Simbol yang Mengawasi Kekuasaan
Dalam mitologi Cina, Xiezhi (獬豸) adalah makhluk bertanduk satu yang dipercaya mampu membedakan kebenaran dari kebohongan. Ia menyerang yang bersalah dan melindungi yang benar, menjadi penjaga moral yang berani menentang kekuasaan. Pada masa kekaisaran, lambang Xiezhi disulam di jubah pejabat censorate sebagai tanda keberanian moral untuk menegur kaisar. Ia adalah wujud kekuasaan yang bersumber dari kebajikan, bukan ketakutan.
Dalam politik luar negeri modern, roh Xiezhi tidak menghilang. Ia hidup dalam cara Cina menampilkan diri di dunia: bukan sebagai penakluk, melainkan penjaga keadilan global. Pemerintahnya berulang kali menegaskan posisi moralnya — berpihak pada kebenaran, menolak politik kekuatan, dan mempromosikan harmoni internasional. Retorika seperti fairness and justice dan a community with a shared future for mankind menjadi wajah baru dari kekuasaan moral yang mengatur tanpa tampak memaksa.
Pierre Bourdieu menyebut bentuk kuasa seperti ini sebagai symbolic power — kekuasaan yang tidak menaklukkan tubuh, melainkan membentuk kesadaran. Ia bekerja melalui pengakuan, bukan paksaan; melalui makna yang diterima sebagai kebenaran. Cina menguasai seni ini dengan sangat halus. Ketika ia berbicara tentang keadilan dan keharmonisan, ia sedang menanamkan tatanan berpikir yang membuat posisinya tampak alami dan tak terbantahkan.
Sejak 2013 hingga 2025, inisiatif Belt and Road melibatkan lebih dari 150 negara dengan total investasi yang melebihi satu triliun dolar. Namun lebih penting dari angkanya adalah bagaimana proyek ini dihadirkan: bukan sebagai ekspansi, tetapi sebagai jalan moral menuju kesejahteraan bersama. Dalam dunia Xiezhi, pembangunan menjadi bahasa baru keadilan — bukan karena membagi kekayaan, tetapi karena menanamkan keyakinan bahwa harmoni adalah bentuk tertinggi dari kebenaran.
Genealogi Kuasa: Dari Hukum Langit ke Diplomasi Moral
Xiezhi dalam tradisi klasik adalah perwujudan hukum surgawi — penjaga agar tatanan manusia tetap seimbang dengan langit. Ia hadir di antara kaisar dan rakyat, mengingatkan bahwa kekuasaan tanpa kebajikan akan kehilangan legitimasi ilahinya. Gambaran ini menemukan bentuknya kembali dalam politik luar negeri Cina, di mana kekuasaan moral menjadi sumber legitimasi utama.
Melalui Global Security Initiative, Cina memperkenalkan konsep keamanan yang menolak logika blok, menekankan penyelesaian akar konflik, dan menolak intervensi sepihak. Pandangan ini menegaskan bahwa stabilitas dunia tidak dapat dibangun melalui dominasi, tetapi melalui keseimbangan moral di antara bangsa-bangsa. Dalam hal ini, Xiezhi menjelma menjadi etika diplomasi, menjadi dasar bagi kekuasaan yang terlihat lunak, tetapi sejatinya mengatur melalui norma.
Michel Foucault menjelaskan bahwa kuasa selalu bekerja melalui produksi kebenaran. Diplomasi Cina mengikuti logika ini: ia tidak memaksa, tetapi membentuk keyakinan bahwa posisinya adalah yang paling rasional dan adil. Kuasa yang tampak sebagai moralitas ini adalah bentuk pastoral power modern, di mana negara bertindak layaknya gembala yang menuntun dunia menuju harmoni.
Richard Ashley menafsirkan diplomasi semacam itu sebagai ritual identitas — cara negara menulis dirinya di dalam jaringan simbolik dunia. Cina, dalam citra Xiezhi, menampilkan diri sebagai penjaga kebenaran universal. Ia tidak sekadar bernegosiasi, tetapi mengatur makna keadilan melalui bahasa moral yang tak terbantahkan. Dalam struktur seperti ini, kuasa berubah menjadi kepercayaan, dan kepercayaan menjadi bentuk tertinggi dari penguasaan.
