Dalam kajian hubungan internasional, keamanan dan perdamaian sering dipahami sebagai tujuan universal negara. Namun, Marxisme menantang asumsi tersebut dengan menegaskan bahwa keamanan bukan entitas netral, melainkan hasil dari struktur ekonomi dan relasi kekuasaan dalam masyarakat. Sistem produksi material menjadi fondasi yang menentukan cara negara melihat ancaman, membangun institusi keamanan, dan mendefinisikan perdamaian. Dengan demikian, analisis keamanan tidak bertumpu pada moralitas universal, tetapi pada modus produksi, kepemilikan alat produksi, dan antagonisme kelas yang menjadi inti dinamika historis umat manusia.
Sejak Marx menegaskan bahwa sejarah manusia adalah sejarah pertarungan kelas, maka keamanan dapat dibaca sebagai upaya mempertahankan struktur dominasi kelas yang sedang berkuasa. Aparat keamanan negara bukanlah penjaga kesejahteraan seluruh warga, tetapi instrumen kekuasaan untuk melindungi kepemilikan privat, mengatur kerja, dan memastikan keberlangsungan sirkulasi kapital. Perang, stabilitas, dan perdamaian tidak lahir dari etika universal, tetapi dari logika kapital yang selalu menuntut ekspansi, kontrol, dan pengamanan struktur sosial yang menguntungkan kelas pemilik modal.
Dengan demikian, memahami keamanan berarti memeriksa relasi produksi yang membatasi ruang kemungkinan historis; keamanan bukan sekadar proteksi dari ancaman, tetapi mekanisme peneguhan struktur sosial yang memungkinkan eksploitasi dapat terus berlangsung. Perdamaian pun hanya muncul sebagai produk kesepakatan politik dalam kerangka kapitalisme—yakni kondisi di mana produksi dapat berlanjut tanpa gangguan.
Keamanan sebagai Instrumen Kelas Berkuasa
Negara dalam perspektif Marxis bukan entitas netral, melainkan bentuk organisasi politik kelas dominan. Melalui aparatus represif—militer, polisi, penjara—dan aparatus ideologis—pendidikan, media, kebudayaan, hukum—negara memastikan bahwa relasi produksi kapitalis tetap stabil. Ketaatan fisik dijaga melalui kekuatan koersif, sedangkan ketaatan mental diproduksi melalui hegemoni ideologis. Dengan kata lain, keamanan beroperasi melalui kombinasi kekuasaan langsung dan produksi kesadaran yang menormalisasi posisi sosial masing-masing kelas.
Kebijakan keamanan selalu berbicara atas nama publik, namun pada dasarnya mengamankan arus kapital, kepemilikan privat, dan struktur hierarki pekerjaan. Kritik, pemogokan, atau gerakan rakyat sering diposisikan sebagai ancaman stabilitas; bukan karena membahayakan keselamatan masyarakat, tetapi karena mengganggu proses akumulasi. Di sini, keamanan bekerja sebagai teknologi pemerintahan yang mengatur tubuh, ruang, dan kesadaran, sehingga kelas pekerja menerima struktur penundukan sebagai tatanan wajar kehidupan.
Dengan demikian, keamanan bukanlah respons pasif terhadap ancaman, tetapi mekanisme proaktif untuk mempertahankan relasi produksi. Dalam tatanan kapitalisme lanjut, keamanan bergerak lebih halus: sensor data, pengawasan digital, dan regulasi sosial menggantikan penaklukan fisik terbuka, tetapi tujuan akhirnya tetap sama—memastikan kapital dapat mereproduksi dirinya.
Ancaman, Konflik, dan Kekerasan dalam Logika Kapitalisme
Kapitalisme tidak pernah netral terhadap kekerasan; ia membutuhkannya. Persaingan antar kapital nasional menciptakan konflik internasional sebagai konsekuensi dari ekspansi pasar dan perebutan sumber daya. Lenin menegaskan bahwa imperialisme adalah fase lanjut kapitalisme, di mana ekspansi modal menjelma sebagai kebijakan geopolitik. Perang adalah modus operandi kapitalisme ketika jalur damai tidak lagi mampu menjamin pertumbuhan.
Ancaman bukanlah fakta objektif, tetapi konstruksi yang ditenun oleh kekuasaan untuk menjustifikasi penataan sosial. Sikap antikritik terhadap kapital, kriminalisasi protes buruh, hingga demonisasi ideologi alternatif adalah bagian dari legitimasi kekerasan struktural. Dengan demikian, ancaman tidak sekadar musuh di luar, tetapi setiap kemungkinan transformasi radikal di dalam. Keamanan menjadi doktrin tanpa wajah: ia tidak hanya menangani musuh eksternal, tetapi mengawasi pikiran, mengatur bahasa, dan membentuk opini publik.
