• American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
Social icon element need JNews Essential plugin to be activated.
Arthuur Research
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
No Result
View All Result
Arthuur Research
No Result
View All Result
Home Logika & Teori

Fantasi Kosmopolitanisme dan Ego Nasionalisme dalam Bingkai Lacanian

Arthuur Jeverson Maya by Arthuur Jeverson Maya
November 29, 2025
in Logika & Teori
4
Fantasi Kosmopolitanisme dan Ego Nasionalisme dalam Bingkai Lacanian
0
SHARES
123
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan ke WhatsApp

Tulisan ini merupakan pengembangan atas roundtable discussion melalui forum IRGD/International Relations Group Discussion pada 28 November 2025. Ia berusaha membongkar misteri kebangkitan kosmopolitanisme dan nasionalisme dengan menggunakan pendekatan psikoanalisis Lacanian. Tulisan ini menunjukan logika fantasi, hasrat, kekosongan, dan kecemasan yang membuat subjek terbelah/retak dalam imajinasi. Di sisi lain, kedalaman dan keluasan narasi lahir dari argumentasi kritis yang datang dari pegiat ilmu HI di antaranya bung Andre, bung Riskey, bung Kenzo, bung Jeremy, bung Matthew, dan miss Claudia.

Kosmopolitanisme kerap hadir sebagai janji manis tentang dunia yang terbuka, cair, dan inklusif—sebuah ruang di mana batas negara melebur dan perbedaan identitas dirayakan sebagai keindahan bersama. Namun jika dibaca melalui Jacques Lacan, kosmopolitanisme justru lebih tepat dipahami sebagai fantasi: bukan sekadar ilusi, melainkan struktur yang memungkinkan subjek bertahan dengan menyediakan skema imajinatif untuk menata realitas yang rapuh. Fantasi ini bekerja sebagai penyangga simbolik yang membuat subjek merasa telah mencapai tatanan global yang adil dan setara, sambil menunda perjumpaan dengan yang Real—trauma sejarah, kekerasan kolonial, ketimpangan ekonomi, dan antagonisme yang terus berulang di balik retorika global.

Dalam kerangka Lacan, subjek selalu terpecah, tidak pernah utuh, dan terus digerakkan oleh hasrat yang berputar di sekitar kekosongan. Kosmopolitanisme memosisikan diri sebagai objek fantasi yang menjanjikan pemenuhan: dunia tanpa perang, tanpa batas, tanpa “yang asing” yang mengancam. Ia menjadi semacam objet petit a kolektif, sesuatu yang dikejar sebagai penanda kesempurnaan, tetapi tidak pernah sungguh dapat dicapai. Subjek global menikmati citra dirinya sebagai “warga dunia,” cerdas, toleran, dan melampaui lokalitas, padahal yang bekerja adalah mekanisme misrecognition—kesalahan pengenalan yang membuat subjek mengira dirinya telah berada di atas konflik, padahal justru masih terjerat dalam struktur simbolik yang sama.

Berhadap-hadapan dengan fantasi kosmopolitan ini, ego nasionalisme tampil sebagai upaya peneguhan identitas. Jika kosmopolitanisme menawarkan pelarutan batas, nasionalisme justru menghadirkan kebutuhan untuk menetapkan garis, nama, dan citra tentang “siapa kita.” Dalam perspektif Lacan, ego bukan pusat rasionalitas yang stabil, melainkan konstruksi imajiner yang lahir dari proses identifikasi. Nasionalisme bekerja pada level ini: ia membentuk cermin kolektif tempat subjek mengenali dirinya sebagai bagian dari “bangsa,” sekaligus membedakan diri dari yang dianggap lain. Di titik ini, nasionalisme bukan sekadar pilihan politik, tetapi respons psikis atas kecemasan yang diproduksi oleh dunia yang terasa terlalu luas, terlalu cair, dan tak lagi dapat diprediksi.

