Tulisan ini adalah refleksi atas kekuasaan Leviathan sebagai penjamin keamanan dan kemerdekaan para lupus. Keberlangsungan eksistensi sang Leviathan melalui wacana memproduksi subjek yang terkondisikan dengan rasa tidak aman. Mikro-kekuasaan merupakan kekuasaan sang Leviathan menguasai para lupus melalui wacana keamanan. Pada kondisi homo homini lupus, para lupus melihat bahwa keamanan merupakan komoditas sosial yang harus dirasakan bersama-sama. Ia menguatkan pernyataan bahwa benar seekor lupus membutuhkan rasa aman dalam menjaga eksistensinya. Logika ketakutan lupus terhadap ancaman menjadikannya memberikan kemerdekaan pada sang Leviathan dengan jaminan menjaga keamanan bersama. Sayangnya, yang terjadi pada lupus adalah sebaliknya.
Leviathan Hobbes adalah versi kedaulatan abad pertengahan. Hobbes adalah lupus yang pertama kali mencetuskan logika Leviathan sebagai penjamin keamanan layaknya sang Tuhan. Konstruksi bangunan diskursus kedaulatan Hobbesian didasarkan pada deduksi sifat dasar manusia – yang dianalogikan sebagai serigala. Seekor lupus akan mencari keamanannya, sehingga dalam kondisi homo homini lupus – seekor lupus adalah serigala bagi lupus yang lain. Di mana, setiap manusia akan selalu dihantui oleh rasa takutnya akan ancaman yang datang dari manusia lain. Hobbes menyebut kondisi ini sebagai kondisi alamiah atau “ada secara natural.” Menerima bahwa kondisi alamiah bukanlah konsekuensi dari diskursus merupakan pendisiplinan terhadap logika bellum omnium contra omnes – perang semua lupus melawan lupus.
Pada kondisi di atas, dengan sangat terpaksa para lupus mendesak lahirnya Leviathan Hobbesian dengan tujuan memberikan mereka rasa aman bersama dan bebas dari ancaman serigala. Para lupus kemudian memberikan haknya kepada Leviathan, di mana semua hal yang berhubungan dengan kemerdekaan dan kebebasaan para lupus diatur oleh Leviathan – menyerahkan setengah atau semua kedaulatan lupus kepada Leviathan. Bukan cuma hak yang diberikan, bahkan para lupus memberikan pajak kepada Leviathan sebagai bayaran akan kemananan lupus. Hasilnya, ketakutan akan serigala lain pun hilang. Namun, logika rasa aman ini justru kontradiksi, di saat sang Leviathan menerkam para lupus yang sudah membayarnya sebagai penjamin keamanan atas serigala lain. Representasi Leviathan Hobbesian dapat ditelusuri pada Raja Inggris Edward III, Raja Henry VIII, Raja Charles I, dan Raja Prancis Philip IV.
Para raja-raja di atas, tanpa “malu-malu” menganggap dan mendeklarasikan diri mereka adalah “Tuhan.” Bahkan mengirim para lupus-lupus mereka untuk saling berperang selama berabad-abad. Ini merupakan penyimpangan yang dilakukan oleh para raja terhadap kedaulatan yang mereka terima – mereka justru menerkam rakyatnya, lalu mereka menyebutnya sebagai kemerdekaan atau bebas dari ancaman serigala lain. Kondisi ini bukan saja berlaku pada abad pertengahan, namun berlaku juga di era kedaulatan kontemporer, yang mengistimewakan Leviathan sebagai representasi Juru Selamat.
Tepatnya berargumen bahwa makna kedaulatan era 1648 sampai era kontemporer tidak bergeser ke-arah keamanan lupus, namun lebih menekankan pada kepentingan ekonomi politik sang Leviathan. Bukankah yang seharusnya terjadi adalah “dari lupus, oleh lupus, dan untuk lupus,” sebaliknya, “dari lupus, oleh lupus, dan untuk Leviathan.” Teori atas logika ini paling disenangi oleh pemimpin-pemimpin yang memiliki kepentingan kekuasaan kedaulatan dan keuntungan ekonomi. “Mereka” menjaga agar kondisi ini tetap normal dan para lupus tetap dalam perasaan tidak aman, guna mempertahankan eksistensinya. Inilah yang disebut Foucauldian sebagai logika mikro kekuasaan, di mana kekuasaan membentuk subjek melalui diskursus.
