• American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
Arthuur Research
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
No Result
View All Result
Arthuur Research
No Result
View All Result

Diam Bukan Damai: Membaca Perdamaian Negatif Bersama Galtung dan Foucault

Arthuur Jeverson Maya by Arthuur Jeverson Maya
September 30, 2025
in Logika & Teori
0
Diam Bukan Damai: Membaca Perdamaian Negatif Bersama Galtung dan Foucault
0
SHARES
72
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan ke WhatsApp

Perdamaian sering kali dipahami secara sederhana sebagai ketiadaan perang. Ketika senjata diletakkan, ketika tank ditarik mundur, atau ketika perundingan menghentikan pertempuran, dunia merasa damai telah tercapai. Namun Johan Galtung memperingatkan bahwa pengertian seperti ini hanyalah bentuk reduksionisme. Ia menyebutnya perdamaian negatif, yaitu keadaan di mana kekerasan langsung berhenti tetapi bentuk-bentuk kekerasan lain tetap hidup. Dengan kata lain, damai di sini tidak lebih dari absennya perang.

Jika dipahami lebih dalam, perdamaian negatif ibarat wajah tenang yang menutupi tubuh penuh luka. Ketika perang berhenti, tidak serta-merta masyarakat bebas dari penderitaan. Sistem sosial yang timpang tetap menciptakan korban. Anak yang mati kelaparan di tengah negeri yang kaya, buruh yang hidup dalam upah minimum tanpa perlindungan, atau komunitas yang terus dimarjinalkan dalam politik, semua itu adalah bentuk kekerasan yang tetap berlangsung. Galtung menyebutnya kekerasan struktural, yakni mekanisme sosial, ekonomi, dan politik yang menyingkirkan sebagian kelompok dari hak-hak dasar mereka.

Kekerasan kultural turut memperkuat kondisi ini. Nilai, ideologi, dan simbol digunakan untuk meyakinkan masyarakat bahwa ketidakadilan adalah sesuatu yang wajar. Narasi keagamaan bisa diselewengkan untuk membenarkan dominasi; sejarah ditulis untuk mengagungkan satu kelompok dan menghapus suara kelompok lain; tradisi dilestarikan sebagai alasan untuk mempertahankan ketimpangan. Dengan cara ini, masyarakat belajar menerima penindasan sebagai kenyataan alamiah. Dalam kerangka perdamaian negatif, apa yang tampak sebagai “damai” sejatinya adalah keteraturan yang dibangun di atas legitimasi budaya terhadap struktur timpang.

Perdamaian negatif juga sering lahir dari keseimbangan militer. Dua pihak tidak berperang bukan karena mereka saling percaya, melainkan karena mereka sama-sama takut pada kemungkinan kehancuran. Stabilitas seperti ini bertahan bukan karena akar konflik terselesaikan, tetapi karena semua pihak menahan diri. Ketenangan terjaga oleh rasa takut, bukan oleh rekonsiliasi. Ia ibarat gunung es: di permukaan tampak beku dan kokoh, tetapi di bawahnya ada tekanan yang sewaktu-waktu bisa meledak. Karena itu, perdamaian negatif disebut sebagai kondisi minimal. Ia menunda konflik, bukan menghapusnya.

Dalam ranah politik, keadaan ini justru memberi ruang bagi kekuasaan untuk mengklaim legitimasi. Negara atau rezim yang dominan dapat mengatakan bahwa mereka berhasil menjaga perdamaian, padahal yang mereka lakukan hanyalah membekukan konflik. Siapa pun yang menuntut perubahan sering dicap sebagai pengacau yang mengganggu stabilitas. Dengan demikian, perdamaian negatif berfungsi sebagai mekanisme status quo. Ia melindungi struktur yang timpang sekaligus menyingkirkan suara-suara yang berusaha mengubahnya. Paradoksnya, kondisi tanpa perang sering kali melanggengkan represi yang lebih halus.

Kepuasan semu atas ketiadaan perang membuat masyarakat internasional kerap berhenti melakukan transformasi. Diplomasi merasa berhasil ketika gencatan senjata tercapai, meski ketidakadilan tetap berlangsung. Dunia bernafas lega, seakan-akan damai sudah terwujud, padahal penderitaan belum tersentuh. Galtung menegaskan bahwa di sinilah letak bahaya: ketika perdamaian disamakan dengan diamnya senjata, maka konflik hanya dipindahkan ke ruang yang lebih dalam, tidak pernah benar-benar dihapuskan.

