratis, di mana kurikulum, arah riset, hingga keberlangsungan program studi mulai ditentukan oleh kalkulasi efisiensi ekonomi dan proyeksi pasar kerja nasional.

Di titik inilah problem epistemologis mulai muncul, sebab ketika keberlangsungan suatu disiplin ditentukan terutama oleh logika utilisasi ekonomi, maka ilmu pengetahuan perlahan kehilangan otonominya sebagai ruang pembentukan cara berpikir kritis terhadap masyarakat itu sendiri. Disiplin-disiplin yang tidak menghasilkan output material secara cepat cenderung diposisikan sebagai beban administratif, bukan sebagai fondasi pembentukan kesadaran historis, etis, dan politik bangsa. Akibatnya, nilai suatu ilmu direduksi menjadi persoalan keterpakaian teknis, sementara dimensi reflektif yang selama ini memungkinkan universitas mempertanyakan arah pembangunan justru terdesak ke pinggir. Dalam kondisi demikian, kampus berisiko mengalami transformasi dari institusi intelektual menjadi perangkat teknokratis negara, yakni ruang yang bekerja terutama untuk memastikan reproduksi kebutuhan ekonomi dan stabilitas pembangunan, bukan lagi untuk memproduksi kritik atasnya.

Situasi ini memperlihatkan bekerjanya kuasa yang tidak lagi tampil sebagai larangan, tetapi sebagai ukuran kewajaran. Negara tidak perlu mengatakan bahwa suatu ilmu harus dimatikan; cukup dengan menetapkan indikator serapan kerja, efisiensi, relevansi industri, dan kontribusi ekonomi sebagai standar utama, maka disiplin tertentu akan tampak “tidak berguna” dengan sendirinya. Di sinilah pengetahuan mulai diatur melalui mekanisme normalisasi: ilmu yang dekat dengan industri diberi status produktif, sedangkan ilmu yang membentuk kritik, sejarah, etika, dan kesadaran sosial diposisikan sebagai beban. Universitas akhirnya tidak hanya dievaluasi, tetapi dijinakkan; ia diarahkan agar tidak lagi menjadi ruang yang mempertanyakan arah pembangunan, melainkan menjadi mesin yang memproduksi tubuh-tubuh terampil bagi kebutuhan negara dan pasar.

Bahaya terbesar dari proses ini terletak pada perubahan diam-diam terhadap cara universitas memandang manusia. Mahasiswa tidak lagi ditempatkan sebagai subjek intelektual yang dibentuk untuk memahami, mengkritik, dan menggugat tatanan sosial, tetapi sebagai sumber daya yang harus dioptimalkan sesuai kebutuhan ekonomi negara. Kampus akhirnya bekerja seperti mekanisme seleksi dan distribusi populasi: disiplin yang menghasilkan tenaga teknis dipertahankan, sementara ilmu yang memproduksi refleksi kritis perlahan kehilangan ruang hidupnya. Dalam kondisi demikian, pendidikan tinggi tidak lagi diarahkan untuk melahirkan kesadaran, melainkan kepatuhan yang produktif; bukan untuk menciptakan manusia yang mampu mempertanyakan sistem, tetapi manusia yang cukup terampil untuk menjaga sistem tetap berjalan.

Pada tahap ini, universitas tidak lagi sekadar diarahkan untuk mengikuti kebutuhan pasar, tetapi mulai diintegrasikan langsung ke dalam mekanisme produksi dan pengelolaan ekonomi itu sendiri. Ilmu pengetahuan dipilah berdasarkan nilai gunanya terhadap akumulasi pembangunan, sementara disiplin yang tidak menghasilkan keuntungan material cepat perlahan dipinggirkan melalui bahasa efisiensi, rasionalisasi, dan relevansi industri. Kampus akhirnya berfungsi sebagai ruang pembentukan tenaga kerja yang terampil sekaligus tunduk pada kebutuhan sistem, bukan ruang yang membentuk kemampuan untuk membaca kontradiksi dan relasi kuasa yang bekerja di baliknya. Bahkan gagasan tentang “kebebasan akademik” dapat direduksi menjadi kebebasan untuk berinovasi sepanjang tetap selaras dengan kepentingan ekonomi negara dan industri. Dalam kondisi demikian, pendidikan tinggi tidak lagi memproduksi kesadaran kritis terhadap struktur yang menciptakan ketimpangan, tetapi justru mereproduksi struktur tersebut melalui cara yang tampak ilmiah, modern, dan seolah netral.