Kriminalitas pun tidak didefinisikan berdasarkan bahaya sosial, melainkan berdasarkan ancaman terhadap kepemilikan privat. Pelanggaran terhadap properti lebih cepat dihukum daripada pelanggaran terhadap martabat manusia. Dalam kondisi demikian, kapitalisme menampilkan diri sebagai penjaga tatanan yang rasional, padahal struktur tersebut dibangun dengan mengutamakan nilai tukar di atas nilai hidup.
Perdamaian sebagai Emansipasi dari Eksploitasi
Perdamaian dalam paradigma Marxis tidak sama dengan ketiadaan senjata. Perdamaian adalah kondisi di mana relasi produksi yang menindas telah dihentikan dan manusia tidak lagi tunduk pada logika akumulasi. Selama kapitalisme menguasai mode produksi, perdamaian hanyalah stabilitas represif—keseimbangan yang bertujuan mempertahankan kekuasaan kelas dominan atas kelas tertindas. Kapitalisme menciptakan semacam ketenangan politik, tetapi ketenangan tersebut lahir dari penundukan, bukan pembebasan.
Emansipasi manusia hanya dapat terjadi ketika alat produksi tidak lagi dimiliki oleh segelintir orang, ketika kerja tidak lagi menjadi alat eksploitasi, dan ketika kebutuhan kolektif menjadi dasar pengorganisasian sosial. Tanpa transformasi struktural ini, “perdamaian” hanyalah interval di antara konflik kapital, yaitu ruang sementara sebelum kompetisi, perebutan sumber daya, dan kekerasan terulang kembali dalam bentuk yang lebih intensif.
Dengan demikian, perdamaian sejati adalah kondisi historis yang belum tercapai, bukan narasi diplomatik atau dokumen perjanjian internasional. Perdamaian adalah nama lain bagi pembebasan manusia dari ekonomi politik kekuasaan.
Dinamika Keamanan Global Kontemporer: Kasus Amerika Serikat dan Cina
Dalam lanskap politik global kontemporer, rivalitas Amerika Serikat dan Cina menjadi manifestasi paling terang dari logika keamanan kapitalis yang dibahas dalam kerangka Marxis. Pertarungan keduanya tidak dapat direduksi pada perbedaan ideologi permukaan, seperti demokrasi versus otoritarianisme; yang sedang berlangsung adalah kontestasi material atas kendali produksi, teknologi, sumber daya, dan infrastruktur distribusi global. Dengan kata lain, konflik ini adalah artikulasinya yang paling mutakhir dari perebutan dominasi dalam sistem kapitalisme dunia, sebagaimana dipetakan oleh Lenin ketika menggambarkan imperialisme sebagai fase lanjut kapitalisme.
Amerika Serikat mempertahankan hegemoni globalnya melalui kombinasi kekuatan militer, kontrol finansial berbasis dolar, dominasi teknologi, dan jaringan aliansi pertahanan. Kebijakan “keamanan nasional” AS dalam isu Indo-Pasifik, pembatasan ekspor semikonduktor ke Cina, serta penguatan blok militer melalui AUKUS dan QUAD tidak semata-mata merupakan strategi pertahanan, melainkan usaha mempertahankan superioritas kapital dan dominasi atas rantai pasok global. Dalam terminologi Marxis, ini adalah strategi kelas kapital finansial dan industri AS untuk mempertahankan posisi sebagai pusat akumulasi.
Di sisi lain, kebangkitan Cina melalui industrialisasi, ekspansi manufaktur, dan proyek Belt and Road Initiative bukan gerakan tandingan atas dasar moral baru dunia, tetapi konfigurasi kapitalisme negara yang beroperasi dengan logika sama: ekspansi, akumulasi, dan kontrol jalur logistik strategis. Modernisasi militer Cina, pembangunan pulau buatan di Laut Cina Selatan, serta upaya menciptakan sistem pembayaran internasional non-dolar menegaskan dorongan struktural untuk menantang dominasi AS. Di sini tampak jelas bahwa negara—baik yang menyebut dirinya demokratis maupun sosialis—berfungsi sebagai instrumen kolektif kelas penguasa dalam menegakkan dan memperluas relasi produksi kapitalis, meskipun melalui model manajerial yang berbeda.
Isu Taiwan menjadi titik konsentrasi paling eksplosif dalam dialektika ini. Taiwan bukan hanya simbol identitas geopolitik, tetapi node material produksi teknologi global, terutama semikonduktor yang merupakan “alat produksi strategis” abad ke-21. Dengan demikian, ketegangan di Selat Taiwan merupakan wujud paling telanjang dari konflik kepemilikan atas alat produksi global. Stabilitas kawasan, dalam wacana kedua negara, adalah stabilitas bagi kontinuitas produksi kapital, bukan bagi kesejahteraan manusia.
