• American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
Arthuur Research
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
No Result
View All Result
Arthuur Research
No Result
View All Result

Telaah Kritis terhadap The Right to Be Lazy oleh Paul Lafargue

Arthuur Jeverson Maya by Arthuur Jeverson Maya
Desember 3, 2025
in Logika & Teori
32
Telaah Kritis terhadap The Right to Be Lazy oleh Paul Lafargue
0
SHARES
280
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan ke WhatsApp

Paul Lafargue menulis The Right to Be Lazy sebagai serangan langsung terhadap etika kerja kapitalisme yang mengubah manusia menjadi instrumen produksi. Dalam kerangka Marxis, kritik Lafargue menyentuh akar terdalam sistem kapitalisme: yaitu cara kapital mengorganisir hubungan produksi melalui pemisahan buruh dari alat produksi, sehingga satu-satunya cara buruh dapat hidup adalah dengan menjual tenaga kerjanya kepada pemilik modal. Ketika waktu hidup berubah menjadi komoditas, kerja tidak lagi menjadi aktivitas kreatif manusia, tetapi menjadi sarana bagi kapital untuk menyedot surplus value melalui perpanjangan jam kerja dan intensifikasi produktivitas. Lafargue melihat etika kerja sebagai ideologi yang sepenuhnya melayani kepentingan kelas borjuasi. Moralitas “kerja keras adalah kebajikan” muncul bukan dari tradisi spiritual atau budaya, tetapi dari kebutuhan kapital untuk mengamankan ketaatan buruh pada ritme produksi.

Jika dalam perspektif Foucault kapitalisme bekerja melalui pendisiplinan tubuh, maka dalam Marxisme penekanannya berada pada relasi produksi yang memaksa buruh tunduk secara material. Kerja di bawah kapitalisme adalah bentuk alienasi dalam arti yang paling lengkap: buruh terasing dari hasil kerjanya karena nilai hasil produksi tidak kembali kepada dirinya; terasing dari proses kerjanya karena ia tidak mengontrol ritme dan tujuan kerja; terasing dari kapasitas kreatifnya karena kerja direduksi menjadi aktivitas mekanis; dan akhirnya terasing dari dirinya sendiri sebagai makhluk yang seharusnya mengekspresikan kebebasan melalui kerja kreatif. Dalam konteks ini, seruan Lafargue untuk “malas” bukanlah kehendak untuk tidak bekerja, tetapi merupakan upaya membebaskan kerja dari bentuknya yang terdistorsi oleh kapitalisme, mengembalikan kerja pada sifatnya sebagai ekspresi kemanusiaan.

Lafargue memahami bahwa kapitalisme tidak bisa bertahan hanya dengan eksploitasi ekonomi; ia memerlukan hegemoni ideologis yang membuat buruh percaya bahwa eksploitasi itu adalah kewajiban moral. Inilah yang dalam tradisi Marxis disebut false consciousness. Buruh merasa bangga bekerja lebih lama, padahal jam kerja panjang merupakan mekanisme utama ekstraksi nilai lebih. Dalam situasi seperti ini, “malas” menjadi bentuk kritik epistemologis sekaligus politis: ia membongkar ilusi moral kerja dan menunjukkan bahwa yang selama ini dipuji sebagai etika justru merupakan teknologi kekuasaan kelas pemilik modal. Lafargue mengungkap bahwa produktivitas bukanlah nilai universal; ia adalah fetishisme yang diciptakan kapital untuk menutupi kenyataan bahwa pertumbuhan ekonomi bertumpu pada penyerapan waktu hidup buruh.

Pada bagian ini, pembacaan Marxis memberikan penajaman: kapitalisme tidak hanya membutuhkan kerja; ia membutuhkan kerja yang terus ditingkatkan. Ritme produksi harus dipacu, jam kerja diperpanjang, dan produktivitas dinaikkan. Kapitalisme bekerja dengan logika tak terpuaskan (insatiability). Dalam Capital, Marx menjelaskan bahwa kapital akan selalu mencari cara untuk menambah nilai lebih—baik melalui perpanjangan jam kerja (absolute surplus value) maupun melalui intensifikasi produktivitas (relative surplus value). Lafargue menangkap dinamika ini secara tepat dan menjadikannya basis kritik moral dan politis: selama buruh terus memegang keyakinan bahwa kerja keras adalah kebajikan, selama itu pula kapitalisme memiliki sumber energi untuk terus tumbuh, bahkan tanpa paksaan langsung.

