Fenomena Trump Effect memperlihatkan bagaimana Donald Trump tidak sekadar berperan sebagai presiden, melainkan berusaha tampil sebagai personifikasi Amerika Serikat. Agenda-agenda politiknya—dari diplomasi dengan Putin, keterlibatan dalam European Leaders Summit, klaim keberhasilan menurunkan angka kriminalitas di Washington D.C., hingga performa sederhana seperti push-up challenge—dijahit menjadi satu narasi yang menghadirkan Trump sebagai wajah negara. Dengan mengawinkan teori Lacan dan Foucault, narasi ini dapat dibaca sebagai pertemuan antara produksi pengetahuan dan struktur hasrat: Foucault membantu kita melihat bagaimana kebenaran diproduksi melalui mekanisme wacana, sedangkan Lacan memperlihatkan bagaimana setiap wacana selalu dihantui kekosongan pra-pengetahuan yang tak bisa ditutupi.
Dalam kerangka Lacanian, narasi Trump Effect beroperasi melalui tiga lapisan. Pertama, Imaginary: Trump diproyeksikan sebagai figur maskulin, protektif, dan penuh vitalitas. Gestur tubuh, kedekatannya dengan militer, serta performa populis membuatnya menjadi ego ideal bagi rakyat, cermin imajiner kebesaran Amerika. Kedua, Symbolic: berbagai isu yang semula terpisah—diplomasi, keamanan domestik, dan militer—disatukan ke dalam satu rantai penanda dengan Trump sebagai pusatnya. Ia berfungsi sebagai penanda kosong (Laclau) yang menampung beragam makna, sehingga negara tampak berbicara dengan satu suara: suara Trump. Ketiga, the Real: paradoks yang tak terhindarkan muncul karena seluruh narasi kedaulatan ini disalurkan melalui TikTok, platform digital milik Cina. The Real di sini bukan sekadar gangguan pasca-narasi, melainkan pra-pengetahuan (pre-knowledge): kondisi material yang sudah hadir bahkan sebelum simbolisasi dimulai. Sejak awal, realitas bahwa panggung komunikasi politik Amerika berada di bawah algoritme Cina menjadi kekosongan yang tidak bisa dihapus dari narasi simbolik.
Jika Foucault menekankan bagaimana kekuasaan beroperasi melalui power/knowledge, maka TikTok berfungsi sebagai arena produksi rezim kebenaran digital. Klaim seperti “crime down 41%” tidak dilegitimasi melalui mekanisme verifikasi institusional, melainkan melalui viralitas algoritmik. Di sini berlaku logika baru: viralitas menggantikan verifikasi. Yang dianggap benar bukan lagi klaim yang didukung oleh data empiris, melainkan klaim yang paling efektif tersebar melalui TikTok. Viralitas menjadi mekanisme distribusi pengetahuan, sementara algoritme menjadi aparatus yang menentukan hierarki kebenaran. Dengan demikian, Trump Effect memperlihatkan pergeseran epistemologis: dari rezim kebenaran berbasis verifikasi menuju rezim kebenaran berbasis distribusi.
Namun, Lacan menambahkan bahwa produksi kebenaran berbasis viralitas itu hanyalah fantasi yang menutupi kekosongan. Viralitas tidak menghapus the Real—bahwa medium itu milik Cina—tetapi sekadar menundanya. Setiap klaim yang viral tentang kedaulatan Amerika justru semakin menegaskan bahwa kedaulatan itu rapuh, karena sejak awal tergantung pada infrastruktur asing. Di sini TikTok dapat dibaca sebagai objet petit a geopolitik: objek hasrat yang menjanjikan popularitas instan, kedekatan dengan rakyat, dan dominasi global, namun selalu memperlihatkan kekurangan. Setiap kali hasrat itu tampak tercapai, ia kembali menyingkap kekosongan mendasar: Amerika tidak berdaulat penuh dalam panggung digital yang digunakannya.
TikTok, dengan demikian, berfungsi ganda. Dalam kerangka Foucauldian, ia adalah ruang di mana rezim kebenaran digital diproduksi, diatur, dan dilegitimasi oleh logika viralitas. Dalam kerangka Lacanian, ia adalah layar fantasmagorik yang menampilkan citra kekuatan, tetapi di baliknya menyimpan kecemasan laten bahwa dominasi Amerika selalu rapuh. Maka, Trump Effect dapat dipahami sebagai dialektika antara strategi dan kepalsuan: strategi karena Trump menggunakan medium milik Cina untuk menegaskan dominasi Amerika, kepalsuan karena medium itu sendiri menyingkap ketidakmungkinan kedaulatan penuh.
Kesimpulannya, Trump Effect melalui TikTok menunjukkan bahwa politik luar negeri Amerika di era Trump dipersonalisasi, tetapi personalisasi itu berdiri di atas paradoks fundamental. Foucault menjelaskan bagaimana pengetahuan diproduksi melalui mekanisme viralitas yang menggantikan verifikasi, sementara Lacan memperlihatkan bahwa di balik viralitas itu, the Real selalu hadir sebagai pra-pengetahuan: kondisi material yang menyingkap keterbatasan kedaulatan. Temuan teoretisnya adalah bahwa TikTok adalah sekaligus rezim kebenaran digital (Foucault) dan objet petit a geopolitik (Lacan)—ruang di mana Amerika ingin mengukuhkan dominasinya, tetapi justru selalu diperlihatkan keterbatasannya.
282 total views, 2 views today
