• American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
Arthuur Research
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English
No Result
View All Result
Arthuur Research
No Result
View All Result

Ketika Dampak Lebih Berbicara daripada Motif: Amerika Serikat, Trump, dan Respons Sosial Venezuela

Amerika Serikat sebagai Subjek Berdaulat: Reposisi Struktural Kebijakan Luar Negeri terhadap PBB dan Organ-Organ Internasional

Arthuur Jeverson Maya by Arthuur Jeverson Maya
Januari 8, 2026
in American Politics
28
Ketika Dampak Lebih Berbicara daripada Motif: Amerika Serikat, Trump, dan Respons Sosial Venezuela
0
SHARES
312
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterBagikan ke WhatsApp

Dalam perdebatan global mengenai Venezuela, tindakan Amerika Serikat di bawah kepemimpinan Donald Trump kerap direduksi menjadi persoalan kepentingan minyak dan kalkulasi geopolitik klasik. Reduksi ini, sebagaimana dikritik oleh Francisco Rodríguez, menyederhanakan krisis Venezuela dengan mengabaikan fakta bahwa kehancuran negara tersebut berakar pada kegagalan kebijakan ekonomi, erosi institusi, dan konsolidasi kekuasaan yang menutup ruang koreksi internal (Rodríguez 2018). Karena itu, analisis yang berfokus pada motif eksternal semata kehilangan daya jelaskannya terhadap bagaimana tindakan tersebut dimaknai oleh masyarakat Venezuela sebagai subjek utama krisis.

Secara demografis, skala krisis Venezuela tampak jelas pada komposisi penduduk di dalam dan di luar negeri. Pada 2025, populasi Venezuela diperkirakan berada di kisaran 28,5 juta jiwa, sementara hampir 7,7 juta warga hidup sebagai pengungsi dan migran di luar negeri (UNHCR 2025; Worldometer 2025). Michael Penfold menegaskan bahwa migrasi dalam skala ini merupakan indikator runtuhnya kontrak sosial, karena warga memilih keluar ketika negara tidak lagi mampu menjamin keamanan ekonomi dan politik dasar (Penfold 2020). Dengan hampir satu dari empat warga hidup di luar negeri, krisis Venezuela bersifat struktural dan menyentuh fondasi negara.

Keruntuhan tersebut diperparah oleh disintegrasi ekonomi. Episode hiperinflasi 2018 yang mencapai lebih dari satu juta persen menghancurkan daya beli dan meniadakan fungsi uang dalam kehidupan sehari-hari (IMF 2019). Ricardo Hausmann bersama Rodríguez menilai kondisi ini sebagai gejala runtuhnya tata kelola ekonomi dan kapasitas negara, bukan sekadar kegagalan moneter teknis (Hausmann dan Rodríguez 2014). Dampaknya langsung tercermin pada kesejahteraan dasar. Survei ENCOVI mencatat lebih dari 70 persen rumah tangga mengalami ketidakamanan pangan, sementara Luis Pedro España menekankan bahwa krisis ini bersifat kronis dan lintas kelas sosial (ENCOVI 2022; España 2022). World Food Programme memperkirakan sekitar 40 persen populasi berada dalam kondisi kerawanan pangan moderat hingga berat (WFP 2025). Susana Raffalli memperingatkan bahwa kekurangan gizi kronis akan meninggalkan dampak antargenerasi bahkan jika pemulihan ekonomi terjadi (Raffalli 2020). Di sektor kesehatan, Paul Spiegel mengkategorikan situasi Venezuela sebagai complex humanitarian emergency, kondisi yang lazim ditemukan di wilayah konflik bersenjata meskipun negara tersebut secara formal tidak berada dalam perang (Spiegel et al. 2019; PAHO 2021).

Kerangka krisis struktural ini menjadi latar ketika Amerika Serikat mengeksekusi langkah penegakan hukum dan keamanan terhadap Nicolás Maduro atas dasar dakwaan narkoterorisme dan konspirasi perdagangan narkotika lintas negara yang dibangun sejak 2020 dan diperluas pada akhir 2025 (US DOJ 2020; US DOJ 2025). Dalam wacana publik, operasi ini kerap dikaitkan dengan keterlibatan satuan operasi khusus Amerika Serikat di bawah Joint Special Operations Command, khususnya Delta Force dan SEAL Team 6. Secara ilmiah, penyebutan unit-unit ini tidak dimaksudkan untuk mengonfirmasi detail operasional yang bersifat tertutup, melainkan untuk membaca kapasitas negara Amerika Serikat dalam melakukan intervensi presisi tingkat tinggi terhadap target yang dipersepsikan sebagai ancaman strategis dalam kerangka pemberantasan narkoterorisme (Feickert 2023; Cronin 2020).

