• American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
Arthuur Research
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
No Result
View All Result
Arthuur Research
No Result
View All Result

Mengapa Raja Tidak Pernah Mati? Membaca Gerakan “No Kings”

Arthuur Jeverson Maya by Arthuur Jeverson Maya
Oktober 29, 2025
in American Politics
0
Mengapa Raja Tidak Pernah Mati? Membaca Gerakan “No Kings”
0
SHARES
80
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan ke WhatsApp

Raja bukan sekedar representasi, raja adalah kuasa kekuasaan. Sebab kekuasaan akan punah bersama tubuh yang menanggungnya, sementara kuasa tidak pernah lenyap — ia hanya mengalami keretakan, membelah diri, dan mereproduksi raja-raja baru sepanjang sejarah. Dalam setiap peradaban, raja muncul bukan sebagai manusia istimewa, melainkan sebagai bentuk yang diciptakan agar kuasa dapat dilihat, disentuh, dan diimani. Ia adalah wadah tempat ketakutan manusia terhadap kekacauan dijinakkan menjadi keteraturan yang tampak. Ketika satu raja mati, kuasa tidak ikut mati bersamanya; ia hanya berpindah ke tubuh lain, ke simbol lain, ke bahasa lain. Di sanalah sejarah bukan sekadar deretan penguasa, melainkan rangkaian transformasi cara kuasa menampakkan dirinya.

Firaun di Mesir kuno mungkin adalah bentuk paling awal dari tubuh kuasa yang menjadi kekuasaan. Tubuhnya adalah hukum, wajahnya adalah matahari, dan setiap denyut jantungnya dianggap sebagai ritme semesta. Ia tidak memerintah dengan keputusan, melainkan dengan kehadiran. Namun, di balik keabadian yang diupayakan melalui piramid dan ritus pembalsaman, tersembunyi paradoks yang menelanjangi kekuasaan: tubuh yang disakralkan justru mengingatkan pada kefanaan. Piramid yang berdiri tegak bukan lambang keabadian, melainkan pengakuan akan ketidakmampuan tubuh menahan waktu. Dari retakan itu, kuasa belajar bertahan tanpa tubuh — dengan berpindah ke batu, ke bentuk, ke mitos.

Raja Babilonia, Hammurabi, melanjutkan pembelajaran itu. Ketika hukum ditulis di atas batu basalt, tubuh raja digantikan oleh tubuh teks. Hukum menjadi cermin yang memantulkan kekuasaan tanpa kehadiran raja. Inilah kali pertama kuasa memahami bahwa ia dapat bertahan tanpa tubuh manusia — cukup dengan menjadi pengetahuan yang diulang. Kuasa menemukan mekanisme baru: keabadian melalui penulisan. Dengan demikian, lahir bentuk pertama dari dispositif: sistem tanda yang menggantikan daging, di mana ketaatan diproduksi bukan oleh rasa takut, melainkan oleh kejelasan yang dipahat di permukaan batu. Keretakan tubuh biologis melahirkan tubuh epistemik.

Kekaisaran Romawi kemudian mengubah tubuh raja menjadi tubuh administratif. Di tangan Augustus, sakralitas menjadi logistik. Ia mengatur waktu, pajak, tentara, dan hukum, bukan dengan wahyu, tetapi dengan perhitungan. Tubuh raja kini terdiri dari jaringan arsip, koin, patung, dan kalender — mata yang terus mengawasi meski ia tak hadir. Dari sinilah muncul tubuh yang baru: tubuh yang berfungsi bukan karena darah, melainkan karena sistem. Namun, sistem yang tanpa wajah memanggil kembali wajah. Masyarakat yang telah dikuasai oleh mekanisme rasional tetap memerlukan citra kaisar di dinding kota, di uang, di narasi kemenangan. Kuasa, meski telah tersebar, tetap memerlukan titik pandang tunggal. Dari sinilah monarki memasuki paradoks abadi: semakin ia berusaha membebaskan diri dari tubuh, semakin kuat hasrat untuk menemukan tubuh pengganti.