Ketegangan antara kosmopolitanisme dan nasionalisme, jika dibaca Lacanian, bukanlah konflik antara progresivitas dan konservatisme semata, melainkan pertarungan dua bentuk fantasi. Kosmopolitanisme menjanjikan keterbukaan sebagai jalan menuju kebebasan, sementara nasionalisme menjanjikan perlindungan sebagai jalan menuju keutuhan. Keduanya sama-sama bekerja sebagai mekanisme pengelolaan kecemasan, menjaga subjek agar tidak terseret langsung ke wilayah yang Real—wilayah di mana tidak ada jaminan stabilitas, tidak ada kepastian identitas, dan tidak ada narasi penenang.

Dalam kerangka ini, fenomena Occupy Wall Street (2011) memperlihatkan secara konkret bagaimana fantasi kosmopolitan beroperasi dalam praksis global. Gerakan yang bermula di jantung kapitalisme Amerika Serikat ini mengusung slogan “We are the 99%” sebagai ekspresi perlawanan terhadap dominasi elit finansial dan ketimpangan struktural. Namun Occupy dengan cepat bermigrasi menjadi gerakan transnasional, menjelma sebagai ritus kosmopolitan yang menyebar ke berbagai pusat simbolik dunia: Occupy London, Occupy Madrid, Occupy Barcelona, Occupy Frankfurt, Occupy Paris, Occupy Berlin, dan Occupy Rome, serta gerakan serupa di New York, Los Angeles, Chicago, Seattle, Toronto, Vancouver, Sydney, Melbourne, Tokyo, Hong Kong, Buenos Aires, dan São Paulo. Sebaran ini menciptakan kesan bahwa dunia tengah menyatu dalam satu suara moral global yang menuntut keadilan sosial.

Namun dalam pembacaan Lacanian, Occupy tidak hanya menjadi momen politis, melainkan panggung fantasi kolektif tempat subjek memperoleh kenikmatan simbolik dari posisi “melawan sistem.” Keadilan sosial, kesetaraan ekonomi, dan dunia tanpa dominasi finansial berfungsi sebagai objet petit a yang terus digenggam namun tidak pernah digapai sepenuhnya. Subjek merasa telah memasuki ruang etis baru, seolah berada di luar logika kapitalisme, sementara yang sesungguhnya berlangsung adalah reproduksi bentuk baru kenikmatan dalam struktur yang sama. Perlawanan itu sendiri menjadi sumber jouissance, bukan pembongkaran radikal terhadap yang Real.

Di sisi lain, respons negara dan kelompok konservatif yang membingkai Occupy sebagai gangguan terhadap stabilitas, ancaman bagi ketertiban nasional, atau ekspresi anarkisme memperlihatkan bangkitnya ego nasionalisme sebagai mekanisme pertahanan. Nasionalisme mengukuhkan kembali batas “kita” dan “mereka,” menegaskan citra bangsa sebagai entitas yang harus dijaga dari penetrasi nilai-nilai kosmopolitan yang dianggap merusak tatanan simboliknya. Di sini terlihat bagaimana fantasi kosmopolitan dan ego nasionalisme tidak saling meniadakan, melainkan justru saling memproduksi dan memperkuat satu sama lain.

Dengan demikian, proyek kosmopolitan modern tidak dapat dilepaskan dari operasi hasrat dan fantasi. Ia bukan sekadar strategi politis atau moral, melainkan arena di mana subjek global menyusun citra diri dan menegosiasikan rasa aman. Demikian pula nasionalisme, alih-alih dibaca hanya sebagai sikap defensif, dapat dipahami sebagai upaya mempertahankan keutuhan simbolik di tengah ancaman pelarutan identitas. Lacan memperingatkan bahwa selama subjek terus menggantungkan dirinya pada fantasi—baik fantasi dunia tanpa batas maupun fantasi bangsa yang murni—ia akan terus bergerak dalam lingkaran hasrat yang tak pernah usai, merasa dekat pada pemenuhan, namun selalu terpaut satu jarak darinya.