Delta Force dan SEAL Team 6 diklasifikasikan sebagai special mission units dengan mandat sangat selektif. Literatur keamanan menunjukkan bahwa Delta Force unggul dalam fleksibilitas lintas medan, infiltrasi senyap, dan integrasi mendalam dengan jaringan intelijen strategis, sementara SEAL Team 6 dikenal karena spesialisasi operasi maritim, urban raid, dan penangkapan target bernilai tinggi dalam konteks antiterorisme dan kejahatan transnasional (Urban 2015; Naylor 2015). Dalam kajian keamanan internasional, kombinasi kemampuan ini dipahami sebagai instrumen negara untuk menembus zone of impunity, yakni ruang kekuasaan yang selama ini dianggap kebal oleh aktor negara maupun non-negara (Cronin 2019). Keunggulan tersebut bersifat taktis sekaligus simbolik, karena menandai pengerahan kapasitas tertinggi negara adidaya.

Efek simbolik ini beresonansi kuat di tingkat masyarakat Venezuela dan diaspora. Di dalam negeri, laporan media dan dokumentasi visual menunjukkan perayaan spontan di kota-kota besar seperti Caracas dan Maracaibo, dengan warga turun ke jalan, mengibarkan bendera nasional, membunyikan klakson, dan menggelar pesta jalanan pada malam hari (Reuters 2026; AP 2026). Di luar negeri, respons serupa muncul di pusat-pusat diaspora utama. Komunitas Venezuela di Kolombia yang berjumlah lebih dari 2,8 juta orang, di Peru sekitar 860 ribu, di Chile dan Ekuador masing-masing sekitar 370 ribu, di Brasil lebih dari 250 ribu, serta ratusan ribu lainnya di Amerika Serikat dan Spanyol, mengekspresikan perayaan dan solidaritas publik. Di Doral, Florida, yang kerap disebut Doralzuela, pesta jalanan dan demonstrasi simbolik memaknai peristiwa ini sebagai titik balik politik (Financial Times 2026).

Yang penting ditegaskan secara analitis adalah bahwa respons tersebut tidak berhenti pada kelegaan, tetapi berkembang menjadi penerimaan dan ungkapan terima kasih kepada Trump atas penggulingan rezim Maduro. Di dalam negeri, sebagian warga mengaitkan berakhirnya rezim dengan konsistensi tekanan Washington, sehingga Trump dipersepsikan sebagai aktor yang berkontribusi langsung pada pembukaan kemungkinan hidup baru (Reuters 2026; AP 2026). Di diaspora, ekspresi ini lebih artikulatif. María Fernanda Rivas, anggota diaspora di Florida, menyatakan bahwa tindakan Trump “mematahkan rasa takut yang selama ini dipaksakan negara dan mengembalikan harapan akan keadilan” (Financial Times 2026). Di Bogotá, Carlos Méndez menilai penggulingan Maduro sebagai perubahan status penderitaan Venezuela dari krisis domestik menjadi persoalan keadilan internasional (Reuters 2026). Ungkapan-ungkapan ini menunjukkan pergeseran persepsi publik dari geopolitik menuju keadilan simbolik.

Secara teoretis, Javier Corrales menjelaskan bahwa dalam rezim otoritarian yang mapan, figur pemimpin berfungsi sebagai simbol pemusatan kegagalan negara. Ketika simbol itu runtuh melalui mekanisme yang diasosiasikan dengan kapasitas tertinggi kekuasaan eksternal, masyarakat kerap merespons dengan pelepasan psikologis kolektif bahkan sebelum perubahan kebijakan terinstitusionalisasi (Corrales 2023). Kerangka ini sejalan dengan analisis Steven Levitsky dan Lucan Way yang mengkategorikan Venezuela sebagai kasus blocked transition, di mana perubahan internal tersumbat sehingga guncangan eksternal dapat berfungsi sebagai pemicu awal transisi politik (Levitsky dan Way 2020).