Inti persoalan dari wacana penutupan program studi sesungguhnya terletak pada munculnya monopoli baru atas penentuan nilai pengetahuan. Ketika negara, industri, dan logika pasar mulai menjadi pihak yang menentukan disiplin mana yang layak hidup berdasarkan kalkulasi produktivitas ekonomi, maka universitas perlahan kehilangan posisi historisnya sebagai ruang yang dapat memproduksi pengetahuan di luar kepentingan kekuasaan dominan. Pengetahuan tidak lagi dipertahankan karena kemampuannya membuka kesadaran, membaca ketimpangan, atau menggugat arah peradaban, tetapi karena kemampuannya menopang stabilitas ekonomi dan kebutuhan sistem produksi. Di titik ini, kampus bukan hanya sedang diarahkan untuk menyesuaikan diri dengan pasar, melainkan sedang diubah menjadi perangkat yang memastikan masyarakat menerima logika pasar sebagai sesuatu yang alamiah dan tidak perlu dipertanyakan. Bahaya terdalam dari proses tersebut bukan sekadar hilangnya beberapa disiplin ilmu, tetapi hilangnya kemampuan kolektif masyarakat untuk membayangkan bentuk kehidupan, pembangunan, dan masa depan di luar kerangka yang telah ditentukan oleh negara dan industri itu sendiri.

Loading

Previous Post

Paradoks Survei Trump: Republik Terkunci, Demokrat Terkunci, Independen?

Next Post

Kerja Tidak Pernah Kaya: Membongkar Misteri M-C-M’ sebagai Prinsip Akumulasi Kapital

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya adalah dosen dan penulis yang berfokus pada politik Amerika Serikat dan Cina dalam dinamika transformasi tatanan global kontemporer. Dalam berbagai kajiannya, ia menelusuri bagaimana kuasa, pengetahuan, dan struktur dunia diproduksi melalui repetisi makna yang membentuk kesadaran global modern. Dari lintasan pemikiran tersebut, ia mengembangkan Simtoxa sebagai kerangka analitis sekaligus proses pemulihan orbit ontologis, yakni upaya mengembalikan manusia pada relasi kebenaran yang tidak semata dibentuk oleh struktur, diskursus, atau reproduksi simbolik dunia modern.

Next Post
Kerja Tidak Pernah Kaya: Membongkar Misteri M-C-M’ sebagai Prinsip Akumulasi Kapital

Kerja Tidak Pernah Kaya: Membongkar Misteri M-C-M’ sebagai Prinsip Akumulasi Kapital

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

No Result
View All Result
Selengkapnya
Selengkapnya

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

No Result
View All Result
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

A no-nonsense guide to UK casinos that accept Neteller in 2026. We rank the top operators, dissect bonus traps, and reveal the fastest withdrawal options, plus alternatives when Neteller isn’t available. read our expert guide to Neteller casinos UK 2026

Discover the best UK online casinos that still offer Pay N Play in 2026. Our expert guide covers instant play, top sites, bonuses, and alternatives. read the full guide to Pay N Play casinos UK 2026

Discover the best UK online casinos that accept PayPal in 2026. Our in-depth guide ranks the top PayPal casino sites, compares bonuses, payout speeds, and game libraries. Learn how to deposit and withdraw safely. No filler – just expert, updated advice. browse our curated list of PayPal casino sites

POLi is dead, but that doesn’t mean your UK casino deposits have to suffer. Discover the best alternatives, top sites that accept them, and why you’ll never see POLi in 2026. explore the best POLi alternatives for UK casinos

Find the best UK online casinos that accept Revolut in 2026. Compare bonuses, payout speeds, and fees. Complete guide with top picks, how-to, and alternatives. check out the full list of Revolut-friendly casinos

Find the best online casinos that accept Ripple XRP deposits for UK players in 2026. Compare top XRP gambling sites, bonuses, games, and payment speeds in our expert guide. read our full analysis of the best XRP casinos for UK players

Discover the top UK casinos accepting Siru Mobile in 2026. Compare bonuses, games, and payment options. Expert analysis with pros, cons, and a full ranking table. read our comprehensive Siru Mobile casinos guide

Find the best casinos that accept Solana in the UK for 2026. Our expert guide compares trusted sites, bonuses, games, and fast crypto payouts. Start playing with SOL safely. read our guide to the best Solana casinos UK 2026

Discover the best Tether casinos in the UK for 2026. Compare top USDT-friendly casinos, bonuses, fast withdrawals, and secure crypto gambling options for British players. read our guide to Tether casinos in the UK 2026

Discover the best TRON casinos for UK players in 2026. Compare top TRX gambling sites, bonuses, and games in our no-nonsense guide. read our TRON casino guide