Feodalisme Eropa menghidupkan kembali tubuh itu melalui ritual. Louis XIV menjadi contoh paling ekstrem dari kuasa yang bergantung pada pertunjukan. Istana Versailles adalah teater kedaulatan, tempat tubuh raja dijadikan pusat orbit bagi bangsawan yang hidup dalam tatapan. Ia memerintah dengan tarian, jamuan, dan kehadiran yang dikoreografikan. Dalam tubuhnya, hukum dan estetika melebur. Namun, setiap pertunjukan menuntut penonton, dan setiap penonton adalah potensi pengkhianat. Kuasa yang tampil terlalu lama di depan cermin akhirnya kehilangan kedalaman: ia menjadi bayangan dari tatapannya sendiri. Ketika raja hidup hanya sejauh ia dipandang, kekuasaan berubah menjadi pantulan yang rapuh. Keretakan itu memperlihatkan wajah baru kuasa — bahwa pengawasan dapat bekerja tanpa kekerasan, cukup dengan menanamkan kesadaran untuk selalu dilihat.

Di Timur, Kaisar Qin Shi Huang dan para penerusnya mengatur kekaisaran dengan cara yang lebih dingin: melalui birokrasi. Ia bukan dewa, melainkan Putra Langit, penghubung antara tatanan moral dan kosmos. Tetapi untuk menjaga keseimbangan itu, ia menciptakan ribuan pejabat, catatan, dan hukum yang membentuk jaringan pengawasan luas. Tubuh raja tidak lagi tunggal, melainkan terdistribusi. Di sini, kuasa mengambil bentuk yang kelak disebut Foucault sebagai governmentality: pengelolaan kehidupan melalui pengetahuan. Raja lenyap sebagai individu, namun bangkit sebagai sistem yang tak berwajah. Ia menjadi mesin moral yang mengatur perilaku, produksi, dan bahkan mimpi warganya.

Kekhalifahan Islam memperkenalkan dimensi lain: kuasa yang bertumpu pada pengetahuan yang ditafsirkan. Khalifah bukan sekadar penguasa politik, tetapi penjaga kebenaran wahyu. Dalam tradisi ini, raja digantikan oleh teks, tetapi teks hanya hidup melalui penafsir. Di antara wahyu dan interpretasi, kuasa menemukan medan baru: bukan sekadar mengatur perilaku, tetapi menentukan apa yang disebut benar. Dengan begitu, kuasa beralih dari tubuh ke bahasa, dari hukum ke pengetahuan. Ia kini tidak lagi memerintah, melainkan mengatur cara berpikir. Tubuh raja telah menjadi epistemologi yang memproduksi kesadaran.

Namun, tidak ada pergeseran tanpa residu. Ketika modernitas menggulingkan raja melalui revolusi, yang digulingkan hanyalah bentuk lama dari tubuh kuasa, bukan kuasanya sendiri. Pemenggalan kepala Louis XVI bukanlah pembebasan rakyat dari kedaulatan, melainkan pembagian ulang tubuh kedaulatan ke dalam bentuk baru: negara. Tubuh raja digantikan oleh tubuh hukum, tetapi hukum segera mencari wajah. Presiden muncul bukan sebagai antitesis, melainkan sebagai mutasi genealogis. Ia mewarisi fungsi simbolik raja, tetapi dalam bentuk sekuler. Ia tidak diurapi, melainkan dilantik; tidak diwariskan, melainkan dipilih; namun tetap menjadi satu-satunya yang dapat berbicara atas nama semua. Dengan demikian, demokrasi menjadi monarki yang berdisiplin, monarki yang menyembunyikan teologinya di balik rasionalitas.

Foucault melihat dalam peralihan ini bukan pemisahan, tetapi kontinuitas yang tersembunyi. Kuasa tidak pernah mati, hanya berubah wujud: dari sakral ke administratif, dari ketaatan ke pengawasan, dari tubuh ke jaringan. Presiden, dengan segala performa mediatiknya, adalah raja yang belajar berbicara dengan bahasa data. Ia mengatur bukan dengan titah, tetapi dengan statistik; ia membujuk bukan dengan mahkota, tetapi dengan citra. Namun, di dalam citra itu, monarki bernafas lagi. Setiap kali presiden tampil di layar untuk menjanjikan keteraturan, ia memperbaharui kontrak lama antara rakyat dan pusat simbolik. Maka presiden adalah raja yang menolak disebut raja — tubuh yang menyalin sejarah sambil berpura-pura telah meninggalkannya.

Akan tetapi, teknologi digital memperlihatkan keretakan baru dalam genealoginya. Jika raja dulu menguasai pandangan rakyat, kini presiden dikuasai oleh pandangan mereka. Tubuhnya terfragmentasi menjadi gambar, potongan suara, meme, dan algoritma. Ia tidak lagi menjadi pusat kuasa, tetapi bagian dari sirkulasi kuasa itu sendiri. Namun, paradoks genealogis kembali berulang: fragmentasi tidak menghancurkan monarki, tetapi membuatnya abadi. Tubuh raja kini hidup dalam bentuk citra yang dapat diperbanyak tanpa akhir. Ia tidak lagi bergantung pada darah, melainkan pada perhatian. Kuasa telah menemukan tubuh digitalnya — tubuh yang tidak tidur, tidak mati, dan tidak dapat dipenggal.