Sebagai penutup, perlu ditegaskan kembali bahwa sekalipun tindakan Amerika Serikat terhadap Venezuela tidak dapat sepenuhnya dilepaskan dari kalkulasi strategis dan kemungkinan motif sumber daya, dimensi tersebut tidak dengan sendirinya meniadakan makna sosial dari peristiwa yang terjadi. Dalam analisis politik internasional, motif negara sering kali bersifat jamak dan tumpang tindih, namun ukuran paling konkret dari signifikansi sebuah tindakan justru terletak pada dampaknya terhadap kehidupan masyarakat yang terdampak langsung. Dalam kasus Venezuela, fakta bahwa rakyat, baik di dalam negeri maupun di diaspora merespons kejatuhan rezim dengan rasa lega, perayaan, dan kebahagiaan kolektif menunjukkan bahwa peristiwa ini dimaknai sebagai pembebasan dari penderitaan struktural yang berkepanjangan. Dengan demikian, di atas perdebatan tentang kepentingan minyak atau strategi geopolitik, terdapat realitas sosial yang tidak dapat diabaikan: kebahagiaan rakyat Venezuela menjadi indikator paling jujur bahwa perubahan tersebut dipersepsikan sebagai akhir dari satu rezim penindasan dan awal dari kemungkinan hidup yang lebih layak.

 632 total views,  4 views today

Previous Post

Krisis Venezuela: Kebijakan Luar Negeri Amerika Serikat dan Pengosongan Kedaulatan Negara

Next Post

Amerika Serikat sebagai Subjek Berdaulat: Reposisi Struktural Kebijakan Luar Negeri terhadap PBB dan Organ-Organ Internasional

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya

Arthuur Jeverson Maya adalah dosen dan penulis yang berfokus pada American Politics dan Chinese Politics dalam konteks kekuasaan global dan transformasi tatanan internasional. Kajian tersebut dilihat dalam perspektif postmodernisme dan genealogi kekuasaan, yang memahami politik internasional sebagai ruang produksi diskursus, identitas, dan legitimasi kekuasaan melalui institusi dan narasi sejarah.

Next Post

Amerika Serikat sebagai Subjek Berdaulat: Reposisi Struktural Kebijakan Luar Negeri terhadap PBB dan Organ-Organ Internasional

Comments 28

  1. elsa veromi gabriela (2570750053) says:
    4 bulan ago

    sejauh ini saat saya mengikuti isu baru yang menggemparkan publik ini menangkap point utama nya yaitu minyak adalah inti konflik ini. Venezuela memiliki cadangan minyak terbesar di dunia, dan AS telah lama tertarik pada minyaknya nah baik secara ekonomi maupun geopolitik.selain presiden venezuela yang menjadi tersangka narkoterorisme secara penangkapan ini negara amerika pasti mencari titik kelemahan negara venezuela lalu mereka akan mendapatkan keuntungan dengan mengambil alih kekuasaan minyak di negara venezuela karena mereka memanfaatkan kerjasama di masa lampau yang menyebabkan terjadinya inflasi luar negeri atau yang menurut corrales bahwa di mana perubahan internal tersumbat sehingga guncangan eksternal dapat berfungsi sebagai pemicu awal transisi politik. dan betul sekali saya setuju dengan pernyataan di atas bahwa inflasi yang terjadi sekarang ini sangat terlihat jamak dan tumpang tindih.

    Balas
  2. Nadine Batubara says:
    4 bulan ago

    Menurut saya pribadi artikel ini secara bijak mengalihkan fokus dari sekadar persaingan kekuasaan menuju aspek kemanusiaan. Disini penulis menekankan bahwa bagi rakyat yang menderita akibat adanya keruntuhan institusi, intervensi eksternal bukan lagi dipandang sebagai pelanggaran kedaulatan, melainkan sebagai harapan akan adanya keadilan dan juga akhir dari penderitaan.
    Pesan intinya sangat sederhana namun mendalam: indikator paling jujur dari sebuah perubahan politik adalah rasa lega dan kembalinya martabat rakyat, jauh melampaui kepentingan minyak atau teori geopolitik.