Konteks global hari ini justru membuat kritik Lafargue semakin relevan. Kapitalisme digital menciptakan bentuk baru eksploitasi: pekerja kini selalu terhubung, selalu siap, dan selalu diawasi oleh algoritma yang mengukur performa secara real time. Logika “pabrik” tidak menghilang; ia bermigrasi ke dalam jaringan, aplikasi, dan platform. Pekerja gig economy bekerja tanpa batas waktu tetap, tanpa ruang privat yang jelas, dan tanpa otonomi atas ritme kerja mereka. Nilai lebih di era digital tidak hanya diekstraksi dari jam kerja yang panjang, tetapi dari kontinuitas kehadiran—sebuah perpindahan dari eksploitasi tenaga fisik ke eksploitasi perhatian dan waktu mental.

Dalam pembacaan Marxis, ini berarti kapitalisme telah memasuki fase di mana ia tidak hanya membeli tenaga kerja, tetapi membeli potensi waktu manusia. Setiap menit yang tidak produktif dianggap sebagai kerugian ekonomi, dan sistem digital dirancang untuk menghapus menit yang “tidak perlu” tersebut. Di sini, seruan Lafargue untuk hak malas menjadi lebih politis: ia menuntut ruang hidup yang tidak bisa ditembus oleh kapital, ruang di mana subjek dapat memulihkan diri sebagai manusia, bukan sebagai unit produksi.

Hak untuk malas dalam kerangka Marxis adalah hak untuk menolak menjadi komponen dalam mesin kapitalisme yang terus mempercepat dirinya sendiri. Ia adalah penegasan bahwa kebebasan sejati berada pada kemampuan manusia untuk memiliki waktu yang tidak dapat dikomodifikasi. Hak untuk malas berarti merebut kembali kendali atas tubuh, ritme, perhatian, dan hidup. Lafargue mengingatkan bahwa kapitalisme akan selalu berusaha memperbesar waktu produksi dan memperkecil waktu hidup manusia; maka tugas politik buruh bukan hanya menuntut upah lebih baik, tetapi juga menuntut waktu lebih luas sebagai ruang eksistensi manusia.

Dengan demikian, “malas” adalah kritik struktural terhadap kapitalisme, bukan sekadar pilihan gaya hidup. Ia adalah strategi menyingkap cara kerja kekuasaan ekonomi yang menyerap vitalitas manusia. Lafargue mengajarkan bahwa peradaban baru hanya mungkin muncul jika manusia merebut kembali waktu luang—waktu yang bukan milik pabrik, bukan milik pasar, bukan milik algoritma, tetapi milik manusia sebagai subjek kreatif dan politis.

Dalam konteks pemikiran Foucault, serangan Lafargue terhadap etika kerja kapitalisme dapat dipahami sebagai upaya menyingkap aparatus disipliner yang membentuk buruh sebagai subjek yang patuh. Jika Marxisme menekankan struktur ekonomi-politik yang memaksa buruh menjual tenaga kerjanya, maka Foucault menunjukkan bagaimana kekuasaan bekerja pada tingkat mikro: pada tubuh, perilaku, dan kebiasaan sehari-hari. Etos kerja kapitalis bukan hanya ideologi kelas; ia adalah bagian dari dispositif kekuasaan yang menanamkan ritme, norma, dan disiplin ke dalam tubuh buruh.

Dalam masyarakat industri, pabrik, sekolah, barak, dan rumah sakit berfungsi sebagai institusi yang melatih tubuh agar selaras dengan logika produksi. Lafargue secara intuitif menangkap hal ini: sebelum kapitalisme bisa menyerap tenaga kerja, ia harus terlebih dahulu memproduksi tubuh yang siap bekerja, tubuh yang merasa bersalah ketika tidak produktif. Inilah bentuk governmentality: cara kekuasaan membuat individu mengatur diri mereka sendiri sesuai kebutuhan sistem. Buruh menjadi subjek yang memantau dirinya sendiri, merasa kurang produktif, merasa harus bekerja lebih lama—suatu bentuk panoptisisme yang tidak memerlukan pengawasan fisik, karena tubuh dan pikiran telah diinternalisasi untuk tunduk.