Genealogi mengajarkan bahwa setiap keretakan bukan kehancuran, tetapi regenerasi. Firaun retak, hukum lahir; hukum retak, sistem lahir; sistem retak, presiden lahir; presiden retak, algoritma mengambil alih. Kuasa tidak pernah benar-benar berubah arah: ia hanya berpindah tempat tinggal. Ia selalu mencari tubuh baru agar tetap dapat dipercaya. Karena itu, pertanyaan yang paling jujur bukan “apakah presiden raja?”, melainkan “mengapa kita masih membutuhkan raja yang disebut presiden?”. Sebab yang diulang oleh sejarah bukanlah bentuk kekuasaan, melainkan kebutuhan manusia akan keteraturan yang berwajah.

Gerakan No Kings muncul dari kesadaran genealogis ini. Ia memahami bahwa menolak raja bukanlah menolak individu, tetapi menolak logika kuasa yang terus mencari tubuh pusat. Ia menolak siklus abadi reproduksi kedaulatan yang menjadikan rakyat selalu sebagai penonton dari tubuh lain. Ia adalah momen ketika masyarakat, mungkin untuk pertama kalinya, membaca sejarah bukan sebagai silsilah darah, tetapi sebagai silsilah hasrat. Dalam teriakan “No Kings”, terkandung upaya untuk memutus rantai antara kekuasaan dan tubuh; untuk membiarkan kuasa hidup tanpa wajah.

Raja adalah kekuasaan, dan karena itu ia akan selalu retak. Namun kuasa, yang tak pernah memiliki bentuk, akan terus menemukan raja baru — dalam hukum, dalam sistem, dalam media, dan bahkan dalam presiden. Genealogi tidak mencari siapa yang memerintah, tetapi bagaimana kita terus menciptakan mereka yang tampak pantas memerintah. Dan selama manusia masih membutuhkan wajah untuk mempercayai keteraturan, sejarah raja tidak akan pernah selesai. Tapi di tengah spiral itu, gerakan No Kings menjadi peristiwa langka: momen ketika manusia mencoba melanjutkan hidupnya tanpa pusat, membiarkan kuasa tetap ada, tetapi menolak tubuh yang mewujudkannya. Sebuah langkah kecil dalam sejarah panjang untuk mengajarkan kepada kuasa, barangkali untuk pertama kalinya, bagaimana caranya hidup tanpa raja.

Namun No Kings bukan hanya jeritan moral atau sentimen anti-otoritarian. Ia adalah sebuah pengenalan atas struktur kuasa yang beroperasi jauh lebih dalam dari persoalan pergantian pemimpin. Di balik poster dan orasi, terdapat kesadaran sunyi bahwa demokrasi modern sedang menghadapi pertanyaan yang sama yang pernah mengguncang istana-istana kuno: bisakah masyarakat menjalankan dirinya tanpa figur pusat? Dan jika ketiadaan raja adalah tujuan — siapakah yang akan mengatur ritme keteraturan sosial ketika figur itu ditanggalkan?

Dalam aksi-aksi No Kings, kerumunan tidak lagi mengarahkan pandangan pada satu panggung, tetapi pada diri mereka sendiri. Setiap tubuh yang hadir menyatakan keberadaan sebagai bagian dari jaringan kuasa yang tidak lagi ingin tersubordinasi pada satu pusat simbolik. Poster-poster dengan mahkota tercoret, atau wajah pemimpin yang diparodi tanpa reverensi, bukan semata satir politik, melainkan deklarasi epistemik: bahwa kebenaran tidak lagi boleh menemukan bentuk tunggal. Paradigma representasi runtuh, digantikan oleh kehadiran komunal yang bersifat horizontal, cair, dan tanpa pemimpin — sebuah koreografi resistensi yang memindahkan locus kuasa dari figur ke relasi.

Jika monarki klasik adalah teater yang menempatkan satu tubuh di panggung, maka No Kings adalah anti-teater: panggung dibubarkan, dan penonton berubah menjadi aktor kolektif. Dari sini muncul implikasi genealogis yang penting — bahwa penolakan terhadap raja bukan berarti anti-pemerintahan, tetapi penolakan terhadap metafisika kesatuan yang selama ribuan tahun telah menjadi fondasi politik Barat. Dengan menolak raja, mereka menolak mitologi tentang “satu kebenaran”, “satu suara”, “satu pusat legitimasi”. Gerakan ini bukan penghancuran tatanan, melainkan pembukaan kemungkinan bahwa keteraturan dapat muncul dari banyak suara yang saling mengikat tanpa disubordinasikan.

