Pernyataan Presiden Donald J. Trump pada 6 April 2026 yang menyebut, “Tuesday will be Power Plant Day, and Bridge Day, all wrapped up in one, in Iran. There will be nothing like it!!! Open the Fuckin’ Strait, you crazy bastards, or you’ll be living in Hell – JUST WATCH! Praise be to Allah.” Pernyataan ini tidak dapat dibaca semata sebagai retorika emosional, melainkan sebagai artikulasi kuasa yang muncul dalam momen eskalasi konkret konflik Amerika Serikat dan Iran. Pernyataan ini hadir di tengah situasi di mana Washington secara terbuka mengaitkan pembukaan Selat Hormuz dengan stabilitas energi global, sementara laporan media menunjukkan gangguan signifikan terhadap arus minyak dunia serta meningkatnya operasi militer di kawasan Teluk, termasuk insiden jatuhnya pesawat tempur F-15 dan operasi penyelamatan berisiko tinggi di wilayah Iran (Reuters 2026; Reuters 2026). Dalam konteks ini, ancaman terhadap infrastruktur sipil strategis seperti pembangkit listrik dan jembatan tidak hanya mencerminkan intensifikasi tekanan militer, tetapi juga menandai pergeseran bentuk intervensi yang menyasar langsung pada sistem kehidupan negara yang dituju.
Dalam kerangka Michel Foucault, pernyataan tersebut dapat dibaca sebagai praktik alethurgy, yakni proses di mana kebenaran tidak sekadar diungkap, melainkan diproduksi melalui tindakan diskursif yang memiliki otoritas. Ultimatum yang disampaikan tidak hanya memproyeksikan kemungkinan serangan, tetapi sekaligus menetapkan kondisi di mana tindakan tersebut menjadi masuk akal dan dapat diterima. Dengan menyematkan Selat Hormuz sebagai objek krisis global dan Iran sebagai penghambatnya, pernyataan itu mengonstruksi relasi sebab-akibat yang menempatkan kekerasan sebagai konsekuensi logis, bukan pilihan politis. Dalam titik ini, ancaman tidak lagi berfungsi sebagai tekanan eksternal semata, tetapi sebagai mekanisme internal yang mengaktifkan kebenaran tertentu tentang tatanan internasional bahwa stabilitas global harus dijaga bahkan melalui penghancuran infrastruktur kehidupan negara lain.
Pernyataan tersebut secara spesifik menunjukkan bagaimana konstruksi ancaman dibentuk melalui pilihan kata yang ekstrem dan langsung, yang menghapus jarak antara kemungkinan dan tindakan aktual. Dengan menyebut secara eksplisit target seperti pembangkit listrik dan jembatan, serta mengaitkannya dengan batas waktu yang jelas, Trump tidak hanya mengomunikasikan niat, tetapi juga menyusun kerangka temporal dan material bagi kekerasan itu sendiri. Dalam formulasi ini, ancaman tidak lagi bersifat abstrak, melainkan telah dipadatkan menjadi skenario operasional yang siap dijalankan. Penggunaan bahasa kasar semakin memperkuat efek ini karena ia menanggalkan lapisan diplomasi dan menggantikannya dengan relasi kuasa yang bersifat langsung, di mana tidak ada ruang ambigu bagi pihak yang dituju. Dengan demikian, pernyataan tersebut bekerja sebagai instrumen yang mengunci Iran dalam posisi reaktif, sekaligus mengarahkan persepsi global bahwa setiap eskalasi berikutnya merupakan kelanjutan yang wajar dari situasi yang telah didefinisikan sebelumnya.
Pernyataan Trump menjadi penting justru karena ia menyusun tiga elemen dalam satu tarikan yang rapat, yaitu objek, tenggat, dan hukuman. Objeknya dibuat konkret melalui penyebutan pembangkit listrik, jembatan, dan Selat Hormuz. Tenggatnya dibuat tegas melalui penandaan hari Selasa sebagai saat eksekusi. Hukumannya dibuat telanjang melalui frasa Hell to pay. Struktur seperti ini menghasilkan logika yang tertutup. Jika selat tidak dibuka, maka serangan atas infrastruktur menjadi akibat yang seolah niscaya. Di sini letak kekuatan pernyataan itu. Trump tidak berhenti pada ancaman umum terhadap Iran, tetapi mengubah hubungan politik yang kompleks menjadi rumus yang sederhana dan memaksa. Iran diposisikan sebagai penyebab krisis, Hormuz sebagai ukuran kepatuhan, dan penghancuran infrastruktur sebagai jawaban yang sah. Karena itu, fungsi utama pernyataan ini bukan sekadar menakut-nakuti, melainkan menghapus kemungkinan pembacaan lain sebelum peristiwa militer terjadi. Begitu rumus itu diterima, serangan tidak lagi tampil sebagai keputusan politik Amerika Serikat, tetapi sebagai konsekuensi yang tampak logis dari tindakan Iran sendiri.