Di titik ini, seruan Lafargue untuk “malas” mendapatkan arti baru dalam perspektif Foucault. Ia bukan hanya penolakan ekonomi, tetapi pembelotan terhadap rezim kebenaran yang membuat produktivitas tampak seperti nilai moral universal. Dalam kerangka Foucauldian, etika kerja kapitalisme adalah bagian dari regime of truth yang memproduksi kriteria “manusia baik” dan “manusia gagal”. Menolak kerja berlebih berarti membongkar wacana yang mengikat individu pada identitas pekerja. Hak untuk malas menjadi praktik counter-conduct—praktik melawan bentuk penggembalaan modern yang mengatur kehidupan.

Sementara Marxisme menjelaskan bagaimana jam kerja panjang menghasilkan surplus value, Foucault membantu menjelaskan bagaimana subjek dapat dibuat menghendaki jam kerja panjang itu. Disiplin tubuh, pengulangan, pencatatan, target kerja, KPI, hingga manajemen waktu adalah teknologi kekuasaan yang mengubah buruh menjadi mesin yang tidak hanya bekerja, tetapi juga mengawasi, menilai, dan memaksa dirinya sesuai standar pasar. Kapitalisme tidak lagi membutuhkan cambuk; ia membutuhkan subjek yang merasa bersalah jika tidak produktif.

Dalam kapitalisme digital kontemporer, sintesis Marx–Foucault menjadi semakin jelas. Teknologi bekerja sebagai panopticon fleksibel, memantau kehadiran, respons, performa, bahkan ritme tidur pekerja melalui aplikasi, algoritma, dan notifikasi. Jam kerja tidak lagi hanya diperpanjang secara fisik, tetapi diperluas melalui kehadiran permanen di jaringan. Kapitalisme tidak hanya mengeksploitasi tenaga kerja (Marx), tetapi juga memproduksi subjek yang disiplin, tersambung, dan patuh terhadap ritme algoritmik (Foucault). Nilai lebih diekstraksi bersamaan dengan nilai kepatuhan.

Karena itu, hak untuk malas menjadi lebih dari sekadar kritik ekonomi; ia adalah strategi membongkar mekanisme pendisiplinan modern. Menuntut hak untuk malas berarti menolak menjadi objek pengawasan, menolak dikendalikan oleh norma produktivitas, dan menolak menjadikan tubuh sebagai situs disiplin kapital. Foucault memperlihatkan bahwa kekuasaan modern bekerja bukan melalui represi, tetapi melalui produksi: produksi ritme, produksi identitas pekerja, produksi rasa bersalah, produksi kebenaran tentang “kerja keras”.

Lafargue, dalam terang Foucault, sedang menantang kebenaran itu. Ia mengajukan bahwa kebebasan tidak hanya terkait relasi produksi, tetapi juga terkait cara subjek dibentuk oleh jaringan kekuasaan dan wacana yang menjadikan kerja sebagai satu-satunya validasi eksistensi. Dengan demikian, hak untuk malas tidak hanya menjadi kritik ekonomi-politik, tetapi juga praktik pembebasan subjek dari jaringan kekuasaan yang membentuk tubuh dan pikiran.

Hak untuk malas adalah momentum untuk mengembalikan tubuh kepada dirinya, mengembalikan waktu kepada subjek, dan mengembalikan otonomi kepada manusia dari genggaman kapital dan oleh mekanisme pendisiplinan yang menjadikan mereka pekerja 24 jam.

 516 total views,  2 views today

Previous Post

Fantasi Kosmopolitanisme dan Ego Nasionalisme dalam Bingkai Lacanian

Next Post

Masyarakat Tanpa Batas: Tiga Pilar Pemikiran Manuel Castells

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya adalah dosen dan penulis yang berfokus pada American Politics dan Chinese Politics dalam konteks kekuasaan global dan transformasi tatanan internasional. Kajian tersebut dilihat dalam perspektif postmodernisme dan genealogi kekuasaan, yang memahami politik internasional sebagai ruang produksi diskursus, identitas, dan legitimasi kekuasaan melalui institusi dan narasi sejarah.