Di dalam pekik “No Kings”, tersembunyi kritik terhadap demokrasi yang tidak pernah sepenuhnya melepaskan dirinya dari logika monarki. Ia menggugat janji bahwa rakyat adalah sumber kuasa, tetapi tetap membutuhkan wajah untuk percaya. Ia menyingkap paradoks bahwa republik sering kali menjadi monarki periodik — sebuah kerajaan yang dipilih ulang. Dengan demikian, No Kings bukan sekadar menolak figur tertentu; ia membongkar struktur psikologis dan kultural yang membuat figur itu menjadi mungkin.

Tidak bisa dipungkiri, energi gerakan ini lahir dari pengalaman historis yang spesifik: kemunculan seorang pemimpin yang memadukan populisme, mediatika, dan personifikasi nasionalisme — sebuah figur yang, bagi sebagian rakyat, menjelma menjadi simbol keselamatan, dan bagi sebagian lain, menjadi ancaman terhadap republik. Tetapi jika membaca dengan kacamata genealogis, persoalan ini melampaui nama. Yang dipertaruhkan adalah masa depan cara masyarakat memaknai kuasa itu sendiri. Apabila presiden dapat kembali menjadi raja — meskipun tanpa mahkota — maka demokrasi hanya menjadi variasi estetis dari kerajaan. No Kings menolak estetikasi itu. Ia menolak godaan untuk menyerahkan kebebasan pada figur yang menjanjikan kepastian.

Dengan begitu, No Kings bukan akhir, melainkan awal dari fase baru kesadaran politik: fase ketika rakyat mulai menyadari bahwa kuasa mungkin tidak memerlukan tubuh, melainkan kesediaan kolektif untuk memelihara keretakan itu sendiri. Bahwa tidak adanya pusat bukan ancaman, melainkan kesempatan untuk menguji apakah masyarakat mampu hidup tanpa mitologisasi figur. Sejarah kuasa selalu menunggu momen ketika manusia tidak lagi mencari wajah untuk percaya — dan mungkin, dalam langkah yang masih gagal tetapi penuh tekad ini, No Kings adalah percobaan paling radikal untuk memaksakan dunia menuju kemungkinan itu. Sebuah dunia di mana akhirnya, kuasa tidak lagi membutuhkan raja untuk menjadi nyata.

Namun, ada ironi yang terpatri dalam setiap pekik No Kings: gerakan ini tidak hanya menolak raja dalam pengertian literal, tetapi juga menolak psikologi monarki yang selama ini tersembunyi di balik demokrasi. Sejak awal berdiri, Amerika Serikat dibangun dengan fobia terhadap raja — bukan sekadar sebagai konsep politik, tetapi sebagai trauma kolektif atas pengalaman kekuasaan absolut. Founding Fathers tidak hanya menulis konstitusi; mereka membangun struktur mental baru, sebuah eksperimen berani untuk memisahkan kuasa dari tubuh tunggal. Tetapi sejak George Washington, publik telah menaruh harapan, cinta, dan ketaatan layaknya kepada raja. Washington sendiri sadar akan bahaya itu: ia menolak menjadi monarki baru, tetapi rakyat — sebagaimana selalu terjadi — merindukan figur yang dapat mereka percayai.

Sejarah politik Amerika adalah sejarah tarik menarik antara kecemasan terhadap raja dan kerinduan terhadap raja. Setiap presiden yang kuat dipuji layaknya penguasa agung, setiap presiden yang gagal dikutuk seolah mengkhianati janji ilahi. Dari Lincoln yang dipuja sebagai penyelamat bangsa, Roosevelt yang dianggap Bapak Keselamatan dari Depresi Besar, hingga Kennedy yang menjadi figur mitologis dalam memori politik — semua adalah penanda bahwa kuasa membutuhkan tubuh simbolik untuk diingat, ditangisi, dan dipuja. Maka No Kings bukan hanya anti-figur tertentu, tetapi konfrontasi terhadap memori psiko-politik Amerika tentang keagungan pemimpin.