    Balas
  3. Nadine Batubara says:
    4 bulan ago

    menurut saya artikel ini secara tajam mengingatkan bahwa di balik perdebatan kedaulatan dan minyak, terdapat aspek kemanusiaan dan juga moral yang jauh lebih mendasar. Penulis berhasil membuktikan bahwa ketika institusi dalam negeri runtuh, intervensi eksternal tidak lagi dipandang sebagai ancaman politik, melainkan sebagai harapan akan keadilan.
    Pesan bijak yang dapat dipetik adalah: indikator kesuksesan sebuah perubahan politik yang paling jujur bukanlah pada teori-teori hubungan internasional, melainkan pada rasa lega dan martabat yang kembali dirasakan oleh rakyatnya.

    Balas
  4. Nadine Batubara says:
    4 bulan ago

    menurut saya pribadi artikel ini secara tajam mengingatkan bahwa di balik perdebatan kedaulatan dan minyak, terdapat aspek kemanusiaan serta moral yang jauh lebih mendasar. Disini penulis berhasil membuktikan bahwa ketika institusi dalam negeri runtuh, intervensi eksternal tidak lagi dipandang sebagai ancaman politik, melainkan sebagai harapan akan keadilan.
    Pesan bijak yang dapat dipetik adalah: indikator kesuksesan sebuah perubahan politik yang paling jujur bukanlah pada teori-teori hubungan internasional, melainkan pada rasa lega dan martabat yang kembali dirasakan oleh rakyatnya.

    Balas
  5. Messyka Mutiara says:
    4 bulan ago

    Jika dilihat secara detail, kebahagiaan publik tidak langsung menandakan keadilan struktural, melainkan intervensi eksternal berisiko menggantikan rezim otoriter dengan ketergantungan geopolitik baru.

    Balas
  6. Nadine Batubara says:
    4 bulan ago

    menurut saya pribadi artikel diatas merupakan analisis yang sangat mendalam karena mampu menyeimbangkan sudut pandang geopolitik dengan kemanusiaan. Disini penulis dengan bijak mengingatkan bahwa di balik perdebatan serta isu tentang kepentingan minyak atau strategi Amerika Serikat, terdapat realitas jutaan nyawa yang menderita akibat keruntuhan institusi domestik.
    Poin yang paling berharga dalam tulisan ini adalah pengakuan terhadap “keadilan simbolik”. Bagi rakyat yang terjebak dalam krisis struktural, perubahan yang dipicu oleh kekuatan eksternal tidak dilihat sebagai pelanggaran kedaulatan, melainkan sebagai pemulihan harapan yang telah lama hilang.
    Secara moral, artikel ini menegaskan bahwa indikator kebenaran sebuah tindakan politik yang paling nyata bukanlah teori hukum yang kaku, melainkan rasa aman dan kebahagiaan rakyat yang terdampak langsung. Ini adalah pengingat penting bahwa tujuan akhir dari politik internasional seharusnya adalah martabat manusia.

    Balas
  7. Manuel Carceres says:
    4 bulan ago

    Artikel ini secara kuat menunjukkan bahwa kebijakan Amerika Serikat terhadap Venezuela tidak dapat dipahami semata melalui motif geopolitik atau ekonomi eksternal. Dengan menekankan dampak sosial dan persepsi masyarakat Venezuela, penulis berhasil menggeser analisis dari negara sebagai aktor tunggal menuju masyarakat sebagai subjek krisis. Namun, artikel ini masih dapat diperdalam dengan membandingkan respons sosial Venezuela dengan kasus serupa di Amerika Latin guna memperkuat generalisasi analitisnya.

    Balas
  8. Ravenesia Claudia Tambunan says:
    4 bulan ago

    Artikel ini membuat pemahaman baru tentang Venezuela sebagai negara yang memiliki cadangan minyak yang cukuo besar. Dan artikel ini membantu saya memahami bagaimana kehancuran negara Venezuela berawal dari masalah internal bukan hanya kepentingan minyak oleh AS. meskipun begitu, menariknya untuk didiskusikan apakah krisis yang diakui benar-benar diperlakukan sebagai isu kemanusiaan, atau juga dimanfaatkan dalam logika geopolitik.

