Dunia internasional tidak tumbuh dari ruang netral atau kehendak rasional yang setara, tetapi dari sejarah material yang memadat menjadi struktur, lalu meresap ke dalam cara bangsa-bangsa memandang diri, pihak lain, dan dunia. Interaksi global adalah proses panjang di mana pengalaman kolonial, sirkulasi modal, dan pertarungan simbolik menorehkan ingatan kolektif yang bertahan jauh melampaui perubahan rezim atau pergantian pemimpin. Dengan demikian, menganalisis hubungan internasional berarti menelusuri bagaimana kekuasaan bekerja sebagai ingatan, bagaimana makna dinegosiasikan sebagai strategi, dan bagaimana tubuh politik bangsa bergerak karena disposisi yang telah ditanamkan sejarah.
Mead dan Blumer memberi fondasi mikro bagi pembacaan ini. Mereka menegaskan bahwa identitas sosial lahir dari kemampuan mengambil posisi pihak lain; bahwa makna bukan entitas tetap, melainkan hasil negosiasi terus-menerus dalam proses interaksi. Pada skala global, hal ini terlihat ketika negara tidak hanya hadir melalui kekuatan materialnya, tetapi melalui bagaimana ia dipersepsi, dikategorikan, dan diakui. Namun negosiasi makna internasional tidak berlangsung di ruang setara. Ada bangsa yang sejak awal diberi hak mendefinisikan dunia, dan ada bangsa yang hanya diperbolehkan menjelaskan dirinya dalam bahasa yang diwariskan kekuasaan.
Di sini Goffman membantu membaca diplomasi sebagai panggung. Negara tampil di hadapan audiens internasional, merancang gestur, memilih kata, dan menyusun narasi untuk memastikan bahwa dirinya layak dipercaya, dihormati, atau ditakuti. Tetapi panggung itu sendiri tidak netral. Ia telah diatur oleh struktur sejarah yang menentukan aktor mana yang dianggap wajar untuk memimpin dan mana yang harus membuktikan kelayakannya di setiap kesempatan. Dengan kata lain, performa diplomatik hanya mungkin bila modal legitimasi sudah melekat sebelum panggung dibangun.
Blau dan Homans kemudian mengingatkan bahwa setiap relasi mengandung kalkulasi. Diplomasi, kerjasama ekonomi, bahkan solidaritas kemanusiaan beroperasi melalui ukuran untung-rugi, manfaat-resiko, dan keseimbangan timbal balik. Namun kalkulasi itu tidak pernah steril. Ia terikat pada posisi, memori, dan warisan struktural: mereka yang menguasai modal global memiliki ruang luas menentukan jenis manfaat yang dianggap rasional; mereka yang pernah dikuasai kolonialisme belajar membaca kedaulatan bukan sebagai teori, tetapi sebagai luka.
Dan di titik inilah Marx dan Bourdieu menjahit semua detail menjadi struktur yang utuh. Marx menunjukkan bahwa dunia modern dibangun dari relasi produksi—bahwa kapitalisme bukan sekadar sistem ekonomi, tetapi rezim historis yang mengajarkan bangsa-bangsa bagaimana seharusnya hidup, bekerja, dan mengejar tujuan politik. Kapital tidak hanya mengalir; ia mendidik, mengatur waktu, memberi bentuk pada ambisi pembangunan, dan menanamkan kecemasan untuk tidak tertinggal. Marx membaca dunia sebagai ruang ekspansi tanpa akhir, di mana produksi bukan sekadar kegiatan, tetapi prinsip hidup.
Marx memang memulai analisis dari struktur material produksi, tetapi implikasinya tidak berhenti di sana. Ia menunjukkan bagaimana relasi produksi membentuk kesadaran, praktik sosial, dan bahkan cara tubuh diposisikan sebagai tenaga kerja yang dieksploitasi. Bourdieu melanjutkan garis ini dengan memperlihatkan bagaimana kapital, dominasi, dan hierarki tidak hanya bekerja pada tingkat ekonomi atau institusional, tetapi menempel pada tubuh sebagai habitus—menjadi disposisi, naluri geopolitik, dan rasa strategis yang seolah-olah natural. Negara pascakolonial mencurigai dominasi bukan semata karena teori, melainkan melalui ingatan tubuh kolektif yang diturunkan antar generasi; sementara negara imperium mempertahankan kepemimpinan global bukan hanya melalui kepentingan ekonomi, tetapi juga melalui modal simbolik yang sejak lama menjadi sumber legitimasi moral.
Dengan demikian, apa yang Marx gambarkan sebagai logika akumulasi dapat dibaca kembali pada ranah simbolik, budaya, dan diplomatik: kemampuan menciptakan persepsi, membentuk keyakinan global, atau menetapkan standar moral internasional adalah bentuk modal yang bekerja dengan logika yang sama dengan pabrik, industri, atau kapal perang. Struktur tetap fundamental, tetapi ekspansinya menjangkau tubuh, simbol, dan praktik diplomatik yang menopang reproduksi kekuasaan di tingkat global.
Habitus global adalah Marx yang menubuh: struktur produksi yang menjelma cara merasa, modal yang bersalin rupa menjadi kehormatan, dan antagonisme kelas yang bergeser menjadi hierarki antarbangsa. Di forum internasional, kita tidak sekadar menyaksikan negara bernegosiasi; kita melihat sejarah berjangka panjang bekerja melalui tubuh kolektif. Aspirasi, kekhawatiran, agresi, atau seruan solidaritas semuanya adalah bentuk lanjutan dari perjalanan material yang panjang. Dengan demikian, diplomasi, keamanan, dan pembangunan bukan sekadar kebijakan—mereka adalah ekspresi peradaban yang telah dibentuk oleh akumulasi modal dan reproduksi budaya kuasa.
Maka, memahami interaksi sosial global berarti melihat dunia sebagai teks material–simbolik yang ditulis oleh kapitalisme, disunting oleh kolonialisme, dan dibaca ulang melalui perjuangan pengakuan. Mead memberi kita asal-usul subjek; Blumer menunjukkan negosiasi makna; Goffman membuka tirai panggung; Blau dan Homans menjelaskan kalkulasi; Marx meletakkan fondasi produksi kuasa; dan Bourdieu memperlihatkan bagaimana kuasa itu melekat sebagai disposisi hidup. Dunia tidak netral. Ia adalah sejarah yang hidup dalam protokol diplomasi, dalam retorika pembangunan, dalam paranoia pertahanan, dan dalam bisikan harga diri yang tak pernah selesai.
233 total views, 2 views today