Rezim Kebenaran: Keadilan sebagai Bahasa Diplomasi
Xiezhi adalah lambang kebenaran yang berbicara melalui keberanian moral. Dalam politik global, Cina meminjam keberanian itu untuk menata wacana baru tentang keadilan. Diplomasi moralnya mengatur siapa yang berhak berbicara atas nama kebenaran dan bagaimana kebenaran itu didefinisikan.
Bahasa diplomatik Cina selalu konsisten: mutual respect, win-win cooperation, non-interference. Semua istilah ini membentuk tatanan makna di mana keadilan tampil sebagai hasil kebijakan, bukan ide abstrak. Program pembangunan global, dari proyek infrastruktur hingga pinjaman lunak, menjadi alat performatif untuk mewujudkan moralitas. Nilai investasi yang terus meningkat — ratusan miliar dolar setiap tahun — memperkuat gambaran Cina sebagai penjamin kesejahteraan dunia.
Jean Baudrillard melihat fenomena seperti ini sebagai penciptaan simulacrum — dunia tanda yang menggantikan realitas. Keadilan versi Cina tidak hanya dipraktikkan, tetapi juga dipentaskan. Dunia menyaksikan moralitas yang direproduksi sebagai citra; kebenaran yang hidup dalam bentuk representasi. Dalam citra itu, Cina menjadi pusat moral yang tak perlu mendominasi dengan senjata, karena ia telah menaklukkan makna.
Dalam praktiknya, keadilan yang ditampilkan ini menemukan dukungan faktual. Cina kini menjadi mitra utama di Afrika, Amerika Latin, dan Asia Tengah dengan skema pembangunan yang diklaim “berbasis kesetaraan.” Namun, seperti Xiezhi yang bisa menanduk siapa pun yang salah, Cina tetap memegang kendali atas tafsir kata “adil.” Jacques Derrida menilai bahwa keadilan semacam itu selalu bersifat à venir — belum pernah hadir sepenuhnya, selalu ditunda. Ia adalah janji moral yang terus diperbaharui agar kekuasaan tetap sah. Dengan cara ini, Cina menghidupkan Xiezhi dalam bentuk paling halus: makhluk yang menjaga agar keadilan tidak pernah berhenti dibicarakan.
Arketipe Jiwa: Xiezhi dan Penebusan Sejarah
Dalam mitosnya, Xiezhi tidak hanya menegakkan keadilan, tetapi juga memulihkan keseimbangan setelah ketidakharmonisan. Dalam kesadaran kolektif Cina, ia melambangkan upaya menebus masa lalu — penderitaan akibat kolonialisme dan penghinaan yang berlangsung selama berabad-abad. Diplomasi yang dijalankan Cina hari ini memantulkan dorongan batin itu: bukan sekadar tampil sebagai kekuatan dunia, melainkan sebagai bangsa yang telah memaafkan, namun tidak melupakan.
Peran Cina dalam memediasi rekonsiliasi antara Iran dan Arab Saudi menjadi cermin nyata dari arketipe tersebut. Ia tidak hadir sebagai wasit, tetapi sebagai penjaga harmoni, menegakkan keadilan bukan dengan sanksi, melainkan dengan keseimbangan. Xiezhi tampak dalam tindakan ini, menjaga agar kebenaran tidak lahir dari kekerasan, melainkan dari kebijaksanaan.
Carl Jung akan menyebutnya sebagai proses individuasi kolektif — penyatuan antara bayangan masa lalu dan kesadaran moral baru. Dalam tindakan diplomatiknya, Cina berusaha menyembuhkan dunia sambil menyembuhkan dirinya sendiri. Foucault mungkin akan mengatakan bahwa di sini kuasa berubah menjadi terapi; pemerintah yang dulu tunduk kini menjadi dokter bagi sistem dunia.
