• American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
Arthuur Research
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
No Result
View All Result
Arthuur Research
No Result
View All Result

Habitus, Kapital, dan Arena: Membaca Bourdieu dalam Struktur Kekuasaan Global

Arthuur Jeverson Maya by Arthuur Jeverson Maya
November 7, 2025
in Logika & Teori
0
Habitus, Kapital, dan Arena: Membaca Bourdieu dalam Struktur Kekuasaan Global
0
SHARES
179
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan ke WhatsApp

Untuk memahami bagaimana subjek bergerak dalam ruang sosial global yang tampak terbuka namun sarat batas tak kasat mata, Bourdieu memberikan perangkat analitis yang menyingkap bahwa kebebasan, kesempatan, dan mobilitas sering kali hanyalah bentuk representasi dari struktur kekuasaan yang beroperasi melalui tubuh, bahasa, dan institusi. Habitus, kapital, dan arena tidak berdiri sebagai konsep terpisah, melainkan rangkaian mekanisme yang saling menghidupkan: habitus menyimpan sejarah dalam tubuh, kapital menentukan nilai dalam sirkuit pengakuan sosial, dan arena menetapkan aturan permainan yang menentukan siapa sah berbicara dan siapa sekadar mengikuti dalam lanskap global yang dipresentasikan sebagai egaliter. Dengan pendekatan genealogi, ketiganya tidak diterima sebagai fakta sosial statis, melainkan sebagai hasil sedimentasi kuasa historis yang menjadikan modernitas global tampak seperti proyek pembebasan, padahal sering kali berfungsi sebagai perangkat reproduksi dominasi.


Habitus

Habitus merupakan jejak panjang sejarah yang menempel pada tubuh dan membentuk cara subjek merasakan dunia, menentukan batas keinginan, dan mengatur apa yang dipikirkan sebagai mungkin atau mustahil tanpa kesadaran reflektif. Ia bekerja melalui doxa, yang menanamkan kewajaran sehingga dominasi diterima sebagai normal; misalnya keyakinan bahwa bahasa Inggris merupakan medium ilmiah alami dan universitas Barat adalah tolok ukur tertinggi pengetahuan. Ia juga bekerja melalui illusio, yang membuat subjek percaya bahwa permainan simbolik global, seperti publikasi internasional, konferensi akademik dunia, dan sertifikasi profesional internasional, merupakan jalur eksistensi intelektual yang bermartabat. Kekerasan simbolik memaksa individu menurunkan suara, meniru gaya akademik tertentu, atau meragukan pengetahuan lokal demi mengikuti estetika epistemik pusat. Adapun hysteresis tampak dalam kegagapan sosial ketika tubuh di pinggiran belum sepenuhnya menyesuaikan diri dengan percepatan era digital dan estetika kredibilitas global. Habitus global menciptakan subjektivitas yang seolah-olah bebas memilih, padahal pilihan telah diarahkan oleh memori sosial kapitalisme, kolonialisme, dan teknologi.

Doxa bekerja sebagai akal-budi yang tidak dipertanyakan. Referensi Barat dirasa alamiah, aksen standar dipersepsi objektif, dan format internasional dianggap universal. Pertanyaan “mengapa demikian?” mati bahkan sebelum muncul. Illusio membuat individu memaknai dirinya melalui keikutsertaan dalam permainan global, seperti mengejar publikasi bersitasi tinggi atau visibilitas intelektual di ruang digital. Kekerasan simbolik hadir senyap: permintaan maaf atas logat sendiri, rasa tidak cukup akademik saat mengutip pemikir Nusantara, atau penilaian diri melalui estetika teori Eropa. Hysteresis terlihat ketika generasi akademik lama berhadapan dengan struktur reputasi berbasis algoritma, sementara generasi muda menyelaraskan intelektualitas dengan performa digital.

Habitus global juga berfungsi sebagai rezim afektif yang menanamkan rasa malu epistemik sekaligus hasrat validasi global. “Bangga mengutip Barat, ragu mengutip leluhur sendiri” bukan kelemahan individu, melainkan jejak kolonialitas yang mengendap dalam tubuh. Ia menata imajinasi masa depan: beasiswa luar negeri, publikasi bereputasi, posisi di organisasi internasional menjadi ruang universal kesuksesan. Akhirnya, habitus global bukan sekadar pola tindakan, melainkan politik rasa diri: kekuasaan yang hidup dalam tubuh, mengatur apa yang dianggap sebagai kehidupan yang layak dan bermutu. Itulah bentuk paling halus dari kekuasaan, yakni ketika imperium tinggal di dalam diri subjek.