    Balas
  9. YOLANDA THERESA HAREFA says:
    4 bulan ago

    Artikel berjudul “Ketika Dampak Lebih Berbicara daripada Motif: Amerika Serikat, Trump, dan Respons Sosial Venezuela” ini benar-benar memberikan sudut pandang yang berbeda dan sangat relevan untuk memahami dinamika hubungan antarnegara serta dampaknya pada tingkat masyarakat. Biasa nya kita sering fokus pada “apa yang ingin dicapai” atau motif dibelakang kebijakan suatu negara terutama pas bicara tentang kebijakan luar negeri Amerika Serikat saat pemerintahan Trump. Tapi artikel ini berhasil menggeser fokusnya ke hal yang lebih nyata dan terasa oleh orang banyak, yaitu dampak yang muncul akibat kebijakan tersebut, terutama bagi rakyat Venezuela.
    Menurut saya, poin terkuat dari tulisan ini adalah bagaimana ia menghubungkan keputusan politik tingkat negara dengan respons sosial yang terjadi di tingkat masyarakat. Misalnya, ketika ada kebijakan ekonomi atau diplomatik tertentu yang dikeluarkan oleh AS, yang kita lihat bukan cuma angka atau pernyataan resmi belaka. Lebih dari itu, kita bisa melihat bagaimana rakyat Venezuela meresponnya mulai dari cara mereka beradaptasi dengan situasi ekonomi yang sulit, bagaimana komunitas mereka saling membantu satu sama lain, hingga bagaimana pandangan mereka terhadap hubungan antara negara mereka dengan Amerika Serikat berubah seiring waktu.
    Yang juga penting untuk di pahami adalah bagaimana artikel ini menunjukkan bahwa motif suatu kebijakan bisa saja dinyatakan dengan berbagai alasan (entah itu demi stabilitas regional, kepentingan ekonomi, atau faktor politik dalam negeri), tapi pada akhirnya yang akan menjadi dasar penilaian masyarakat adalah dampak nyata yang mereka rasakan sehari-hari. Bukan hanya tentang apakah motifnya “baik” atau “buruk”, tapi lebih ke bagaimana kebijakan tersebut memengaruhi akses mereka ke kebutuhan dasar, hubungan antarwarga negara, dan bahkan cara mereka melihat masa depan negara mereka.

    Saya rasa pendekatan seperti ini sangat penting untuk kita pahami, terutama di era di mana informasi politik seringkali dibuat jadi sangat kompleks dan kadang menyembunyikan hal yang paling esensial. Dengan fokus pada dampak dan respons sosial, kita bisa melihat lebih jelas bagaimana kekuasaan politik bekerja di tingkat yang paling mendasar dan bagaimana masyarakat bukan hanya sebagai objek dari kebijakan, tapi juga sebagai aktor yang punya peran penting dalam membentuk dinamika hubungan antarnegara tersebut.

    Balas
  10. Bintari Nadeak says:
    4 bulan ago

    Artikel ini berhasil menyoroti pergeseran fokus dari motif geopolitik Amerika Serikat ke dampak sosial yang dirasakan langsung oleh masyarakat Venezuela. Namun argumen tersebut masih menyisakan persoalan kritis. Dengan menjadikan respons publik sebagai tolok ukur legitimasi tindakan eksternal analisis ini berpotensi menyingkirkan problem kedaulatan negara dan normalisasi intervensi selektif dalam tatanan internasional. Kebahagiaan kolektif penting sebagai realitas sosial tetapi tidak serta-merta membenarkan cara perubahan itu terjadi melalui kekuatan koersif negara adidaya. Karena itu artikel ini akan lebih kuat bila juga mengkaji apakah pembebasan simbolik tersebut membuka jalan bagi transisi yang mandiri atau justru melahirkan ketergantungan struktural baru bagi Venezuela.

    Balas
  11. valentina lim says:
    4 bulan ago

    Artikel ini kuat dalam menekankan pergeseran fokus analisis dari motif geopolitik Amerika Serikat menuju dampak sosial yang dirasakan langsung oleh masyarakat Venezuela. Namun, secara kritis perlu dipertanyakan sejauh mana ekspresi kebahagiaan dan perayaan publik dapat dijadikan indikator legitimasi perubahan politik jangka panjang. Respons emosional kolektif, meskipun penting secara sosiologis, berisiko menutupi tantangan struktural pascarezim seperti rekonstruksi institusi, rekonsiliasi politik, dan kedaulatan nasional. Selain itu, artikel cenderung menerima narasi intervensi eksternal sebagai pemicu pembebasan tanpa cukup mengulas potensi konsekuensi normatif terhadap prinsip non-intervensi dan preseden bagi negara berkembang lainnya.