Jika dikaitkan dengan kepentingan nasional, wajah perdamaian negatif semakin jelas. Negara kerap mendefinisikan kepentingan nasional dalam kerangka keamanan tradisional: kedaulatan, teritorial, dan kekuatan militer. Orientasi ini memang efektif mencegah perang, tetapi tidak cukup untuk membangun keadilan. Apa yang dicapai hanyalah rasa aman semu yang ditopang oleh keseimbangan kekuatan. Keadaan aman ini tidak lahir dari rasa percaya, melainkan dari rasa takut yang saling mengikat. Negara menahan diri bukan karena damai, tetapi karena khawatir. Dengan demikian, keamanan nasional sering kali hanya menciptakan ruang di mana ketakutan menjadi pengatur utama keteraturan.

Di titik ini, pemikiran Michel Foucault membantu memperdalam pemahaman. Foucault menggambarkan panoptikon sebagai metafora kekuasaan modern: orang tidak dipaksa secara langsung, tetapi mereka menyesuaikan diri karena merasa selalu diawasi. Pengawasan tidak perlu nyata; cukup ada kemungkinan bahwa pengawasan terjadi, maka individu akan patuh. Ketakutan internal inilah yang membuat keteraturan berjalan. Jika diterapkan pada perdamaian negatif, maka kondisi tanpa perang bisa dipahami sebagai panoptikon global. Semua pihak patuh pada aturan karena rasa takut, bukan karena terciptanya keadilan. Damai hadir bukan sebagai kepercayaan, melainkan sebagai pengawasan yang diinternalisasi.

Foucault menekankan bahwa kekuasaan semacam ini bukan hanya menekan, melainkan juga membentuk perilaku. Perdamaian negatif tidak hanya menghentikan perang, tetapi juga menciptakan masyarakat yang hidup dalam kewaspadaan permanen. Negara menginternalisasi rasa takut sebagai norma, dan masyarakat menjalani hidup sehari-hari dengan disiplin yang berakar pada kecemasan. Ketika rasa aman berdiri di atas ketakutan, maka damai berubah menjadi penjara besar tanpa jeruji. Semua orang merasa selamat, tetapi keselamatan itu hanyalah hasil dari pengendalian yang tak kasat mata.

Inilah paradoks mendasar dari perdamaian negatif. Ia berhasil menghentikan perang, tetapi dengan harga yang mahal: manusia hidup dalam kecemasan terus-menerus. Damai yang dipertahankan oleh ketakutan bukanlah damai, melainkan diamnya tubuh-tubuh sosial yang telah tunduk pada disiplin. Ia menciptakan keteraturan, tetapi keteraturan yang rapuh, karena tidak pernah menyentuh akar ketidakadilan. Pada akhirnya, apa yang disebut aman hanyalah jeda dari ledakan berikutnya.

Galtung, bersama gema analisis Foucault, mengingatkan kita bahwa perdamaian negatif adalah bentuk kuasa yang halus namun menyesakkan. Ia menenangkan permukaan, tetapi menekan dasar; ia menghindarkan perang, tetapi memelihara struktur opresi. Dengan demikian, perdamaian semacam ini tidak boleh dipandang sebagai akhir, melainkan sebagai peringatan. Selama damai masih berarti ketakutan, dunia belum pernah benar-benar damai.

 234 total views,  4 views today

Previous Post

Realisme: Make-Up yang Kita Anggap Wajah

Next Post

“Hukum yang Menolak Kedaulatan: Foucault, Agamben, dan Paradoks Kekuasaan Trump di Portland”

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya adalah dosen dan penulis yang berfokus pada American Politics dan Chinese Politics dalam konteks kekuasaan global dan transformasi tatanan internasional. Kajian tersebut dilihat dalam perspektif postmodernisme dan genealogi kekuasaan, yang memahami politik internasional sebagai ruang produksi diskursus, identitas, dan legitimasi kekuasaan melalui institusi dan narasi sejarah.

Next Post
“Hukum yang Menolak Kedaulatan: Foucault, Agamben, dan Paradoks Kekuasaan Trump di Portland”

“Hukum yang Menolak Kedaulatan: Foucault, Agamben, dan Paradoks Kekuasaan Trump di Portland”

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

No Result
View All Result
Selengkapnya
Selengkapnya
  • Arthuur Jeverson Maya Research
  • Beranda
  • Edisi Lampau
  • IPTV
  • Jurnal
  • Karya Arthuur Jeverson Maya
  • Kirim Donasi
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Mukadimah
  • Panduan Penulisan
  • Pasang Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Pengantar
  • Podcast
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Syarat Penggunaan

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

No Result
View All Result
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co