Kekuasaan Leviathan berusaha membangun diskursus-diskursus pendisiplinan seperti nasionalisme, kewarganegaraan, dan semangat kesatuan. Dengan tujuan agar ketidakamanan itu “ada.” Sebaliknya, Leviathan tidak terlalu tertarik pada harapan lupus akan keamanan. Ia lebih terarik menarik pajak dengan jargon keamanan lupus, namun berakhir pada keuntungan ekonomi Leviathan. Menurut saya, ada satu hal yang menarik yang patut ditelusuri dalam logika Hobbesian, yaitu “ketakutan.” Faktanya, setiap diskursus seperti nasionalisme, kewarganegaraan, dan semangat kesatuan justru memperlihatkan bahwa eksistensi Leviathan dalam posisi tidak aman. Suatu kontradiksi yang dapat dikatakan berlebihan, namun memberikan pemahaman bahwa pemberi keamanan, justru merasakan tidak aman dan ketakutan. Ia bukan berposisi pada ketakutan para lupus, namun lebih kepada eksistensi Leviathan dalam menjaga keuntungan ekonomi dan kekuasaannya.
Jailolo, 17 Agustus 2021
1,457 total views, 2 views today

![KRISIS IDENTITAS SAKAI [1]](https://www.arthuur-jmaya-research.com/wp-content/uploads/2021/08/large-suku-sakai-ilustrasi-penduduk-pedalaman-tnbukkitduabelas-id-42b55232233f4951cae81f79a-75x75.jpg)
Great article! I appreciate the clear and insightful perspective you’ve shared. It’s fascinating to see how this topic is developing. For those interested in diving deeper, I found an excellent resource that expands on these ideas: check it out here. Looking forward to hearing others’ thoughts and continuing the discussion!
Thank you, Samanthat. I’m glad you found the article insightful. Indeed, the evolution of this topic continues to reveal how subtle mechanisms of power construct our understanding of order and resistance. I’ll definitely look into the resource you mentioned — discussions like this help expand the dialogue beyond the text itself.
This article provided a lot of valuable information. The author’s perspective was both refreshing and enlightening. It would be interesting to hear how others feel about these points. Any thoughts?
Thank you
This article had me hooked! For further reading, check out: DISCOVER MORE. What are your thoughts?
Thank you, Sarat. I really appreciate your engagement with this topic. The idea behind this article is to invite readers to rethink how micro–relations of power shape the grand narratives of modern political structures. “Discovering more,” as you said, is precisely the path of uncovering how power operates not only through domination, but through everyday normalization. I’d love to hear your thoughts on how this might apply to global politics today.
artikelnya ngejelasin bagaimana pemahaman tentang ‘ada’ dlm hubungan internasional berkembang dari klasik sampai postmodern. Saya setuju bahwa postmodernisme membuka cara pandang baru yang kritis, tapi kelemahannya ia sering kurang memberi solusi praktis. Mungkin tantangannya adalah bagaimana memadukan kedalaman analisis postmodern dengan kebutuhan kebijakan nyata.”
Keren
Artikel ini mengkritik konsep kekuasaan Leviathan yang seharusnya melindungi rakyat, tapi malah menindas dan mengambil keuntungan dari mereka. Ini menunjukkan bagaimana kekuasaan mempertahankan dirinya dengan menciptakan rasa takut dan ketidakamanan.
Artikel ini membahas bagaimana Leviathan yang seharusnya menjadi pelindung bagi para lupus berubah menjadi penindas. Sama seperti para pemimpin bangsa yang memanfaatkan kekuasaannya sebagai sarana untuk mencari keuntungan pribadi.
Leviathan yang harusnya menjadi pelindung dan pembawa kedamaian berubah menjadi penindas bagi para lupus. Sama seperti para pemimpin yang berbalik menyerang masyarakat dengan berbagai peraturan yang membuat masyarakat menderita. Leviathan bisa menjadi pelindung dan pembawa kedamaian namun ia juga bisa menjadi pembawa kesulitan dan bahaya bagi para lupus.
