
Jakarta – Setelah sukses dengan karya “Sistem Intrusif dan Kedaulatan” (2023), UKI Press pada tahun 2024 kembali menerbitkan buku terbaru karya Arthuur Jeverson Maya, dosen Program Studi Hubungan Internasional Universitas Kristen Indonesia (UKI), berjudul “Kuasa Kekuasaan.” Buku ini menawarkan telaah genealogis mendalam tentang bagaimana subjek individual dibentuk, dipecah, dan dikonstruksi ulang oleh medan kekuasaan sepanjang sejarah Asia Tenggara.
Berbeda dengan kajian kekuasaan yang berangkat dari institusi, Maya memulai analisis dari sosok: sang pemimpin, pengkhianat, pemberontak, hingga penjaga tradisi. Dari era kerajaan maritim seperti Majapahit, Ayutthaya, hingga Kesultanan Sulu dan Johor, kekuasaan tampil dalam patronase, mistisisme, serta genealogi ilahiah yang menempatkan subjek sebagai bagian dari kosmologi kerajaan sakral.
Kedatangan kolonialisme Eropa membawa perubahan mendalam: subjek tidak lagi tunduk pada kekuatan adikodrati, melainkan dikonstruksi ulang sebagai “pribumi”, “budak”, “kaum terpelajar”, dan “musuh negara.” Setelah kolonialisme runtuh, kekuasaan kembali menjelma dalam bentuk nasionalisme, modernisasi, dan geopolitik.
Dalam era Perang Dingin, Asia Tenggara menjadi ruang tarik-menarik identitas dan kedaulatan. Amerika Serikat dan Uni Soviet tidak hanya berebut pengaruh, tetapi juga menciptakan subjek-subjek baru melalui bantuan ekonomi, pendidikan, hingga sistem militer. Subjek individual Asia Tenggara ditempatkan dalam orbit demokrasi liberal atau sosialisme revolusioner, sehingga terus menjadi arena artikulasi kekuasaan global.
Dengan memadukan teori Michel Foucault, Lacan, serta konsep simtoxa—sintesis antara doxa ala Bourdieu dan symptom ala Lacan—Maya menegaskan bahwa kekuasaan bukanlah sesuatu yang dimiliki, melainkan medan yang bekerja di dalam subjek itu sendiri.
“Kuasa Kekuasaan” hadir sebagai upaya membaca sejarah Asia Tenggara dari bawah ke atas: dari subjek yang dijadikan objek, dari tubuh yang dijadikan arsip, hingga dari ruang yang dijadikan panggung kebenaran.
Terbitnya buku ini pada tahun 2024 semakin mempertegas kiprah Maya sebagai pemikir kritis Hubungan Internasional di Indonesia, serta komitmen UKI Press dalam menghadirkan karya akademik yang reflektif, teoritis, dan relevan dengan dinamika kekuasaan global.
156 total views, 2 views today