Next Post
Masyarakat Tanpa Batas: Tiga Pilar Pemikiran Manuel Castells

Masyarakat Tanpa Batas: Tiga Pilar Pemikiran Manuel Castells

Comments 32

  1. Messyka Mutiara Nainggolan says:
    6 bulan ago

    “The Right to Be Lazy” yang di tulis oleh Lafargue, telah membuka mata saya, yaitu bagaimana etos kerja melalui ideologi borjuis

    Balas
    • AJM says:
      5 bulan ago

      Ya, tepat. Lafargue memang mengkritik bagaimana etos kerja kapitalis membentuk cara kita melihat tubuh dan produktivitas.”

      Balas
  2. Messyka Mutiara Nainggolan says:
    6 bulan ago

    “The Right to Be Lazy” yang di buat oleh Paul Lafargu, membuka pemikiran saya mengenai bagaimana etos kerja dengan ideologi kapitalis

    Balas
  3. Josua Richard Haholongan 2570750033 says:
    6 bulan ago

    Sintesis Marx-Foucault, teks menempatkan malas sebagai penolakan radikal terhadap eksploitasi nilai-lebih dan pendisiplinan tubuh oleh etos kerja kapitalis.

    Balas
    • AJM says:
      5 bulan ago

      Benar. Sintesis Marx–Foucault memang menunjukkan ‘malas’ sebagai bentuk penolakan terhadap eksploitasi dan pendisiplinan tubuh.”

      Balas
  4. Josua Richard Haholongan 2570750033 says:
    6 bulan ago

    Sintesis Marx-Foucault bahwa teks menempatkan malas sebagai penolakan radikal terhadap eksploitasi nilai-lebih dan pendisiplinan tubuh oleh etos kerja kapitalis.

    Balas
  5. Ravenesia Claudia T says:
    6 bulan ago

    artikel ini membuat saya memahami bahwa selama ini banyak sekali buruh yang di pekerjakan oleh para kaum borjuis sampai lupa dengan dirinya sendiri dan hanya sebagai alat untuk para kapitalis

    Balas
    • AJM says:
      5 bulan ago

      Betul. Artikel itu memang membuka bagaimana buruh sering direduksi hanya menjadi alat produksi dalam struktur kapitalis.”

      Balas
  6. Nadine Shinta Marina Batubara says:
    6 bulan ago

    artikel ini secara kritis mengupas seruan Lafargue untuk “malas” sebagai penolakan terhadap etika kerja kapitalis.
    ini adalah tuntutan politis untuk merebut kembali waktu hidup dan otonomi manusia dari eksploitasi dan disiplin sistem.

    Balas
    • AJM says:
      5 bulan ago

      “Benar, kamu menangkap inti politik Lafargue: merampas kembali waktu dan otonomi dari etos kerja kapitalis.”

      Balas
  7. Maria Helena says:
    6 bulan ago

    Melalui artikel ini pikiran saya bisa lebih terbuka mengenai pandangan & pemikiran terhadap dunia kerja saat ini dimana seringkali orang berkritik bahwa produktivitas dalam bekerja akan lebih dipandang dan mendapat validasi, sedangkan istirahat seringkali dianggap tidak dapat membuktikan nilai guna dari dirinya sendiri.

    Balas
    • AJM says:
      5 bulan ago

      Tepat, artikelnya memang mengkritik bagaimana kerja dipuja dan istirahat diremehkan dalam logika produktivitas kapitalis.”

      Balas
  8. GABRIEL MARCELLO says:
    5 bulan ago

    Dari artikel ini, saya dapat menyimpulkan bahwa Lafargue menunjukkan bahwa etika kerja kapitalis hanyalah cara halus menundukkan tubuh dan waktu manusia demi akumulasi modal.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      5 bulan ago

      Sepakat

      Balas
  9. YOLANDA THERESA HAREFA says:
    5 bulan ago

    Melalui artikel tersebut dapat disimpulkan bahwasannya Paul Lafargue menempatkan teori nya sebagai kritik radikal terhadap sistem yang memaksa manusia menjadi mesin, sehingga mengajak kita dapat merefleksikan kembali apa arti hidup manusia yang sesungguhnya.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      5 bulan ago

      Menjadi buruh adalah menjadi mesin

      Balas
  10. Josua Richard Haholongan 2570750033 says:
    5 bulan ago

    Kritik Lafargue: Menolak etika kerja kapitalis sebagai false consciousness dan mekanisme ekstraksi waktu hidup/surplus value.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      5 bulan ago