Loading

Previous Post

Kosmopolitanisme: Etika Dunia Tanpa Batas dan Politik Kewargaan Global

Next Post

Telaah Kritis terhadap The Right to Be Lazy oleh Paul Lafargue

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya adalah dosen dan penulis yang berfokus pada politik Amerika Serikat dan Cina dalam dinamika transformasi tatanan global kontemporer. Dalam berbagai kajiannya, ia menelusuri bagaimana kuasa, pengetahuan, dan struktur dunia diproduksi melalui repetisi makna yang membentuk kesadaran global modern. Dari lintasan pemikiran tersebut, ia mengembangkan Simtoxa sebagai kerangka analitis sekaligus proses pemulihan orbit ontologis, yakni upaya mengembalikan manusia pada relasi kebenaran yang tidak semata dibentuk oleh struktur, diskursus, atau reproduksi simbolik dunia modern.

Next Post
Telaah Kritis terhadap The Right to Be Lazy oleh Paul Lafargue

Telaah Kritis terhadap The Right to Be Lazy oleh Paul Lafargue

Comments 4

  1. Yolanda Theresa Harefa says:
    8 bulan ago

    Menurut saya Dalam konteks perspektif Lacanian, fantasi kosmopolitan dan ego nasionalisme adalah dua bentuk ilusi identitas yang sama-sama berfungsi menutupi kekosongan subjek. Kosmopolitanisme menciptakan gambaran manusia universal tanpa batas, tetapi itu hanyalah imaji yang menutupi konflik dan ketimpangan global yang merupakan bagian dari the Real hal yang tak bisa disederhanakan oleh bahasa atau moralitas global.

    Sebaliknya, nasionalisme membentuk ego kolektif melalui identifikasi imajiner dengan bangsa, tanah, dan sejarah. Namun, menurut Lacan, ego selalu rapuh dan terbentuk dari cermin; sehingga nasionalisme bukan identitas sejati, melainkan mekanisme untuk meredakan kecemasan dan mencari pengakuan dari “Liyan”.

    Keduanya pada akhirnya adalah fantasi yang mengatur hasrat, bukan jawaban yang benar-benar menyelesaikan masalah global. Kosmopolitanisme menjanjikan kebebasan, nasionalisme menjanjikan kepastian, tetapi keduanya gagal menyentuh Realitas yang penuh ketegangan. Karena itu, pemahaman kritis menuntut kita menyadari bahwa identitas politik selalu tidak lengkap, dan kita harus mengelola hubungan global maupun lokal dengan kedewasaan, bukan dengan fantasi kepenuhan.

    Reply
  2. Ravenesia Claudia Tambunan says:
    8 bulan ago

    Artikel ini sangat menarik. Mampu membuka cara pandang baru bagi pembacanya. Banyak hal yang awalnya terasa membingungkan justru menjadi masuk akal ketika dipahami melalui pecahan-pecahan gagasan yang saling melengkapi. Setiap bagian seperti terhubung dengan bagian lainnya, meskipun tetap menyisakan pertanyaan yang membuat kita terus berpikir. Ada sisi yang membingungkan, tapi justru itu adalah kenyataannya. Artikel ini berhasil menunjukkan bahwa memahami dunia tidak selalu lurus dan jelas kadang perlu menerima bahwa kerumitan itu sendiri adalah bagian dari realitas

    Reply
  3. NADINE SHINTA says:
    8 bulan ago

    menurut saya kosmopolitanisme ini lebih tepat dipahami sebagai fantasi bukan sekadar ilusi saja,tetapi bisa dibilang juga sebagai struktur yang memungkinkan subjek untuk bertahan dengan menyediakan skema yang imajinatif untuk menata realitas yang rapuh. Fantasi ini juga bekerja sebagai penyangga simbolik yang membuat subjek merasa telah mencapai tatanan global yang adil dan juga setara, sambil menunda perjumpaan dengan yang Real trauma sejarah, kekerasan kolonial, ketimpangan ekonomi, dan antagonisme yang terus berulang di balik retorika global.
    Kosmopolitanisme memosisikan diri sebagai objek fantasi yang menjanjikan pemenuhan: dunia tanpa perang, tanpa batas, tanpa “yang asing” yang mengancam.