Lebih jauh, rincian pernyataan itu memperlihatkan bahwa Trump tidak menyusun ancaman dalam bentuk yang netral, melainkan dalam bentuk dramaturgi eksekusi. Frasa Tuesday will be Power Plant Day, and Bridge Day, all rolled into one, in Iran bukan sekadar pemberitahuan tentang kemungkinan serangan, tetapi pengubahan waktu menjadi panggung penghukuman. Hari Selasa tidak diposisikan sebagai tanggal biasa, melainkan sebagai momen ketika jenis target telah ditentukan, cara penghukuman telah diisyaratkan, dan audiens global telah dipersiapkan untuk menerima serangan sebagai peristiwa yang akan datang. Penyebutan pembangkit listrik dan jembatan juga sangat penting karena keduanya bukan simbol abstrak. Pembangkit listrik menyentuh sirkulasi energi yang menopang rumah sakit, komunikasi, transportasi, dan ritme kehidupan sipil. Jembatan menyentuh konektivitas ruang, distribusi logistik, dan koordinasi gerak suatu wilayah. Artinya, sejak di level bahasa, Trump sudah menggeser sasaran dari semata kapasitas tempur menuju syarat material yang memungkinkan sebuah masyarakat tetap berfungsi. Di sini ancaman menjadi sangat spesifik. Yang diancam bukan hanya militer Iran, tetapi kemampuan Iran untuk tetap hidup sebagai tatanan yang terhubung.
Ketika kalimat itu disusul dengan Open the Fuckin’ Strait, struktur logikanya menjadi semakin ketat. Selat tidak hadir sebagai salah satu isu di antara banyak isu, melainkan sebagai titik uji tunggal yang menentukan apakah hukuman akan dijalankan. Dengan demikian, seluruh kompleksitas konflik direduksi ke dalam satu indikator kepatuhan. Ini penting karena reduksi semacam itu adalah operasi kuasa yang sangat efektif. Begitu satu indikator dipilih, seluruh penilaian moral dan politik dapat dipusatkan padanya. Jika selat dibuka, maka Iran untuk sementara masuk dalam kategori patuh. Jika selat tidak dibuka, maka Iran dikonstruksi sebagai aktor yang secara aktif memilih eskalasi. Rumus ini menguntungkan pihak yang mengucapkannya karena ia memindahkan asal kekerasan. Serangan Amerika Serikat tidak lagi tampak sebagai tindakan yang lahir dari kehendaknya sendiri, tetapi sebagai akibat yang dipicu oleh kegagalan Iran memenuhi syarat yang telah diumumkan. Inilah titik di mana alethurgy bekerja dengan sangat konkret. Kebenaran tentang siapa penyebab krisis tidak dibuktikan melalui penyelidikan panjang, melainkan dipadatkan dalam satu pernyataan yang memiliki otoritas geopolitik.
Pilihan kata you crazy bastards juga tidak bisa diperlakukan sebagai ledakan emosi yang berdiri di luar logika politik. Justru di situ pernyataan itu mencapai efek disipliner yang paling kasar. Dengan memilih penghinaan terbuka, Trump menghapus kemungkinan Iran dipahami sebagai lawan yang rasional dan setara. Iran tidak lagi ditempatkan sebagai negara yang mengambil keputusan strategis menurut kalkulasinya sendiri, tetapi sebagai subjek yang dianggap liar, irasional, dan karenanya layak dikoreksi dengan kekerasan. Penghinaan di sini bekerja sebagai teknik delegitimasi. Ia menurunkan lawan dari posisi politik ke posisi patologis. Begitu lawan dikonstruksi sebagai tidak waras, maka respons keras terhadapnya menjadi lebih mudah dibenarkan. Dalam arti itu, bahasa kasar bukan unsur tambahan, melainkan perangkat yang mempercepat transisi dari konflik politik ke justifikasi penghukuman. Ia menutup kemungkinan pembacaan bahwa Iran mungkin sedang menjalankan strategi penahanan, tawar-menawar, atau kalkulasi keamanan. Semua itu disapu oleh satu label yang membuat lawan tampak tidak layak diajak berbicara dalam bahasa diplomasi biasa.
Frasa you’re going to have Hell kemudian menyempurnakan struktur ancaman itu. Yang bekerja di sini bukan hanya ancaman material, tetapi ancaman yang diberi intensitas moral dan eskatologis. Kata Hell mengubah hukuman dari sekadar operasi militer menjadi pengalaman penderitaan yang total. Ini membuat ancaman tampak melampaui batas teknis serangan. Yang disampaikan bukan hanya bahwa target akan dihancurkan, tetapi bahwa akibatnya akan begitu besar sehingga ia layak digambarkan dengan istilah kutukan. Secara politis, pilihan diksi ini memperluas medan ancaman. Ia tidak lagi terbatas pada kalkulasi militer tentang berapa target yang dihantam, tetapi merembet ke pembayangan publik tentang kehancuran yang menyeluruh. Dengan begitu, pernyataan Trump menghasilkan dua efek sekaligus. Kepada Iran, ia mengirim sinyal bahwa biaya penolakan akan dibuat sangat tinggi. Kepada audiens global, ia membangun atmosfer bahwa jika serangan terjadi, besarnya kekerasan itu sudah lebih dulu diumumkan dan karenanya telah dinormalisasi.