Dalam konfigurasi ini, “perdamaian” yang diklaim kedua negara adalah perdamaian yang diadministrasikan untuk menjaga ritme ekspansi kapital, bukan untuk menghapus relasi eksploitatif. Sebagaimana ditegaskan melalui kerangka Marxis, keamanan dan perdamaian dalam rivalitas AS–Cina bukan ekspresi keteraturan universal, tetapi artikulasi hegemonik yang memastikan kelangsungan akumulasi. Keamanan menjadi panggung tempat kapital global mengatur ulang keseimbangan kekuasaan, dan perdamaian menjadi jeda sementara dalam pertarungan struktur.
Kesimpulan
Dari kerangka Marxis dapat dipahami bahwa keamanan dan perdamaian tidak lahir dari aspirasi moral atau cita-cita universal umat manusia, melainkan dari dinamika material yang membentuk sejarah. Negara bukanlah penjaga netral atas ketertiban bersama, melainkan aparatus historis untuk meneguhkan relasi produksi dan melindungi akumulasi kapital. Keamanan bekerja sebagai teknologi kekuasaan yang mengatur ancaman, mendefinisikan stabilitas, dan mengarahkan kekerasan demi mempertahankan struktur kelas; sementara perdamaian, dalam format kapitalisme, hanyalah jeda operasional yang memungkinkan kapital terus berputar tanpa gangguan.
Rivalitas kontemporer antara Amerika Serikat dan Cina memperlihatkan bahwa konflik global tidak digerakkan oleh pertentangan nilai, tetapi oleh pertarungan material atas alat produksi, jaringan logistik, dan mekanisme kontrol finansial. Bahasa “kedaulatan”, “kebebasan navigasi”, atau “tatanan internasional berbasis aturan” hanyalah pembungkus ideologis bagi logika akumulasi. Di bawah retorika diplomatik dan wacana stabilitas kawasan, tersimpan perhitungan struktural atas rantai pasok, energi, data, dan teknologi strategis yang menentukan arah dominasi kapital abad ke-21. Dengan demikian, keamanan global hari ini bukan sekadar arena persaingan geopolitik, tetapi medan reproduksi kapital dalam skala planet, di mana perang dan perdamaian hanyalah dua bentuk operasi dari logika yang sama.
Dalam cakupan kemungkinan historis yang ditentukan relasi produksi, perdamaian sejati bukanlah kondisi pasca-konflik, melainkan kondisi pasca-eksploitasi. Selama manusia masih ditundukkan pada logika nilai tukar, dan selama kehidupan sosial dibangun atas dasar kepemilikan privat atas alat produksi, maka keamanan akan tetap menjadi nama lain bagi pengelolaan dominasi, dan perdamaian akan tetap berfungsi sebagai administrasi keteraturan demi kelangsungan kapital. Oleh karena itu, proyek emansipasi dalam Marxisme bukanlah memperbaiki tatanan keamanan internasional, tetapi membuka kemungkinan sejarah bagi tatanan kehidupan yang tidak dikonstruksi oleh kapital sebagai pusat gravitasi eksistensi.
Dengan kata lain, manusia akan menemukan keamanan hanya ketika ketakutan tidak lagi diciptakan oleh struktur ekonomi, dan perdamaian hanya mungkin ketika kerja bukan lagi instrumen perampasan nilai hidup, melainkan ekspresi bebas dari kemampuan manusia yang tidak ditaklukkan oleh logika akumulasi. Itulah titik di mana keamanan tidak lagi berarti proteksi atas kapital, tetapi perlindungan atas martabat; dan perdamaian bukan lagi jeda di antara siklus dominasi, tetapi pembebasan sejarah dari tirani produksi kapitalis.
336 total views, 4 views today


Emansipasi manusia hanya dapat terjadi ketika alat produksi tidak lagi dimiliki oleh segelintir orang, ketika kerja tidak lagi menjadi alat eksploitasi, dan ketika kebutuhan kolektif menjadi dasar pengorganisasian sosial. Tanpa transformasi struktural ini, “perdamaian” hanyalah interval di antara konflik kapital, yaitu ruang sementara sebelum kompetisi, perebutan sumber daya, dan kekerasan terulang kembali dalam bentuk yang lebih intensif.
Dengan demikian, perdamaian sejati adalah kondisi historis yang belum tercapai, bukan narasi diplomatik atau dokumen perjanjian internasional. Perdamaian adalah nama lain bagi pembebasan manusia dari ekonomi politik kekuasaan.