    Reply
  4. Manuel Carceres says:
    8 bulan ago

    “Fantasi Kosmopolitanisme dan Ego Nasionalisme dalam Bingkai Lacanian” berhasil menunjukkan bahwa kosmopolitanisme dan nasionalisme bukan sekadar posisi politik, tetapi dua bentuk fantasi yang muncul dari subjek Lacanian yang selalu terbelah dan digerakkan oleh kekurangan (lack). Dengan menggunakan konsep-konsep seperti alienasi bahasa, hasrat yang tak pernah terpenuhi, serta kebutuhan subjek untuk mencari “keutuhan” imajiner, penulis menjelaskan bahwa nasionalisme menawarkan ilusi identitas kolektif yang stabil, sementara kosmopolitanisme menawarkan fantasi keterbukaan universal sebagai kompensasi lain atas kekosongan psikis tersebut. Artikel ini kuat secara teoretis karena mampu memindahkan kerangka psikoanalisis ke dalam pembacaan politik identitas, meskipun analisisnya akan lebih kokoh jika dilengkapi dengan contoh empiris yang menunjukkan bagaimana fantasi-fantasi itu bekerja dalam praktik sosial dan politik kontemporer.

    Reply

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

No Result
View All Result
Selengkapnya
Selengkapnya

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

No Result
View All Result
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

A no-nonsense guide to UK casinos that accept Neteller in 2026. We rank the top operators, dissect bonus traps, and reveal the fastest withdrawal options, plus alternatives when Neteller isn’t available. read our expert guide to Neteller casinos UK 2026

Discover the best UK online casinos that still offer Pay N Play in 2026. Our expert guide covers instant play, top sites, bonuses, and alternatives. read the full guide to Pay N Play casinos UK 2026

Discover the best UK online casinos that accept PayPal in 2026. Our in-depth guide ranks the top PayPal casino sites, compares bonuses, payout speeds, and game libraries. Learn how to deposit and withdraw safely. No filler – just expert, updated advice. browse our curated list of PayPal casino sites

POLi is dead, but that doesn’t mean your UK casino deposits have to suffer. Discover the best alternatives, top sites that accept them, and why you’ll never see POLi in 2026. explore the best POLi alternatives for UK casinos

Find the best UK online casinos that accept Revolut in 2026. Compare bonuses, payout speeds, and fees. Complete guide with top picks, how-to, and alternatives. check out the full list of Revolut-friendly casinos

Find the best online casinos that accept Ripple XRP deposits for UK players in 2026. Compare top XRP gambling sites, bonuses, games, and payment speeds in our expert guide. read our full analysis of the best XRP casinos for UK players

Discover the top UK casinos accepting Siru Mobile in 2026. Compare bonuses, games, and payment options. Expert analysis with pros, cons, and a full ranking table. read our comprehensive Siru Mobile casinos guide

Find the best casinos that accept Solana in the UK for 2026. Our expert guide compares trusted sites, bonuses, games, and fast crypto payouts. Start playing with SOL safely. read our guide to the best Solana casinos UK 2026

Discover the best Tether casinos in the UK for 2026. Compare top USDT-friendly casinos, bonuses, fast withdrawals, and secure crypto gambling options for British players. read our guide to Tether casinos in the UK 2026

Discover the best TRON casinos for UK players in 2026. Compare top TRX gambling sites, bonuses, and games in our no-nonsense guide. read our TRON casino guide