    Balas
  12. Trivena Ramba says:
    4 bulan ago

    Tidak hanya mencakup krisis Venezuela dari sidut pandang kepentingan AS saja, tetapi pengalaman nyata masyarakatnya juga diikutsertakan. Namun saya terpikirkan, apakah perayaan publik dan ungkapan terima kasih pada aktor eksternal dapat dijadikan sebagai acuan dalam legitimasi perubahan politik dalam jangka panjang? Menurut saya, perubahan seperti ini tetap harus diikuti pembenahan lagi sehingga krisis tidak terulang.

    Balas
  13. Maria Helena says:
    4 bulan ago

    Artikel ini membahas tentang jatuhnya rezim Nicolás Maduro di Venezuela dan bagaimana AS dibawah pimpinan Donald Trump yang mengambil tindakan penuh terhadap Venezuela. Meskipun banyak pengamat politik yang berdebat bahwa AS hanya mengincar kepentingan politik, tetapi masyarakat Venezuela memilki pandangan lain. Rakyat Venezuela tidak peduli apa motif AS (Trump), yang terpenting bagi mereka adalah dampak nyata, dan bagaimana mereka bisa keluar dari penderitaan.

    Balas
  14. Maria Helena says:
    4 bulan ago

    Artikel ini membahas tentang jatuhnya rezim Nicolás Maduro di Venezuela dan bagaimana AS dibawah pimpinan Donald Trump yang mengambil tindakan penuh terhadap Venezuela. Meskipun banyak pengamat politik yang berdebat bahwa AS hanya mengincar minyak dan kepentingan politik, tetapi masyarakat Venezuela memilki pandangan lain. Rakyat Venezuela tidak peduli apa motif AS (Trump), yang terpenting bagi mereka adalah dampak nyata, dan bagaimana mereka bisa keluar dari penderitaan.

    Balas
  15. Vioni Isidora says:
    4 bulan ago

    Artikel ini menjelaskan bahwa tindakan yang dilakukan oleh Trump sangat didukung oleh sebagian masyarakat Venezuela, sebagai rasa lega atas berbagai krisis internal (khususnya ekonomi) yang telah mereka alami. Namun perlu diperhatikan apakah tindakan Trump ini berdampak baik bagi masyarakat atau hanyalah bagian dari rencana Trump dalam kepentingan politiknya. Respons emosional masyarakat tidak otomatis menjadikan suatu tindakan benar secara hukum atau etis, karena apa yang dilakukan Trump tentunya melanggar hukum dalam sistem internasional.

    Balas
  16. Gabriel Marcello says:
    4 bulan ago

    Menurut saya, artikel ini berhasil menunjukkan bahwa dampak sosial dari kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap Venezuela tidak dapat dilepaskan dari cara masyarakat memaknainya sebagai pembebasan dari krisis struktural. Namun demikian, penekanan pada respons positif publik berisiko menyederhanakan persoalan legitimasi intervensi eksternal, karena persepsi masyarakat tidak selalu sejalan dengan prinsip kedaulatan dan hukum internasional. Oleh karena itu, analisis ini penting tetapi perlu diimbangi dengan refleksi kritis mengenai konsekuensi jangka panjang intervensi negara adidaya terhadap tatanan global.

    Balas
  17. PUTRI MICHELLE says:
    4 bulan ago

    Dapat dilihat bahwa masyarakat Venezuela menanggapi tindakan U.S secara positif, namun jika kita nlihat dari krisis struktural Venezuela yang ditandai kegagalan ekonomi, runtuhnya institusi, dan tertutupnya koreksi internal, perubahan ini terlalu mengandalkan euforia/respons positif publik dan mengabaikan risiko ketergantungan pada intervensi eksternal tanpa jaminan solusi berkelanjutan,jadi krisis berpotensi berulang dalam bentuk baru.