Artikel ini menjelaskan lebih dalam mengenai Leviathan, dimana lupus yang merasakan ketidakamanan membutuhkan sosok pelindung yang dapat membebaskan mereka dari penindasan. Para lupus memberikan kontrol sepenuhnya kepada Leviathan demi melindungi diri dari serangan serigala lain. Namun, seiring berjalannya waktu Leviathan mulai menindas para lupus yang telah membayarnya. Hal ini mencerminkan beberapa pemimpin yang mengkhianati para rakyat yang telah mempercayakan hidup mereka dalam pemerintahan yang dibentuk demi kepentingan pribadi.
Artikel ini menunjukkan pemikiran yang mendalam tentang kekuasaan dan rasa aman, tetapi cenderung melihat sisi negatif Leviathan. Harus ada keseimbangan pandangan bahwa kekuasaan tidak selalu bersifat menindas, melainkan juga dapat menjadi sarana menjaga keberlangsungan hidup bersama para lupus.
Artikel ini membawa saya kepada sejarah Leviathan yang di mana seharusnya ia tidak mengambil keuntungan sendiri untuk keberlangsungan hidupnya, sedangkan para lupus dibiarkan begitu saja untuk bertahan hidup dengan sendirinya. Padahal di sini sudah jelas bahwa kekuasaan Leviathan ada untuk menjamin keamanan dan kemerdekaan bagi para lupus. Tetapi ternyata miris adanya Leviathan malah menindas para lupus hanya untuk kepentingannya sendiri. Dan mereka malah seolah-olah membuat dirinya sebagai Tuhan dan penguasa bagi para lupus. Karena yang seharusnya terjadi adalah “dari lupus, oleh lupus, dan untuk lupus,” ini malah sebaliknya, “dari lupus, oleh lupus, dan untuk Leviathan.” Dan itu bukan yang seharusnya terjadi.
Sangat menarik, menggabungkan gagasan Hobbes tentang Leviathan sebagai selimut keamanan bagi kita manusia yang serupa serigala dengan pandangan Foucault tentang kekuatan mikro yang licik yang membuat kita merasa tidak aman agar tetap berada di bawah kendali. Ini merupakan pengingat tajam bahwa apa yang kita serahkan untuk perlindungan seringkali hanya menguntungkan pihak berkuasa, mulai dari raja-raja kuno hingga pemimpin-pemimpin saat ini.
artikel ini berhasil menawarkan kritik radikal dan bernas terhadap teori kedaulatan dalam HI. Penulis menggunakan terminologi yang kuat dan kerangka Foucault untuk mendemonstrasikan bahwa keamanan yang dijanjikan oleh negara adalah mitos yang dilembagakan untuk mempertahankan kekuasaan dan keuntungan ekonomi.
Kekuatan artikel ini terletak pada kemampuannya untuk “membongkar” (dekonstruksi) ide tentang Negara sebagai entitas yang secara intrinsik baik. Namun, kelemahannya terletak pada sifat kritiknya yang sangat abstrak dan teoritis. Meskipun artikel menunjukkan masalahnya, ia tidak menawarkan kerangka kerja atau mekanisme yang jelas mengenai bagaimana lupus dapat mengklaim kembali kedaulatan atau membangun keamanan yang tidak didasarkan pada diskursus ketakutan yang menguntungkan Leviathan. Bisa disingkat, bahwa artikel ini sangat membantu pembaca untuk memahami makna dari sebuah Leviathan dan lupus.
Keren
Artikel ini secara kritis menyoroti paradoks kekuasaan Leviathan yang seharusnya menjadi pelindung justru berubah menjadi penindas bagi para lupus. Isi artikel ini berhasil menggambarkan bagaimana rasa takut dijadikan alat untuk mempertahankan kekuasaan dan kepentingan ekonomi politik sang Leviathan. Namun, analisis ini masih bisa diperdalam dengan menambahkan bukti empiris atau contoh konkret di era modern agar argumen tentang “ketakutan Leviathan” tidak hanya bersifat filosofis, tetapi juga relevan dengan realitas sosial-politik masa kini.
Keren
Leviathan dan kekuasaan mikro adalah gambar realitas masyarakat modern yang kompleks. Dalam penerapannya, Negara tetap hadir sebagai kekuatan sentral melalui hukum dan kebijakan, namun sekaligus menyusup ke kehidupan sehari-hari kita melalui pengawasan digital dan normalisasi perilaku. Kombinasi inilah yang membuat kekuasaan kontemporer begitu efektif – kita merasa otonom, padahal terus dibentuk oleh pertemuan antara tekanan struktural dari atas dan disiplin mikro dari segala penjuru kehidupan.
