
Delegasi kekuasaan yang tampak berlangsung di bawah kepemimpinan Xi Jinping sejak awal 2025 bukanlah tanda pelepasan kendali atau transisi kekuasaan yang sesungguhnya, melainkan bentuk baru dari rekayasa kekuasaan yang lebih tersembunyi dan sistemik. Dalam berbagai liputan media internasional dan dokumen resmi negara, muncul figur-figur teknokrat seperti Li Qiang, Cai Qi, dan Wang Yi yang tampil ke depan sebagai pelaksana kebijakan strategis, mulai dari diplomasi BRICS, penanganan deflasi industri, krisis sektor properti, hingga penataan ulang hubungan dagang dengan Eropa. Namun, jika ditelusuri lebih dalam, arah, isi, bahkan bahasa yang digunakan dalam setiap kebijakan tetap bersumber dari “Xi Jinping Thought”, sebuah korpus ideologis yang tidak hanya dilembagakan secara formal dalam konstitusi negara, tetapi juga menjadi fondasi epistemologis dari seluruh arsitektur kebijakan Cina modern. Semua ini menandakan bahwa kekuasaan Xi tidak sedang dilepaskan, melainkan sedang direproduksi dalam bentuk yang lebih canggih: menyebar ke dalam fungsi-fungsi kelembagaan yang tetap dikendalikan dari satu pusat intensi.
Dalam kerangka teori subjek individual, Xi Jinping tidak bisa dipahami hanya sebagai pemegang kekuasaan formal, tetapi sebagai pengada struktur kuasa itu sendiri. Ia adalah asal dari segala intensi yang bekerja di dalam sistem. Berbeda dari pendekatan Foucault yang melihat kekuasaan sebagai jaringan tanpa asal, dalam konsep subjek individual, kuasa dimungkinkan justru karena ada satu subjek yang mengada dan berintensi, yang darinya struktur-struktur itu muncul dan bekerja. Maka, ketika tampak seolah-olah kekuasaan terdistribusi melalui tokoh-tokoh birokratik, sesungguhnya yang berlangsung adalah proyeksi kehendak Xi ke dalam berbagai saluran simbolik dan administratif. Delegasi ini bukan desentralisasi, melainkan strategi distribusi fungsi untuk memperluas jangkauan kuasa tanpa memperlihatkan pusatnya secara vulgar. Para aktor yang diberi ruang hanya merepresentasikan aspek teknis dari sistem yang tetap dikendalikan secara intensional dari satu kehendak asal: Xi sebagai subjek.
Data-data resmi memperkuat hal ini. Komisi Militer Pusat tetap diketuai oleh Xi, Leading Small Groups yang mengarahkan kebijakan luar negeri dan keamanan nasional tetap berada di bawah kontrolnya, dan blueprint strategis jangka panjang seperti Made in China 2025 atau China Standards 2035 seluruhnya masih berakar pada perumusan yang dirancang langsung oleh Xi sejak masa awal kekuasaannya. Bahkan ketika Li Qiang memimpin konferensi stimulus fiskal atau Wang Yi tampil dalam diplomasi global, narasi, nilai, dan arah kebijakan mereka tetap bergerak dalam orbit yang ditetapkan Xi. Ini bukan pluralitas kehendak, tetapi satu kehendak yang difragmentasi secara fungsional untuk menciptakan legitimasi sistemis. Dengan demikian, delegasi kekuasaan di sini hanyalah distribusi representasi, bukan distribusi intensi.
Pendekatan lain yang relevan untuk membandingkan fenomena ini adalah simulasi kekuasaan ala Jean Baudrillard. Delegasi kekuasaan oleh Xi dapat dipahami sebagai simulakra pluralisme: ilusi akan kehadiran banyak suara dalam struktur negara, padahal semuanya bersumber dari satu suara pusat yang telah merekayasa ruang representasi. Dengan cara ini, Xi tidak hanya mempertahankan kekuasaan, tetapi mengemasnya sebagai bentuk kolektivitas, sehingga kekuasaannya tampil sebagai produk konsensus birokratis dan bukan instrumen kendali pribadi. Tetapi konsep subjek individual justru memperjelas bahwa semua ini adalah teknik reproduksi kehendak tunggal yang bekerja melalui banyak wajah. Xi tidak hadir dalam setiap perintah, tetapi perintah itu sendiri adalah bayangan dari kehendaknya. Ia menjadi arsitek dari dunia tempat segala perintah dimungkinkan.
Yang menarik adalah bahwa strategi ini berlangsung dalam kondisi relatif tenang. Tidak ada kekerasan terbuka, tidak ada kampanye pembersihan yang spektakuler seperti di era Mao. Namun, dominasi tetap total. Dengan lebih dari 100 juta anggota Partai Komunis Cina per 2025, Xi berhasil membentuk aparatus yang tidak sekadar patuh, tetapi menyatu secara ideologis dan diskursif ke dalam kerangka pikiran yang ia bangun. Ia tidak hanya memimpin struktur; ia adalah struktur itu sendiri. Bahkan ketika dirinya tidak hadir secara eksplisit dalam sejumlah agenda, ketidakhadiran itu justru menguatkan kehadirannya. Ketika subjek telah menjelma menjadi institusi diri, kekuasaan tidak lagi perlu tampil sebagai komando. Ia hadir dalam logika, narasi, struktur kebijakan, bahkan dalam perasaan kolektif tentang apa yang benar dan apa yang harus dilakukan. Inilah puncak kekuasaan dalam teori subjek individual: ketika dunia yang diatur menjadi proyeksi dari satu subjek, dan semua agensi lain menjadi fungsi dari pengadaannya.
Delegasi kekuasaan di bawah Xi Jinping, dalam terang ini, bukan bentuk pelemahan struktur personalistik, tetapi bentuk tertinggi dari kontrol—bukan dengan memerintah secara langsung, tetapi dengan membentuk dunia di mana segala perintah akan selalu mengacu pada dia. Ketika para pejabat menjalankan tugas mereka, mereka tidak sedang mengambil keputusan sebagai subjek otonom, tetapi sedang melanjutkan kehendak yang telah diputuskan oleh Xi sebagai pengada intensi. Delegasi hanyalah teknik penyamaran kekuasaan, di mana sentralisasi dikemas dalam bentuk keberfungsian sistem. Xi menciptakan kesan sistem bekerja sendiri, padahal sistem itu adalah tubuh kuasa yang ia bangun untuk merefleksikan dan mengeksekusi kehendaknya secara total.
Dalam dunia seperti ini, tidak ada ruang kosong dalam kuasa; setiap celah telah terisi oleh proyeksi subjek. Tidak ada kekosongan penanda; setiap penanda telah dimiliki oleh intensi tunggal. Maka subjek individual bukan hanya asal tindakan, tetapi asal dari dunia tempat tindakan itu bisa bermakna. Xi tidak lagi hanya menjadi bagian dari negara; ia adalah negara dalam bentuk representasional. Dan delegasi kekuasaan adalah cara agar negara yang ia bentuk tetap bekerja secara mandiri tanpa kehilangan dirinya sebagai pusat. Inilah logika kekuasaan yang tidak perlu menunjukkan diri, karena seluruh sistem telah menjadi perpanjangan dirinya. Sebuah bentuk kekuasaan yang tidak memerlukan kekerasan, karena dunia itu sendiri telah dijahit dari kehendaknya. Delegasi itu, sesungguhnya, adalah bentuk tertinggi dari ketaatan terhadap subjek asal.
252 total views, 2 views today

Kerennnnnnn