    Balas
  18. Davi angelo says:
    4 bulan ago

    Berdasarkan kesimpulan saya dalam membava artikel ini menjelaskan tentang kebijakan dan respond dimana kebijakan yang di buat oleh donald trump yang kita ketahui pihak Amerika Serikat dan respond dari pihak venezuela yang baik karena memiliki suatu kebutuhan masing masing dimana pihak amerika tertarik kepada sumber daya minyak dan pihak venezuela sedang membutuhkan bantuan sosial.menurut saya kebijakan ini adalah suatu bentuk permanfaatan dari pihak AS untuk kondisi venezuela yang sedang mengalami krisis,belum tentu hal ini dapat menjadi kebijakan yang berkepanjangan untuk pihak Venezuela karna adanya ketergantungan terhadap pihak eksternal.Hal ini memang sangat membantu masyarakat venezuela tetapi apakah kedepannya akan terus berjalan dengan baik?

    Balas
  19. Arya Duta Oddang says:
    4 bulan ago

    Artikel ini memberikan wawasan baru kepada saya, bahwa intervensi Amerika Serikat terhadap Venezuela tidak hanya soal kekuasaan, tetapi juga berdampak langsung pada masyarakat. Saya mulai memahami bagaimana kebijakan luar negeri menciptakan konsekuensi sosial yang nyata.

    Balas
  20. Henokh Joyson Sitio says:
    4 bulan ago

    di dunia ini orang yang berkuasa akan memiliki hak dan kewenangan yang dapat diatur oleh dirinya sendiri. Begitu juga dengan US dengan 1001 keunggulannya dalam segala bidang dapat mampu menuntaskan misi berskala besar dibawah aksi team seal. Terbukti kekuasaan dapat melakukan banyak cara demi suatu kepentingan seperti yang dilakukan Amerika dibawah tangan Trump, namun apakah kekuasaan itu dimanfaatkan untuk kepentingan secara vertikal? atau hanya mementingkan satu belah pihak saja? who knows?

    Balas
  21. Josua Richard Haholongan 2570750033 says:
    4 bulan ago

    Menurut saya Artikel ini kuat, mengalihkan fokus dari geopolitik ke makna sosial dan pembebasan kolektif rakyat Venezuela. Penerimaan emosional atas hasil (Maduro jatuh) tidak memvalidasi cara intervensi (preseden militer), berpotensi menciptakan ketergantungan politik eksternal.

    Balas
  22. Charlotte Antonette says:
    4 bulan ago

    Menurut saya, artikel ini menegaskan bahwa kebijakan luar negeri Amerika Serikat perlu dinilai dari dampak sosialnya, bukan hanya dari motif politiknya. Kasus Venezuela menunjukkan bahwa persepsi masyarakat lokal penting dalam memahami legitimasi intervensi dan dinamika hubungan internasional kontemporer.

    Balas
  23. Sierrafim Daniella says:
    4 bulan ago

    Artikel ini memberikan perspektif yang tersembunyi namun penting untuk diketahui oleh masyarakat. Secara motif, memang benar bahwa Trump beraksi menggunakan cara yang terlihat seperti “intervensi” dan melawan kedaulatan Venezuela. Namun, dari artikel ini dapat terlihat bagaimana intervensi tersebut dilaksanakan secara terstruktur dan memiliki dasar alasan yang kuat (dari bagian tulisan “dakwaan narkoterorisme dan konspirasi perdagangan narkotika lintas negara yang dibangun sejak 2020 dan diperluas pada akhir 2025” hingga penangkapan yang kemudian dilaksanakan). Kebahagiaan yang muncul dari rakyat Venezuela juga tentu sangat masuk akal karena fenomena ini seperti sebuah “pembebasan” bagi mereka dari kekacauan ekonomi, politik, serta keberlangsungan hidup yang telah berlangsung sejak lama. Namun, menurut saya aksi Trump atau AS ini tidak dapat sepenuhnya menjamin masa depan Venezuela kedepannya. Belum lagi aksi AS ini dikatakan melanggar hukum internasional dan sampai sekarang kita masih menunggu kelanjutan akan kejadian ini. Namun dibalik semua itu saya berharap yang terbaik bagi masyarakat Venezuela dan semoga aksi AS selanjutnya dapat berdampak positif bagi rakyat Venezuela.