      Kembalikan tubuh pada dirinya

      Balas
  11. Bintari Nadeak says:
    5 bulan ago

    Artikel ini menegaskan kemalasan sebagai kritik struktural kapitalisme, menghubungkan eksploitasi ekonomi Marx dengan disiplin subjek Foucauldian secara tajam dan konsisten.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      5 bulan ago

      Thank you

      Balas
    • Manuel Carceres says:
      5 bulan ago

      Artikel ini menunjukkan bahwa etos kerja dalam kapitalisme adalah konstruksi sosial, bukan nilai alamiah. Gagasan “hak untuk malas” menjadi kritik penting terhadap tekanan produktivitas yang menormalisasi kelelahan. Namun, penerapannya terbatas karena tidak semua orang memiliki pilihan ekonomi untuk menolak kerja.

      Balas
  12. Trivena Ramba says:
    5 bulan ago

    Bagaikan “Gas-lighting” yang diberikan kepada buruh agar mereka merasa bersalah, dan memang seharusnya menuntuk hak untuk “malas” sebagai bentuk penolakan terhadap perlakuan yang dialami.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      5 bulan ago

      Model penundukkan

      Balas
  13. Vioni Isidora says:
    5 bulan ago

    The Right To Be Lazy adalah bentuk kritik terhadap Kapitalisme. Ia bisa membantu kaum pekerja sadar untuk merebut hak atas waktu dan kendali penuh atas diri yang telah direnggut oleh pemilik modal.

    Balas
    • Arthuur Jeverson Maya says:
      5 bulan ago

      Sepakat

      Balas
  14. Charlotte Antonette says:
    5 bulan ago

    Dari Artikel ini, Lafargue mengingatkan kita bahwa kerja berlebihan bisa bikin manusia lupa hidup, karena waktu dan energi perlahan diambil oleh sistem.

    Balas
  15. galih chavvah says:
    5 bulan ago

    The Right To Be Lazy yang di tulis oleh Paul Lafargue membuka pikiran saya bahwa malas bukanlah hal yang negatif tetapi tergantung cara pandang orang itu sendiri terhadap kemalasan. kritiknya terhadap kapitalisme membuat saya memahami bahwa kita sebagai manusia biasa yang tidak berkuasa hanya bisa mematuhi perintah/aturan dari kapitalis. Maka dari itu adanya hak untuk malas yang mengartikan menolak dikendalikan oleh norma’ kapitalis dan menolak jadikan tubuh kita sebagai mesin produksi yang terdisiplin.

    Balas
  16. Pai says:
    5 bulan ago

    Malas bukan berarti buruk,bekerja bukan berarti baik.melainkan keseimbangan dalam bersantai dan bekerja lah yang baik.Hal ini yang saya tangkap ketika mempelajari materi ini

    Balas
  17. Kezia Karen Holly Wijaya says:
    5 bulan ago

    Artikel ini menjelaskan perjuangan bukan hanya soal upah, tetapi soal hak atas waktu, hak untuk tidak selalu produktif, hak untuk tidak selalu tersedia, dan hak untuk tetap menjadi manusia, bukan sekadar mesin kerja.

    Balas
  18. valentina lim says:
    5 bulan ago

    Lafargue mendekonstruksi fetisisme kerja kapitalis: hak untuk “malas” adalah perjuangan merebut kembali waktu sebagai ruang ontologis manusia, bukan sekadar resistensi ekonomi.

    Balas
  19. PUTRI MICHELLE says:
    5 bulan ago

    Artikel ini menyadarkan bahwa etos kerja berlebihan sering dianggap kebajikan, padahal justru menormalisasi eksploitasi dan menghilangkan ruang hidup manusia.

    Balas
  20. MATHEW RENOL TAOPAN says:
    5 bulan ago

    Menurut Lafargue, sepantasnya manusia dan sumber daya alam dibebaskan agar manusia memiliki kendali atas waktu hidupnya, bukan menjadi komoditas produktivitas kapital.

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

No Result
View All Result
Selengkapnya
Selengkapnya
  • Arthuur Jeverson Maya Research
  • Beranda
  • Edisi Lampau
  • IPTV
  • Jurnal
  • Karya Arthuur Jeverson Maya
  • Kirim Donasi
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Mukadimah
  • Panduan Penulisan
  • Pasang Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Pengantar
  • Podcast
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Syarat Penggunaan

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

No Result
View All Result
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co