Di era digital, memori itu semakin sulit dibongkar. Media sosial telah menjadikan tubuh pemimpin sebagai komoditas visual yang terus direproduksi: potongan pidato, mimik muka, gestur tangan, tweet, dan momen emosional beredar tanpa henti. Pemimpin tidak lagi hadir; ia menghantui. Ia muncul di layar dinding, di ponsel, di meme, di video pendek yang dirancang untuk membangkitkan kelekatan emosional instan. Presiden bukan lagi penguasa negara; ia menjadi avatar kesatuan nasional, kode simbolik yang mengikat imajinasi kolektif. Dengan cara ini, mediascape modern memperkuat residu monarki: bukan mahkota yang mengikat loyalitas, tetapi citra dan algoritma.

Gerakan No Kings lahir sebagai respons terhadap logika visual tersebut. Ia mencoba memalingkan tatapan: dari satu wajah ke banyak wajah, dari satu suara ke banyak suara, dari satu narasi ke polifoni. Dalam orasi, slogan, dan aksi jalanan, tampak upaya untuk mendesak masyarakat agar tidak lagi menggantungkan stabilitas politik pada figur. Ada usaha memecah kesadaran yang selama ini diam-diam menyerahkan otoritas pada persona, bukan pada praktik demokrasi itu sendiri. Dengan kata lain, No Kings berupaya menggeser basis legitimasi politik dari charisma ke collectivity, dari simbol ke struktur, dari kehadiran ke proses.

Namun gerakan ini menghadapi tantangan eksistensial: manusia tidak hanya makhluk rasional, tetapi makhluk simbolik. Kita tidak hanya membutuhkan hukum; kita membutuhkan wajah. Kita tidak hanya membutuhkan sistem; kita membutuhkan figur yang mewujudkan harapan. Inilah mengapa No Kings menjadi begitu radikal — ia tidak hanya menantang kekuasaan, tetapi menantang antropologi manusia, cara kita memahami diri dan dunia. Ia mencoba memaksa demokrasi untuk menembus tahap kedewasaan berikutnya: tahap di mana publik tidak lagi bersandar pada figur, tetapi pada kesadaran bersama, akumulasi kehendak, ritme partisipasi yang tidak bergantung pada magnet personalitas.

Jika monarki tradisional bekerja dengan teologi kekuasaan, maka demokrasi media bekerja dengan estetika kehadiran. No Kings ingin menghancurkan keduanya. Ia ingin membuktikan bahwa keteraturan sosial dapat dipertahankan oleh jaringan subjek yang saling mengawasi, bukan oleh figur yang mengawasi seluruh jaringan. Bahwa negara dapat berjalan bukan karena seorang pemimpin di atas podium, tetapi karena proses yang dibangun oleh institusi, partisipasi, dan kesadaran bersama. Ini bukan sekadar tuntutan politik; ini tuntutan epistemik — tuntutan untuk mengubah cara kita tahu, cara kita percaya, dan cara kita mengakui validitas kuasa.

Jika gerakan ini berhasil, ia akan menjadi revolusi epistemologis terbesar dalam politik modern: transformasi dari era tubuh simbolik ke era distribusi kesadaran. Tetapi jika gagal, ia akan membuktikan satu hal yang menakutkan: bahwa manusia, meski telah melewati ribuan tahun peradaban, tetap belum mampu memutus ketergantungan pada figur. Dan jika demikian, maka raja belum mati — ia hanya menunggu tubuh berikutnya.

 232 total views,  2 views today

Previous Post

Perspektif Konstruktivisme dalam Hubungan Internasional: Wendt, Onuf, dan Kratochwil

Next Post

Keamanan dan Perdamaian dalam Perspektif Marxisme

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya adalah dosen dan penulis yang berfokus pada American Politics dan Chinese Politics dalam konteks kekuasaan global dan transformasi tatanan internasional. Kajian tersebut dilihat dalam perspektif postmodernisme dan genealogi kekuasaan, yang memahami politik internasional sebagai ruang produksi diskursus, identitas, dan legitimasi kekuasaan melalui institusi dan narasi sejarah.

Next Post
Keamanan dan Perdamaian dalam Perspektif Marxisme

Keamanan dan Perdamaian dalam Perspektif Marxisme

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

No Result
View All Result
Selengkapnya
Selengkapnya
  • Arthuur Jeverson Maya Research
  • Beranda
  • Edisi Lampau
  • IPTV
  • Jurnal
  • Karya Arthuur Jeverson Maya
  • Kirim Donasi
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Mukadimah
  • Panduan Penulisan
  • Pasang Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Pengantar
  • Podcast
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Syarat Penggunaan

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

No Result
View All Result
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co