Cina juga menegaskan posisinya melalui peran aktif dalam misi penjaga perdamaian PBB. Dengan menyumbang hampir seperlima dari total anggaran, negara ini menampilkan moralitas yang konkret: keadilan tidak hanya diucapkan, tetapi dijalankan. Derrida menambahkan bahwa setiap tindakan moral selalu menyisakan jejak — trace — yang menunjukkan kerinduan manusia terhadap yang adil. Xiezhi, dalam konteks ini, adalah jejak itu sendiri: tanda bahwa dunia masih percaya pada keadilan, meski tahu bahwa keadilan selalu lahir dari kuasa.
Sakralitas dan Mandat Dunia: Dari Langit ke Global Order
Dalam mitologi kuno, Xiezhi adalah manifestasi dari hukum surgawi — penjaga tatanan kosmos agar dunia tidak jatuh ke dalam kekacauan. Dalam dunia modern, peran itu dihidupkan kembali oleh Cina sebagai bentuk tanggung jawab global. Ia menjadi penghubung antara ekonomi, diplomasi, dan moralitas yang menyatu dalam satu panggilan: menjaga keseimbangan dunia.
Melalui lembaga seperti AIIB, Cina membangun arsitektur finansial baru yang menekankan pembangunan berkelanjutan dan kesetaraan. Dengan lebih dari seratus anggota, lembaga ini memperluas pengaruh Cina tanpa mengancam kedaulatan pihak lain. Dalam pandangan Bourdieu, tindakan semacam ini menciptakan modal simbolik — kekuasaan yang diperoleh dari pengakuan moral. Cina tidak perlu memaksa untuk memimpin; dunia sendiri yang memberinya posisi itu karena percaya pada kebenarannya.
Baudrillard akan menilai hal ini sebagai bentuk panggung global: keadilan yang disajikan sebagai tontonan universal. Namun, seperti setiap simbol suci, Xiezhi hanya kuat selama ia diyakini. Cina tahu hal itu. Karena itu, setiap proyek, pidato, dan forum internasional selalu diwarnai oleh nada etis — bahasa yang menegaskan bahwa politik adalah tanggung jawab moral.
James Der Derian melihat ini sebagai etika representasi: diplomasi bukan lagi negosiasi kepentingan, melainkan seni memelihara citra. Dalam konteks ini, Xiezhi tidak hanya menjaga keadilan, tetapi juga menjaga keindahan dari ide keadilan itu sendiri. Ia memastikan agar dunia terus percaya bahwa moralitas masih mungkin ada di antara kepentingan.
Xiezhi di Era Global
Xiezhi adalah simbol yang mengikat antara mitos dan realitas, antara sejarah dan kekuasaan. Dalam dirinya, diplomasi, ekonomi, dan moralitas saling menyatu menjadi bentuk kuasa yang tidak menaklukkan dengan kekuatan, melainkan dengan kebenaran yang disepakati bersama. Ia adalah cermin dari cara Cina menulis ulang posisinya di dunia — bukan lagi sebagai murid peradaban Barat, tetapi sebagai sumber moralitas baru.
Namun setiap moralitas memiliki bayangannya. Keadilan yang dijaga bisa berubah menjadi legitimasi bagi kekuasaan baru. Derrida mengingatkan bahwa tidak ada kebenaran yang murni; setiap klaim moral selalu mengandung jejak strategi. Dalam konteks ini, Cina menjadi kekuatan yang menegakkan keadilan sekaligus menentukan bentuknya. Ia menciptakan dunia yang tampak damai, tetapi di bawahnya berdenyut kalkulasi yang cermat.
Bourdieu menyebut kondisi ini sebagai bentuk tertinggi dari kekuasaan simbolik — saat kuasa tidak lagi tampak sebagai kuasa, melainkan diterima sebagai kebenaran. Xiezhi berdiri di ambang itu: antara roh dan strategi, antara iman dan diplomasi. Ia bukan hanya mitos, tetapi metode; bukan hanya legenda, tetapi logika kekuasaan yang hidup di abad modern.
Dalam setiap senyap forum internasional, dalam setiap pidato tentang harmoni dunia, Xiezhi masih berdiri di balik layar: makhluk bijak yang menatap para pemimpin dengan tanduknya yang tenang — mengingatkan bahwa kekuasaan sejati hanya milik mereka yang berani memikul kebenaran.
180 total views, 4 views today