    Balas
  24. Alisia Sandra Dewi says:
    4 bulan ago

    Artikel ini menyajikan argumen kuat dengan menyoroti efek sosial sebagai perspektif utama dalam telaah ini, alih alih cuma mempertimbangkan dorongan geopolitik yang dipunyai oleh Amerika Serikat. Akan tetapi, perlu dicatat bahwa semangat masyarakat dan pandangan mengenai pembebasan tidak otomatis menjamin sebuah perpindahan menuju demokrasi yang awet. Tinjauan akan lebih seimbang apabila juga mengkaji kemungkinan ketergantungan pada intervensi dari luar, potensi kekosongan wewenang, serta kemungkinan timbulnya gejolak baru usai rezim itu ambruk, hingga kesenangan warga tidak dianggap seperti yang seharusnya, melainkan sebagai fase awal yang masih rapuh dalam pemulihan bangsa ini.

    Balas
  25. Kezia Karen Holly Wijaya says:
    4 bulan ago

    Saya melihat bahwa dunia berjalan dan berkembang melalui jaringan kekuasaan yang sering kali tidak bisa kita pahami sepenuhnya dari permukaan karena jaringan yang kita jelajahi memiliki tahapannya sendiri. Hal yang kita lihat dalam jaringan ternyata memiliki makna yang berbeda bagi yang mengalaminya secara langsung. Dalam kasus ini, saya melihat bahwa langkah Trump tidak semata soal kepentingan strategis namun membuat keseimbangan struktural dalam negara yang telah runtuh. Saya pun bisa melihat bahwa rakyat memaknai tindakan eksternal ini pembebasan dari penderitaan yang mereka alami selama ini.

    Balas
  26. galih chavvah says:
    4 bulan ago

    Artikel ini tepat menyoroti prioritas dampak atas motif dalam kebijakan AS terhadap Venezuela, namun gagal mengkritisi bagaimana motif hegemoni AS secara sistemik memperburuk krisis kemanusiaan, mengabaikan data empiris tentang solidaritas sosial Venezuela sebagai bentuk resistensi. Analisisnya argumentatif tapi dangkal, karena tidak mengintegrasikan perspektif postkolonial yang menunjukkan intervensi AS sebagai neokolonialisme. Dengan demikian, artikel ini perlu diperbaiki, karena tidak menggambarkan secara lengkap bagaimana perubahan dalam kekuasaan global terjadi akibat dari dinamika tersebut.

    Balas
  27. Deandra Anastasya says:
    4 bulan ago

    Secara tajam, artikel ini menegaskan bahwa pada kajian hubungan internasional kontemporer, fokusnya analisisis yang bergeser dari sekedar motif geopolitik yang menuju dampak nyata yang dirasakan masyrakat, karena pesepsi rakyat Venezuela terhadap intervensi AS yang menunjukan gimana kebijakan luar negri yang tak dinilai dari sosial ekonomminya.

    Balas
  28. MATHEW RENOL TAOPAN says:
    4 bulan ago

    Rakyat Venezuela saat ini boleh euforia, tapi mereka harus berkaca dari “bayang-bayang Irak”. Pola perbandingan menunjukan adanya respons euforia dimana kedua negara ini merayakan runtuhnya rezim, hanya saja Venezuela belum merasakan perpecahan militer, eksploitasi SDA, dan pemerintah yang tidak independen. Tanpa transisi pemerintahan yang murni, kedaulatan yang Venezuela harapkan hanyalah ilusi.

    Balas

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pencarian

No Result
View All Result
Selengkapnya
Selengkapnya
  • Arthuur Jeverson Maya Research
  • Beranda
  • Edisi Lampau
  • IPTV
  • Jurnal
  • Karya Arthuur Jeverson Maya
  • Kirim Donasi
  • Kirim Tulisan
  • Kontak Kami
  • Mukadimah
  • Panduan Penulisan
  • Pasang Iklan
  • Pedoman Media Siber
  • Pengantar
  • Podcast
  • Redaksi
  • Sample Page
  • Syarat Penggunaan

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co

No Result
View All Result
  • American Politics
  • Chinese Politics
  • Logika dan Teori
  • Bahasa Indonesia
  • English

© 2021 Arthuur Jmaya Research - Developed by Tokoweb.co