Saya juga merasa artikel ini terlalu deterministik. Pembahasan tentang bagaimana negara membentuk kita melalui teknologi digital dan birokrasi terasa sangat satu arah, seakan-akan kita sebagai individu tidak punya daya untuk melawan. Padahal dalam keseharian, kita melihat banyak bentuk perlawanan kreatif terhadap pengawasan dan kontrol. Kurangnya pembahasan tentang ruang untuk agency atau perlawanan ini membuat analisisnya terasa tidak seimbang dan cenderung pesimistis.
Keren
Artikel ini membahas konsep Leviathan dengan berbagai penyimpangannya yang relevan dengan saat ini. Meski Michael Hobbes sudah lama menggunakan istilah ini, tetapi masih mencerminkan peran seharusnya yang dilaksanakan oleh suatu negara yaitu menyediakan rasa aman bagi lupus (rakyat) namun pada kenyataannya tidak demikian. Seharusnya negara-negara di dunia saat ini merefleksikan kembali semua penyimpangan yang telah dilakukan dan melakukan perbaikan.
Keren
Dengan pendekatan Faucauldian, dalam artikel ini penulis menyoroti kontradiksi antara tujuan awal kedaulatan sebagai penjamin keamanan dengan realitas kekuasaan yang justru menindas rakyatnya. Gagasan tentang “mikro-kekuasaan” dan bagaimana Leviathan mempertahankan lewwat rasa takut dan wacana seperti nasionalisme dan kesatuan juga disampaikan cukup tajam.
Artikel ini menawarkan analisis tajam terhadap paradoks Leviathan yang menjanjikan keamanan, namun justru memproduksi ketakutan sebagai alat legitimasi kekuasaan. Disini Bg Arthuur menunjukkan bagaimana wacana keamanan berubah menjadi instrumen kontrol sosial dan ekonomi. Refleksi ini memperlihatkan bahwa kekuasaan tidak hanya bersifat represif, tetapi juga manipulatif melalui diskursus yang menormalisasi ketidakamanan. Secara kritis, artikel ini menantang pembaca untuk mempertanyakan ulang makna “keamanan” dalam konteks kedaulatan modern.
Artikel ini menyoroti ambivalensi peran Leviathan sebagai simbol kekuasaan: meskipun seharusnya menjadi pelindung dan penjamin kedamaian bagi masyarakat, Leviathan dapat berubah menjadi instrumen penindasan ketika kekuasaan disalahgunakan. Fenomena ini mencerminkan realitas politik di mana pemimpin atau institusi negara, alih-alih melindungi kepentingan publik, kadang memanfaatkan otoritas untuk keuntungan pribadi, sehingga menciptakan kebijakan atau aturan yang menekan dan merugikan masyarakat. Dengan demikian, Leviathan sekaligus menjadi representasi dari potensi kekuasaan untuk melindungi dan membahayakan, tergantung pada niat dan mekanisme kontrol yang berlaku.
Artikel ini menunjukkan pemahaman yang kuat atas relasi antara Leviathan Hobbes dan konsep mikro-kekuasaan Foucault, khususnya dalam menjelaskan bagaimana wacana keamanan bekerja membentuk rasa takut sekaligus rasa aman pada lupus. Penggunaan metafora homo homini lupus membantu memperjelas bagaimana keamanan diproduksi sebagai kebutuhan kolektif yang kemudian melegitimasi keberlangsungan Leviathan. Secara keseluruhan, tulisan ini berhasil membaca Leviathan bukan hanya sebagai simbol kedaulatan, tetapi sebagai praktik diskursif yang hidup dan terus direproduksi dalam relasi kuasa sehari-hari.
Dari artikel ini kita dapat melihat bagaimana “ketakutan” menjadi sebuah motor penggerak suatu diskursus yang pada akhirnya memengaruhi aktor ataupun subjek. Konsep leviathan yang lahir dari ketakutan para lupus, akhirnya hidup juga dalam ketakutannya sendiri atas ketiadaan atau ketidakcapaiannya akan konsep leviathan itu sendiri.
Artikel ini memperkaya wacana filsafat politik dengan membuka perspektif baru tentang relasi kuasa, negara, dan subjek melalui dialog lintas paradigma yang tajam dan relevan, serta disusun secara sistematis dan reflektif akademik kontemporer.