Pada Maret 2023, untuk pertama kalinya dalam sejarah perdagangan energi Rusia-Cina, pembayaran minyak melalui jalur pipa Siberia dilakukan sepenuhnya menggunakan yuan. Setahun kemudian, Arab Saudi membuka kemungkinan menerima yuan untuk sebagian transaksi minyaknya dengan Cina, sementara Brasil menyepakati mekanisme perdagangan bilateral tanpa dolar. Di dalam negeri, Bank Rakyat Cina terus menambah cadangan emas selama lebih dari satu tahun berturut-turut, sekaligus memperluas penggunaan sistem pembayaran lintas batas CIPS yang pada 2025 telah menghubungkan ribuan institusi keuangan di puluhan negara. Rangkaian langkah konkret ini memperlihatkan pola yang konsisten: de-dollarization dijalankan melalui perdagangan energi, cadangan devisa, dan infrastruktur pembayaran, bukan melalui konfrontasi politik langsung terhadap dolar Amerika Serikat.
Sementara Cina memperluas ruang transaksi non-dolar melalui perdagangan dan institusi finansial, Amerika Serikat menjaga pengaruhnya atas perdagangan global melalui kombinasi kekuatan militer dan kendali energi. Armada laut Amerika tetap mengamankan jalur minyak dunia dari Teluk Persia hingga Laut Cina Selatan, sementara di Amerika Latin pengaruh terhadap minyak Venezuela dibentuk melalui tekanan keamanan dan politik yang panjang sejak krisis pemerintahan Nicolás Maduro. Dukungan militer terhadap stabilitas kawasan Karibia, latihan keamanan bersama negara-negara sekitar, serta ancaman intervensi pada puncak krisis politik Venezuela menunjukkan bahwa minyak tidak pernah terlepas dari logika keamanan. Bahkan ketika produksi Venezuela menurun akibat sanksi dan konflik internal, arah distribusi minyaknya tetap berada dalam orbit sistem energi global yang dijaga oleh kekuatan Amerika Serikat. Dengan demikian, jika Cina bergerak melalui mekanisme finansial untuk mengurangi dominasi dolar, Amerika Serikat mempertahankan struktur perdagangan energi dunia melalui kombinasi kekuatan militer, sanksi ekonomi, dan kontrol geopolitik atas wilayah penghasil minyak strategis.
Perubahan struktur transaksi global dapat dilihat secara kronologis dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2021, yuan hanya menyumbang sekitar 2 persen dari sistem pembayaran internasional melalui SWIFT (SWIFT 2022). Memasuki 2022, perang Rusia–Ukraina mempercepat penggunaan yuan dalam perdagangan Rusia–Cina, terutama di sektor energi dan komoditas (IMF 2023). Pada 2023, lebih dari 30 persen perdagangan bilateral kedua negara telah menggunakan yuan, sementara Shanghai Petroleum and Natural Gas Exchange mulai memfasilitasi transaksi LNG dalam mata uang Cina sebagai bagian dari internasionalisasi yuan (Eichengreen 2023). Sepanjang 2024, porsi yuan dalam sistem pembayaran global meningkat mendekati 5 persen dan sejumlah negara BRICS memperluas mekanisme perdagangan bilateral menggunakan mata uang lokal (SWIFT 2024; BRICS Policy Report 2024). Pada 2025, Bank Rakyat Cina mencatat akumulasi cadangan emas yang melampaui 2.200 ton setelah pembelian berturut-turut selama lebih dari delapan belas bulan (World Gold Council 2025). Rangkaian perkembangan tahunan ini memperlihatkan pola yang konsisten: de-dollarization berlangsung sebagai proses bertahap yang mengikuti dinamika perdagangan energi, konflik geopolitik, dan transformasi institusi finansial global.
Rangkaian data tersebut menunjukkan bahwa diplomasi dolar tidak sedang runtuh secara mendadak, melainkan mengalami erosi struktural melalui perubahan praktik ekonomi internasional. Dominasi dolar selama ini bertumpu pada kombinasi kepercayaan pasar, jaringan institusi finansial global, dan kemampuan Amerika Serikat menghubungkan stabilitas keamanan dengan stabilitas perdagangan. Namun ketika transaksi energi mulai dilakukan dalam mata uang alternatif, cadangan devisa didiversifikasi melalui emas, dan sistem pembayaran non-dolar berkembang, legitimasi dolar sebagai pusat tunggal transaksi global perlahan melemah. Dalam perspektif kekuasaan ekonomi-politik, mata uang global bertahan bukan hanya karena kekuatan ekonomi negara penerbitnya, tetapi karena kebiasaan transaksi yang direproduksi terus-menerus oleh pasar dan institusi internasional. Jika kebiasaan ini berubah secara konsisten, maka diplomasi dolar akan bergeser dari posisi dominan menjadi salah satu instrumen di antara beberapa pusat keuangan dunia. Ke depan, yang mungkin terjadi bukanlah kehancuran mendadak dolar, melainkan transformasi menuju sistem moneter multipolar di mana dolar tetap kuat, tetapi tidak lagi menentukan arah perdagangan global secara sepihak.
Perkembangan terbaru memperlihatkan bahwa proses ini semakin konkret dalam praktik perdagangan global. Sepanjang 2025 hingga awal 2026, peningkatan transaksi energi menggunakan mata uang lokal di Asia dan Eurasia, ekspansi penggunaan yuan dalam pembiayaan proyek Belt and Road, serta pembelian emas oleh bank sentral di berbagai negara berkembang menunjukkan kecenderungan yang sama: negara-negara mulai mengurangi risiko ketergantungan pada dolar tanpa harus meninggalkan sistem keuangan global yang ada. Dalam situasi ekonomi dunia yang ditandai inflasi pascapandemi, konflik geopolitik, dan ketidakpastian rantai pasok, fleksibilitas mata uang menjadi bagian dari strategi keamanan ekonomi. Karena itu, masa depan diplomasi dolar kemungkinan tidak ditentukan oleh satu peristiwa dramatis, melainkan oleh akumulasi keputusan teknis dalam perdagangan, energi, dan cadangan devisa. Dolar masih akan menjadi pusat sistem keuangan global, tetapi pengaruhnya semakin bergantung pada kemampuan Amerika Serikat menjaga kepercayaan pasar di tengah munculnya alternatif finansial yang dibangun secara perlahan oleh kekuatan ekonomi lain, terutama Cina.
186 total views, 4 views today