Penutup Praise be to Allah justru membuat pernyataan ini semakin kompleks. Pada satu sisi, frasa ini tampak seperti sisipan yang janggal dalam mulut seorang presiden Amerika Serikat. Namun justru karena janggal, ia berfungsi sebagai tanda yang mengguncang. Frasa itu bisa dibaca sebagai apropriasi simbolik atas bahasa religius yang diasosiasikan dengan kawasan yang sedang diancam. Dalam struktur pernyataan secara keseluruhan, ia menghasilkan efek bahwa bahkan idiom yang paling dekat dengan dunia lawan pun dapat diambil alih dan ditempatkan di bawah otoritas sang pengancam. Di sini kuasa tidak hanya mengatur target material, tetapi juga bermain pada level simbolik. Trump tidak cukup hanya menentukan kapan dan apa yang akan dihancurkan; ia juga menyusup ke medan tanda, mencampur ancaman, penghinaan, dan idiom religius ke dalam satu rangkaian yang membuat lawan kehilangan stabilitas makna. Dari sudut ini, pernyataan tersebut bukan sekadar ultimatum militer, tetapi pertunjukan kuasa yang berusaha menguasai sekaligus medan infrastruktur dan medan simbolik.
Karena itu, jika dibaca dengan ketat, inti pernyataan Trump bukan sekadar bahwa Amerika Serikat siap menyerang Iran. Intinya adalah bahwa Trump menyusun kondisi diskursif di mana tiga hal terjadi bersamaan. Pertama, sasaran kekerasan didefinisikan dengan sangat konkret. Kedua, ukuran kepatuhan diringkas ke dalam satu titik uji yang mudah diulang, yaitu pembukaan selat. Ketiga, asal tanggung jawab atas eskalasi dipindahkan ke pihak lawan sebelum serangan dimulai. Inilah mengapa pernyataan itu efektif secara politis. Ia tidak menunggu perang untuk menciptakan pembenaran, tetapi memproduksi pembenaran itu terlebih dahulu. Dengan demikian, ancaman tidak berfungsi sebagai bayangan dari tindakan, melainkan sebagai mekanisme yang menyiapkan tindakan agar tampak wajar, perlu, dan hampir tak terhindarkan.
Dari struktur tersebut, dapat dilihat bahwa pernyataan Trump tidak berhenti pada level ancaman, melainkan bekerja sebagai mekanisme yang mengalihkan status kekerasan dari pilihan menjadi konsekuensi. Dalam pengertian ini, alethurgy tidak hanya memproduksi kebenaran tentang siapa yang bersalah, tetapi juga mengatur bagaimana tindakan terhadap pihak tersebut dipahami. Ketika Iran ditempatkan sebagai aktor yang menentukan apakah serangan akan terjadi atau tidak, maka tanggung jawab atas kekerasan telah dipindahkan sebelum kekerasan itu dijalankan. Dengan demikian, jika serangan benar-benar dilakukan, ia tidak lagi tampil sebagai keputusan sepihak Amerika Serikat, melainkan sebagai hasil dari kegagalan Iran memenuhi kondisi yang telah ditetapkan. Di titik ini, kekuasaan tidak bekerja melalui pembenaran setelah tindakan, tetapi melalui penyusunan kondisi di mana tindakan tersebut telah lebih dahulu tampak sah. Inilah yang membuat ancaman tersebut efektif, karena ia tidak hanya menekan lawan, tetapi juga menyiapkan kerangka penerimaan global terhadap kekerasan yang mungkin terjadi.
Pada akhirnya, yang dipertaruhkan dalam pernyataan tersebut bukan semata keputusan untuk menyerang atau tidak, melainkan otoritas untuk menentukan bagaimana serangan itu harus dipahami. Trump tidak menunggu legitimasi muncul setelah tindakan, tetapi memproduksinya terlebih dahulu melalui struktur bahasa yang menutup alternatif pembacaan. Dalam titik ini, alethurgy bekerja secara penuh: ia tidak hanya menetapkan siapa yang bersalah, tetapi juga menetapkan bentuk respons yang dianggap wajar terhadap kesalahan itu. Ketika dunia menerima bahwa pembukaan Selat Hormuz adalah satu-satunya ukuran kepatuhan, maka segala konsekuensi atas kegagalan memenuhinya telah lebih dahulu dinaturalisasi. Dengan demikian, jika kekerasan terjadi, ia tidak lagi tampil sebagai pilihan politik yang dapat diperdebatkan, melainkan sebagai hasil yang seolah tidak terhindarkan. Di sinilah kuasa mencapai bentuk paling efektifnya, bukan dengan memaksakan tindakan, tetapi dengan mengatur kondisi di mana tindakan tersebut sudah diterima sebelum benar-benar dilakukan.
376 total views, 2 views today