Kapital

Kapital adalah energi sosial yang menentukan akses, pengakuan, dan otoritas dalam struktur global. Ia mencakup modal ekonomi, budaya, sosial, dan simbolik yang dapat saling ditukar sesuai kurs nilai dalam arena global. Modal budaya meliputi gelar, estetika pikir, dan kompetensi retoris. Modal sosial mencakup jejaring global, alumni institusi pusat, dan hubungan akademik transnasional. Modal simbolik hadir sebagai reputasi, prestise institusi, dan akreditasi global. Proses konversi kapital, dari gelar menjadi reputasi dan reputasi menjadi jaringan, menjadikannya mekanisme pembentuk nilai diri dalam sistem global.

Kapital bekerja melalui mekanisme validasi yang tampak meritokratik namun bertumpu pada hierarki historis. Referensi lokal harus dibungkus dalam bahasa epistemik dunia agar sah. Teori non-Barat sering baru memperoleh legitimasi setelah disahkan jurnal dari pusat. Reputasi digital menjadi komoditas melalui indeks sitasi dan platform akademik. Kapital simbolik tampil sebagai aura kredibilitas: universitas ternama bukan hanya institusi pendidikan, tetapi sertifikat ontologis kecendekiaan.

Regime sertifikasi global telah melahirkan credentialism kosmopolitan. Daftar pelatihan internasional, sertifikat akademik dunia, dan fellowship global menjadi moralitas baru. Teknologi reputasi seperti Google Scholar, Scopus, Web of Science, dan h-index menjadi tafsir modern atas martabat ilmuwan. Estetika profesionalitas global, seperti bahasa terstruktur dan nada netral, menjadi kode kewajaran. Kapital akhirnya membangun ekonomi kehormatan dunia, menentukan siapa yang sah menghasilkan kebenaran, siapa yang harus belajar, dan siapa yang ditetapkan menjadi objek wacana global.


Arena

Arena adalah ruang kompetisi yang tampak netral, padahal dikonstruksi melalui kurasi nilai, aturan rasa, dan tata legitimasi dari mereka yang mendominasi sejarah wacana. Akademia, diplomasi, seni, media, dan pasar pengetahuan global memiliki skrip prestise tertentu: metodologi tertentu dianggap ilmiah, bahasa tertentu dipandang netral, dan narasi tertentu dianggap relevan. Peer-review, indeksasi, algoritma, dan etiket profesional bekerja sebagai saringan tak kasat mata. Arena tidak hanya mengatur argumen, tetapi juga performa intelektual, ritme bicara, bentuk emosi, dan estetika otoritas.

Filter epistemik menentukan apa yang dihitung sebagai pengetahuan; filter institusional menentukan siapa yang diakui sebagai pembawa suara sah; filter performatif menentukan bagaimana suara harus diucapkan. Negara berkembang baru didengar jika berbicara dalam bahasa teknokrasi. Seni lokal dinilai “folk” sebelum disertifikasi kurator global. Tragedi Barat tampil sebagai humanitas, sedangkan tragedi Selatan sebagai statistik. Algoritma mengubah epistemologi menjadi rezim visualitas: bukan siapa yang benar, melainkan siapa yang terlihat benar.

Arena global juga mengatur jenis emosi dan gaya keberanian yang diterima. Kritik harus terdengar moderat, kemarahan harus elegan, keberpihakan harus diselubungi objektivitas. Bahkan wacana dekolonisasi dapat berubah menjadi koreografi kolonial baru jika harus mengikuti estetika pusat agar dapat diterima. Pada titik ini, arena tampak bukan sebagai ruang diskusi bebas, melainkan teater nilai global yang menentukan bentuk manusia yang layak disebut pembawa suara.

 255 total views,  4 views today

Previous Post

Membongkar Ego: Menempatkan Keganjilan Lacan dan Subjektivasi Foucault di Luar Kesadaran Freud

Next Post

Marx dan Bourdieu dalam Politik Dunia

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya adalah dosen dan penulis yang berfokus pada American Politics dan Chinese Politics dalam konteks kekuasaan global dan transformasi tatanan internasional. Kajian tersebut dilihat dalam perspektif postmodernisme dan genealogi kekuasaan, yang memahami politik internasional sebagai ruang produksi diskursus, identitas, dan legitimasi kekuasaan melalui institusi dan narasi sejarah.

Next Post
Marx dan Bourdieu dalam Politik Dunia

Marx dan Bourdieu dalam Politik Dunia

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

No Result
View All Result
Selengkapnya
Selengkapnya
  • Arthuur Jeverson Maya Research
  • Beranda
  • Edisi Lampau
  • IPTV
  • Jurnal
  • Karya Arthuur Jeverson Maya
  • Kirim Donasi
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Mukadimah
  • Panduan Penulisan
  • Pasang Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Pengantar
  • Podcast
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Syarat Penggunaan

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

No Result
View All Result
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co